
Kesokan harinya.
Rose yang memiliki waktu senggang, dia berjalan-jalan di taman kesukaannya di temani oleh Layla.
Sambil berjalan-jalan di taman, Rose menggumamkan tentang Brayen yang tiba-tiba pergi keluar istana tanpa memberi tahunya.
" Prajurit bilang yang mulia pergi keluar istana, kenapa dia tidak memberi tahuku." Rose bertanya-tanya.
" Mungkin urusannya sangat mendesak sehingga beliau tidak memberi tahu anda. " Layla menebak.
" Ya, itu mungkin. " Ucap Rose.
Sebenarnya, yang Brayen lakukan saat ini adalah.
...----------------...
Luar istana, tepatnya di ibu kota kerajaan Turnatara.
" Aku tidak tahu, di mana tempat untuk membeli sebuah cincin. " Ucap Brayen sedikit kesal.
Brayen sebenarnya pergi keluar istana dengan Tensis, untuk membeli sebuah cincin.
Dia menyamar sebagai seorang rakyat biasa.
" Tensis kau harus memberitahu tempat yang bagus dan paling mahal. " Ucap Brayen.
" Ya, yang...ahh...tuan. " Ucap Tensis.
" Kau hampir membuka samaranku! " Ucap Brayen sinis.
" Maaf, tuan. "
Ini pertama kalinya Brayen membeli barang langsung. Biasanya dia hanya menyuruh Tensis untuk membeli barang-barang.
Karena dia ingin membelikan sesuatu yang spesial untuk Rose, Brayen harus datang sendiri dan memilih langsung barang tersebut.
| Yang mulia tidak pernah membeli sesuatu sendiri, dia hanya menyuruhku untuk membeli sesuatu, entah itu barang mahal maupun barang rahasia. | Pikir Tensis.
" Kemana kita harus pergi? " Tanya Brayen kepada Tensis.
Tensis menunjuk sebuah toko perhiasan yang tepat di sebrangnya.
" Di sebrang sana ada toko perhiasan, toko tersebut sering di kunjungi oleh para wanita bangsawan, mereka bilang itu tempat yang paling bagus untuk mencari cincin. " Jelas Tensis.
Brayen menatap ke arah yang di tunjuk Tensis.
Toko tersebut sangat mewah dan besar.
Brayen menggelengkan kepalanya dan berkata.
" Aku tidak akan membeli barang dari sebuah toko yang sudah ramai, cari yang tidak ramai. " Ucap Brayen seraya pergi.
Tensis bergumam dengan kesal.
" Hah...aku harus selalu sabar, menghadapi beliau. " Ucapnya sabar.
Tensis pun mengikuti Brayen.
Mereka berdua terus mencari toko yang sederhana tetapi berkualitas.
Setelah beberapa lama mereka berjalan, Brayen melihat salah satu toko yang menarik perhatiannya.
" Kita kesana. " Ucap Brayen kepada Tensis.
" Ya? " Tensis Bingung.
" Di sana ada toko, bukankah itu toko perhiasan. " Ucap Brayen.
Ternyata yang di maksud Brayen adalah toko buku.
" Tuan, itu toko buku bukan perhiasan. " Ucap Tensis.
" Benarkah? " Ucap Brayen.
__ADS_1
" Benar, tuan. "
| Hah, yang mulia terlihat kikuk, siapa sangka beliau akan mencari perhiasan sendiri. Laki-laki yang hanya tahu cara berpedang, strategi berperang, dan dokumen-dokumen. Kini sedang mencari sebuah toko perhiasan, hanya demi istrinya.| Tensis berpikir.
" Lebih baik, anda mengikuti saya saja, di gang sebelah sana ada toko perhiasan yang tidak terlalu ramai. " Ucap Tensis tidak sabar.
" Baiklah, ayo kita ke sana. " Ucap Brayen.
Mereka pun pergi ke toko tersebut.
...----------------...
Kerajaan Moniquee.
Wilson mengunjungi ayahnya Julius, Wilson ingin bertanya, kapan Rose akan datang kemari.
" Ayah? " Panggil Wilson kepada Julius.
Julius, yang sedang menulis surat dia langsung menjawabnya.
" Apa? " Tanya Julius.
" Yang mulia putra mahkota, lebih baik anda duduk dulu. " Felix memberi tawaran agar Wilson duduk.
Wilson pun duduk di sopa yang tepat, berada dekat dengan meja kerja Julius.
Dia kemudian bertanya.
" Kapan dia akan kemari? " Tanya Wilson.
" Aku sedang menulis surat lagi, mungkin ini sedikit memaksa. " Ucap Julius.
" Jadi? " Tanya Wilson.
" Aku tidak tahu dia akan kemari kapan, tapi yang jelas aku akan bertanya lewat surat ini. " Ucap Julius.
" Aku tidak sabar bertemu dengannya. " Wilson bergumam.
" Aku lebih tidak sabar. " Timpa Julius.
" Benarkah? " Tanya Wilson.
" Ya, sangat tidak sabar. "
" Aku tahu bahwa Rose adalah anakku, hanya dengan sebuah rambut yang dia tinggalkan, bukan hanya itu, aku sudah menduga karena dia sangat mirip dengan dia, bahkan namanya saja sudah memastikan bahwa dia adalah anakku. " Ucap Julius.
" Aku sudah berusaha keras, untuk membawanya, tetapi ibumu terus melarikan diri. " Julius murung.
" Itu karena kakekmu, dia tidak merestui hubunganku dengan ibumu. Tetapi, saat dia tahu jika ibumu melahirkan seorang anak laki-laki dan itu adalah dirimu, dia langsung menyetujui hubunganku dengan syarat ibumu tidak boleh mengandung lagi, jika dia mengandung lagi, maka kakekmu akan membunuhnya. Tapi karena aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh ibumu, dia mengandung lagi. " Julius menceritakan.
" Berita kehamilan ibumu terdengar sampai ketelinga kakekmu, ibumu yang takut, kabur dari kerajaan dengan sihir penghapus jejak. Sihir itu akan hilang setelah 6 tahun. "
" Itulah kenapa aku tidak bisa mencarinya selama 6 tahun. "
" Dan aku menemukan dia kembali setelah 6 tahun, aku ingin membawanya pulang, tetapi dia malah kabur lagi, setelah melewati malam yang panas, dia pergi begitu saja. " Ucap Julius.
" Apa ayah, tidak melihat anakmu sama sekali? " Tanya Wilson.
" Pada saat itu, dia tidak ada, entah di mana ibumu menyembunyikannya. " Ucap Julius.
Wilson menggelengkan kepalanya.
" Kisah cinta kalian benar-benar rumit, seperti bermain petak umpet, yang satu bersembunyi dan yang lainnya mencari. " Wilson berbicara dengan nada rendah.
" Ibumu di kenal sebagai ahli sihir, dia mampu membuat pedang dengan sihir yang kuat, bahkan ibumu sangat pandai dalam membuat racun. " Ucap Julius.
" Aku sudah tahu mengenai hal itu. "
...----------------...
Brayen mengunjungi satu toko perhiasan yang sedikit sederhana dibanding toko perhiasan lainnya.
Saat Brayem masuk ke dalam toko tersebut, pemilik toko itu menyambut Brayen dengan ramah.
" Selamat datang Tuan. " Sambutnya ramah.
" Ya. " Brayen mengangguk.
" Silahkan duduk terlebih dahulu. " Pemilik toko itu menyuruh Brayen dan Tensis untuk duduk.
Saat Tensia akan duduk, Brayen tiba-tiba berbicara.
" Tidak perlu, aku ingin langsung memilik barangnya. " Ucap Brayen seraya berjalan dan melihat-lihat setiap perhiasan.
Tensis yang bahkan belum menyentuh kursi sedikit pun, terpaksa harus berdiri lagi dan mengikuti Brayen.
__ADS_1
| Aarrgghh, duduk dulu!! duduk dulu!! Aku sudah lelah berjalan dari pagi, dan itu pun belum istirahat sama sekali. Tolong kasihanilah aku. Jika terus seperti ini, aku akan cepat tua. | Teriakan Batin Tensis.
" Yang mana yang ingin anda pilih? " Tanya pemilik toko.
Brayen menatap sebuah cincin permata yang sangat besar.
" Tolong ambilkan aku yang itu! " Perintah Brayen.
Pemilik toko itu mengambilkan cincin yang di maksud Brayen.
Cincin itu memiliki berlian di tengahnya, berlian itu berwarna hijau jamrud, dan sangat besar.
Tensis yang melihat cincin itu, dia berkomentar.
" Tuan, itu adalah berlian batu akik, tidak akan cocok jika di pakai oleh perempuan muda seperti nyonya. " Tensis berkomentar.
" Benarkah? Tapi, itu sangat bagus dan besar. " Ucap Brayen.
Tensis menepuk jidatnya.
| Ya, ampun. hanya karena besar dia akan membelinya, itu lah sebabnya jangan membiarkan, seorang lelaki yang tidak berpengalaman untuk membeli barang seperti ini. Jika di biarkan, maka akan jadi seperti sekarang. | Tensis membatin.
" Itu terlalu tua tuan. " Ucap Tensis meyakinkan.
" Kalau begitu pilih yang lain. " Ucap Brayen.
Brayen melihat lagi, dan dia menunjuk dua kotak sekaligus.
" Ambil yang itu dan yang itu " Perintah Brayen.
Pemilik toko mengambil kedua kotak tersebut dan membukanya.
Cincin itu memiliki permata merah ruby yang cantik, tetapi itu besar.
Dan yang satunya lagi berwarna hijau jamrud, itu pun sangat besar.
" Tidaaaaak. Tuan, nyonya tidak akan suka dengan cincin itu. " Tensia pun dengan tiba-tiba berteriak.
" Kau ini kenapa? " Tanya Brayen.
" Jangan membeli itu, nyonya tidak suka berlian yang terlalu berlebihan. " Ucap Tensis.
Melihat tingkah laku Brayen dan Tensis, pemilik toko itu kebingungan.
Dan dia pun mengambil sebuah kotak.
" Bagaimana jika cincin ini, cincin ini kecil tetapi memiliki makna yang mendalam. " Pemilik toko memberikan kotak tersebut kepada Brayen.
Dan Brayen membukanya.
Cincin itu terlihat sederhana, tetapi indah di pandang.
" Ini indah, sederhana tetapi terlihat mewah dan elegan. " Brayen bergumam.
" Beri aku dua pasang, dan bungkus semuanya. " Ucap Brayen.
" Maaf? " Tanya Pemilik toko kikuk.
" Aku akan membeli semua perhiasan ini, karena semuanya terlihat bagus. " Ucap Brayen.
" Semuanya? " Tanya pemilik toko memastikan.
" Aku sudah menduga akan hal ini. Untuk apa dia memilih dan melihat-lihat, jika pada akhirnya dia membeli semuanya. " Gumam Tensis kesal.
" Tensis bayar!! "
Tensis berbisik kepada pemilik toko, setelah bisikan tersebut, pemilik toko itu seketika gemetar.
" Jadi, barangnya tolong kirim ke istana. " Ucap Tensis dengan senyuman.
" Ahh...ba..baik. "
" Ayo, kita harus kembali, istriku sudah menunggu di rumah. " Ucap Brayen seraya meninggalkan toko tersebut.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG..........
BYBY😉