AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 87 (Revisi)


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Selama satu minggu, Brayen melakukan apa yang di minta Julius, mulai dari mengangkut air, berlatih pedang, bertarung, menggosok baju zirah, mengasah pedang, memasak, memanen dan yang paling tidak di sukai oleh Brayen adalah menangkap ikan.


Brayen sangat membenci bau ikan, tapi dia rela menahan bau ikan untuk memenuhi tugasnya.


" Aku sudah melakukan tugasku semua, jadi bisakah aku bertemu dengan Rose. " Brayen sudah terlihat lelah dan dia belum bertemu Rose sama sekali.


| Tanganku bahkan sudah kapalan karena terlalu lama mengasah pedang. | Batin Brayen.


" Aku masih punya satu tes lagi!! " Julius yang masih tidak puas dengan Brayen.



Brayen dengan wajah kesal bertanya.



" Apa itu? " Tanya Brayen.


" Jawab pertanyaanku dengan cepat tanpa berpikir. " Ucap Julius.


" Baiklah. " Ucap Brayen.


Julius pun bertanya dengan wajah serius.


" Jika suatu hari nanti Rose tidak mau bersamamu lagi, apa yang akan kau lakukan? " Tanya Julius.


Brayen langsung menjawab Julius dengan ekspresi dingin.


" Aku akan mengurungnya di dalam istanaku, aku hanya akan menempatkan dia di dalam sangkar agar dia tidak bisa pergi dan hanya aku yang bisa menemuinya." Ucap Brayen.


Brayen meneruskan perkataannya dengan menggosok kasar wajahnya.


" Ya, Itu jika aku egois dan hanya mementingkan diriku sendiri. Jika itu terjadi aku akan membiarkannya pergi, aku tidak akan memaksanya untuk berada di sisiku. " Ucap Brayen.


" Sesuatu yang di paksakan itu tidak baik. Salah satu di antara kita pasti akan terluka. " Sekali lagi Brayen menambahkan.


Julius tersenyum mendengar jawaban Brayen.



" Bagus, kau berhasil menjawabnya." Julius tersenyum dan dia cukup puas dengan Brayen.


" Jangan pernah memaksakan sesuatu yang belum tentu baik bagi orang lain. " Ucap Julius.


" Kau tidak terlalu buruk, meski kau telah melukai putriku kau masih berusaha untuk menebus semuanya. " Ucap Julius.


" Aku akan mempercayakan putriku kepadamu, tapi jika dia sudah bosan denganmu, lebih baik kau melepaskannya. " Ucap Julius seraya pergi.


Brayen yang mendengarnya dia sangat terkejut sekaligus bahagia karena dia sudah mendapat kepercayaan dari Julius.


" Saya akan menjaga Rose dengan baik. " Ucap Brayen girang.


" Akhirnya aku bisa bertemu dengan Rose, ini sudah satu minggu. " Gumam Brayen.


Brayen pergi ke istana selatan untuk bertemu Rose.


...----------------...



Derup angin yang lembut, daun yang bergoncang oleh hembusan angin dan bunga-bunga yang indah berwarna.


Istana selatan memiliki taman yang cantik untuk memanjakan mata, tetapi Rose tidak menikmati semua itu.


Rose yang sedang melihat-lihat istana sambil berjalan menyusuri taman, dari raut wajahnya dia sedikit murung.


Dia tidak menikmati keindahan dari taman itu.


" Yang mulia, anda terlihat murung. " Layla yang merasa jika Rose sedang murung dia bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


" ....... "


Rose tidak menjawab sama sekali.


" Yang mulia? " Sekali lagi Layla memanggil.


Baru setelah beberapa kali Layla memanggil, Rose akhirnya sadar dan menjawab.


" Ada apa Layla? " Tanya Rose yang masih murung.


" Apa ada yang mengganggu pikiran anda? " Tanya Layla.


Rose diam sejenak, dia menatap ke arah gajebo yang ada di taman tersebut dan dia melangkah ke arah gajebo itu.



Rose duduk di sana dengan tangan yang mempermainkan bunga.


Dalam batinnya dia berkata.


| Ini sudah satu minggu tetapi Ray tidak datang juga, aku sudah pergi ke istana timur untuk menemuinya tetapi dia selalu tidak ada. | Rose sedang memikirkan Brayen.


" Apa dia marah akan sesuatu? " Rose bergumam.


" Jadi anda sedang memikirkan yang mulia? " Tanya Rose.


" Ya, beliau sudah satu minggu tidak menemuiku. " Ucap Rose yang murung.


" Mungkin yang mulia sibuk. " Tebak Layla.


Saat mereka sedang berbincang, suara langkah kaki terdengar dengan jelas, langkah kaki tersebut menuju ke arah mereka.


Rose yang memiliki pendengaran tajam, dia langsung melirik ke arah langkah kaki tersebut.



" Rose!! " Panggil pemilik langkah kaki tersebut.


" Salam yang mulia, semoga anda di berkahi. " Layla memberi salam.


Brayen berjalan ke arah mereka, di tangannya terlihat dia membawa satu buket bunga berwarna merah muda.


" Rose, maafkan aku karena aku tidak menemuimu selama satu minggu terakhir. " Brayen meminta maaf dan memberikan bunga tersebut kepada Rose.


" Tolong maafkan aku. "


Rose menatap wajah Brayen dan buket bunga tersebut.


Tapi, Rose malah tertuju pada jari-jari Brayen yang kapalan dan penuh luka.


Rose segera mengambil bunga yang di berikan Brayen.



Rose menyimpan buket tersebut di sebelahnya dan dia segera memegang lengan Brayen dan bertanya dengan wajah cemas.


" Apa yang terjadi dengan tanganmu Ray? " Tanya Rose cemas.


" Itu karena didikan ayahmu. " Ucap Brayen.


Rose heran dengan ucapan Brayen, dia bertanya lagi.


" Ayah? memangnya apa yang sudah ayah lakukan kepadamu? " Tanya Rose.


" Ya, itu juga kesalahanku karena tidak bisa menjaga mulutku dengan benar. " Ucap Brayen.


| Sepertinya Rose sangat cemas, aku ingin menggodanya sedikit. | Batin Brayen.


" Aku akan berbicara dengan ayah, kenapa beliau memperlakukanmu dengan buruk. " Ucap Rose yang terus menyapu tangan Brayen yang luka.


" Kau tidak perlu melakukan itu. " Ucap Brayen.

__ADS_1


" Sebenarnya apa yang kau perbuat sehingga ayah marah? " Tanya Rose lagi.


" Karena kata bajingan keluar dari mulutku, ayah mertua marah dan mengujiku selama satu minggu, aku bahkan sudah sempat memanjat jendela demi bertemu dengan mu, tapi gagal karena ketahuan kakakmu. " Ucap Brayen.


" Lain kali jangan bicara yang tidak-tidak, tapi aku akan meminta maaf atas nama ayahku. " Ucap Rose.


" Meski aku memang kesal dengan ayahmu, tapi beliau melakukan semua itu untuk kebalikan dirimu Rose. " Ucap Brayen.


Brayen menatap Layla, dan dia memberi kode agar dirinya pergi dan membiarkan mereka berdua.


Layla pun mengerti.


" Yang mulia, saya akan pergi. Semoga di berkahi. " Layla pergi.


Dan tersisalah mereka berdua.


" Rose, aku sangat merindukanmu, aku bahkan tidak bisa tidur dengan baik. " Ucap Brayen dengan tangan yang tiba-tiba menggenggam tangan putih Rose.


" Entah bagaimana jadinya jika aku hidup tanpamu, satu minggu tanpamu serasa satu abad. " Brayen perlahan mencium punggung tangan Rose.


" Aku sempat berpikir jika kau bosan denganku dan mengabaikanku selama satu minggu terakhir. " Ucap Rose yang mengelus kepala Brayen.


" Laki-laki mana yang bosan melihat istri secantik dirimu. " Ucap Brayen dengan senyuman licik.


Di balik senyuman itu, ada sebuah hasrat yang tersembunyi.


Brayen menatap Rose dengan tatapan lembut, mereka saling bertatapan satu sama lain.


Tatapan Brayen kini tertuju pada sesuatu yang berwarna merah muda dan terlihat lembut dan kenyal.


Ya, dia menatap ke arah bibir Rose yang terlihat lembut.


Brayen ingin sekali ******* bibir itu sampai tidak tersisa.


Hasratnya mendorongnya untuk melakukan hal tersebut.


Brayen mendekati wajah Rose perlahan, Rose pun menutup matanya seolah dia tahu apa yang akan Brayen lakukan.


Saat Wajah mereka semakin dekat, dan Brayen akan memulai aksinya.


Tiba-tiba—


" Rose!! " Seseorang memanggil dari kejauhan.


Mereka dengan cepat membuka mata mereka dan kembali ke posisi masing-masing dengan suasana canggung.


" Ehem!! " Brayen berdehem dan duduk kembali.


Rose melihat ke arah suara yang memanghil namanya dan ternyata itu adalah kakaknya sendiri Wilson.


" Kakak!! " Rose memanggilnya.


Wilson mendekat dan merangkul Rose.


" Rose!! Apa kau sedang menikmati taman istana? " Tanya Wilson tapi tatapannya tertuju pada Brayen.


" Ahh, ya kakak. Saya sedang melihat-lihat. " Jawab Rose.


Brayen yang melihat Rose di rangkul, dia memberikan tatapan yang sinis kepada Wilson.



Meski Wilson adalah kakaknya, Brayen tetap tidak biasa dengan itu.


| Pengganggu!! dia pasti sengaja. | Batin Brayen kesal.


| Kau mau mel*mat bibir adikku, tidak semudah itu. | Wilson pun berbicara dalam batinnya.


| Tenang, masih ada nanti malam. | Batin Brayen.


...----------------...

__ADS_1


MENUJU ENDING.........


__ADS_2