
Setelah Rose menulis surat, dia mengikatkannya di kaki burung tersebut.
" Ray, beri burung itu hadiah. Seperti potongan daging atau makanan lainnya. " Ucap Rose.
Burung itu menatap ke arah Rose dan memiringkan kepalannya.
Brayen menatap burung itu dan dia berkata.
" Burung ini tidak memakan makanan manusia. " Ucap Brayen.
" Lalu? " Tanya Rose.
" Dia butuh mana. " Jawab Brayen.
" Ahh, aku tidak tahu soal itu. " Ucap Rose.
" Tapi, kau seharusnya bisa memberikan sedikit mana untuknya? " Tanya Rose.
Brayen pun menjawab dengan tatapan yang terus mengarah tajam kepada burung itu.
" Ya, aku bisa saja memberikan mana yang ku punya. Tetapi, aku tidak ingin memberikan manaku untuk burung penguntit sepertinya. " Ucap Brayen kesal.
Burung itu mengepakkan sayapnya di tempat dan dia bersuara dengan paruhnya, suaranya sangat nyaring.
' Cip,Cip,Cip,Cip...cip..cip....Ciiiiiiip..Cipcipcipcip.' Suara burung.
Brayen memelototi burung tersebut dengan wajah garangnya.
" Diam kau burung cerewet!! " Brayen, membentak burung itu dengan kasar.
" Ray!? " Rose menegurnya.
' Ciiiiiiiiiiippppp....cipcip. ' Burung itu bersuara lagi.
Mendengar suara bising burung tersebut, Brayen menangkap burung tersebut dan dia melemparkannya keluar jendela.
" Pergi dan berikan surat itu!!! " Brayen melemparkan burung tersebut.
' Ciiiiiiiiiiiiiiiiiipppppppp~ ' Burung itu terpental jauh dan menghilang.
" Cerewet!! " Gumam Brayen.
" Kenapa kau memperlakukan burung itu dengan kasar? " Rose bertanya.
" Karena dia cerewet. " Jawab Brayen.
Brayen perlahan maju dan memeluk Rose dengan manja.
" Aku juga cerewet, apa kau tidak suka? " Tanya Rose.
Brayen mengelus kepala Rose dan dia menjawab pertanyaan Rose dengan lembut.
" Aku menyukai semua yang ada pada dirimu." Jawab Brayen.
" Kecuali? " Tanya Rose.
" Aku bilang semuanya, tidak ada pengecualian. " Ucap Brayen jujur.
" Baiklah aku sedikit percaya. "
" Meski sedikit, kau tetap mempercayaiku. " Ucapnya.
Brayen melepaskan pelukannya dan dia berbicara.
" Aku ingin tidur dengan mu di sini, tetapi karena besok kita akan pergi ke kerajaan Moniquee, aku harus mengatur semuanya dari sekarang. "
Rose mangangguk mengerti.
Brayen mencium kening Rose dan dia mengucapkan selamat malam.
" Selamat malam, dan jangan lupa mimpikan diriku. " Ucap Brayen seraya meninggalkan Ruangan.
Rose hanya menggelengkan kepalanya dengan heran.
...----------------...
__ADS_1
Kerajaan, Moniquee.
Burung itu kembali dengan cepat ke kerajaan moniquee.
Burung itu menggerutu di depan Julius yang sedang mengerjakan dokumen kerajaan.
" Sialan!! Menantumu itu sangat tidak tahu sopan santun. " Ucap Argus.
" Datang-datang kau sudah menggerutu tidak jelas, memangnya apa lagi yang dia lakukan? " Tanya Julius yang masih sibuk dengan dokumennya.
Burung itu hinggap di meja, tepat di depan Julius.
" Aku yang merupakan burung sihir yang gagah nan perkasa, merasa direndahkan. Menantumu itu melemparku keluar dari jendela begitu saja. " Jelas Argus.
Julius malah tersenyum dan dia berkata.
" Tidak buruk, aku lebih mendukungnya dalam hal ini. " Ucap Julius yang masih tersenyum.
" Kau!! " Argus kesal.
" Giliran kau yang di perlakukan tidak sopan, kau marah dan akan menghukumnya, sedangkan aku. Kau malah mendukungnya. " Argus kesal.
" Hukuman akan aku serahkan kepadamu Argus, kau boleh melakukan apa yang kau mau." Ucap Julius.
" Ya, ini namanya adil. " Ucap Argus.
" Cukup dengan beberapa butiran tinja, dia akan ketarketir. " Ucap Argus.
" Sudah bicaramu, mana suratnya. " Ucap Julius.
" Ambillah, itu terikat. "
Julius mengambil surat tersebut dan membacanya.
Di dalam surat itu Rose hanya bilang akan datang ke kerajaan moniquee besok dengan sihir teleportasi, tepatnya alat sihir yang di pinjamkan oleh Julius waktu itu.
Julius yang membacanya dia sangat gembira.
" Akhirnya dia akan kemari besok, aku harus segera menyiapkan penyambutan yang meriah, dan menghias istana untuknya. " Julius bersemangat.
" Ayah!!! " Panggil Wilson yang tiba-tiba masuk.
" Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu, aku belum turun dari tahta, dan masih menjadi Raja. " Ucap Julius.
" Maaf ayah, aku mendengar di depan pintu, bahwa dia akan datang besok? " Ucapnya.
" Ya, dia sungguh datang besok, kau harus menyiapkan semuanya, dan bersikap dewasalah saat dia datang. " Ucap Julius.
Wilson sangat senang mendengar hal itu, saking gembiranya, wilson meminta ajudannya untuk membagikan satu batang emas untuk rakyatnya.
" Gilbet!! " Panggil Wilson kepada ajudannya.
Seorang ajudan menghadap wison dengan paras yang tampan dan terlihat dingin.
Rambutnya berwarna emas bergitu pula dengan matanya.
" Saya, yang mulia putra mahkota. " Ajudannya maju.
" Berikan satu batang emas kepada rakyat Moniquee." Perintah Wilson.
Ajudannya menjawab dengan patuh.
" Baik, yang mulia. "Jawabnya Patuh.
" Tidak cukup hanya dengan itu, kita harus mengadakan pesta besar-besar saat dia datang. Aku ingin mengadakan pesta besar-besaran selama 3 bulan, agar dia tidak cepat pulang. Jika mungkin aku ingin membujuknya untuk tinggal di sini. " Tambah Julius, dia ingin mengadakan pesta selama 3 bulan berturut-turut untuk Rose.
" Ide yang bagus, aku tidak sabar untuk itu. " Wilson semakin tidak sabar.
Tapi di sisi lain, Julius mempunyai ketakutan di dalam hatinya.
" Bagaimana jika dia tidak menerima kita. Ada banyak ketakutan dalam diriku, aku takut dia tidak mau menerima kenyataan bahwa kita adalah keluarganya. Aku takut dia tidak menganggapku sebagai ayahnya. " Ucap Julius murung.
" Ayah benar, kita tidak boleh merasa senang dulu, bisa jadi, dia salah paham dengan kita. Tapi aku harap dia bisa menerima kita sebagai keluarganya, mungkin saja jika di jelaskan alasannya dia akan mengerti. " Timpa Wilson.
" Yah, semoga dia mengerti dan tidak salah paham. " Ucap Julius.
__ADS_1
" Felix!! " Panggil Julius.
Felix masuk dan dia berbicara.
" Saya yang mulia. " Ucapnya.
" Cepat siapkan semuanya, sambut dia dengan meriah. " Perintah Julius.
" Jangan lupa, istananya harus terpisah dengan bocah tengik itu. Kalau bisa sejauh mungkin dengan istana putriku. " Julius menambahkan.
" Baik yang mulia. " Ucapnya patuh.
...----------------...
Kerajaan Turnatara.
Brayen memanggil Tensis dan Taran ke dalam ruangannya.
" Taran!! Tensis!! " Panggil Brayen.
Taran dan Tensis maju, mereka masih menggunakan baju piyama.
Karena pada saat itu memang sudah jam tidur, dan mereka mau tidak mau, harus menghadap Brayen.
" Kami menghadap yang mulia. " Ucap mereka serentak.
" Apa ada yang ingin anda sampaikan? " Tanya Tensis.
| Firasatku tidak enak. | Pikir Tensis.
" Kau akan menggantikanku di kerajaan ini, urus semua dokumen yang ada, dan jangan lupa gunakan stempel kerajaan yang baru. " Brayen memerintah.
" Tidak, saya tidak bisa yang mulia, apalagi dengan stempel kerajaan. " Ucap Tensis.
" Kau ingin membantahku? " Tanya Brayen.
" Tidak yang mulia. " Tensis menjawab.
" Kalau begitu kerjakan saja, aku akan berlibur dengan istriku, jadi kau harus menggantikanku. " Brayen bersih kukuh.
| Mau, tidak mau. Aku harus melakukannya, tapi, kenapa beliau tidak membawaku, aku juga butuh liburan. | Pikir Tensis.
" Dan untukmu Taran, kau disini sebagai ajudannya Tensis, bantu dia dan layani dia. " Perintah Brayen.
Taran yang mendengarnya, dia terbelalak tidak menyangka. Bahwa dia harus menjadi pelayannya Tensis.
| Tidak terlalu buruk, aku akan memanfaatkan ini, jarang-jarang Taran di jadikan sebagai seorang ajudan sekaligus pelayan. | Pikir Tensis.
" Baik yang mulia. " Jawab Taran.
| Haissss, sepertinya ini adalah hukuman atas kejadian tadi siang. | Pikir Taran.
" Satu lagi, Daniel. Apa dia sudah kembali? " Tanya Brayen.
" Belum yang mulia, memangnya ada apa? " Tanya Tensis.
| Sepertinya Daniel akan terlibat. | Pikir Tensis.
" Bilang padanya, aku akan merekrut dia sebagai tabib kerajaan. Dan suruh dia untuk ikut denganku ke kerajaan moniquee. Tapi sebagai kusir. " Perintah Brayen sekali lagi.
" Baik yang mulia. " Jawab Tensis patuh.
| Semuanya Turun pangkat, kecuali aku. Daniel menjadi kusir, Taran menjadi pelayan, dan aku Rajanya. Tidak buruk. | Pikir Tensis.
...----------------...
Keesokan Harinya.
Brayen dan Rose sudah bersiap untuk pergi ke kerajaan Moniquee.
...----------------...
BERSAMBUNG.........
byby😚
__ADS_1