
" Ayo, cepat pergi!! Kita akan berbicara lagi nanti setelah kau menyelamatkan anak itu!! " Ratu Ajertina mendorong Rose.
" Hey kalian, jaga menantuku dengan baik, jika tidak, aku akan mencekik leher kalian dan mengutuk kalian! " Ucap Raja Aleandro kepada para Prajurit dengan mata sangar.
Para prajurit pun gemetar ketakutan dan mengangguk patuh.
Rose pun mau tidak mau pergi meninggalkan kedua mayat hidup itu.
Meski dirinya memiliki banyak pertanyaan, dia tetap harus pergi dan menyelamatkan Brayen secepatnya.
" Yang mulia, sebenarnya mereka itu apa? " Tanya salah satu Prajurit.
" Yang pasti mereka di pihak kita. " Ucap Rose serius.
Saat Rose tiba di Depan pintu pertama ruangan Brayen, dia melihat Tensis dan yang lainnya kesulitan menghadapi para mayat hidup.
" Yang mulia!! " Teriak Tensis.
" Jangan mendekat, di sini berbahaya!! " Tensis melarang Rose mendekat.
Rose mengeluarkan anak panah dan busur miliknya.
Rose menarik anak panah dan bersiap menembakkan panah tersebut.
" Menunduk!! " Rose berteriak kepada Tensis dan yang lainnya.
Tensis dan yang lainnya pun menunduk.
Rose pun menembakkan anak panahnya kepada mayat hidup tersebut.
Panah tersebut mengenai mereka, dan mayat hidup itu pun hancur.
Rose pun bergabung dengan Tensis.
Tensis yang melihat Rose dengan penampilan seperti ksatria, merasa kagum dan tidak percaya bahwa Ratu yang selama ini terlihat anggun dan lembut.
Ternyata memiliki sisi seperti ini.
Rose terlihat berkarisma dan berani dengan pakaiannya.
Tatapannya yang dulu datar dan tidak bercahaya.
Sekarang terlihat membara dan penuh keberanian.
" Yang mulia, apa ini diri anda yang sesungguhnya? " Tanya tensis tidak percaya.
" Ya, kau benar tensis, ini adalah sisi asliku yang sebenarnya. " Ucap Rose serius.
Rose mengalihkan pembicaraan, dia bertanya bagaimana keadaan Brayen.
" Bagaimana keadaan yang mulia? " Tanya Rose tidak sabar.
Tensis berkata yang sejujurnya, bahwa mereka masih berusaha membuka segel pintu tersebut.
" Yang mulia masih di dalam, kami masih berusaha membuka segel pintu tersebut. " Jawab Tensis jujur.
" Haaaah....." Rose menghela nafas.
__ADS_1
Rose melihat ke arah cermin yang menunjukkan keadaan Brayen.
" Itu yang mulia? " Ucap Rose yang terus melihat cermin dengan wajah sedih dan cemas.
" Gawat, yang mulia sudah tidak bisa menahannya lagi. " Ucap Tensis.
" Apa maksudmu? " Tanya Rose.
" Beliau sudah menahan serangan sihir dengan badannya yang lemah, seberapa kuat yang mulia dia tetap manusia. " Tensis tidak bisa menjelaskan alasannya secara rinci, karena dia takut jika Rose akan panik.
Rose melihat taran yang sedang berusaha membuka segelnya.
" Taran? Berapa lama lagi segelnya akan terbuka? " Tanya rose.
Taran menjawab.
" Sebentar lagi yang mulia. "
" Apa cermin ini bisa tersambung dengan yang mulia? " Tanya rose.
" Bisa yang mulia, saya akan mengaktifkan cermin ini agak bisa berkomunikasi dengan beliau. "
" Lakukan!! "
" Baik yang mulia. "
Taran membuat cerminnya terhubung satu sama lain.
" Ray!! " Panggil Rose.
Brayen yang terlihat lemah di dalam cermin, dia hanya tersenyum.
" Bertahanlah sebentar lagi, jangan menyerah. " Rose meminta Brayen untuk bertahan.
Brayen tidak menjawab, dia tidak mau membuat janji lagi.
Brayen mengingat perkataan Rose waktu itu.
– Aku mohon jangan berjanji seperti itu jika kau tidak bisa menepatinya, karena itu sangat menyakitkan bagi orang yang mengharapkannya.
" Aku tidak mau berjanji, jika aku tidak bisa menepati janjiku, kau akan sedih. " Ucap Brayen layu.
Saat Brayen sedang berbicara dengan Rose, Berta menendang Brayen dengan kakinya.
' Bughh ' Berta menendang Brayen.
' Ugh ' Brayen meringis.
Brayen jatuh tak berdaya dia memuntahkan darah dari mulutnya.
Rose yang melihatnya di cermin sangat panik, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia bukan penyihir.
" Ray!! Bertahanlah, Tetap buka matamu, jangan tidur!! " Rose panik.
" Hey!! Berhenti menyiksanya, jangan sakiti dia, jika kau berani, buka segelnya sekarang dan bertarung denganku !! " Rose berteriak kepada Berta.
Brayen menggelengkan kepalanya.
" Hais, ternyata kau berhasil melewati mayat hidup yang aku bangkitkan. Mayat tidak berguna!! " Berta terlihat kesal di cermin itu.
__ADS_1
" Yahh, lagi pula sebentar lagi mana milik Brayen akan jatuh ke tanganku. " Ucap Berta yakin.
Brayen merangkak dan mencoba berdiri, dia mengambil pedang miliknya.
Rose melihat Brayen, dan dia terlihat membisikkan sesuatu dengan mulutnya.
Brayen berbisik.
" Selamat Tinggal, hiduplah dengan baik. " Bisik Brayen.
" Apa yang kau maksud Ray? " Rose semakin panik.
| Tidak ada cara lain, badanku sudah sangat lemah, jika aku mati tanpa meledakkan diri, dia akan mengambilnya dan akan menghancurkan seluruh kerajaan. | Pikir Brayen.
Brayen berjalan pincang, ke dekat Berta dengan pedang di tangannya.
Berta merasa heran dengan gerak-gerik Brayen.
" Apa yang mau kau lakukan? " Tanya Berta.
" Mati... "
Tensis tahu, apa yang akan Brayen lakukan.
" Gawat, beliau sepertinya akan meledakkan diri dengan mengeluarkan seluruh mana, jika itu terjadi, beliau akan mati bersama dengan penyihir itu!! Cegah beliau yang mulia. " Ucap Tensis panik.
Rose menyadari gerak-gerik Brayen.
" Ray!! Jangan lakukan itu, apa kau ingin mati!! Tolong bertahan sebentar lagi. "
" Aku tidak menginzinkanmu untuk mati, jangan lakukan itu!! Kumohon jangan. " Rose terus berteriak.
Brayen menatap Rose dengan pasrah.
kematian memenuhi pikirannya dengan kesepian dan dia bertanya pada dirinya sendiri apa yang dia pikirkan.
| Kau harus melakukannya, jangan menatap matanya. | Pikiran Brayen kacau.
Brayen berpikir, tidak masalah jika dirinya mati.
Lebih baik mati dan mengajak penyihir itu untuk ikut bersamanya.
Dan dia akan menyelamatkan banyak orang.
Rose mencoba masuk dengan menerobos segel yang menghalangi jalannya.
Brayen bersiap meledakkan dirinya dengan pedang di tangannya.
" Carilah kebahagian yang baru dan hiduplah dengan baik selama sisa hidupmu Carla. "
" Ray, jangan lakukan itu, ku bilang berhenti!! " Rose mencoba masuk.
Saat dia terus mencoba masuk, tiba-tiba cahaya yang sangat terang keluar begitu saja.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG...........