
Ruang kerja Brayen.
" Apa yang ingin kau bicarakan? " Brayen bertanya kepada Alex yang sudah ada di ruang kerjanya.
Alex berdiri dari tempat duduknya. Semua petugas, termasuk Tensis, dan Viktor menunggu di luar ruangan.
" Aku ingin tahu tentang kasus kematian adikmu putri Raisya. " Tanya Alex.
" Untuk apa? " Brayen bertanya lagi dengan nada kesal.
" Aku hanya penasaran, kenapa kau sangat yakin bahwa sang Ratu yang sudah membunuh adikmu? " Ucap Alex seraya memiringkan kepalanya.
" Sudah ku bilang aku melihatnya sendiri. " Jawab Brayen ketus.
" Aku ingin mendengarnya secara lengkap. Cepat ceritakan! Jika tidak, maka aku tidak akan pergi dari ruangan ini, dan akan terus menggoda mu di sini! " Alex mengancam Brayen.
" Ha... " Brayen menghela nafas panjang.
" Jadi? " Tanya Alex.
" Baiklah, akan aku ceritakan. " Brayen pasrah.
" Akhirnya....." Senyum kemenangan di buat oleh Alex.
" Jadi....
...----------------...
[ ingatan brayen ]
Di sore hari menjelang malam, tepatnya di taman istana kekaisaran.
Adikku menghampiriku di ruang kerja dan memanggilku dengan begitu ceria.
" Kak Ray!!!!!! " Panggil seorang perempuan berumur 15 tahun dengan ceria, dia adalah Putri Raisya Damian Turnatara.
Aku bertanya kepadanya, mengapa dia mengunjungiku.
" Ada apa? Kenapa kau datang ke ruangan kerjaku? " Tanyaku dingin.
Dia hanya mengatakan bahwa melihat taman di sore hari akan sangat indah.
" Yang Mulia Raja bilang, jika aku melihat kolam di taman belakang istana sore hari, maka itu akan terlihat sangat indah." Ucapnya dengan nada ceria.
Saat itu aku hanya diam, aku tahu bahwa adikku ingin pergi ke taman yang dia maksud, lalu aku mengatakan.
" Kau boleh pergi jika kau memang menginginkannya, dan jangan lupa bawa pengasuhmu untuk ikut. " Ucapku.
Dia terlihat senang ketika aku mengizinkan dia pergi untuk melihat taman. Tapi, raut wajahnya sedikit murung, dia bilang dia ingin pergi denganku.
" Baiklah kak Ray. Tapi.....Sebenarnya aku ingin pergi ke sana dengan kakak, aku sangat merindukanmu, kita sudah 6 tahun tidak bertemu. " Raisya mengatakan hal itu dengan wajah murung.
Meski begitu aku tetap menolaknya.
Aku menolaknya, karena pada hari itu pak tua (Raja) memberikan pekerjaan yang sangat banyak kepadaku.
__ADS_1
" Maafkan aku Raisya, hari ini aku sibuk. Mungkin besok aku bisa meluangkan waktu untukmu, Bagaimana? " Aku menolak, tapi sebagai gantinya, besok aku harus meluangkan waktu untuknya.
" Hmmmmmm....Baiklah kak Ray. Tapi, kakak harus janji akan datang besok!! " Ucapnya dengan senyum yang manja.
" Baiklah, kakak akan datang besok Raisya. " Jawabku serius.
Raisya kemudian berbicara lagi.
" Kakak, katanya di istana ini banyak putri-putri yang akan menjadi istri kakak nanti. Apa itu benar? " Raisya bertanya, dia bertanya tentang pemilihan putri mahkota (Ratu).
" Iya, itu benar raisya. " Jawabku dingin.
" Kakak harus memilih istri yang baik, dan peduli terhadap kerajaan ini. Jangan salah memilih!! " Raisya bicara sambil tersenyum ceria, seraya menegaskan kata-katanya.
" Yah, kakak akan memilih yang terbaik. " Ucapku pasti.
" Sebenarnya, aku sudah memilih satu yang paling baik untuk mu kak, dia sangat baik, lembut, dan juga cantik. " Ucap Raisya.
" Siapa namanya? " Tanya ku penasaran.
" Aku lupa kak!! Nanti akan ku beri tahu. Kalau begitu aku pergi dulu, aku harus melihat kolam sekarang. " Ucap Raisya.
" Pergilah Raisya...Hati-hati, lebih baik kau membawa pengawalku Tensis. " Aku menyuruh adikku untuk membawa Tensis.
Raisya waktu itu sudah pergi tapi dia menoleh ke arahku, dan dia bilang, dia tidak membutuhkan pengawal di sampingnya.
" Aku tidak butuh di kawal, kak. Jangan lupa besok kakak harus datang!!!!! " Teriak Raisya yang sudah di luar ruangan.
" Baiklah Raisya, kakak akan datang besok. "
| Dia seorang putri, tapi bicaranya keras, dia sungguh liar. | Pikirku heran.
Aku menyelesaikan dokumen itu sampai larut malam, setelah dokumen itu selesai.
Aku bertanya kepada penjaga di istana tersebut. Mereka bilang putri sedang melihat kolam di taman belakang istana.
Aku pikir dia sudah kembali ke istananya.
Aku memutuskan untuk pergi menemuinya di kolam belakang istana, untuk menyuruhnya kembali ke istananya, Karena ini sudah larut malam.
Namun, ketika aku sampai di sana dengan Tensis, aku mencium bau anyir darah bukan bau bunga.
Aku melangkah, satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Langkah ke empat, saat itu aku melihat darah berceceran di mana-mana.
Aku, dan Tensis segera berlari seperti serigala yang kehilangan mangsa.
Aku takut sesuatu terjadi kepada adikku.
Namun yang aku takutkan itu telah terjadi...
Aku berteriak kencang....
" Raisyaaaaaa!! " Teriakku memekik sekeliling taman.
Aku melihat adikku terbaring dengan darah yang memenuhi seluruh pakaiannya.
Namun ketika aku melihat lebih teliti, terlihat goresan yang besar di leher adikku itu sangat besar.
Hingga Tensis yang melihat pun memalingkan pandangannya, seakan leher kecil itu hampir terpisah dari badannya.
__ADS_1
" Tidak! Ini bukan adikku!! " Aku hancur tumbang ke tanah, aku menangis.
" Yang mulia!! Anda harus tabah..." Tensis menenangkanku.
Aku yang masih tidak percaya, terus menyangkal bahwa yang ada di depanku bukan tubuh adikku.
Adikku yang saat sore masih tertawa dan ceria. Sekarang tubuh itu hanya raga tanpa jiwa.
Aku hampir lupa, bahwa sebelum aku datang, aku melihat seorang perempuan, itu adalah Rose.
Dia memegang pisau dengan gaun penuh darah, di samping jasad adikku, bahkan aku melihat dia menusuk adikku tanpa berkedip sekali pun.
Aku marah kepada dirinya.....
" Kauuu!!! Kau membunuh adikku?!!! " Teriakku penuh emosi.
Dia berkata, 'tidak' tanpa gugup.
" Tidak!! Yang mulia, saya tidak melakukannya." Ucapnya tanpa ada rasa bersalah.
" Jika bukan dirimu!! Lalu siapa?!! " Sekali lagi aku berteriak.
" Yang mulia, harap tenang!! " Tensis berusaha menenangkan.
" Diaam!! " Teriakku keras.
" Sa—saya tidak tahu... " Rose bergetar sembari memegang pisau di tangannya.
" Kau tidak tahu?!! Lalu, kenapa kau menusuk adikku?!! Untuk apa pisau yang ada di tanganmu?!! " Aku bertanya dengan emosi yang terus meningkat.
" I—ini Sa—saya hanya..
Aku muak mendengar alasannya, aku langsung memanggil penjaga, dan mengurungnya di penjara.
Aku tidak tahu bahwa keesokan harinya aku datang bukan untuk bermain dengan adikku, tetapi, aku datang untuk mengantar adikku ke peristirahatan terakhirnya.
Ada banyak penyesalan yang ada di pikiranku.
Seandainya waktu itu aku ikut dengannya...
Seandainya waktu itu aku mengabaikan dokumen-dokumen yang tidak penting,
dan ikut bersamanya....
Mungkin hal ini tidak akan terjadi..
Yang ada dalam pikiranku, hari itu hanyalah sebuah penyesalan yang sudah tidak berguna.
Kini adikku hanya tinggal nama di batu nisan.
...----------------...
BERSAMBUNG......
SLOW UPDATE
COMMEN AJA YAH JANGAN MALU, AUTHOR SUKA KOK COMMENAN KALIAN XIXIXIXIXI
__ADS_1
BYE..BYE....NYAHAHAHAHAHA