
" Sepertinya tidak hari ini aku bertanya. " Gumam Alex.
......................
Kamar Rose.
Sudah 4 hari berlalu, Rose masih belum membuka matanya.
Brayen yang duduk di samping sang Ratu pun tidak menyadari, apa yang dia lakukan sekarang.
Dia bilang dia tidak peduli.
Brayen berpikir bahwa dirinya tidak akan khawatir akan Rose, tetapi dia terus kembali ke kamar tidurnya selama 4 hari, terus-menerus, seperti burung yang kembali ke sarangnya.
Ketika dia menutup matanya, dia dengan jelas mengingat Rose tertusuk panah, menyebabkan dia tidak bisa tidur dengan nyaman. Dia ingat tubuh kecilnya gemetar dengan wajah di bahunya.
Desas-desus palsu beredar di antara orang-orang di Istana Kerajaan bahwa yang mulia Raja tampaknya menyadari betapa berharganya yang mulia ratu.
Ada desas-desus, desas-desus, dan desas-desus. kalangan bangsawan lainnya pun hampir percaya bahwa Rajanya telah jatuh cinta pada ratu.
" Bangsawan itu terus menerus menyebarkan desas-desus yang mengatakan bahwa aku sudah jatuh cinta, apa mereka tidak ada kegiatan lain selain bergosip?!! " Gumam Brayen sembari menatap wajah Rose.
Tanpa disadari Brayen meletakkan jarinya di bawah hidung Rose. Sejak Rose berbaring seolah-olah dia sudah mati.
Brayen merasakan napasnya di tangannya.
|Sepertinya dia masih hidup? | Pikir Brayen
Saat tangannya menyentuh pipinya, dia merasakan kulit yang dingin. Itu sangat dingin sehingga dia tiba-tiba merinding.
" Kapan kau bangun? " Gumam Brayen pelan.
Brayen hampir terpesona untuk sementara waktu, dia hendak menggerakkan tangannya.
Tiba-tiba bulu mata Rose bergetar lemah, dan Rose membuka matanya perlahan .
__ADS_1
Brayen tidak bisa melepaskan tangannya dan berhenti. Rose mengedipkan matanya sangat lambat beberapa kali.
Matanya bingung seolah melihat sesuatu yang aneh dan tidak biasa.
Dia sangat dekat. Mata birunya, yang sangat dia benci, berada tepat di depannya.
"…Ray?...." Bisik Rose.
" Apa…? "
Brayen bergumam kosong. Setelah kematian ibunya dan adiknya, brayen menjadi kaku setelah mendengar nama panggilannya untuk pertama kalinya.
Dia tidak bisa menjawab dan hanya menatap kosong pada Rose.
Mata biru Rose, saat dia melihat Brayen, yang bahkan tidak bergerak, perlahan tertutup lagi, seperti mimpi.
Bahkan setelah Rose tertidur lagi, Brayen tidak bergerak untuk beberapa saat. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi.
" Ray?...." Gumam Brayen.
" Yang mulia?! " Tensis memanggil.
" Ada apa Tensis? " Tanya Brayen.
" Yang mulia Raja Leopard ingin menemui anda. " Jawab Tensis sopan.
" Kalau begitu, suruh dia menunggu di ruang kerjaku. " Perintah Brayen.
" Baik yang mulia, saya undur diri. Semoga anda di berkahi. " Ucap Tensis.
Tensis pergi meninggalkan Brayen yang masih terduduk di kursi samping tempat tidur Rose.
Dia kembali berpikir, kenapa rose memanggilnya dengan nama panggilannya.
Atau dia punya pria lain bernama Ray? Brayen tidak bisa memercayai telinganya sampai-sampai melontarkan spekulasi absurd seperti itu.
Perasaan dipanggil dengan nama panggilannya sendiri mengingatkannya pada seseorang yang dia rindukan, tetapi dia menggelengkan kepalanya.
Dia pikir, dia pasti sudah gila. Mereka tidak sama. Kenapa dia berpikir seperti itu? Itulah yang di pikirkan Brayen.
__ADS_1
" Ha...."
Brayen menarik napas panjang dan meraih tangannya yang gemetar. Saat itulah kata-kata Rose tiba-tiba muncul di benaknya.
— Bukankah ini keinginan anda, yang mulia?...
Merasa tercekik, Brayen menyapu mulutnya dengan tangan. Tatapan Rose, yang terkadang menjadi berani saat dia menatapnya, mengingatkannya pada Rose, yang melindungi Viona di pesta itu.
Rose yang terkena panah dan jatuh, bukannya Viona.
Sebuah pikiran masuk ke dalam dirinya dengan napas tersengal-sengal.
— Bagaimana jika kau telah salah menuduhnya?
Kata-kata alex memukul kepalanya dengan keras, tapi tetap saja, menurut Brayen itu tidak masuk akal.
Tetapi bagaimana jika perkataan Alex itu benar, dan dari seribu hinaan, serta tuduhan yang dia lontarkan kepada Rose semuanya benar-benar salah.
Dia berpikir jika tuduhan itu salah, dia akan sangat menyesal telah menuduh seorang perempuan yang rela mengorbankan diri untuk perempuan yang akan di nikahi olehnya.
" Itu tidak mungkin, aku sudah menyelidikinya dengan benar dan tidak ada satu pun yang tidak di selidiki. " Gumam Brayen cemas.
Tensis masuk lagi dan memanggilnya.
" Salam yang mulia, Raja Leopard ingin segera menemui anda. " Tensis melapor lagi.
" Apa dia tidak bisa menunggu? " Tanya Brayen sedikit kesal.
" Beliau bilang ini sangat penting. " Jawab Tensis.
" Baiklah, aku akan ke sana sekarang. " Ucap Brayen seraya beranjak.
Brayen meninggalkan kamar Rose, dan pergi menemui Alex.
...----------------...
BERSAMBUNG...............
SLOW UPDATEE.....
__ADS_1