AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 72


__ADS_3

Brayen kembali ke kamarnya di ikuti oleh Tensis.


Saat Brayen masuk, dan melihat sekeliling terutama ranjangnya, dia tersenyum dan berkata.


" Sepertinya dia melarikan diri. " Ucap Brayen yang tersenyum dan terus menatap ranjangnya.


Tensis yang melihat Brayen tersenyum seperti itu, dia malah merinding.


| Sepertinya, ada yang salah dengan obat yang di berikan oleh adiknya yang mulia. | Pikir Tensis.


Brayen melirik Tensis dan dia mengubah ekspresinya menjadi dingin lagi.


" Ekhemm... " Brayen Berdehem.


" Siapkan pakaianku." Brayen meminta Tensis untuk menyiapkan pakaiannya.


" Baik Yang mulia. " Jawab Tensis patuh.


| Bagaimana bisa seseorang yang hampir mati, sekarang terlihat begitu sehat dan Sumringah.| Pikir Tensis.


Brayen bersiap untuk mandi, dia membuka pakaiannya.


Tubuhnya yang kekar ternyata selama ini ia sembunyikan di balik pakaiannya.



Tensis yang meilhat tubuh Brayen seketika menelan ludah.


' Gulp '


Dia sebagai laki-laki pun terpesona melihat tubuh Brayen.


" Apa yang kau lihat? " Tanya Brayen sinis.


Tensis seketika menundukkan kepalannya dan menjawab.


" Tidak yang mulia. " Jawab Tensis.


" Jika kau sudah menyiapkan pakaianku, kau boleh pergi. "


" Baik yang mulia. " Jawab Tensis patuh.


" Ahhhk, satu lagi. Kirim surat kepada Raja Julius, bahwa aku tidak akan mengizinkan Ratu untuk pergi ke sana. " Perintah Brayen sekali lagi.


" Baik Yang mulia, saya akan mengirimkan surat tersebut. " Jawab Tensis sekali lagi.


...----------------...


Istana Alex.



Alex masih tertidur pulas di ranjangnya.


Melihat hal tersebut, Viktor selaku ajudannya mencoba membangunkan Alex.


" Yang mulia!!! " Viktor yang mencoba membangunkan Alex.


Alex masih tertidur pulas, dia tidak bergerak sedikit pun.


" Yang Mulia!!! Ini sudah pagi, anda harus bangun!! " Viktor terus membangunkan Alex.


Alex masih belum bergeming.


" Haaaah, dosa apa yang telah aku perbuat, sehingga memiliki pemimpin yang seperti ini. Bangun di siang hari, tidur di sore hari, pekerjaan menumpuk di mana-mana, betah di kerajaan orang lain, sedangkan kerajaannya terbengkalai tidak terurus." Viktor mengeluh.


" Yang muliaaaaaa!!!! " Viktor berteriak.


' Bughh ' Seketika bantal melayang begitu saja dan mendarat di muka Viktor.


" Berisik kau Viktor!! Tutup mulutmu!! " Alex melempar bantalnya kepada Viktor.


" Yang Mulia, anda harus bangun!! " Pinta Viktor.


" 5 menit lagi. " Ucap Alex yang masih tidur tengkurap.



" Tidak, tidak ada 5 menit. " Ucap Viktor.


" 3 Menit lagi, aku mengantuk. " Alex terus menawar.


Viktor menarik selimut Alex.

__ADS_1


" Tidak ada tawar menawar, cepat bangun dan bersiap, yang mulia!! "


" Baiklah-baiklah, aku bangun!! " Alex bangun dari tidurnya.


Dia masih setengah sadar.


Alex yang kesal karena tidurnya di ganggu, dia pun bergumam.


" Ajudannya lebih kejam dari pada majikannya, sekarang aku tidak tahu yang mana majikan yang mana ajudan. " Alex bergumam kesal.


" Saya hanya menjalankan tugas, yang mulia. " Ucap Viktor.


" Ya,ya,ya. " Alex bangun dari tempat tidur dan menepuk bahu Viktor.


" Jangan terlalu rajin mengerjakan tugas, orang lain akan muak melihatnya. " Ucap Alex.


" Cepatlah bersiap, dan jangan mengeluh. " Ucap Viktor.


...----------------...


Kerajaan Moniquee.



Seorang laki-laki duduk dengan kaki terangkat, dan gelas anggur di tangannya, dia terlihat kacau tapi wajahnya lumayan tampan dan tidak bisa di pungkiri lagi.



" Setidaknya urusan kerajaan sudah aku selesaikan, bangsawan yang telah melakukan penggelapan dana pun sudah aku singkirkan. " Ucapnya.


" Selamat yang mulia, anda berhasil menumpas para bangsawan yang korupsi. " Ucap Felix.


" Yah, putra mahkota pun ikut andil dalam penumpasan, kemana dia? " Tanya Julius.


" Seperti biasa, beliau kabur. " Jawab Felix.


" Cih, bocah itu!! " Julius kesal.


Saat Julius meludah kesal, tiba-tiba seekor burung datang dan singgap di tangan julius.



" Yang mulia, itu adalah Argus, kenapa anda menggunakannya?! " Felix terkejut melihat burung itu.


" Memangnya kenapa? kau pikir Argus hanya di gunakan saat perang besar. " Ucap Julius.


Burung yang di panggil Argus itu berbicara.


" Aku tidak menyangka, ada seseorang yang berani menyebutmu bajingan, julius. " Ucap Burung itu.


" Apa maksudmu burung bodoh?! " Tanya Julius.


Burung itu terbang dan mendarat di bahu Felix.


" Kau bajingan, bajingan. " Ucap Burung itu.


" Aku menyuruhmu untuk mengirim surat kepada dia. sepertinya, di perjalanan kau menabrak sesuatu, sehingga otakmu bermasalah." Ucap Julius kesal.


" Orang itu bilang, ' Bajingan mana yang ingin mengambil istriku!! ' seperti itu kira-kira. " Ucap burung itu.


Julius menghampiri burung itu dan meremasnya.


" Apa kau serius!? " Tanya Julius.


" Yang mulia, nanti Argus bisa mati. " Ucap Felix.


Julius melepaskan Argus dan dia duduk kembali di singgasananya.


" Aku tidak tahu, jika putriku memiliki suami yang seperti itu. " Ucap Julius.


" Bajingan? " Gumam Julius.


| Dia pikir aku tidak tahu apa yang dia bicarakan. | Pikir Julius.


" Felix!! Siapkan keberangkatanku, aku akan berkunjung ke sana. " Julius memerintahkan Felix.


" Anda akan berkunjung ke mana yang mulia? " Tanya Felix.


" Kerajaan Turnatara. Aku ingin menampar mulutnya, dan memberinya pelajaran. " Ucap Julius.


Felix menjawab seolah mengerti apa maksudnya.


" Baik yang mulia, saya akan mempersiapkan semuanya. "

__ADS_1


" Jangan lupa, siapkan bukti bahwa dia adalah putriku. " Julius mengingatkan.


" Baik yang mulia, saya pasti tidak akan lupa dengan hal penting itu. " Ucap Felix sopan.


" Segel lagi Argus di buku sihir. "


" Baik yang mulia. "


" Kau tega julius, setelah aku pulang kau malah menyegelku lagi. " Ucap Argus.


" Aku tidak mau Putriku melihatmu. " Ucap Julius.


Felix segera menyegel Argus ke dalam buku lagi.



" Aku tidak sabar, untuk memberinya pelajaran bagaimana caranya menjadi menantu yang baik "


...----------------...


" Udara sangat dingin, sehingga punggungku merinding di buatnya. " Brayen merasa punggungnya kedinginan.


" Tensis, apa mereka sudah ada di ruang persidangan? " Tanya Brayen yang sudah rapi.


" Sudah yang mulia, mereka sejak pagi sudah ada di ruang sidang. " Jawab Tensis.


Brayen mengambil pedangnya dan pergi.


" Ayo kita ke sana. "


...----------------...


" Yang mulia, anda sudah terlihat cantik. " Ucap Layla.


Rose akan menghadiri sidang, dia ingin melihat Brayen.


Rose memakai gaun formal yang di kenakan saat acara resmi.



" Ugh, ini terlalu berlebihan. Aku tidak suka memakai perhiasan yang berlebihan. " Ucap Rose.


" Ini semua di berikan oleh yang mulia Raja, sangat banyak, mulai dari mahkota, gaun, perhiasan, sepatu, beliau mengirimkan itu semua. "






Kilas balik saat Brayen mengetahui bahwa Rose tidak mempunyai gaun.


" Tensis, apa aku pernah memenuhi tanggung jawabku sebagai suami? " Tanya Brayen.


" Jujur, anda tidak memenuhi tanggung jawab sebagai seorang suami. " Jawab Tensis jujur.


" Ternyata aku adalah suami yang buruk. " Ucap Brayen.


" Ya, anda yang terburuk. " Tensis menimpa.


" Anda memberikan gaun kepada perempuan lain, sedangkan istri anda tidak. Padahal Yang Mulia Ratu tidak pernah menggunakan uang kerajaan, beliau bahkan tidak pernah membeli gaun. Yang mulia sangat hemat, dia tidak mau menghamburkan uang suaminya. "


Brayen yang mendengar itu semua merasa bersalah.


Dia langsung menyuruh Tensis untuk mengirim semua perhiasan dan pakaian yang mewah pada Rose.


" Tensis!! Kirim perhiasan dan pakaian. Pastikan itu langka dan mahal. " Brayen memberi perintah.


" Baik yang mulia. " Tensis yang bersemangat.


Kilas balik selesai.


" Padahal, aku tidak meminta hal ini. " Ucap Rose.


...----------------...


BERSAMBUNG.......


WAH GAK NYANGKA, UDAH CHAPTER 72, SEBENTAR LAGI MENUJU CHAPTER END.


AKU MAU BILANG TERIMA KASIH BUAT SEMUANYA YANG SUDAH MENGIKUTI NOVEL INI DARI AWAL.🥺

__ADS_1


KALIAN THE BEST😚



__ADS_2