AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 88 (Revisi)


__ADS_3

" Apa yang membawamu kemari? " Tanya Brayen kepada Wilson dengan sinis.



" Apa aku tidak boleh menemui adikku? " Ucap Wilson.


" Kau selalu datang di saat yang tidak tepat, tidak tahu situasi. " Ucap Brayen seraya memalingkan wajah.


Wilson menatap adiknya dan berbicara.


" Rose, namamu yang asli bukan Rose margarreta kan? " Tanya Wilson.


Rose menjawab dengan suara rendah.


" Ya, nama asliku Carla. Rose adalah nama pemberian Count Ferdi. " Ucap Rose.


" Buang nama itu, mulai sekarang namamu adalah Carla La Moniquee. " Wilson menegaskan.


Rose menatap wajah Wilson dan dia mengangguk.


Dia memang seharusnya membuang nama itu sejak dulu. Nama yang bukan miliknya, nama yang menjadi kenangan atas masa lalu yang mengerikan.


" Baiklah aku akan membuang nama itu. " Ucap Rose sendu.


Dia harus membuangnya dan melupakan semuanya, kecuali saat-saat dirinya bersama Zekillion, dia tidak bisa menghapus itu semua.


Dia akan mengingat adiknya sampai kapan pun.


" Bagus Carl , aku tahu kehidupan apa yang kau alami selama ini, aku bangga memiliki adik sepertimu dan Zekillion. Mungkin, jika anak itu ada di sini dia akan menjadi pangeran atau penerus kerajaan Moniquee. "


Carl heran dengan pernyataan Kakaknya yang bilang jika Zekillion bisa saja menjadi penerus dari Kerajaan Moniquee.


Karena Carl tahu jika ayahnya sudah menetapkan Wilson sebagai putra mahkota.


" Bukankah kakak sudah di tetapkan menjadi putra mahkota? " Carl bertanya.


" Ya kau benar. Namun, menjadi seorang raja tidak seindah yang di bayangkan, sebenarnya aku tidak berminat menjadi Raja. Aku mempunyai mimpi menjadi ahli sihir yang hebat. " Wilson berbicara dengan suara yang sangat rendah, dari raut wajahnya dia terlihat sedih.


Brayen pun ikut berbicara.


" Kau benar, menjadi seorang raja tidak seindah yang di bayangkan. Kita harus cepat tanggap, siap siaga, memikirkan segala keputusan yang harus kita ambil, jika di perlukan raja harus mengorbankan keinginannya sendiri demi kebaikan semua orang. "


Ucap Brayen serius.


Brayen kemudian menambahkan perkataanya lagi.


" Akan tetapi, percayalah kau akan merasa bangga pada dirimu sendiri ketika melihat rakyatmu tersenyum bahagia. Aku benar-benar merasakan hal itu." Brayen berbicara sesuai dengan pengalaman Brayen.


Wilson menangkap perkataan Brayen, mungkin dia bisa menjadi raja seperti ayahnya dan dia bisa juga menjadi seorang ahli sihir jika dia lebih berusaha dan menerima takdirnya.


" Kau benar, terima kasih telah memberikan pencerahan dengan perkataanmu. " Ucap Wilson seraya tersenyum.


Di tengah percakapan tersebut, air tiba-tiba menetes jatuh tepat di atas pipi mereka.


Mereka menyadari bahwa hujan akan turun, karena di lihat dari awan yang sudah hitam dan air yang mengenai pipi mereka.


" Hari sudah gelap dan sepertinya akan hujan deras. " Ucap Brayen.


" Sepertinya malam ini kita akan menyalakan tungku api di setiap kamar. " Ucap Wilson.


" Ya, kita harus kembali sebelum hujannya membesar. " Ucap Carl.


Mereka memutuskan untuk mengakhir percakapan dan kembali ke istana.

__ADS_1


...----------------...


Kamar Carla di istana Selatan.



Carla dan Brayen kembali ke istana selatan, mereka berdua akan tinggal bersama mulai sekarang, karena Julius sudah memberi izin untuk Brayen.



Brayen membuka setengah bajunya dan dia pergi ke arah perapian untuk menghangatkan badan.


" Rose, maksudku Carl, sebaiknya kau mengganti pakaianmu agar tidak masuk angin. " Ucap Brayen yang sedang duduk di depan perapian dengan baju yang basah.


Carl yang menggigil karena terkena air hujan, dia menatap Brayen dengan heran.


" Ray, kenapa kau duduk di perapian? " Tanya Carl heran.


" Karena kedinginan, aku akan mandi sebentar lagi. " Ucap Brayen.


| Sebenarnya aku ingin melanjutkan hal yang tadi. Tapi, ini sangat canggung. | Batin Brayen.


| Jika aku langsung menerjang Carl, dia akan berpikir bahwa aku adalah binatang buas. | Sekali lagi Brayen berpikir.


Brayen mengesampingkan pikirannya yang sedikit kacau.


Dia menatap Carl yang masih menggigil karen kedinginan.


" Carl, kemari dan duduk di sini. " Brayen meminta Carl untuk duduk di sebelahnya.



Penampilan Brayen yang basah, membuat hati Carl berdebar, bagaimana tidak, otot perut Brayen sangat seksi. Itu terlihat jelas meski setengahnya tertutup oleh kemejanya yang basah.



| Dia selalu memamerkan tubuhnya, saat kembali ke sini pun penampilannya sangat menggoda. | Pikir Carl.


| Dia seperti patung yang di pahat dengan sempurna. | Pikir Carl yang menatap terus Brayen.


" Carl? " Brayen memanggilnya lembut.


" Ahhh ya!! " Carl kembali sadar dari pikirannya.


" Kemari dan duduk bersamaku. " Pinta Brayen.


" Baiklah. " Carl duduk di sebelah Brayen.


Mereka berdua merasa canggung meski keduanya adalah pasangan suami istri.


" Carl lebih baik kau segera mandi, agar badanmu merasa enak. " Ucap Brayen.


| Bagaimana ini. | Pikir Brayen.


" Tidak, aku ingin menikmati perapian dulu, sebaiknya kau duluan saja. " Ucap Carl canggung.


| Ini canggung sekali, padahal kita tidak melakukan apa-apa. | Pikir Carl kacau.


" Tidak, kau harus mandi lebih dulu, nanti kau akan sakit. " Brayen kekeh.


" Baiklah aku akan mandi sekarang. " Ucap Carl dan berdiri untuk pergi mandi.


Brayen terus duduk di depan perapian dengan suasana yang masih canggung.

__ADS_1


Wajahnya memerah bukan karena hangatnya perapian, melainkan karena perasaannya yang menggebu ketika dia melihat sosok Istrinya.


" Sial!! bisa gila aku jika seperti ini terus. Kenapa kau begitu cantik." Brayen bergumam dengan wajah kemerahan.


" Kenapa tadi kita tidak mandi berdua saja. " Brayen menyesal karena tidak terpikirkan.


Setelah beberapa saat, Carl keluar dari kamar mandinya dengan handuk yang masih tertanggal di badannya.


" Ray, sekarang giliranmu. " Ucap Carl.


Brayen segera berbalik ketika dia mendengar suara istrinya.


Ketika ia berbalik, alangkah terpesonanya dia dengan kecantikan istrinya.



Rambutnya yang basah, pipinya yang putih samar-samar kemerahan, bibir yang terlihat lembut dan aroma bunga yang di keluarkan dari tubuhnya semakin membuat Brayen tergoda.


" Ini tidak baik. " Gumam Brayen.


" Apa? " Tanya Rose.


" Tidak. " Brayen menyangkal.


Brayen yang sudah gilirannya mandi, dia dengan percaya diri menanggalkan pakaiannya.



Dia sekarang telanjang tapi itu normal bagi Brayen.


Carl melihat tubuh Brayen tanpa terhalang apapun. Dia bisa melihat punggungnya yang diukir dengan baik dengan otot-otot yang terbelah bersama dengan bahu yang lebar.


Carl yang pura-pura tidak tahu.


Brayen tiba-tiba meraih tangannya. Dia bukan satu-satunya yang memiliki pikiran kotor.



" Mengapa kamu terkejut? Kita ini adalah suami istri. " Ucap Brayen.


" Toh, sebentar lagi kita akan saling terbuka. " Ucap Brayen seraya pergi ke kamar mandi dengan tubuh telanjang.


Carl tersipu, melihat tubuh Brayen yang sempurna.


| Tubuhnya indah. | Batin Carl.


Carl berusaha keras untuk mengalihkan pandangannya. Tetapi dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari pantatnya Brayen.


| Ah....kenapa aku mesum. | Batin Carl.


Dia malu. Dia tidak bisa menahannya karena itu adalah tubuh terbaik yang dia lihat selama ini.


...----------------...


MENUJU ENDING........


Author sudah memutuskan buat namatin Novel ini di Chapter 89.


Satu Chapter lagi kita bubar ˁ̡̡̡∗⁎⃙ ̫⁎⃙ˀ̡̡̡ ̩˳♡⃝


Dan yang minta buat bikin Gc, author minta maaf, karena novel ini masih kurang jadi author tidak bisa melaksanakannya.(ㄒoㄒ)


Mohon maaf(T_T)

__ADS_1


__ADS_2