
Brayen terus memanjat, hingga dia sampai di jendela Rose.
Namun, saat akan naik dan masuk.
Tiba-tiba sekelompok prajurit datang dan menyuruh Brayen untuk turun.
Prajurit tersebut adalah suruhan Julius, mereka di perintahkan untuk menyuruh Brayen turun dari atas jendela Rose.
Prajurit tersebut meneriaki Brayen dari jendela bawah untuk segera turun.
" Yang muliaaa!! Raja Julius meminta anda untuk turun ke bawah!!! Beliau meminta anda untuk turun!!! " Teriak Prajurit itu dari jendela bawah.
Brayen menatap ke bawah sambil menggerutu.
" Apa lagi sekarang!!? " Brayen emosi.
Daniel yang berada di bawah, dia memberikan kode dengan melambaikan kedua tangannya agar Brayen segera turun.
" Sial!! kenapa dia mempersulitku seperti ini, rasanya aku akan gila!! " Brayen menggerutu.
" Yang muliaaaaa!! lebih baik anda turun sekarang!! sebelum Raja Julius kemari!! " Daniel berteriak dari bawah.
Brayen menatap ke arah jendela Rose dengan penuh harapan.
" Padahal sedikit lagi, sial!! " Brayen menggerutu.
Dia menggerutu seperti itu untuk mengabaikan jantungnya yang berdebar kencang.
Bagaimana tidak, dia sekarang ada di jendela paling atas, meski Brayen sering melalukan hal ini, dia masih tidak terbiasa dengan bangunan setinggi ini.
" Rose....
Brayen memanggil nama istrinya dengan penuh harapan.
" Yang muliaaaa!! " Prajurit itu terus memanggil.
" Berisik!! Ternyata semua prajurit tidak ada bedanya, semuanya cerewet!! "
| Dia tidak melepaskanku sama sekali. | Batin Brayen.
Brayen terpaksa turun lagi, karena dia tahu Julius tidak akan membiarkannya tenang jika dia membantah.
" Ayah, aku akan memastikan jika anda bertamu ke kerajaan Turnatara, anda akan saya jamu dengan sangat nyaman. " Brayen bergumam kesal sambil turun ke bawah.
Brayen turun ke bawah, sesampai di bawah dia sudah di sambut oleh Wilson.
Wilson yang melihat Brayen bercucuran keringat dia malah tertawa dan berbicara.
" Bersabarlah, ayah tidak akan melepaskanmu dengan mudah. " Wilson berbicara.
Brayen dengan tatapan yang dingin dan lelah dia menjawab.
" Kau juga akan mengalaminya nanti, jadi tertawalah sekarang. " Brayen menepuk bahu Wilson.
| Jika kau mengalami nasib yang sama sepertiku, aku akan tertawa selebar mungkin. | Batin Brayen.
" Daniel!! Ayo pergi. "
" Baik, Yang mulia. " Jawab daniel.
Brayen dan Daniel kembali ke istana timur, usahanya untuk bertemu Rose ternyata nihil.
Wilson yang di tinggalkan, dia menatap jendela Rose dengan bibir tersenyum.
" Mimpi yang indah adikku. " Ucapnya lembut.
...----------------...
Kerajaan Turnatara Malam hari.
Malam Hari di kerajaan Turnatara, di suatu ruangan yang berantakan oleh banyaknya dokumen.
Di sisi lain, ada dua laki-laki yang sudah seperti zombie, mereka memiliki kantong mata yang besar dan hitam.
" Tinta..!! " Laki-laki itu sudah lemah, berbicara pun sudah tidak bertenaga.
" Habis, tintanya habis. " Ucap laki-laki itu dengan tangan yang kotor dengan tinta.
Kedua laki-laki tersebut adalah Taran dan Tensis yang hampir stress dengan pekerjaan yang di tinggalkan Brayen.
Tensis yang hampir stress karena dokumen yang di tinggalkan oleh Brayen sangat banyak.
Dia tidak pernah mengira jika dirinya akan menghadapi kertas-kertas itu semalaman.
" Yang mulia sepertinya ingin membunuhku secara perlahan. " Tensis bergumam di meja kerjanya dengan segunung dokumen.
" Jika tahu akan sebanyak ini, lebih baik jadi kusir saja!! " Tensis berteriak.
" Oy!! " Taran Memanggil Tensis.
" Apa?! " Tensis menyaut dengan nada tinggi.
"Aku lebih menderita, kau yang masih bisa duduk di kursi sedangkan aku berdiri dan masih harus menggerus tinta untukmu. " Taran dengan wajah yang sudah lelah membandingkan.
" Kita berdua sama-sama menderita, sepertinya aku harus segera pensiun. "
" Kau benar, kita harus pensiun dan mencari jodoh. " Taram berpendapat.
" Ya, aku setuju. Kita terlalu lama menjomblo. " Ucap Tensis mendukung Taran.
" Kita sudahi saja pekerjaan kita, lagi pula kita tidak usah terlalu patuh kepada yang mulia, beliau tidak akan tahu. " Taran mempengaruhi Tensis.
" Heh!! kau pikir dia tidak mengawasi kita?! " Tensis berbisik.
" Memangnya dia mengawasi kita? " Tanya Taran.
__ADS_1
" Kau tahu Skuggi kan? " Tanya Tensis.
" Ya, aku tahu. Itu prajurit bayangan yang mulia. " Ucap Taran.
" Mereka di perintahkan untuk mengawasi kita selama 24 jam, mereka bagai burung hantu. "
" Benarkah? " Tanya Taran.
Tensis mengangguk.
" Haah, mau tidak mau kita harus lembur. " Ucap Taran.
Mereka salah, yang sebenarnya di lakukan oleh Skuggi sekarang adalah.
" Bersulang!! " Mereka semua sedang berpesta di kedai arak kerajaan.
" Bro, tambah lagi araknya!!! "
" Jarang sekali kita libur seperti ini. " Ucap salah satu prajurit skuggi.
" Kau benar, yang mulia sekarang sedang liburan dan situasi kerajaan sudah aman. "
" Mari minum sampai arak di kerajaan ini habis!!! " Mereka bersorak dengan menuangkan arak kedalam gelas mereka masing-masing.
" Bersulang!!! " Mereka berseru dengan menyulangkan gelas mereka.
Seperti itu lah yang terjadi di kerajaan Turnatara.
...----------------...
Keesokan Harinya kerajaan Moniquee.
" Yang mulia, anda harus bangun sekarang. " Layla mencoba membangunkan Rose.
Rose pun bangun dan dia segera mencuci mukanya dengan air yang di berikan oleh Layla.
Setelah Cuci muka, Rose mengelap wajahnya dengan lembut dan dia bertanya kepada Layla.
" Apa tadi malam terjadi sesuatu? " Tanya Rose.
" Memangnya kenapa yang mulia? " Layla balik bertanya.
" Sepertinya, aku samar-samar mendengar keributan di bawah. " Ucap Rose.
" Tidak ada keributan sama sekali yang mulia. " Ucap Layla.
" Ya sudah jika memang tidak ada. Layla bisakah kau menyiapkan air untukku mandi? " Tanya Rose.
" Yang mulia tidak perlu menunggu untuk itu, karena dayang istana sudah menyiapkannya. " Ucap layla.
" Mereka gesit sekali yah. " Gumam Rose.
Rose kemudian mandi, dia dilayani oleh para dayang di sana dengan nyaman dan propesional.
Layla yang selama ini melayani Rose dia berbangga diri dengan mengatakan.
" Tentu saja kulit yang mulia lembut dan bersih, karena saya selalu memberikan perawatan yang berkualitas terhadap beliau. " Layla bangga.
Rose yang menikmati pijatan dari para dayang dia berbicara.
" Kulitku dulu tidak selembut dan sebersih ini, kulitku yang dulu penuh dengan bekas luka. Hanya karena aku memakai ramuan yang ku buat sendiri luka tersebut bisa hilang. "
Para dayang saling bertatapan seolah bertanya-tanya apa yang telah di alami Rose selama ini.
" Kalian tidak perlu memikirkannya. " Ucap Rose yang peka dengan suasana yang tiba-tiba berubah.
Setelah Rose mandi, dia bersiap untuk berpakaian, tadinya Rose akan memakai pakai yang telah dia bawa dari kerajaannya.
Tetapi, dayang istana bilang jika Julius sudah menyiapkan banyak pakaian di dalam kamarnya.
" Maaf yang mulia, tetapi yang mulia raja bilang jika anda harus menggunakan pakaian yang telah di siapkan oleh beliau. " Dayang istana itu berbicara.
" Kenapa? " Tanya Rose.
" Beliau hanya ingin melihat anda menggunakan pakaian yang beliau pilihkan, baliau sengaja membeli banyak gaun untuk anda. " Ucap Dayang tersebut.
" Ayah sangat berlebihan. Baiklah, buka dressroom nya "
Rose memerintahkan mereka agar membuka dressroom nya.
" Baik yang mulia. " Ucap Dayang itu patuh.
Saat mereka membukannya, Rose dan Layla tercengang karena banyaknya gaun yang terpajang di dalam ruangan tersebut.
" Yang mulia ini sangat banyak. " Layla terpukau dengan banyaknya gaun dan perhiasan yang terjajar di sana.
" Ayah terlalu berlebihan. " Rose memang tidak menyukai hal-hal yang berlebihan.
Rose memilih satu gaun yang biasa saja di antar gaun yang lainnya.
Yaitu gaun putih dengan pita sebagai hiasannya.
Setelah Rose selesai bersiap-siap, dia pergi ke ruang makan Kerajaan untuk sarapan bersama.
...----------------...
Setelah Rose tiba di ruang makan kerajaan, dia tidak melihat Brayen.
__ADS_1
Di sana hanya ada Julius dan Wilson, entah kemana Brayen.
Rose berjalan masuk, Wilson dan Julius menatap Rose seolah terpukau dengan kecantikannya.
" Kau sangat cantik seperti ibumu, bibitku memang selalu unggul tidak pernah mengecewakan. " Julius berbangga diri.
" Ayah !! hentikan. " Wilson menegur Julius.
" Selamat pagi ayah. " Rose membungkuk layaknya putri.
" Duduklah, mari ita makan bersama. " Ucap Julius.
Rose pun duduk dengan wajah yang masih menatap kesana kemari.
" Ada apa Rose? " Tanya Julius yang penasaran dengan tingkah putrinya.
" Apa yang mulia belum sampai? Kemana beliau. " Tanya Rose menanyakan keberadaan Brayen.
" Ahhhh eemmm. Dia sedang melakukan tugasnya sebagai seorang menantu. " Julius berkata.
Rose bertanya-tanya apa maksudnya dengan tugas sebagai menantu.
" Tugas apa itu ayah? " Tanya Rose.
" Kau tenang saja Rose, dia akan kembali sore nanti. " Ucap Wilson.
" Tapi, dia belum sarapan sama sekali. " Rose khawatir.
" Dia akan kuat tidak makan 3 hari pun, bahkan ayah dulu menahan lapar 4 hari. "
" Ayah!!! " Rose menatap Julius lekat.
" Nanti ayah akan ceritakan, jadi kau makan saja dulu, sebelum makanannya dingin. " Ucap Julius.
Makanan yang di hidangkan adalah makanan yang asing, karena di sana di kelilingi lautan jadi, makanan khas Moniquee pasti berasal dari laut.
Seperti ikan, kerang, dan makanan laut lainnya. Julius pun menyiapkan makanan dari daging jika Rose tidak suka dengan ikan.
" Aku tidak tahu itu seleramu atau bukan, tapi cobalah makanan dari laut. Ibumu sangat menyukai kerang kau boleh mencobanya. " Julius menyodorkan piring yang berisikan kerang di atasnya.
Rose mencoba makanan tersebut di terlihat menyukainya, melihat hal tersebut Julius senang karena dia tidak mengecewakan Rose.
...----------------...
Ada alasan kenapa Brayen tidak hadir saat sarapan.
Kilas balik dini hari.
Pada dini hari, Julius memanggil Brayen, dia menyuruh Brayen untuk mengangkut air dari laut dan membagikannya kepada rakyat moniquee.
" Sebagai hukuman karena kau menyebutku bajingan, kau akan mengangkut air dari laut dan membagikannya kepada masyarakat di sini. " Ucap Julius.
" Itu tidak masalah, hanya mengangkut air saja. " Brayen menyetujui tanpa tahu seberapa jauh dia harus mengambil dan mengangkut air tersebut.
| Kau tidak tahu jarak laut ke desa sangat jauh. | Pikir Julius.
" Kau tidak akan naik kereta kuda, pergunakan kakimu itu akan bagus. " Ucap Julius.
" Baiklah itu tidak masalah. " Ucap Brayen patuh.
| Rose, ayah barumu saat ini sedang menyiksaku, jika aku tidak datang saat sarapan sepertinya Rose akan bertanya-tanya kemana aku pergi. | Pikiran Brayen kacau.
" Pergilah sekarang, kau tidak perlu mandi, toh nanti akan basah lagi. " Ucap Julius.
Julius pergi, Brayen yang di tinggalkan dia menggerutu dalam hatinya.
| Dia tidak puas sama sekali setelah memisahkan aku dengan Rose. | Batin Brayen.
| Ini namanya bukan liburan melainkan kerja rodi. | Sekali lagi Brayen membatin.
Seperti itulah nasib Brayen yang sampai sekarang masih berjalan kaki mencari arah menuju ke laut.
Tetapi, bukannya ke laut, mereka malah tersesat di kuburan.
" Sial!! Kenapa lautnya tidak nampak sama sekali, bukankah kerajaan ini di kelilingi laut!! " Brayen berteriak.
" Kenapa di sini hanya ada kuburan!!! "
" Sabar yang mulia, ini demi mendapatkan hati mertua. " Daniel yang ikut karena perintah Brayen.
" Bawa ini!! tidak seharusnya seorang raja membawa gentong seperti ini. " Brayen melemparkan gentong tersebut kepada Daniel.
Gentong tersebut terlempar dan menggelinding menjauh, Daniel tidak bisa menangkapnya karena di tangannya sudah memegang dua gentong.
" Yang mulia, apa anda tidak lihat jika saya sudah membawa dua gentong. Tolong turunkan sedikit harga diri anda di saat seperti ini yang mulia. " Ucap Daniel yang kesulitan memegang dua gentong.
" Berisik!! Cerewet!! "
| Perutku lapar, jika seperti ini terus otot perutku akan mengendor, padahal Rose belum memegangnya sama sekali. Jangankan memegang, Rose bahkan belum melihatnya dengan jelas. Sial!! | Brayen menggerutu.
Mereka berjalan-jalan menelusuri kuburan tersebut, tapi laut tidak nampak sama sekali.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......