
...18+++...
Carl segera berpakaian, setelah berpakaian dia membungkus dirinya dengan selimut.
Dalam selimut, Carl berpikir dengan wajahnya yang membara.
| Aku tidak percaya bahwa aku adalah istri dari pria itu.| Pikir Carl yang merasa bangga.
" Yah, tidak buruk. " Carl tersenyum dan membuka selimutnya.
| Dia selama ini menyembunyikan tubuh yang bagus seperti itu. | Carl, masih membayangkan tubuh Brayen.
Carl berguling-guling di atas kasurnya, dia merasa seperti bukan dirinya.
Saat Carl terhanyut dengan pikiran kotornya, Brayen yang sudah selesai mandi dia memanggil Carl.
" Carl!! " Panggil Brayen dengan rambut dan tubuh yang masih basah.
Saat Brayen memanggil, dia malah fokus menatap kaki Rose yang terbuka.
" Carl, sepertinya aku tidak bisa menahannya lagi. " Ucap Brayen.
" Apa? " Tanya Carl.
Brayen pergi mengambil minum yang tersedia di sebelah tempat tidurnya.
Brayen meminum air itu sekali teguk.
" Ada apa denganmu Ray? " Tanya Carl.
Brayen menatap Carl dengan tatapan yang terselubung.
" Carl, jangan pura-pura tidak mengerti. " Ucap Brayen.
" Apanya? " Tanya Carl pura-pura tidak tahu.
" Apa kau lapar? kita tidak makan malamkan? " Carl berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Carl...." Panggil Brayen.
Brayen duduk di atas tempat tidurnya dan dia mengusap pipi Carl yang membara.
" Yah...kau pasti takutkan? " Tanya Brayen.
Brayen menarik Carl ke dalam pangkuannya, dan dia memeluknya di pinggang.
" Brayen!! " Carl yang syok.
Brayen menatap istrinya dan memeluk Carl seraya bertanya.
" Beri aku makan." Ucapnya ambigu.
" Baiklah, aku akan meminta layla untuk membawakan sesuatu. " Ucap Rose.
Kini Brayen dengan bibirnya menelusuri leher Carl dan menggigitnya.
" Awww!! Apa kau sio anjing? kenapa kau menggigit leherku." Ucap Carl.
" Beri aku makan.....dengan tubuhmu. " Ucap Brayen dengan tatapan penuh harapan.
" Apa...kau..tidak tahu malu. " Ucap Carl.
...----------------...
" Jangan hentikan aku, aku tidak bisa menahannya lagi. " Ucap Brayen.
Brayen tersenyum saat tangannya menembus di antara rambut di belakang leherku. Dia tiba-tiba menarikku lebih dekat.
Aku secara repleks memejamkan mataku dan bibir Brayen segera menyentuh bibirku.
' hmmmnph
Tangan Brayen bergerak lebih rendah. Terpikir olehku bahwa ciuman Brayen lebih bergairah dari biasanya.
Entah bagaimana, keberadaan tangan yang menopang pinggang juga menjadi mencurigakan.
Ketika suara ikatan pita piyama yang mengendur di belakang punggungku terdengar di telingaku, sebuah teriakan keluar dari mulutku tanpa aku sadari.
" Haaah...
Jantungku berdegup sangat kencang hingga rasanya ingin keluar dari tenggorokanku.
"Jangan kaget." Ucap Brayen.
Suara tenang mencoba menenangkanku, gairah yang terungkap oleh mata emasnya yang indah di depanku.
Diam-diam menggerakkan tangan. Semuanya canggung. Tapi itu tidak menakutkan. Karena aku yakin dia tidak akan menyakitiku.
Sambil berkonsentrasi pada ciuman itu, tangan Brayen naik ke dadaku sebelum aku menyadarinya.
" Apa kau ingin melepaskan semua pakaianmu sendiri? " Brayen berhenti dan bertanya.
Dia masih meminta pendapatku, di situasi seperti ini.
Aku tidak percaya diri seperti Brayen, aku tidak memiliki payudara dan bokong yang membanggakan.
Di atas segalanya, aku malu untuk mengungkapkan tubuh yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Kita hanya berciuman beberapa kali.
Meski kita sudah menikah bertahun-tahun, aku tetap tidak percaya bahwa kita adalah pasangan suami istri.
" Mengapa kamu begitu pemalu? Lepaskan saja." Ucap Brayen yang tidak sabar.
" Tidak...aku.. " Ucapku gugup.
| Carl, tenang. | Aku menenangkan diriku.
" Kamu sangat cantik, apa yang bisa aku lakukan. " Ungkap Brayen yang terus menelusuri leherku.
" Kau boleh membukanya sendiri. " Aku memberi izin dengan wajah yang masih malu.
Brayen perlahan membuka gaunku, sentuhan melepas gaun itu sealami air, sangat lembut dan perlahan.
Sekarang tubuhku sudah tidak terhalang oleh kain sehelai pun.
Brayen menatapku.
" Kau cantik Carl, sangat cantik.... "
Brayen segera melahap bibirku, kemudian tangannya beralih ke bagian dadaku.
Punggungku ditopang, sementara tangannya yang lain melingkari bagian sensitifnya.
"Ha..."
Aku pernah berciuman sebelumnya, tapi aku belum pernah merasakan sentuhan baru ini.
"Ah...." Aku terus mengeluarkan suara.
Aku berpikir itu mungkin karena sentuhan Brayen yang sangat hati-hati.
Tangannya menyentuh puncak dengan sentuhan halus dan lembut. Kepalaku berputar sambil terengah-engah karena ciuman intens, tangan panas Brayen, yang menyentuh bagian sensitif membuat wajahku memanas hingga ke telinga.
__ADS_1
" Ahhh....haah "
Bibir Brayen, yang mendambakan bibirku seolah akan melahapnya, itu bergerak lebih rendah.
Brayen perlahan pindah, dia mencium bagian dadaku.
" Hmmmm...ahhh " Aku tidak menduga, jika aku bisa mengeluarkan suara selembut itu.
Brayen meraih tanganku dan meletakkannya di bahunya. Tanganku yang hangat terlepas, tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku dari bahu Brayen dan memegangnya.
Setiap kali Brayen merangsang kulit lembutku, dan setiap kali jari kakiku terangkat, aku menggenggam bahunya.
"Ah.....Ray...." Aku tanpa sengaja memanggil namanya.
"Ya." Brayen menanggapi dengan senyum sambil terus bertindak dengan mantap.
Bibir Brayen, yang bergerak bolak-balik di antara kedua payudaraku sesuka hatinya dan kemudian dia menjauh.
Brayen tiba-tiba berhenti, dia kemudian membuka kakiku dan melebarkannya.
" Ray!! "
" Aku akan berusaha selembut mungkin. " Ucapnya dengan wajah yang merah membara.
Tangan Brayen membuka kakiku.
" Ah...! "
| Apa itu!! | Batinku, ketika Sesuatu yang padat menyentuh tempat rahasia yang belum pernah disentuh siapa pun.
" Kau sudah cukup basah. " Ucap Brayen dengan senyum liciknya.
| Aku tidak bisa menahannya lagi, bagaimana mungkin penampilannya yang seperti ini sangat cantik. | Batin Brayen kacau.
Aku melihat benda miliknya, benda yang selama ini tersembunyi di balik celananya.
Gila!! bagaimana itu bisa sebesar itu!!
" Jangan tahan suaramu, keluarkanlah. " Ucap Brayen.
Dia bersiap memasukkan benda tersebut kedalam tempat rahasiaku.
| Apa itu bisa masuk? | Aku berpikir bahwa aku benar-benar mesum.
Brayen memegang tanganku erat.
Benda yang menyentuh bagian rahasiaku segera masuk. Itu adalah perasaan asing pertama yang aku rasakan. Aku kehilangan kata-kata dan memejamkan mata.
Sakit!! Sakit!! Sakit!!
Tanganku dengan spontan memegang bahu brayen.
"Ah...."
" Haaah.... " Brayen mengeluarkan erangan.
Dia memasukkannya.
Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Bagaimana jika aku terlihat aneh sekarang?
Kelopak mataku berkedut karena sentuhan yang merangsang.
Aku memejamkan mataku.
" Carl..... "
Apakah seseorang menjadi lebih sensitif karena aku memejamkan mata?
Jantungku, yang telah bergetar begitu goyah, berdebar-debar seolah-olah akan mabuk perjalanan.
Mata Brayen dipenuhi dengan panas. Pada saat itu, benda yang bergerak maju mundur di pintu masuk yang sempit menjadi lebih cepat.
Seolah-olah ini hanya lelucon, sentuhan yang lembut tidak cocok untuk wajahnya yang garang.
Mataku yang terbuka dengan keberanian menutup secara refleks.
"Ahhhhhhhhhhhh....."
"Ra—Ray..ha --- terlalu cepat."
" Ya Carl, panggil namaku. " Brayen terus bergerak.
Setiap kali Benda besar itu masuk di dalam titik tertentu, aku merasa hampir gila.
Dia begitu berenergi, tapi badanku hampir remuk di buatnya.
Kami melakukan hal itu hingga matahari terbit, bahkan aku tidak sadar siapa yang membersihkan tubuhku.
...----------------...
Ya, mereka bermain-main hingga matahari naik, tapi sudah jelas siapa yang paling bersemangat.
Setelah melakukan hal tersebut, tubuh Carl merasa aneh, saat dia berdiri kakinya lemas, dia bahkan tidak bisa berjalan.
" Aku bahkan sulit untuk berjalan... " Gumam Carl.
Tapi, dia harus segera pergi mandi dan membersihkan tubuhnya dengan benar.
Brayen masih tertidur, Carl bergumam tentang suaminya yang tadi malam seperti binatang.
" Ternyata dia adalah jelmaan binatang, bagaimana bisa dia tidur setelah membuat badanku hampir remuk. " Gumam Carl.
Carl melihat Brayen yang masih tidur tanpa pakaian.
" Binatang!! " Ucap Carl seraya berusaha berjalan.
Seperti biasa, Carl pergi sarapan bersama Julus dan Wilson.
Saat mereka sedang makan, Julius bertanya.
" Kemana bocah itu? " Tanya Julius.
" Maksud ayah Brayen? " Carl bertanya.
" Ya, siapa lagi yang tidak ada di sini. " Ucap Julius.
Saat itu juga, pintu masuk ruang makan terbuka dan ternyata itu adalah Brayen.
Dia masuk dengan senyum yang sumringah dan dia terlihat segar bugar.
" Tumben kau tersenyum seperti itu? " Tanya Wilson karena tidak biasa dengan tampilan Brayen yang biasanya dingin dan garang, sekarang terlihat sumringah.
" Tidak....tidak ada...ekehm.. " Brayen duduk dan ikut makan.
Brayen pun melirik Carl dan dia bertanya.
__ADS_1
" Bagaimana tubuhmu? apa kau bisa berjalan? " Tanyanya di depan semua orang.
Seketika Julius dan Wilson saling bertatapan.
" ? " Julius menatap Wilson, begitu pula sebaliknya.
| Bisa-bisanya, dia bertanya hal itu di sini. | Carl dalam batinya malu.
...----------------...
Carl dan Brayen menikmati sisa hari-hari mereka di Moniquee.
Karena dua minggu sudah berlalu mereka memutuskan untuk pulang ke kerajaan Turnatara.
Tentu saja Julius sempat berselisih dengan Brayen, tetapi Brayen memberikan sebuah alasan kenapa dia harus pulang dan membawa istrinya.
Brayen bilang, dia akan mengecek sesuatu di kerajaannya, dan itu harus bersama Carl.
" Ayah mertua, saya berjanji anda akan memiliki cucu. " Brayen berbicara dengan bangga.
" Apa yang kau bilang? " Julius bertanya.
" Cucu...kau akan menjadi kakek percayalah. " Ucap Brayen.
Julius dengan senang memberikan izin untuk mereka yang ingin kembali ke kerajaannya, tapi dengan syarat.
Brayen harus menepati janjinya ketika Carl mengandung dia harus memberi tahunya dan dia harus membawa cucunya ke kerajaan Moniquee.
Tentu saja Brayen setuju.
...----------------...
Waktu berlalu, setelah kembali dari kerajaan Moniquee, Brayen memutuskan untuk mempersatukan istana mereka, tentu saja itu di setujui oleh para menteri.
Karena Brayen mengancam mereka dengan pedangnya.
Sifatnya memang tidak berubah sama sekali.
Brayen selalu mengganggu malam Carl, dia tidak pernah membiarkan Carl tertidur kecuali saat Carl datang bulan.
" Ray, apa kau tahu, kau itu binatang buas. " Carl yang sudah pasrah dengan suaminya.
" Tapi kau sukakan? " Tanya Brayen.
Carl tidak bisa memungkiri jika dia tidak suka.
| Tentu saja aku suka!! | Batinnya.
" Aku ingin membuat prajurit sendiri, jadi kau harus bersiap. " Ucap Brayen licik.
Brayen menerjang istrinya dan melakukan hal itu lagi dan lagi.
...----------------...
Usahanya tidak mengecewakan, selang beberapa tahun.
" Ayah, apa kau bodoh." Ucap Anak laki-laki yang berusia 9 tahun itu dengan wajah dingin.
" Carlise, jaga ucapanmu!! " Seorang wanita menegurnya.
" Apa maksudmu bodoh!! " Ucap laki-laki yang di panggil ayah.
" Kenapa ayah menganggap ibunda sebagai penjahat waktu itu? mana ada penjahat yang cantik seperti ibuku. " Ucap Anak itu dingin.
" Ray? dia tahu dari mana? " Tanyanya.
" Apa maksudmu? " Dia tidak menjawab dan malah balik bertanya kepada anak tersebut.
" Ayah membuat ibunda menangis, ayah membencinya, ayah—
" Siapa yang menceritakan itu? " Tanyanya.
" Ajudan Tensis. " Jawabnya langsung.
" Yang mulia!!! Kenapa anda membocorkannya. " Tensis panik.
" Tensis!! " Brayen berteriak memanggil nama Tensis.
Benar, anak laki-laki itu adalah anak pertama dari Brayen dan Carla.
Dia adalah Pangeran Cartylise Damian Turnatara. Dia sering di panggil Carlise oleh Carl.
" Hah.....apa kau memberi tahu anak itu. " Ucap Brayen.
" Maaf yang mulia, Beliau memaksa saya. " Ucap Tensis.
" Aku akui jika aku memang sedikit bodoh, tapi sekarang aku tidak bodoh. Itu hanya kesalah pahaman. Sekarang aku sangat mencintai ibumu, jadi berhentilah bertanya dan pergilah berlatih pedang. "
" Ayahmu benar, itu adalah kesalahpahaman kau tidak usah mekikirkannya. " Ucap Carl menenagkan.
Carlise hanya diam, dan dia pergi dengan wajah datar.
" Untung saja bocah itu penurut dan tidak banyak bertanya. " Ucap Brayen.
" Dia adalah hasil dari kecebong-kecebongmu, tentu saja sikap dan perilakunya mirip denganmu. " Ucap Carl.
" Kecebong kita sudah besar,dan kita harus menambah kecebong baru. " Brayen tersenyum dengan senyum licik.
" Aku sedang datang bulan, jadi bertahanlah. "
...----------------...
Awal mereka di pertemukan di medan peperangan, mereka kemudian berpisah, kemudian bertemu kembali dalam keadaan saling membenci, dan mereka dipermainkan oleh kejamnya manusia.
Tapi sekarang mereka sudah melewati itu semua dan mendapat kebahagian sebagai mana mestinya.
Walau ada kenangan yang tidak bisa mereka lupakan, terutama Carl yang tidak mungkin melupakan adiknya, dia akan tetap menyimpan kenangan tersebut sebagaimana mestinya.
Tentu saja dia akan menyimpan semua kisahnya dalam buku sejarah kekaisaran dan menceritakan kisah tersebut pada keturunannya.
Bahwa sesuatu bisa di lewati jika kita berusaha melewatinya. Dan kita bisa merubahnya jika kita lebih berusaha.
Kisah ini berhenti sampai di sini, mereka sekarang sudah bahagia.
...----------------...
...TAMAT...
Makasih buat pembaca yang dari awal ngikutin Novel ini.
Dan buat yang suka ngomen, makasih banyak jujur aja kalau ada yang comen suka semangat gimana gitu🥺.
Yah, author gak tau mau bilang apa lagi, pokoknya makasih buanyaaak.
Akhirnya Novel ini selesai juga.
Kalau author ada salah dalam kata di novel ini, atau ada nama tokoh yang sama. Maaf yeh, maaf author.
Udah yeh gitu aja..
Byby di karya aku yang lain😉
__ADS_1