AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 71


__ADS_3

"Jika itu mimpi.....Jangan bangun. Aku tidak ingin bangun." Suara Brayen tiba-tiba merendah. Ada setetes air panas di bahuku.


" Ray? " Tanyaku memastikan.


Reaksi setelah ciuman pertama adalah air mata. Tangan Brayen yang melingkari pinggangku terjatuh saat aku mencoba untuk melihat wajahnya.


" Ray?! " Aku dengan panik memanggil namanya.


" Rose... " Panggil Brayen lesu.


" Ya, ini aku. " Jawabku.


" Aku ingin melakukan lebih, tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya sekarang. " Ucap Brayen murung.


" Hah? " Aku bertanya seolah tidak paham.


" Ya, aku ingin melakukan itu denganmu, tetapi melihat staminaku yang lemah saat ini, aku tidak bisa melakukannya. "


Tidak tahu apa yang di katakan dirinya, aku dengan polos mengangguk mengerti.


" Sebagai gantinya, berbaringlah bersamaku di sini. " Pinta Brayen.


" Baiklah, aku akan berbaring di sampingmu. " Aku menyetujui permintaannya.


...----------------...


Rose berbaring di samping Brayen.



Brayen meraih tangannya dan dia mengelus pipi Rose dengan lembut.


" Aku ingin ******* bibir merah itu, aku ingin mencium semua bagian dari tubuhmu, aku ingin meninggalkan tanda bahwa kau adalah milikku. " Brayen berbicara dengan lembut.


" Maka cepatlah pulih, jika kau ingin melakukannya. "


" Ya, aku harus segera pulih. " Ucap Brayen.


Rose yang mabuk akan ciuman tadi, dia hampir melupakan pertanyaannya.


" Aku hampir lupa dengan pertanyaanku. " Gumam Rose.


" Kau ingin bertanya? " Tanya Brayen yang terus menatap Rose.


" Ya. Aku ingin bertanya, apa kau yang menulis surat perceraian? " Tanya Rose.


Brayen yang semula menatap Rose lembut, tiba-tiba tatapannya berubah menjadi dingin.


" Apa kau meragukanku? " Tanya Brayen serius.


" Tidak, aku tidak meragukanmu, ibu suri membawa surat cerai yang telah di cap, dia bilang bahwa kaulah yang telah mencapnya sendiri. " Rose sedikit menjelaskan.


Brayen pun menjawab dengan tenang.


" Itu bukan stemple asli, dia memalsukan stempelnya. Kau tahu, dayang setia nenek lampir itu? " Tanya Brayen.


" Ya aku tahu, dia adalah Janet." Ucap Rose.


" Aku mengirim beberapa Prajurit bayangan Skuggi untuk mengawasi nenek lampir dan dayangnya. Dan para Skuggi melaporkan bahwa Janet si dayang itu, bisa meniru tulisan seseorang. " Brayen menjelaskan.


" Kenapa kau tidak memberi tahuku? " Tanya Rose.


" Aku tidak sempat, karena kondisiku waktu itu tidak baik, yang ada di pikiranku adalah mati, dan mati. " Ucap Brayen.


" Berhenti mengatakan kata mati. " Rose terlihat kesal.


" Sekarang aku tidak akan mengatakan kata mati. " Ucap Brayen.


" Jadi, surat itu tidak benar? " Tanya Rose.


" Ya, itu tidak benar. " Ucap Brayen.


" Nenek lampir itu berpikir bahwa aku mungkin akan mati, tapi tebakan dia meleset dan rencananya gagal. "


Rose melihat Brayen kesal, dia dengan cepat memegang tangannya seolah menenagkan.

__ADS_1


" Ini akan berakhir sebentar lagi. Karena, aku sudah mengajukan persidangan. " Ucap Rose.


" Ya kau benar, tapi sebelum itu, aku tidak mau diadakan persidangan, percepat semuanya, semua bukti sudah jelas, aku tidak mau menunda lagi. " Ucap Brayen dengan serius.


Rose yang mendengar Brayen berbicara seperti itu, dia paham apa yang di rasakan Brayen selama ini.


Brayen pasti sudah menunggu hal ini, karena di dalam perjanjian yang di tulis oleh Raja Aleandro yang menyatakan bahwa Brayen tidak bisa menyentuh ibu suri.


Itu tidak akan berlaku lagi, apabila Ibu suri melakukan kesalahan yang merugikan kerajaan dan jika dia melakukan hubungan dengan penyihir hitam.


Maka Brayen bisa melakukan apapun yang dia mau, entah itu menghukumnya dan mengusirnya tergantung bukti dan kebenarannya.


Semua bukti sudah ada, maka dari itu Brayen bertekad untuk melakukan penghukuman tanpa di adakannya persidangan.


" Aku tidak bisa menahan ini terlalu lama, melihat wajahnya saja, aku sudah muak. " Ucap Brayen.


" Jadi, aku ingin eksekusinya di percepat, mungkin besok aku akan meminta Tensis untuk mempersiapkan semuanya. " Brayen dengan gigih.


" Apa itu bisa terjadi? " Tanya Rose.


" Kau tidak perlu khawatir, mulai dari sekarang, aku akan kembali ke tempatku. "


Brayen bermaksud untuk kembali ke singgasananya.


" Ya, kau sudah terlalu lama pensiun. " Ejek Rose yang selama ini menggantikan Brayen.


" Ya...Istriku sudah bekerja keras. "


" Aku punya satu pertanyaan lagi. " Ucap Rose.


Brayen menatap Rose dan bertanya apa yang ingin Rose tanyakan lagi.


" Apa yang ingin kau tanyakan lagi? " Tanya Brayen penasaran.


" Apa kau, pernah berciuman dengan Lady Viona? " Tanya Rose malu-malu.


Brayen yang mendengar pertanyaan tersebut, seketika tertawa.


" Hahahah, apa kau cemburu? " Tanya Brayen.


" Ti..tidak, aku tidak cemburu, hanya saja, melihatmu yang mahir dalam hal seperti tadi, membuatku menjadi curiga. " Ucap Rose.


" Sebenarnya aku tidak pernah mencium seseorang, itu pertama kalinya untukku. " Brayen jujur.


Setelah Brayen mengingat-ingat, ternyata itu ciuman yang ke tiga kalinya, meski pun yang 2 itu bukan ciuman panas, tapi Brayen menganggap itu sebagai ciuman.


" Tidak, sepertinya ini bukan ciuman pertama kali. Yang tadi adalah Ciuman ke 3 ku. " Ucap Brayen.


Rose yang mendengar ucapan Brayen dengan cepat bertannya.


" Apa? Lalu kau memberikan ciuman pertamamu pada siapa? Dan yang ke dua pada siapa? " Tanya Rose tergesah-gesah.


" Ciuman pertama dan terakhirku hanya milikmu, bukan aku yang memberikan ciuman pertama, tapi kau sendiri. Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu? "


Rose mengingat kembali saat-saat dirinya pertama kali bertemu dengan Brayen.


" Ahhh, aku ingat. Aku melakukan CFR (Pemberian Nafas Buatan) pada saat kau jatuh ke sungai, tapi itu bukan ciuman, itu namanya pertolongan pertama. " Ucap Rose.


" Itu masih termasuk ciuman, karena bibir kita menempel pada saat itu. " Ucap Brayen.


" Lalu, yang ke dua, kau melakukannya dengan siapa? " Tanya Rose.


" Itu masih dengan dirimu, waktu itu kau sakit karena panah yang di tembakkan oleh Prajurit bayanganku. Aku terpaksa menggunakan mulutku untuk memberikan ramuan obat, karena pada saat itu cairan yang ku berikan tidak mau masuk ke tenggorokanmu, jadi aku menggunakan mulutku. " Brayen menjelaskan.


" Jika pada saat itu aku tahu kau akan menggunakan mulutmu, pasti aku akan marah. "


" Kenapa? " Tanya Brayen.


" Karena pada saat itu, aku membencimu. " Rose jujur.


Brayen mengerti kata-kata Rose, dia tahu bahwa dulu sikapnya kepada Rose sangat bertentangan dengan sekarang.


" Itu wajar jika kau membenciku, karena dulu aku sudah menyakitimu. "


Mereka terus berbincang-bincang di tengah malam yang di sinari indahnya bulan.

__ADS_1


Bahkan Rose menceritakan semua yang terjadi saat dia bertemu dengan Raja Dan Ratu terdahulu, Rose bahkan menceritakan bahwa ayahnya tidak seburuk yang Brayen pikirkan.


Brayen bilang dia sudah tahu percakapan mereka, karena dia bisa mendengar semuanya walau dirinya tidak sadarkan diri.


...----------------...


Keesokan Harinya.....


" Yang mulia, saya sangat senang ketika tahu bahwa anda sudah pulih. " Tensis yang terharu melihat Brayen sudah pulih.


" Stttttt!! " Brayen menaruh telunjuknya di bibirnya.


Rose yang masih tidur di atas ranjang Brayen terlihat masih pulas dan dia kelihatan lelah.


Brayen tidak mau membuat Rose terbangun karena suara yang berisik.


" Kita pindah keruangan lain, aku tidak mau membuatnya terbangun. " Ucap Brayen pelan.


" Baik yang mulia. " Jawab Tensis patuh.


Mereka pindah ke ruangan lain.



Brayen duduk di sopa.



Lalu dia membahas kasus ibu suri.


" Tensis, persiapkan semua, aku ingin mengeksekusi Nenek lampir itu secepatnya. " Ucap Brayen dingin.


Tensis yang mendengar hal tersebut terlihat kaget.


" Apa yang anda maksud yang mulia? " Tanya Tensis.


" Aku tidak suka mengulangi perkataanku. " Brayen dingin.


" Tapi, para bangsawan yang akan menghadiri sidang hari ini, sudah berkumpul di ruang hukum. " Ucap Tensis.


Brayen tidak memperdulikannya, dia akan tetap mengeksekusi Ibu suri secepatnya, karena dia sudah muak dengan wanita itu.


" Aku tidak peduli, mereka akan mengerti. setelah aku yang berbicara. " Ucap Brayen.


" Jadi anda akan pergi keruang hukum dan berbicara? " Tanya Tensis.


" Ya, aku akan mengusir mereka yang tidak mau mentaatiku. " Ucap Brayen serius.


Tensis bergidik merinding mendengar ucapan Brayen, dia tahu apa yang akan Brayen lakukan.


" Ada hal lain yang mulia. " Ucap Tensis.


" Apa itu? " Tanya Brayen.


" Raja Julius dari kerajaan Moniquee, ingin melakukan pertemuan dengan anda, beliau bilang anaknya yaitu pangeran Wilson, dia mengamuk karena ingin bertemu dengan Yang mulia Ratu." Ucap Tensis.


" Apa maksudmu? pangeran wilson, putra mahkota kerajaan Moniquee. Kenapa dia ingin bertemu dengan Ratu? " Tanya Brayen sedikit kesal.


" Hamba tidak tahu yang mulia, beliau bilang, jika dalam 2 hari, Yang mulia Ratu tidak pergi ke kerajaan Moniquee, maka Raja Julius sendiri yang akan kemari dan membawa Yang mulia Ratu. " Ucap Tensis hati-hati.


" Hah, memangnya dia pikir dia siapa? beraninya dia mau membawa istriku. " Brayen meludah kesal.


" Bajingan mana yang berani mengambil istriku, bilang padanya, aku tidak akan menginzinkan Sang Ratu pergi. " Ucap Brayen kesal.


Brayen pergi setelah menyelesaikan kata-katanya.


Dia tidak tahu, siapa yang dia sebut bajingan.


Kita akan tahu nanti, bagaiman reaksinya ketika dia tahu, bahwa orang yang dia sebut bajingan adalah seseorang yang penting.


...----------------...


BERSAMBUNG.............


__ADS_1


__ADS_2