AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 70


__ADS_3

Kamar Brayen di istana Rose.



Setelah Rose mengerjakan semua dokumennya.


Rose pergi ke ruangan tempat Brayen di rawat.


Disana ada Daniel dan beberapa Prajurit yang menjaga Brayen.


" Salam bulan kekaisaran, semoga anda di berkahi. " Daniel dan para prajurit memberi hormat kepada Rose.


Rose mengangguk dan segera menuju ke sisi tempat tidur Brayen.


" Daniel, apa yang mulia sudah membaik? " Tanya Rose, yang terus menatap Brayen.


Daniel dengan sopan menjawab.


" Beliau sudah mulai membaik yang mulia. " Jawab Daniel.


" Syukurlah jika memang begitu. "


" Kalian boleh keluar dari sini. " Rose menyuruh semua penjaga dan Daniel untuk keluar.


" Baik yang mulia, salam semoga anda di berkahi. " Jawab mereka seraya meninggalkan ruangan.


Setelah mereka keluar, Rose bergumam dengan menatap wajah Brayen.


" Aku mempunyai banyak pertanyaan dalam kepalaku, salah satunya tentang perceraian. Apa benar kau menginginkan perceraian? " Rose bergumam.


" .......... "


" Apa kau tahu, pekerjaanmu sangat banyak, dan itu sudah aku selesaikan. "


" ........ "


" Ray? Apa kau pernah mencium Lady Viona? " Tanya Rose.


" ........ "


" Jika kau sudah menciumnya, lebih baik kau menikah saja dengannya, aku tidak mau memiliki suami yang sudah di sentuh oleh wanita lain. "


" .......... "


" Tidak ada jawaban, padahal aku tahu kau sudah siuman dari tadi. "


" Berhentilah berpura-pura tidur, aku tahu jika kau sudah sadar. " Ucap Rose dengan suara datar dan sedikit kesal.


" .......... "


" Ray?! "


" Ray—!! Berhenti bermain-main. " Ucap Rose.


" Jika kau memang tidak mau membuka matamu dan berbicara, lebih baik aku pergi dan mengurus dokumen kerajaan. " Ucap Rose yang terlihat kesal.


Rose beranjak dari duduknya dan bersiap pergi, tapi, tiba-tiba—


Tak— pada saat itu tangan seseorang meraih tangan Rose.



Suara rendah pria yang familiar terdengar di telinga Rose.


" Apa kau akan pergi, setelah mengatakan semuanya? " Ucap Brayen yang masih terbaring di tempat tidur.



Ternyata, Brayen sudah sadar sedari tadi, dia hanya ingin mendengar Rose bergumam mengenai dirinya.


Rose yang merasa tertipu, dia memasang wajah yang datar dan dingin.


" Apa kau akan pergi? " Tanya Brayen sekali lagi.


" Aku tidak tahu jika kau memang pandai bersandiwara, aku merasa jika selama ini kau hanya berpura-pura sakit. " Ucap Rose datar.


" Aku tidak pernah berpura-pura. " Jawab Brayen yang masih lemah.


" Aku ingin pergi. "


" Tidak, tetap di sini, dan temani aku. " Pinta Brayen.


" Apa kau tahu, setiap kali aku mendengar kata pergi, jantungku rasanya akan berhenti berdetak. " Ucap Brayen.

__ADS_1


Rose tidak terbujuk dengan rayuan Brayen.


" Aku akan memerintahkan Daniel untuk menemanimu di sini. " Ucap Rose datar.


" Aku tidak butuh Daniel, aku hanya butuh dirimu. " Ucap Brayen.


" Tidak, aku harus pergi, masih banyak dokumen yang belum aku kerjakan. "


| Sebenarnya, semua dokumen sudah aku kerjakan, aku hanya mengingat pesan Ratu Ajertina. Jangan mudah di bujuk, tarik ulur itu perlu. | pikir Rose.


Brayen yang masih menggenggam tangan Rose dengan cepat menariknya ke dalam pangkuannya.


Pluk— Rose mendarat di dada Brayen yang bidang.


" Hei! Apa yang kau lakukan? " Tanya Rose yang memberontak.


" Tetap seperti ini, rasanya ini seperti mimpi bagiku. " Ucap Brayen.


Brayen, yang memeluk Rose dalam pelukannya, dia membenamkan wajahnya di rambut Rose dan menarik banyak napas dalam-dalam.


Untuk sesaat, Rose menyadari bahwa dia masih seorang pasien dan dia pun berhenti memberontak.


" Apa maksudmu? " Tanya Rose.


" Waktu itu aku berpikir bahwa aku akan mati, tapi ternyata aku masih bisa hidup. " Ucap Brayen.


" Ya, kau harus bersyukur. "


" Untuk pertama kalinya aku merasa bersyukur, karena aku memang ingin hidup. "


" Maka hiduplah dengan baik dan jaga dirimu sebisa mungkin, jangan terlalu memaksakan diri. "


" Aku akan mengingat perkataanmu. "


" Ada satu hal yang ingin aku pastikan, jangan menghindar dan jawab sekarang juga. Karena aku tidak bisa menunggu lagi. " Brayen serius.


Brayen melepaskan pelukannya, dan Rose dengan hati-hati turun dari atasnya.


Rose berbaring berdampingan di sampingnya. Brayen terus menatap Rose dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari setiap tindakan Rose.


" Apa yang ingin kau pastikan? " Tanya Rose serius.


Brayen, yang menatapku dengan lembut, segera tersenyum lebar dan bertanya.


Rose terdiam dengan pertanyaan Brayen, Rose tahu jika Brayen menunggu dirinya untuk memberikan jawab yang dia inginkan.


Tatapan halus di matanya, yang dengan jelas menunjukkan apa yang ingin dia dengar.


...----------------...


Aku harus mengakui semua emosi yang ku tolak selama ini, aku ingin dia hidup bahagia.


Yah, tidak buruk untuk mengatakannya, di lihat dari matanya dia sudah menunggu sangat lama.


Dengan bibir gemetar aku menjawabnya.


" Aku....aku suka kamu. " Aku mengatakan itu dengan malu dan gugup.


" Tidak, aku mencintaimu. " Aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengatakan perasaanku dengan kata-kata.


" Ugh.... " Mata Brayen terbuka lebar mendengar kata-kataku, dan dia melompat dari tempat tidur dan meraih dadanya.


Pernyataan itu tiba-tiba membuatnya sakit.


Aku bangun dan dengan polosnya aku bertanya kepadanya, seolah memastikan keadaannya.


" Ray, apa kau baik-baik saja?! "


" Lagi.....Katakan lagi. "


" Hah? Apa? "


" Sekali lagi, apa yang kamu pikirkan tentang diriku? "


Brayen meraih tanganku, dia terlihat lucu, ekspresinya seolah menggambarkan itu nyata atau bukan.


" Aku mencintaimu Brayen. "


" .......Gila."


" Wah...ini gila. "


Tidak, apa maksudmu gila? Ketika aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Reaksi Brayen sangat memalukan.

__ADS_1


Dia sangat girang.


" Apa aku sudah mati? " Tanya Brayen memastikan


" Kamu hidup! "


" Wah....."


" Kurasa aku tidak akan pernah mendengar itu dari mulutmu. "


Kata-kata Brayen mengendurkan sarafku dan memaksaku untuk tersenyum.


" Tidak, itu tidak masalah jika itu kenyataan atau sebuah mimpi. "


Tangan Brayen yang meraih lenganku, tiba-tiba mengencang, dan tubuh bagian atas Brayen mendekat.


" Apa yang ingin kau lakukan? " Tanyaku.


" Tolong jangan menghindar, aku akan melakukan apa yang ku mau saat ini. "


Saat aku memiringkan kepalaku, untuk memastikan apa yang dia bicarakan, tubuhku di tarik.


Saat aku merasakan wajah Brayen mendekat, aku sudah merasakan sesuatu yang lembut dan lembab di bibirku.



Ketika mulutku terbuka lebar karena terkejut.


" Huu--" Aku terkejut bahwa aku tidak bisa menutup mataku.


Ciuman pertamaku terasa manis, Ini sangat panas dan ya.


Itu berisi kesedihan yang sedemikian rupa sehingga aku merasa seperti akan menangis.


Sebelum Brayen menyadarinya, tangan Brayen bergerak ke pipi dan belakang leherku lagi.


Brayen menelan napasku seolah-olah seperti seorang pria di dalam laut yang merindukan kehidupan.


" Aku--~ "


Ketika aku kehilangan napas, aku mencoba menarik diri, tetapi Brayen, menempel erat di tubuhku, dia memastikan agar aku tidak lepas darinya.


" Ray! "


Karena ada celah, aku memanggil Brayen dengan tergesa-gesa dan bibirnya jatuh.


Itu hanya kurang dari 2 detik.


Mata tertutup Brayen terbuka, dan mata emas merahnya yang cekung bertahan di bibirku yang basah.


" Aku....tidak bisa bernafas. "


" Apa? "


Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku, Brayen kembali lagi ke tempat itu.


Dia tidak bermaksud mendengarkanku dari awal.


Aku meremas bahu Brayen sebagai ciuman dalam yang dimulai lagi. Kepalaku berkilat-kilat.


Brayen yang memperhatikan tubuhku yang kaku, menyapu punggungku dengan satu tangan.


Seperti, tidak apa-apa. Seolah ingin mengatakan, santai saja.


| Ayah mertua, lihatlah keahlian anakmu ini, sepertinya dia ahli dalam hal seperti ini, aku masih tidak tahu kemampuannya saat membuatkan cicit untukmu. Tapi yang jelas dia ahli. | Rose membatin.


" Carl....." Panggil Brayen lembut.


Wajah Brayen menyapu pipiku dan mendarat di sisi kiri leherku. Napas Brayen dengan dahi di bahunya membuat kulitku tergelitik.


" Ray! "


Tangan Brayen yang melingkar di pinggangku, aku merasa tercekik ketika aku di tarik mendekat.


Suara nafas Brayen bahkan terdengar di telingaku.


...----------------...


BERSAMBUNG..........



__ADS_1



__ADS_2