AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 77


__ADS_3

" Ray!! " Panggil seseorang dari belakang.


Brayen dan Rose menengok.


" Siapa? " Ucap Brayen.


Dan itu ternyata adalah Alex, dia sudah berpakaian rapih.



Begitu pula dengan Viktor.


Brayen pun bertanya.


" Kau datang juga, sepertinya kau juga ingin melihat penghukuman ibu suri. " Ucap Brayen.


Alex turun dari kudanya, dan dia pun menjawab.


" Yah, sepertinya sebelum kembali ke kerajaanku aku harus menyaksikan penghukuman ini. " Ucapnya.


Rose yang mendengar itu, dia bertanya.


" Kau akan pulang? " Tanya Rose memastikan.


" Ya, aku akan pulang, apa kau tidak rela? " Alex menggoda Rose.


" Alex!!! " Brayen kesal.


" Baiklah,baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi. " Ucap Alex.


" Aku sudah terlalu lama di sini, dan membiarkan kerajaanku, ini sudah saatnya aku pulang. " Ucap Alex.


" Yah, biar bagaimana pun, kau ini adalah raja, seorang raja seharusnya tidak berkeliaran di kerajaan orang lain. " Ucap Brayen.


Alex tersenyum dan dia berbicara lagi.


" Kau benar, sebenarnya aku kesini karena seseorang.....Seseorang, yang cocok menempati posisi ratu di kerajaanku. " Ucap Alex yang menatap ke arah Rose.


Brayen melihat tatapan Alex, yang lembut terhadap Rose.


Dia segera menghalangi Rose dengan badannya.


Rose pun bertanya-tanya.


" Ada apa ini, kenapa kau tiba-tiba menghalangiku? " Tanya Rose.


Brayen tidak menghiraukan pertanyaan Rose.


" Berhenti menatap istri orang!! " Ucap Brayen kesal.


" Aku tidak akan memberikannya kepada orang lain. " Ucap Brayen.


" Hah, aku tahu. Aku sudah mengubur perasaan ini, kau tenang saja. " Alex menepuk bahu Brayen dan dia pergi menuju kursi yang telah di persiapkan.


| Jadi, Alex mempunyai perasaan kepadaku? sejak kapan? | Pikir Rose.


Brayen berbalik dan menatap Rose yang sedang memikirkan sesuatu.


" Apa yang kamu pikirkan? " Tanya Brayen.


" Tidak, aku hanya ingin ini semua cepat selesai. " Ucap Rose.


" Kalau begitu, ayo kita duduk dan menyaksikannya. " Ucap Brayen seraya mengulurkan tangannya dan menggenggam lengan Rose.


...----------------...


Guillotin, sudah tersedia di tengah lapang dan para Rakyat Turnatara pun sidah mulai tidak sabar.



" Tensis, bawa mereka kemari!! " Brayen memerintah.


Tensis pun mengangguk mengerti, dan dia pun mengutus prajuritnya untuk membawa Ibu suri dan Count Ferdi beserta pengikutnya.

__ADS_1


" Bawa mereka kemari!!! " Teriak Tensis.


" Baik, ajudan. " Jawab mereka serentak.


Mereka pergi dan tidak lama kemudian mereka membawa para tahanan yang di maksud.


Para rakyat bersorak dan meminta agar mereka segera di hukum.


...----------------...


Ibu suri dengan kaki dan tangan yang terbelenggu oleh beratnya besi.


Rambut hitam ibu suri yang dulu indah dan berkilau kondisinya lebih buruk dari pada bulu babi yang lusuh yang baru saja berguling-guling di lumpur.


Penampilannya yang dulu mewah, sekarang sudah tidak terlihat sedikitpun. Dirinya seperti pengemis, bahkan lebih buruk dari pengemis.


Sedangkan di sisi lain, Count Ferdi yang tidak bisa berjalan karena luka di bagian bawahnya.


Dia di seret dan harus merangkak-rangkak, Count Ferdi, bahkan masih meringis dan menangis, luka yang bernoda garam, dan darah itu dipenuhi dengan rasa sakit yang tak tertahankan, dan itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk bertobat.


" Kau ternyata melakukannya. " Ucap Rose.


Rose melihat bagaimana orang yang selama ini menyiksa dan menipunya. Kini di hukum atas apa yang telah mereka perbuat.


" Itu bahkan belum cukup. " Ucap Brayen dingin.


" Yah, tidak buruk. sepertinya kau harus menggantung bangkainya di atas tebing. " Alex pun ikut bicara.



" Itu sudah pasti, kepala mereka akan aku gantung di gerbang masuk kerajaan, dan tubuhnya akan di gantung di tebing sebagai makanan burung. " Ucap Brayen.


" Kenapa di gerbang masuk kerajaan? " Tanya Rose.


" Itu sebagai contoh, jika seseorang berkhianat dan melakukan hal yang keji, maka kepala mereka pun akan bernasib sama. " Ucap Brayen serius.


Rose, mengalihkan perhatiannya kepada pengikut ibu suri yang akan di eksekusi.


Ternyata mereka adalah para dayang yang selama ini membully Rose, mereka yang menertawakan Rose, dan membuat Rose menderita selama tinggal di istana.


Brayen tersenyum, dan dia berbicara.


" Ya, mereka pantas mendapatkannya, mereka tidak menghormatimu, dan juga, mereka melakukan pencurian dan kekerasan terhadap anak kecil. " Ucap Brayen.


| Pantas saja, para dayang itu tidak terlihat selama ini, ternyata Ray yang melakukannya. | Pikir Rose.


" Tidak hanya itu, mereka melakukan banyak hal yang merugikan kerajaan. " Timpa Brayen.


" Kau tidak usah mengasihani mereka Rose, mereka akan mengulang hal yang sama, jika mereka tidak di hukum. " Alex berbicara.


...----------------...


" Eksekusi dulu, nenek lampir itu, aku sudah muak melihat wajahnya. " Ucap Brayen.


" Baik, yang mulia. " Tensis patuh.


Ibu suri di seret, saat dia akan naik ke balkon tempat guillotin berada.


Ibu suri berbicara dengan susah payah.


" Kau adalah anak yang paling aku benci!!! kau memuakkan!! Kenapa yang mati buka kau saja, kenapa aku? Padahal aku sudah berusaha keras untuk membunuhmu, tapi kenapa semuanya sia-sia!!..." Ibu suri berteriak dengan sisa suaranya.


" Kau!! " Ibu suri menunjuk ke arah Rose.


" Wanita jal*ng!! Aku sudah membantumu untuk menjadi Ratu, tapi kau malah seperti ini? " Ucap ibu suri melantur.


" Kau hanya memanfaatkanku saja. " Gumam Rose.


" Dunia ini tidak adil bagiku, semua yang aku kerjakan selalu berakhir seperti ini. " Teriak Ibu suri.


Brayen menatap lekat ibu suri, dan dia dengan emosi memerintahkan Algojonya agar ibu suri cepat di eksekusi.


" Seret dia dan lakukan eksekusinya!! " Teriak Brayen

__ADS_1


Algojo tersebut maju dan menjambak rambut ibu suri dengan ganas.


" Tidaaaaaakkk.......kau bajingan!!! " Ibu suri berteriak.


" Lepaskan aku!!! " Teriaknya.


Algojo tersebut menaruh kepala Ibu suri di atas Guillotin, bilahnya bersinar sangat terang sehingga sepertinya bisa memotong tulang dengan satu ayunan.



Segera, Brayen menurunkan tangannya sebagai tanda eksekusi.



Dengan demikian, bilah itu mengayun ke bawah, membelah angin dan memisahkan kepalanya dari tubuhnya dalam sekejap, hidupnya berakhir dengan menyedihkan begitu saja.



Darah mengalir dengan derasnya, kepala ibu suri berguling-guling tanpa arah.


Hal itu pun terjadi kepada Count Ferdi dan para pengikutnya.


Setelah Eksekusi itu selesai, bagian tubuh mereka mulai dari kepala dan tubuh.


Di gantung terpisah sesuai dengan yang Brayen katakan.


Eksekusi tersebut berakhir dengan sorakan Rakyat yang nyaring dan bergema di seluruh Kerajaan.


...----------------...


Alex yang sudah selesai menyaksikan eksekusi tersebut, dia memutuskan untuk kembali ke kerajaan Leopard malam ini juga.


" Aku akan pergi sekarang juga. " Ucap Alex.


" Pergilah, kau sudah tidak memiliki urusan lagi. " Brayen sinis.


" Kau memang tidak pernah menahanku untuk tinggal, tapi sepertinya Rose berbeda denganmu. "


Alex menghampiri Rose dan dia mengulurkan tangannya.



" Beri aku salam perpisahan. " Ucap Alex.


Rose pun bersalaman dengan Alex.


" Yah, kau adalah sahabat yang baik. Mungkin suatu hati nanti aku pasti akan berkunjung ke kerajaanmu. " Ucap Rose.


" Berkunjunglah, aku pasti akan menyambutmu dengan meriah. " Ucap Alex.


Alex melepas tangannya, karena dia tahu ada seseorang yang menatap dirinya tajam.


" Hei kawan, jangan kau sia-siakan lagi istrimu, jika kau melakukan itu, aku akan merebutnya darimu. " Ucap Alex seraya pergi.



" Ayo Viktor kita pergi. "


" Baik, yang mulia. " Ucap Viktor patuh.


Viktor memberi salam kepada Rose dan Brayen.


" Salam semoga anda di berkahi. " Ucap Viktor seraya membungkuk.


" Ya, pergilah. " Ucap Brayen.


Mereka pun pergi dengan kereta kuda.



...----------------...


BERSAMBUNG..........

__ADS_1


Byby😉


__ADS_2