AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 84 (Revisi)


__ADS_3


" Aku melewati masa yang sangat sulit lebih dari siapapun. " Rose menangis mengingat masa lalunya saat bersama dengan adiknya.


Rose dan adiknya yang di tipu oleh Count ferdi, semua kejadian itu tergambar lagi satu-persatu di ingatan Rose.


Bagaimana dia dan adiknya harus bertahan dalam penjara bawah tanah yang saat musim dingin mereka kedinginan tanpa selimut, dan kelaparan tanpa makanan.


Bukan hanya itu, Rose masih harus melewati ganasnya medan perang di usianya yang masih muda.


Atas usahanya, dia malah kehilangan adiknya. Seberapa keras dia bertahan pada saat itu, adiknya tetap meninggalkannya.


Rose melewati masa sulit itu dengan penuh air mata dan rasa sakit.


" Adikmu, siapa namanya? " Tanya Julius dengan hati-hati.


Rose menjawab.


" Zekillion Rumanof. "


" Zekillion meninggal karena apa? " Tanya Wilson.


" Karena aku. " Jawab Rose.


" Apa maksudmu? " Julius bertanya.


" Karena aku yang tidak bisa bergerak dengan cepat, dia mati di penjara itu sendirian. " Ucap Rose.


Julius tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


" Aku masih tidak mengerti. " Ucap Julius.


Brayen yang sedari tadi diam, dia akhirnya menceritakan semuanya secara singkat.


Mulai dari Pertama kali Count Ferdi datang ke dalam hidup Rose, bagaimana dia menyiksa Rose dan zekillion.


Semuanya di ceritakan oleh Brayen.


Mereka mendengarkan Brayen dengan ekspresi marah dan kesal.


...----------------...


Setelah mendengar semua cerita tentang Count Ferdi, Julius dengan emosi berbicara.


" Jika dia masih hidup, aku akan menarik tubuhnya satu persatu hingga putus. " Julius berbicara dengan ekspresi marah.


" Kau benar ayah, andai saja kita tahu dari awal, kita pasti akan memberinya pelajaran yang lebih dari hukuman mati. " Timpa Wilson yang terlihat sangat marah.


| Ternyata adikku sangat kuat, dia bisa melewati kehidupan yang begitu berat. | Wilson berpikir.


" Ini semua salahku, karena aku tidak menemukan kalian dengan cepat. " Julius murung.


" Aku berharap kau tidak menipuku seperti Count Ferdi, kau benar ayahku kan? " Ucap Rose dengan sedih.


" Ya, aku ayahmu. Hanya aku. " Julius memberi pelukan hangat dan tulus untuk Rose.


" Andai saja adikku masih hidup, dia pasti akan bahagia. Ini tidak adil untuknya. " Rose Menangis dalam pelukan Julius.


" Tidak, dia tidak akan berpikir seperti itu, dia akan senang melihatmu bahagia. " Julius mengelus kepala Rose dengan penuh kasih sayang.


Karena ini momennya, Julius meminta Rose untuk memanggilnya ayah, karena Julius sudah yakin bahwa Rose sudah menerimanya sebagai seorang ayah.


" Rose, panggil aku ayah. Itu merupakan kebahagian untukku. " Julius meminta.


Rose pun membuka mulutnya dan mengucapkan kata tersebut dengan penuh kebahagiaan.


" Ayah...." Panggilnya.


" Ayah... " Sekali lagi Rose memanggil.


" Ya Rose. Kau harus memanggilku ayah mulai dari sekarang. " Ucap Julius.


Wilson pun ikut memeluk Rose.


Tapi, sebelum tubuhnya menempel, Brayen menarik Wilson.


" Anda tidak boleh memeluknya, meski anda kakaknya. " Ucap Brayen dengan sopan dan dingin.


| Aku tidak rela dia memeluk Rose, aku tidak akan membiarkannya. | Pikir Brayen


" Lepas!! " Wilson menepis tangan Brayen.

__ADS_1


" Tidak, kau tidak boleh memeluknya!! " Brayen ribut dengan Wilson dia meninggikan suaranya.


" Aku adalah kakaknya, jadi aku boleh memeluknya." Wilson pun tidak mau kalah.


Julius yang melihatnya, dia dengan garang menegur mereka.


" Hentikan!! " Julius berteriak.


" Kenapa kalian bertengkar di situasi seperti ini!!? " Julius marah.


Rose pun mengusap air matanya dan berbicara.


" Maaf ayah, Brayen memang seperti itu. " Ucap Rose.


Julius menatap Brayen dengan tatapan tajam.


Rose merasa ada sesuatu dengan tatapan Julius kepada Brayen.


" Ayah? " Rose memanggil ayahnya seolah memastikan.


Julius menatap lagi ke arah Rose dan dia berbicara.


" Rose, karena kau sudah tahu bahwa aku adalah ayahmu, kau akan tinggal di sini selama mungkin kan? " Tanya Julius.


" Tapi, aku adalah Ratu kerajaan Turnatara, aku tidak bisa mengabaikan itu. " Ucap Rose.


" Berapa lama kau akan tinggal di sini? " Tanya Julius.


" Brayen yang memutuskannya. " Rose menjawab.


Mendengar perkataan Rose, Julius otomatis melirik Brayen dengan tatapan sinis.


" Berapa lama? " Tanyanya jutek.


Julius memberi tatapan garang kepada Brayen, seolah menjadi kode.


| Tatapannya seperti melihat mangsa yang siap menerkam kapan saja, jika aku bilang 3 hari, dia akan menerkamku. | Pikir Brayen.


" 1 minggu!! " Brayen menjawab dengan cepat.


Mata Julius semakin melotot ke arah Brayen.



" 2 minggu, tidak ada negosiasi. " Brayen sudah menyerah.


Julius masih menatap Brayen dengan lekat.


| Sepertinya aku akan mendapat masalah. | Brayen terus berpikir.


" Hanya 2 minggu, kenapa tidak 2 abad. " Julius berbicara.


" Ayah!! " Rose menyiku Julius.


" Apalah dayaku yang merindukan putriku selama bertahun-tahum, dan setelah bertemu dia hanya akan tinggal selama 2 minggu. " Julius mengeluh.


" Maaf ayah, aku akan sering mengunjungimu nanti. " Ucap Rose.


Wilson Mendekat ke arah Rose.


" Kemari, aku ingin memelukmu. " Wilson melebarkan tangannya.


Rose pun memeluk Wilson dengan hangat.


Brayen yang melihatnya dia mengerutkan kening dan melebarkan matanya.


Julius berbicara kepada Brayen.


" Apa yang kau lihat? " Tanyanya jutek.


" Tidak, ayah mertua. " Ucap Brayen.


Julius menatap Brayen dengan heran.


" Kapan aku menjadi mertuamu? " Ucap Julius.


" Maaf? " Brayen pun untuk pertama kalinya kebingungan.


" Aku belum mengakuimu sebagai menantu, jangan memanggil ku ayah!! " Ucap Julius sinis.


Brayen berpikir, dia harus berusaha memenangkan hati mertuanya.

__ADS_1


| Hah, baru kali ini aku di perlakukan seperti ini, mau bagaimana pun dia tetap ayah mertuaku. Aku harus lebih berusaha. | Pikir Brayen.


" Rose, istirahatlah, kau terlihat lelah. Aku sudah menyiapkan satu istana yang mewah di bagian selatan untukmu. " Ucap Julius.


Rose pun merasa jika dia memang lelah.


" Baiklah ayah, aku akan beristirahat. " Rose melepas pelukannya dengan Wilson.


" Ray, apa kau akan ikut denganku? " Tanya Rose.


Brayen tentu tidak akan menolak Rose, dia memang ingin berduaan dengan Rose.


" Aku akan ikut istirahat denganmu. " Ucap Brayen.


Saat Brayen akan melangkah dan mengikuti Rose, tiba-tiba Julius berbicara.


" Maaf Rose. Tapi, sepertinya aku ada urusan dengan suamimu, jadi aku akan meminjamnya sebentar. " Ucap Julius.


| Perasaanku tidak enak, aku mencium bau-bau yang mencurigakan. | Pikir Brayen yang was-was.


" Memangnya kenapa? " Tanya Rose.


" Ini urusan antara laki-laki, jadi kau tidak perlu khawatir. " Ucap Wilson.


" Pergilah Rose, aku akan menyusulmu nanti. " Ucap Brayen.


Rose pun mengangguk, dan dia pergi.


" Ahh, satu lagi Rose. " Ucap Julius.


" Apa ayah? " Tanya Rose.


" Aku tidak bisa menyatukan kalian dalam satu istana, jadi aku menempatkan suamimu di istana timur. " Ucap Julius.


" Apa? " Brayen kaget.


" Kenapa ayah? " Tanya Rose.


" Itu merupakan salah satu tradisi untuk memperlengket pasangan, dulu ayah juga seperti itu. " Tentu yang di ucapkan Julius itu bohong.


| Enak saja, kau mau menjamah putriku, aku tidak akan membiarkannya. | Pikir Julius.


| Aku yakin, ayah berbohong. Dia tidak akan tahan jika dulu ada tradisi seperti itu di kerajaan Moniquee . | Pikir Wilson.


" Apa kau keberatan? " Tanya Julius dengan wajah memelas.


Melihat hal itu, Rose tidak tega, dan dia menyetujuinya.


" Baiklah ayah, aku tidak keberatan. "


| Tidaaaaaak, Rose. | Brayen berteriak dalam batinnya.


Brayen menatap Rose dengan tatapan memelas layaknya anak anjing.


Rose menggelengkan kepalanya.


" Ini tidak akan lama. " Ucap Rose.


" Gilbet!! Antar adikku ke istana selatan, pastikan kau menjaganya dengan baik. " Wilson memerintah.


" Baik yang mulia. " Gilbet patuh.


" Mari Putri. " Ucapnya kepada Rose dengan sopan.


Rose pergi meninggalkan Brayen di ruangan tersebut bersama dengan ayah dan kakaknya.


...----------------...


Mereka berdua saling bertatapan serius, dari tatapannya, seperti ada sengatan yang terciprat dari mata mereka.


Tiba-tiba, seekor burung muncul dari luar jendela dan singgap si bahu Wilson.


Brayen yang melihatnya dia dengan spontan berbicara.


" Burung itu? " Brayen menatap burung itu dengan alis mengerut.


" Ya, burung ini adalah saksi ketidak sopananmu. " Ucap Julius.


...----------------...


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2