
" Ini yang mulia!! " Viktor memberikan ramuan tersebut.
Alex mengambil ramuan tersebut.
Dia membuka tutup ramuan kaca kecil berisi cairan merah, dan membungkuk lurus ke bawah.
| Itu pasti menyakitkan. | Pikir Alex.
Alex, yang memejamkan mata sejenak dia segera membuka bibir rose dengan sentuhan hati-hati dan memiringkan botol ramuan ke mulutnya.
Satu tetes, dua tetes, tiga tetes. Cairan berwarna merah itu, dituangkan ke tenggorokannya.
Ada suara napas yang samar-samar.
Untungnya napasnya kembali ke bentuk aslinya.
Tak lama setelah itu.
Kulit pucat seperti mayat pun mulai memerah.
" Yang mulia, saya membawa Tabib istana! " Tepat pada waktunya Tensis memanggilnya dan barang-barang medis dengan tandu tiba.
Rose, yang telah diberi pertolongan pertama oleh Alex, dengan cepat dipindahkan ke istananya.
" Haaaa..
******* lega datang dari masing-masing mulut mereka yang menyaksikannya dengan terengah-engah.
...----------------...
Istana Ratu.
Tabib istana mulai memberi pengobatan yang seharusnya untuk Rose.
" Bagaimana keadaannya? " Tanya Brayen penuh khawatir, kepada Tabib tua tersebut.
" Mungkin beliau tidak akan bangun untuk waktu tertentu. " Jawab tabib tersebut.
__ADS_1
" Berapa lama? " Brayen bertanya lagi.
" Saya tidak tahu yang mulia. " Jawab Tabib tua tersebut.
" Bagaimana caranya supaya dia bisa cepat pulih? " Tanya Brayen lagi.
" Hamba juga tidak tahu yang mulia." Jawab Tabib itu gemetar.
| Sudah jelas tabib istana tidak akan mengetahui apapun mengenai racun itu.| Pikir Brayen mencurigakan.
| Maafkan aku.| Sekali lagi batinnya berbicaraa.
" Kau jaga dia, pastikan kau merawatnya dengan baik. Bagaimana pun dia adalah Ratu." Ucap Brayen dengan penuh serius.
Brayen pergi dari ruangan Rose.
Saat Brayen keluar, tiba-tiba Alex sudah ada di hadapannya, Alex menatap Brayen tajam dan seolah dia tahu semuanya.
Karena di depan ruangan itu banyak penjaga istana.
Brayen menyuruh Alex untuk ikut dengan dirinya ke ruangan rahasia yang hanya di ketahui oleh Alex dan Brayen.
Alex mengikuti Brayen.
...----------------...
Tempat rahasia.
" Aku tidak menyangka kau melakukan hal ini, Brayen!!" Teriak Alex.
" Sudah kuduga bahwa kau tahu! " Ucap Brayen.
" Aku tahu setelah melihat panah dan racun tersebut. Panah itu adalah panah yang kau buat khusus untuk para penjaga bayanganmu, dan racun itu adalah racun Westeria. Racun itu hanya di ketahui oleh 3 orang. Yaitu aku, kau dan perempuan itu!! Jadi sudah pasti.
" Kau adalah dalang dari insiden ini.... " Alex sedikit merendahkan suaranya.
Brayen tahu, bahwa sahabatnya sudah mengetahuinya dari awal, bahwa dia adalah dalang dalam insiden itu.
__ADS_1
" Kau benar, akulah dalangnya." Ucap Brayen dingin tanpa ekspresi.
" Ekspresimu memperlihatkan bahwa kau tidak menyesalinya!!! " Ucap Alex serius dan sedikit emosi.
" Untuk apa kau melakukan ini Brayen? " Sekali lagi Alex bertanya.
" Tadinya panah itu di tujukan untuk gadis itu (Viona), karena dia sudah ku beri sihir perlindungan dari racun dan panah tersebut. "
" Aku hanya ingin menguji dia, apakah dia akan membiarkan wanita yang merebut posisinya mati terkena panah, karena dia adalah wanita kejam yang membunuh adikku tanpa berkedip sekali pun. "
" Aku hanya ingin memastikan itu. Namun, aku tidak menyangka bahwa dia akan memasang badan untuk melindungi gadis yang telah merebut tempatnya. " Ucap Brayen sembari menundukan kepalannya.
" Kau merencanakan hal ini hanya untuk itu??!! Apa kau tahu?!! Nyawa seseorang hampir hilang Ray!!! " Alex dengan nada tinggi.
" Jangan memanggilku dengan nama itu!!!! " Brayen tiba-tiba murka setelah Alex menyebut dirinya dengan sebutan Ray.
" Nama itu hanya untuk dia saja. " Suara Brayen kembali merendah.
" Haah!! Jadi kau masih memikirkannya?!! " Tanya Alex.
" Diam!!!!! " Brayen sekali lagi meledak marah.
" Jika kau terus membicarakannya, aku pastikan kepalamu lepas dari badanmu!! " Ucap Brayen serius.
" Kau masih saja seperti dulu Brayen, bagaimana jika kau telah salah menuduhnya? " Ucap Alex.
" Aku tidak mungkin salah!! karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku bahkan sudah menyelidikinya, dan semua bukti ada padanya." Ucap Brayen yakin.
" Haaaahhh!! kita bicarakan ini nanti. Aku harus memberi dia penawar racun." Brayen menghela nafas.
" Kalau begitu cepat!!! beri dia penawarnya!! " Bentak Alex.
...----------------...
BERSAMBUNG............
__ADS_1