
" Aku tahu jika kedua anakku sangat membenciku, terutama brandal itu. " Ucap Raja Aleandro sambil menatap ke arah Brayen.
Rose yang mendengar penjelasan Raja Aleandro, mulai mengerti bahwa akar semua masalah ada pada Ratu Pertama.
Rose berpikir.
Setelah masalah ini selesai, Rose akan memenggal kepala Ibu suri dan para pengikutnya.
| Akar dari semuanya adalah Ibu suri, mahluk itu harus segera di hentikan. Ketika semua ini berakhir, aku akan menghukum dirinya dan para pengikutnya. |
Saat Rose sedang memikirkan sesuatu, Ratu Ajertina berbicara kepada Rose.
" Nak! Dengarkan aku baik-baik, di sini aku berbicara bukan sebagai Ratu. Tapi sebagai seorang ibu, jika kau mencintai dia, aku mohon berilah dia cinta yang tulus dan kasih sayang yang tidak pernah dia rasakan. Biarkan dia merasakan semuanya. " Ucap Ratu Ajertina.
Rose hanya diam, dia tidak bisa menjawab.
" Aku tahu, kau mencintainya. Tapi kau masih belum menyadarinya." Ucap Ratu Ajertina.
" Yah, sepertinya sebentar lagi matahari akan naik. " Ucap Raja Aleandro yang terus melihat ke arah jendela.
Zekillion menghampiri Brayen dan membuka sebuah botol yang berisikan cairan putih.
Zekillion memberikan cairan itu ke dalam mulut Brayen.
" Apa yang anda berikan kepada Yang mulia ? " Tanya Tensis.
Zekillion melemparkan botol yang berisi cairan putih tersebut kepada Tensis.
Tensis pun dengan cepat menangkapnya.
" Itu adalah cairan suci, kau tidak perlu bertanya aku mendapatkan itu dari mana, yang jelas itu adalah penawar yang paling ampuh. " Ucap Zekillion.
" Cairan suci? " Ucap Rose.
Zekillion melihat ke arah Berta.
" Kau melakukan hal yang sia-sia. " Ucap Zekillion dengan wajah datar.
Berta hanya terduduk dan meratapi nasibnya.
" Hah, aku tidak percaya bahwa aku membangkitkan kematianku sendiri. " Ucap Berta.
" Kau sangat bodoh, kau pikir semua mahluk yang kau bangkitkan akan bisa di kendalikan dengan mudah. " Ucap Raja Aleandro.
Berta hanya tersenyum pahit.
Ratu Ajertina melirik ke arah Zekillion dan Raja Aleandro.
Mereka bertiga mengangguk seperti sedang menyetujui sesuatu.
Zekillion menghampiri Rose dan dia mengatakan sesuatu.
" Sangat berat mengatakan ini...Tapi, ini saatnya untuk kita berpisah. " Ucap Zekillion dengan nada berat.
Rose menatap wajah adiknya dengan penuh kasih sayang.
" Ahhh...Kau...Akan pergi? " Tanya Rose berat.
" Ya, maaf....Karena aku harus pergi lagi. " Ucap Zekillion.
Rose merasakan dadanya sesak ketika dia menahan diri untuk tidak menangis.
" Haaaaahhh......
Rose menghela nafas dan bertanya lagi.
" Sekarang? " Tanya Rose.
Zekillion menganggukkan kepalanya.
" Ya. "
Rose membalikkan badannya, seolah menyembunyikan kesedihan yang dia rasakan.
Ratu Ajertina menghampiri Brayen dan mencium keningnya dengan lembut.
" Meskipun, aku tidak bisa melihat secara langsung, bagaimana kau tumbuh besar dan bisa menjadi sekuat ini. Yang jelas, aku bangga bisa memiliki anak seperti dirimu. " Ratu Ajertina terus mencium kening Brayen.
Sedangkan Zekillion, dia menghampiri Rose dan memeluk Rose dari belakang.
__ADS_1
" Tolong tersenyumlah saat aku pergi. " Pinta Zekillion.
Rose berbalik dan memegang tangan adiknya.
" ......Baiklah. " Rose tersenyum dan mengangguk.
Raja Aleandro yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara.
" Hei kau!! " Raja Aleandro, menunjuk Taran.
" Saya? " Tanya Taran memastikan.
" Iya kamu, lalu siapa lagi. " Ucap Raja Aleandro.
Taran menghampiri Raja Aleandro dan berbicara.
" Ada apa yang mulia? " Tanya Taran.
" Mendekatlah. " Ucap Raja Aleandro.
Taran mendekat lagi.
" Lebih dekat!! " Pinta Raja Aleandro.
Taran semakin dekat.
" Miringkan kepalamu. " Pinta Raja Aleandro.
Taran menuruti perintahnya.
" Telinga!! " Ucap Raja Aleandro.
" Telinga!? " Tanya Taran kikuk dan was-was.
" Ya, aku ingin membisikan sesuatu. Kemarilah. " Pinta Raja Aleandro.
Taran mengelus dadanya dan bertanya lagi.
" Ada apa yang mulia? " Bisik Taran.
Raja Aleandro, mulai membisikkan sesuatu ke telinga Taran.
" Carikan ramuan penyubur, dan pastikan brandal itu membuat cucu yang banyak. " Bisik Raja Aleandro tanpa beban.
" Kau dengar tidak!? " Tanya Raja Aleandro.
" Ahh...Ya...Cucu." Bisik taran
| Keturunan, cucu, anak, penerus, dan yah anak. Pokonya itu pasti berhubungan dengan tempat tidur.| Pikir Taran kacau.
Ratu Ajertina menghampiri Raja Aleandro.
" Bicara apa kau? " Tanya Ratu Azertina.
" Ahhk, tidak. Aku hanya bilang jangan lupa mematikan lampu. " Ucap Raja Aleandro.
" Kau yakin? " Ratu Ajertina memastikan.
" Ya...Berhenti menjadi cerewet. "
" Jika kau tidak ingin menambah dosa, jangan bicara hal yang tidak-tidak. Mengerti!! " Ucap Ratu.
Ratu Ajertina pergi.
" Perempuan memang mempunyai dua mulut. " Gumam Raja Aleandro.
Ratu Ajertina membalikkan badannya dan berbicara.
" Apa yang kau bilang?! " Tanyanya dengan wajah kesal.
" Tidak. "
" Issshh, aku tidak habis pikir bahwa kau adalah suamiku. " Ratu Ajertina menatap Raja Aleandro dengan tatapan mengejek.
Zekillion melihat ke arah jendela yang terbuka, dan dia berbicara dengan nada rendah.
" Kalian bisa memusnahkan penyihir itu sekarang, sebentar lagi matahari akan naik. " Ucap Zekillion.
Taran mengangguk dan dia segera membaca mantra penghancur.
" Hah, tidak bisa aku percaya, bahwa aku kalah menghadapi cecunguk seperti kalian. " Ucap Berta pasrah.
Taran dengan sihirnya segera membakar Berta.
__ADS_1
Suara jerita dan raungan terdengar nyaring.
Berta menjerit merasakan panasnya api sihir yang membakar habis dirinya.
Mereka yang menyaksikan langsung melihat bagaimana, api itu perlahan-lahan membakar kulitnya hingga melepuh dan kemudian membakar daging serta organ dalam lainnya.
" Dia merasakan bagaimana panasnya api menghabisi seluruh tubuhnya. Dan dia pun akan merasakan lagi hal itu di neraka bahkan lebih panas dari ini. " Ucap Rose serius.
Tidak ada yang tersisa dari tubuh Berta, bahkan sebutir abu pun tidak ada.
Berta kini telah hilang sepenuhnya dari bumi, dan dia akan mendapat siksaan atas apa yang telah dia perbuat selama dia hidup.
Rose menghela nafas lega.
Dia berbalik ke belakang dan menatap jendela.
Matahari pun mulai naik dan pagi pun tiba.
Suasana yang sunyi, terpecah dan berubah menjadi sedih, oleh suara seseorang.
" Kak? "
Panggil Zekillion yang tubuhnya sudah mulai retak.
Rose melirik ke arahnya dengan memasang senyuman yang di minta sang adik.
" Ahhh....ini berat.. " Ucap Rose yang menyaksikan tubuh adiknya yang perlahan-lahan hancur.
Di sisi lain, Raja dan Ratu terdahulu pun tubuhnya sama seperti Zekillion.
Mereka mulai tidak utuh.
Tensis dan yang lainnya memberikan penghormatan terakhir dengan bertekuk lutut dan menundukkan pandangan mereka.
Raja Aleandro memaksa membuka mulutnya dengan sulit dan berbicara kepada Rose.
" Hei, menantu. Ingat pesanku, buat cucu yang banyak, dan jangan lupa mematikan lampu. "
Ratu Ajertina pun ikut berbicara.
" Nak, percayalah takdir bisa di rubah jika kau mau berusaha merubahnya. Dan satu lagi, jangan mudah tergoda oleh laki-laki. Kau harus bisa tarik ulur, mengerti. "
Rose tersenyum dan mengangguk.
Rose menatap adiknya.
Giliran Zekillion yang menyampaikan pesannya.
" Aku, hanya ingin bilang, hiduplah sesuai keinginanmu, jangan menahannya dan jangan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. " Pesan Zekillion.
Rose tersenyum dengan air mata yang bocor.
" Haaahh....Aku...Pasti akan mengingatnya. " Rose menahan tangisannya dan terus tersenyum.
Menatap ketiga sosok yang berangsur-angsur menghilang di hadapannya.
Mereka bertiga hilang tanpa meninggalkan jejak apapun.
Rose yang sudah tidak kuat menahan tangisannya.
Jatuh dan mengeluarkan air mata yang dia bendung.
" Haaahh.....hiksss.....ughh..." Rose memegang dadanya erat dan menangis.
Pertemuan mereka sangat langka, mereka sekarang tidak akan bertemu lagi di dunia yang sama.
...----------------...
BERSAMBUNG.........
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN!!!!
KALO BISA VOTE YAH😊
__ADS_1