AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 74


__ADS_3

" Kau benar Layla, beliau ingin mengeksekusi Ibu suri secepatnya. "


...----------------...


" Yang mulia, kita harus pulang sekarang juga. " Ucap Viktor.


" Baiklah, aku akan kembali ke Leopard hari ini, sebelum itu, aku ingin melihat ibu suri di eksekusi. " Ucap Alex.


Alex berencana untuk pulang ke kerajaannya, dia sudah terlalu lama meninggalkan Leopard dan membantu Brayen di sini.


" Aku tidak mendapatkan jodoh di sini, yang ku dapatkan hanya rasa lelah. " Gumam Alex.


" Anda bisa mencari jodoh di kerajaan lain, perempuan itu banyak yang mulia, bukan hanya yang mulia Ratu saja. " Viktor mengomel.


" Iya,iya. Aku tahu itu. "


...----------------...


Singgasana Brayen.



Brayen duduk di singgasananya, dia sedang membahasa tentang eksekusi Ibu suri dan para pengikutnya.


" Tensis, umumkan kepada Rakyatku, bahwa penghukuman ibu suri akan di laksanakan sore ini juga. " Brayen memberi perintah.


" Baik yang mulia. " Jawab Tensis patuh.


Brayen bertanya lagi, tapi wajahnya sedikit memerah.


" Tensis, dimana aku bisa membeli cincin? " Tanya Brayen kikuk.


" Maaf? " Tanya Tensis.


Tensis menahan tawa mendengar pertanyaan Brayen yang tiba-tiba.


" Aku tahu, apa yang kau pikirkan. " Ucap Brayen yang terlihat memerah.


Selama ini Brayen memang tidak pernah membeli barang langsung, dia hanya menyuruh Tensis untuk melakukan hal itu.


" Apa anda ingin membeli cincin? " Tanya Tensis.


" Ya, aku ingin memilih cincin itu secara langsung, karena itu khusus untuknya. " Ucap Brayen.


" Apa itu untuk yang mulia ratu? " Tanya Tensis.


Brayen menatap Tensis dengan muka datarnya.


" Lalu untuk siapa lagi, istriku hanya dia, tidak ada yang lain. " Jawab Brayen sinis.


" Aku tidak mau memiliki selir atau Ratu ke dua. " Tambahnya.


" Lalu, bagaimana dengan Lady Viona? " Tanya Tensis.


" Apa maksudmu? " Brayen terlihat marah.


" Anda melupakan Lady Viona yang mulia, para Rakyat bertanya-tanya kapan pernikahan anda akan di laksanakan dengan Lady Viona. " Ucap Tensis.


Brayen melupakan itu semua, dia lupa, bahwa dia pernah bilang akan menikahi Lady Viona.


" Sial, aku lupa dengan itu. " Ucap Brayen.


" Batalkan saja. " Ucap Brayen enteng.


" Tapi, Lady Viona akan menanggung malu yang mulia. " Ucap Tensis.


" Tidak, dia sudah setuju untuk resiko itu, biar aku yang urus masalah ini. " Ucap Brayen.


" Baik Yang mulia. "


" Sekarang jawab pertanyaanku, dimana aku bisa membeli cincin yang paling bagus? " Brayen bertanya lagi tentang toko perhiasan.


" Saya akan mengantar anda langsung nanti yang mulia. " Ucap Tensis.


" Baiklah, jika memang begitu. " Ucap Brayen.


" Kau boleh pergi Tensis. " Perintah Brayen.


" Baik yang mulia, salam semoga anda di berkahi. " Ucap Tensis sopan dan dia pun pergi untuk melakukan tugasnya.


...----------------...


Brayen yang menyuruh Tensis untuk mengumumkan kepada rakyatnya, bahwa Ibu suri yang berkhianat akan di eksekusi.


Tensis segera melakukan perintah tersebut, dan para rakyat pun ikut senang setelah mengetahui itu.


Mereka akan menyaksikan penghukuman Ibu suri secara langsung.


Tidak hanya ibu suri yang akan di eksekusi tetapi, para dayang yang sudah mengikuti ibu suri pun akan ikut di eksekusi.


Termasuk Count Ferdi.


...----------------...


Brayen mengunjungi Rose di taman istananya.


Taman Istana.



Brayen melihat Rose dan Layla sedang duduk di kursi dan menikmati secangkir teh, beserta cemilan.

__ADS_1






Brayen pun menghampiri Rose.


Layla yang melihat Brayen dia segera berdiri dan memberi hormat.



" Salam mentari kekaisaran Turnatara, semoga anda di berkahi. " Hormat Layla.


Rose pun ikut bangkit memberi hormat kepada Brayen.


" Yang mulia, salam semoga anda di berkahi. " Rose memberi salam.


" Kau tidak perlu melakukan itu. " Ucap Brayen.


" Aku hanya menghormatimu saja. " Ucap Rose.


" Layla, kau bisa pergi. " Perintah Rose.


" Baik yang mulia, salam semoga di berkahi. " Layla pun pergi.


" Ray? Apa kau mau minum teh? " Tanya Rose.


" Tolong Milk Tea nya satu. " Pinta Brayen.


Rose menuangkan Milk Tea ke dalam cangkir dan memberikannya kepada Brayen.



Rose dan Brayen menikmati secangkir teh dan beberapa camilan.


" Jadi, kapan dia akan di eksekusi? " Tanya Rose.


Brayen menjawab.


" Sore ini juga, aku ingin secepatnya. "


" Hukum apa? " Tanya Rose lagi.


" Kau mau hukuman apa, ada 10 hukuman mati di kerajaan ini. 5 dari itu yang lumayan. "


" Yang pertama, di rebus hidup-hidup dengan timah cair, itu cocok untuk orang yang melakukan pemerkosaan dan penggelapan dana. "


" Yang ke dua, Catherine wheel. Para terdakwa akan diikat ke sebuah roda besar. Roda tersebut kemudian diputar tanpa henti. Selagi berputar, algojo akan memukul tubuh terdakwa dengan keras berkali-kali. hukuman ini sangat sadis, tapi sangat cocok bagi Count Ferdi. "


Rose merasa itu terlalu sadis, tapi dia ingin mendengar lebih.


" Lanjutkan! " Pinta Rose serius.


" Yang ke empat, ini cukup ringan, hanya dengan menaruh madu di badannya dan menggantungnya di atas tebing hidup-hidup, agar para serangga menggerogoti tubuhnya. "


" Itu bukan ringan, tapi membunuh secara perlahan namun mematikan. " Ucap Rose.


" Sebenarnya aku ingin menerapkan hukuman yang ke empat dan ke satu, tetapi Menteri kerajaan tidak mengizinkannya, karena eksekusi ini akan di perlihatkan kepada Rakyat. " Jelas Brayen


" Jadi, yang ke 5? " Tanya Rose.


" Yang ke lima, ini cukup cepat dan mungkin tanpa sakit, hukum penggal. " Ucap Brayen.


" Lumayan, tapi, apa ada hukuman yang mengharuskan alat vitalnya di potong, dan di cincang? " Tanya Rose serius.


Brayen sedikit terkejut dengan pertanyaan Rose.


" Apa kau sedang memilih hukuman untuk Counf Fedi? " Tanya Brayen.


" Ya. " Jawab Rose langsung.


" Untuk Count Ferdi, aku ingin alat vitalnya di potong dan badannya di rebus dengan timah cair. "


" Aku akan berbicara dengan menteri hukum. " Ucap Brayen.


" Bagus jika begitu. "


Rose pun bertanya lagi mengenai dirinya yang tidak di izinkan untuk pergi ke kerajaan Moniquee.


" Ray? Kenapa kau tidak mengizinkanku untuk pergi ke Kerajaan Moniquee? " Tanya Rose.


Brayen yang menyeruput tehnya, segera menjawab.


" Aku tidak mau jika Putra mahkota kerajaan moniquee melihat wajahmu. " Ucap Brayen


" Beliau sudah melihat wajahku , dan dia orang yang ramah dan baik. " Ucap Rose.


Brayen sedikit kesal karena Rose memuji laki-laki lain di hadapannya.



" Jangan beri dia pujian, aku tidak suka jika istriku memuji laki-laki lain. " Ucap Brayen kesal.


" Apa kau merasa kesal? " Tanya Rose.


" Tentu saja, suami mana yang tidak kesal ketika istrinya memuji laki-laki lain di hadapannya. " Jawab Brayen.


Rose tersenyum mendengar perkataan Brayen.

__ADS_1


" Kenapa kau tersenyum? " Tanya Brayen.


" Karena lucu, seorang Raja yang di takuti oleh rakyatnya, ternyata mudah cemburu." Ungkap Rose.


" Kau tahu saat kau berdansa dengan Alex waktu di pesta itu? " Tanya Brayen.


" Ya, memangnya kenapa, itu dansa pertamaku. "


" Aku merasa tidak enak saat kau memegang tangannya dan tersenyum cerah kepada bocah itu. " Brayen mengaku.


" Dan aku pun membencimu pada saat itu, karena kau merangkul pinggang wanita lain di hadapanku, perempuan itu bahkan duduk di pangkuanmu. " Rose menimpa Brayen dengan perkataannya.


" Itu hanya sandiwara, tidak sungguhan. " Ucap Brayen.


" Yah, lupakan itu semua. Sekarang aku hanya meminta, tolong izinkan aku untuk berkunjung ke sana. " Rose meminta izin lagi agar dia bisa pergi ke kerajaan Moniquee.


" Tidak, aku tidak akan mengizinkannya. " Brayen masih kekeh.


" Aku memiliki janji dengan Raja Julius dan aku merasa tidak enak jika beliau yang berkunjung kemari. " Ucap Rose.


" Aku mohon Ray. " Rose memohon.


" Kau boleh ikut jika kau mau, tapi itu pun jika kau tidak sibuk. " Ucap Rose.


Brayen berpikir, jika dirinya ikut pergi dengan Rose dia akan mudah mengawasi Rose.


Brayen pun tidak tega melihat istrinya yang terus merengek dan memohon.


" Baiklah aku akan mengizinkanmu, tetapi aku akan ikut. Aku ingin melihat bajingan yang ingin merebutmu. "


" Benarkah? " Tanya Rose Girang.


" Iya, tapi hanya beberapa hari saja. " Ucap Brayen.


Rose melompat ke arah Brayen dan memeluknya.


" Terima kasih, aku sangat senang. " Ucap Rose girang.


Brayen merasa senang mendapatkan pelukan dari Rose.


Di tengah suasana, tiba-tiba ada suara burung.


' Cip..cip...cip ' Suara burung terdengar.


" Ray, apa itu burung yang kau pelihara? " Tanya Rose.


" Aku tidak memelihara burung seperti itu. " Ucap Brayen.


Burung itu terbang dan menghilang begitu saja.


" Itu burung sihir!!! " Ucap Brayen.


" Apa? "


" Burung itu hanya ada satu di dunia, kalau tidak salah yang mempunyai burung itu, adalah kerajaan Moniquee. " Jelas Brayen.


" Kenapa dia mengirim burung itu kemari. " Brayen bertanya-tanya.


" Mungkin untuk mengirim surat. " Tebak Rose.


" Itu bukan burung biasa, hanya di gunakan saay perang besar. "


" Aku tidak percaya, bahwa dia mengawasi kita. " Ucap Brayen sedikit kesal.


...----------------...


Kerajaan Moniquee.


Burung itu dengan cepat sudah sampai di istana kerajaan Moniquee.


" Kau menggunakan kekuatanmu lagi? " Tanya Julius yang sedang bertapa.



" Apa yang kau dengar sekarang? " Tanya Julius.


" Kau menyegelku dan membebaskanku lagi, karena ingin mendengar kabar tentang putrimu, sungguh kejam. " Ucap Argus.


" Ini namanya, habis manis sepah di buang. " Sekali lagi Argus mengomel.


" Kau memang burung yang cerewet, cepat katakan apa yang kau dengar!!? " Julius tidak sabar.


" Kau tahu, menantu mu itu menyebut dirimu bajingan lagi. " Argus memprovokasi.


Sekerika Julius membuka matanya dan berbicara.



" Lagi? Wah.....Dia memang harus di beri pelajaran. Bagaimana bisa putriku menikah dengan laki-laki yang seperti itu. Ini tidak bisa di biarkan. " Ucap Julius kesal.


" Kau tenang saja, putrimu akan datang kemari dengannya. Dan kau bisa leluasa memberinya pelajaran. " Ucap Argus.


" Jika dia akan datang kesini sendiri itu bagus, aku akan leluasa memberi dia pelajaran. Aku tidak sabar menantikan itu. " Ucap Julius.


" Berilah pelajaran semaumu. " Ucap Argus.


" Itu sudah pasti, aku akan menyuruh dia mengangkat air dari desa sebrang ke mari, aku bahkan akan menyuruh dia berlatih pedang hingga lengannya putus, dan yang lebih parah, aku tidak akan membiarkan dia dekat-dekat dengan putriku. "


...----------------...


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2