
" Apa yang terjadi? " Tanya Tensis yang masih menghalangi pandanganya.
" Cahaya apa itu!! " Tanya Taran panik.
" Bagaimana dengan yang mulia?! " Tensis bertanya dengan wajah cemas.
Taran dan Tensis melihat cermin yang menghubungkan Brayen dan mereka.
Tapi sayangnya cermin tersebut retak dan tidak bisa di gunakan lagi.
Wajah mereka mulai muram, mereka berpikir bahwa Brayen mengorbankan hidupnya dengan cara meledakkan diri.
Tensis yang tidak percaya terkulai lemas dan jatuh ke lantai dengan kedua lututnya.
Dia terus menatap ke bawah dengan wajah layu dan putus asa.
" Beliau tidak mungkin mati begitu saja. " Tensis bergumam dengan wajah serius.
" Berdirilah!! " Taran dengan nada serius menyuruh Tensis untuk berdiri.
Tensis tidak berdiri, dia masih bergumam, dengan terus mengatakan bahwa Brayen tidak akan mati begitu saja.
" Ku bilang berdiri sekarang!!! " Taran dengan nada tinggi.
Tensis melirik Taran dengan pandangan kosong.
" Beliau tidak akan mati begitu saja!! "
Taran pun memaksa Tensis berdiri.
" Ajudan!! " Seorang prajurit berteriak.
" Yang mulia ratu tidak ada!! " Ucap salah satu prajurit.
Taran terus memperhatikan sekitar, dia tidak melihat Rose di mana-mana.
" Sepertinya cahaya tadi, adalah cahaya yang di keluarkan dari sebuah benda sihir " Gumam Taran.
" Apa kau tidak menyadari, jika yang mulia Ratu tidak ada!? " Taran berteriak seolah menyadarkan Tensis.
Tensis, mulai menyadari bahwa Rose tidak bersama mereka.
" Yang mulia!? Beliau tidak ada? " Tanya Tensis yang sudah sadar.
" Ya, beliau tidak ada. Jangan panik, mungkin beliau sudah masuk ke dalam. " Ucap Taran yakin.
" Apa maksudmu? Bagaimana caranya beliau masuk. "
" Sepertinya ada benda yang di bawa oleh yang mulia Ratu, benda tersebut memiliki sihir yang sama dengan sihir yang menyegel pintu ini. "
" Apa kau yakin? Kenapa kau tidak bilang, ada benda yang bisa membuka segelnya!! " Tensis meledak marah.
" Karena benda itu hanya ada satu di dunia, dan sepengetahuanku, benda itu sudah hilang. " Ungkap Taran.
" Kalau begitu, benda tersebut ada di tangan Ratu?! " Ucap Tensis.
" Sepetinya begitu, kita hanya bisa berharap kepada yang Mulia Ratu, semoga beliau bisa menyelamatkan yang Mulia Raja." Ucap Taran.
" Yah kau benar. Tapi, berapa lama lagi segelnya akan terbuka? " Tanya Tensis.
" Aku hanya butuh waktu 10 menit untuk membuka segelnya. " Ungkap Taran.
Taran segera membuka segel pintu tersebut, dia membaca mantra dengan cepat.
...----------------...
Rose yang tersedot masuk ke dalam ruangan Brayen.
Dia segera menghentikan Brayen yang akan menusuk jantungnya dengan pedang.
" Ray!! " Panggil Rose.
Brayen seketika melirik Rose, tatapannya tertuju kepada Rose yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
__ADS_1
" Rose!! " Panggil Brayen dengan nada rendah.
Berta yang melihat Brayen tidak fokus, dia memanfaatkan situasi tersebut dan segera menyerang Brayen dengan sihirnya.
" Rasakan ini Brayen!! " Berta mengarahkan sihirnya kepada Brayen.
Melihat hal itu, Rose berteriak memanggil nama Brayen.
" Ray!! Menyingkir!! " Teriak Rose.
Rose dengan sigap berlari ke arah Brayen dan menahan sihir Berta dengan pedangnya.
" Rose!! " Panggil Brayen.
" Apa kau terluka? Sebaiknya kau tidak masuk kemari!! " Brayen marah dan khawatir.
" Apa kau akan mengomeliku!! " Rose kesal.
Perasaan Brayen campur aduk.
Dia tidak mau Rose dalam bahaya, tapi di sisi lain.
Brayen tidak mau mati kesepian tanpa ada seseorang yang mendampinginya.
" Jangan berbuat hal yang gila!! Aku tidak mau jadi janda!! " Ucap Rose yang masih menahan sihir Berta.
Berta yang kehabisan mana, dengan cepat menghentikan sihirnya.
" Apa!? Bagaimana bisa kau menahan sihir itu dengan pedangmu!!? " Berta tidak percaya bahwa sihir andalannya bisa di tahan oleh sebuah pedang.
" Kau pikir sihir mu akan berpengaruh pada pedang suciku. " Ucap Rose.
" Pedang suci!? " Ucap Brayen.
| Sial!! Dia memiliki pedang suci, pedang tersebut tidak akan mempan terhadap sihirku.|
Berta benar, pedang suci tidak akan terpengaruh dengan sihir hitam,tapi sebaliknya pedang suci sangat berpengaruh bagi penyihir hitam.
| Pedang suci adalah kelemahan para penyihir hitam. Bagaimana dia bisa memiliki pedang tersebut. | Pikir Berta kacau.
Rose maju dengan pedang di tangannya dan dia tertuju pada boneka yang selalu di bawa oleh Berta.
| Para penyihir hitam, menanamkan sebagian ilmu sihir dan mananya di suatu benda. |
| Kekuatan sihirnya ada pada boneka itu, aku harus memotong akarnya terlebih dahulu. | Pikir Rose.
" Kau pikir aku takut dengan bocah seperti dirimu. " Ucap Berta.
" Kita lihat saja, apa kau mampu melawanku dengan sisa mana yang sedikit. " Ucap Rose serius.
Saat Rose maju dan memfokuskan diri pada boneka itu.
Brayen dengan cepat mengambil pedang miliknya.
Seketika Berta melirik ke arah Brayen.
Brayen sengaja mengalihkan perhatian Berta, agar dia tertuju padanya.
" Apa yang mau kau lakukan Brayen!!? " Tanya Berta yang terpancing.
" Kau lengah!! " Ucap Brayen.
Rose dengan cepat mengambil boneka milik Berta.
Boneka itu hidup dan dia memanggil Berta.
" Berta!! " Panggilnya.
Berta pun melirik lagi ke arah suara tersebut.
" Kembalikan!! " Berta terlihat panik.
__ADS_1
" Jangan harap!! " Ucap Rose tegas.
Saat Berta akan mengeluarkan sihirnya lagi, tiba-tiba saja cahaya yang menyelimuti ruangan Brayen pun hilang.
Dan tidak lama kemudian Tensis dan Alex masuk.
" Yang mulia!! " Panggil Tensis.
" Ray!! Apa kau baik-baik saja!? " Tanya alex yang terlihat babak belur.
Sudah pasti Taran berhasil membuka segel pintu tersebut.
Para prajurit yang ikut masuk, segera menyergap Berta.
" Haaah.....kalian pikir, aku tidak bisa mengalahkan kalian semua? " Ucap Berta.
Berta dengan sisa sihirnya melawan prajurit.
" Taran!! Ambil ini dan bakar!! " Rose melemparkan boneka milik Berta kepada Taran.
Taran dengan cepat menangkapnya dan segera membakar boneka tersebut.
" Beraninya kalian!! Hentikan sekarang!! " Berta berusaha mengambil boneka miliknya.
Tapi, Taran dengan cepat membakar boneka tersebut dengan sihirnya.
" Tidak!! Kau tidak boleh membakarnya!! " Berta mencoba mengeluarkan sihirnya lagi, tapi sayangnya dia kehabisan mana.
" Sialan, kenapa sihirku tidak mau keluar!! " Berta meludah panik.
" Tangkap dia!! " Rose memberi perintah.
" Tidak!! Kalian tidak bisa mengalahkanku!! " Berta berteriak.
Boneka milik Berta terbakar habis, begitu pula dengan sihir yang dia tanamkan dalam boneka tersebut.
" Aahhhhhhkk...Tidak!!! "
" Tidak.....Sihirku...Sihirku!!! " Berta berteriak seperti kehilangan akal.
Berta mengambil pedang yang tergeletak, dan dia mencoba menusuk Rose dengan pedangnya.
Brayen yang melihat hal tersebut segera menarik Rose.
" Rose!! " Brayen menarik Rose dan mereka terjatuh.
Brayen tidak sadarkan diri, melihat itu semua Rose panik dan dia mencoba membangunkan Brayen.
" Ray!! Ray!! Bangun Ray!! " Rose terus mengguncang tubuh Brayen.
Tapi Brayen tetap tidak sadarkan diri.
Berta bersiap menyerang lagi, tapi untungnya Taran menahannya.
" Menyerahlah!! Mana dan sihirmu sudah lenyap bersamaan dengan boneka itu!! " Ucap Taran.
" Bekuk dia cepat!! " Alex berteriak.
Para prajurit dengan cepat membekuk Berta dan merantainya.
" Lepaskan aku!!! Cepat!!! " Berta memberontak.
" Kita harus memusnahkan dia sekarang juga, jika dia mendapatkan mana, dia akan membuat masalah lagi!! " Ucap taran.
" Tunggu!! " Tiba-tiba dua laki-laki dan satu perempuan keluar.
Dia adalah Zekillion bersama dengan Ratu kedua Ajertina dan Raja Aleandro I.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG.............