AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 82


__ADS_3


" Yang mulia, makanan sudah dihidang di ruang makan kerajaan. " Felix menyampaikan bahwa hidangan untuk para tamu sudah di hidangkan dengan sempurna.


" hmmm....ya. sepertinya kita akan makan dulu sebelum berbincang-bincang. Lagi pula sepertinya kalian terlihat lelah. " Ucap Julius.


" Terutama anda Ra.ja Tur.na.ta.ra, saya yakin anda pasti lelah dengan perjalanan anda. " Ucap Julius.


" Tidak, saya tidak lelah. " Ucap Brayen dingin.


" Yasudah, jika anda tidak lelah anda bisa melihat-lihat istana ini, atau mungkin anda ingin langsung ke istana yang telah di siapkan untuk anda? " Tanya Julius dengan kesal.


" Saya akan mengikuti istri saya, saya tidak tahu apa yang akan kalian lakukan jika saya meninggalkan istri saya sendirian. " Ucap Brayen.


" Baiklah, jadi keputusan ada pada Rose. " Ucap Julius.


Wilson yang sedari tadi diam, dia akhirnya berbicara.


" Ayah, dari tadi hanya ayah yang berbicara, sekarang giliran putramu. " Ucap Wilson seraya maju dan meraih tangan Rose dan menciumnya.


' Muach ' Suara Kecupan.


" Kenapa anda melakukan ini? " Tanya Rose.


| Brayen pasti akan emosi lagi. | Pikir Rose.


Wilson sengaja membuat suara kecupannya terdengar, dia pun melirik ke arah Brayen dengan matanya yang berkedip dan bibir yang tersenyum licik.


Brayen pun menggertakan giginya dan dia terlihat marah sekali.



" Jauhkan bibirmu dari istriku!! " Teriak Brayen.


Brayen menarik tangan Rose dan dia meminta sapu tangan kepada Layla.


" Sapu tangan!! Cepat!! " Brayen emosi.


Layla Maju dan memberikan sapu tangan yang Brayen minta.


" I..ini yang mulia. " Layla Gugup.


| Kenapa mereka seperti sengaja. | Pikir Layla.


Daniel yang terus diam, dia hanya berpikir.


| Aku ingin makan, aku lapar. Mana panas lagi, dari tadi aku tidak di beri minum sedikit pun. | Daniel memikirkan makanan dan minuman, dia tidak peduli dengan pertengkaran Brayen.


Brayen mengambil sapu tangan tersebut untuk mengelap punggung tangan Rose yang tadi di cium oleh Wilson.


" Ini tidak baik untukmu Rose, kau harus membersihkannya." Brayen mengelap tangan Rose dengan lembut.


| Di pikir gue omicron, pake di lap segala. | Pikir Wilson.


" Ray, jangan berlebih, Yang mulia putra mahkota hanya memberi salam saja. " Ucap Rose.


" Tidak, itu bukan salam biasa, itu nafsu!!"Ucap Brayen seraya menatap Rose.

__ADS_1


" Tidak, itu murni hanya salam biasa. " Rose meyakinkan.


" Rose, kau tidak ingat perkataanku kemarin? " Tanya Brayen.


Rose mengingat kembali perkataan Brayen.


— Aku adalah pria yang mudah cemburu, aku tidak ingin kau di sentuh oleh laki-laki lain selain diriku, bahkan satu helai rambut pun aku tidak rela.


| Aku hampir lupa itu. | Pikir Rose.


" Yah, aku ingat. Baiklah lakukan sesukamu. Tapi jangan terlalu berlebihan. " Ucap Rose.


" Inikah yang di namakan dunia serasa milik berdua. " Julius menyambar.


Julius dan yang lainnya merasa di abaikan oleh Brayen dan Rose.


Kemudian Rose pun meminta maaf karena telah mengabaikan Julius.


" Maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk mengabaikan anda. " Ucap Rose sopan.


" Sudah, lebih baik kita ke ruang makan dan menikmati hidangan. Setelah itu kau bisa istirahat di istana yang telah aku siapkan. " Ucap Julius.


" Baiklah, terima kasih. " Ucap Rose.


" Aku belum selesai dengan putramu!! " Ucap Brayen menantang.


" Kau boleh menyelesaikannya nanti. " Ucap Julius.


Mereka menuju ruang makan kerajaan.


...----------------...






" Mari duduk dan makanlah, aku tidak tahu apa ini sesuai dengan selera kalian atau tidak. " Ucap Wilson.


| Uwaaah, akhinya aku makan juga. Makanannya pun terlihat menggoda. |Pikir Daniel yang kelaparan.


Mereka semua duduk di meja makan dan segera mencicipi makanannya.


" Ini semua putraku yang memilihnya. " Ucap Julius.


" Wah, anda sangat berbakat dalam memilih makanan. " Ucap Rose yang sedang memotong steak.


" Terima kasih, ini pujian untukku. " Ucap Wilson.


Wilson memulai tingkahnya lagi.


" Sepertinya anda kesulitan memotong daging (padahal tidak), ambil saja punyaku. " Wilson memberikan steaknya yang sudah iya potong.


" Terimakasih, tapi tidak perlu. " Ucap Rose.

__ADS_1


Brayen yang melihatnya dia menggeser piring Wilson dan menggantikan dengan piring miliknya.


" Ambil punyaku, abaikan piring miliknya. " Brayen geram.


" Baiklah, terimakasih. " Ucap Rose.


| Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di sini. | Pikir Rose yang kebingungan.


" Rose, setelah ini aku ingin berbicara denganmu. Ini sangat penting. " Ucap Julius.


" Baiklah dengan senang hati. " Rose mengangguk.


" Aku juga harus ikut!! " Brayen menyambar.


" Baiklah, agar semuanya jelas. " Ucap Julis.


| Dasar penguntit. | Pikir Julius.


...----------------...


Setelah makan Julius berbicara di ruang tamu dengan Wilson, Rose dan Brayen.



" Sebenarnya apa yang ingin anda sampaikan, sampai seperti ini? " Tanya Rose.


Julius menatap Rose dengan lembut dan dia berbicara.



" Aku tidak tahu kau akan kaget atau tidak, kau akan marah atau tidak, kau akan membenciku atau tidak dan kau akan mengakuinya atau tidak. Tapi yang jelas aku tidak bisa menahan dan menutupinya. " Ucap Julius serius.


Suasana semakin serius.


" Sebenarnya apa yang anda maksud? " Tanya Rose.


" Aku...Adalah ayahmu Rose!! " Ungkap Julius.


Rose dan Brayen terlihat bingung dan tidak mengerti.


" Apa maksud anda ? " Tanya Brayen.


" Ya, aku ayah kandung Rose. Dia adalah anakku. " Ucal Julius sekali lagi meyakinkan.


Rose pun berbicara dengan suara dingin.


" Bagaimana mungkin, anda langsung mengaku sebagai ayah saya, apa anda sedang bercanda dengan saya? " Tanya Rose.


" Tidak Rose, aku tidak bercanda. Wilson juga adalah kakakmu, percayalah. " julius meyakinkan.


" Tolong jangan membuat lelucon seperti ini, ini tidak lucu. " Ucap Rose yang masih tidak percaya.


" Bagaiman mungkin seseorang tiba-tiba mengaku sebagai ayah saya. Itu tidak mungkin. " Ucap Rose.


...----------------...


BERSAMBUNG........

__ADS_1


__ADS_2