AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 16 (Revisi)


__ADS_3


Brayen mengambil kotak merah muda, di dalam kotak tersebut ada ramuan dari racun Westeria.



" Aku hanya mempunyai 1 ramuan, apa kau memiliki ramuan obat Westeria? " Brayen bertanya kepada Alex.


" Ramuan yang di berikan tadi, adalah penawar racun Westeria. Aku merahasiakan hal tersebut. " Jawab Alex serius.


" Bagus, racun yang ada di panah itu cukup tinggi. Jadi, kita membutuhkan 2 botol ramuan Westeria, agar dia cepat pulih. "


Brayen pergi dari ruangan rahasia untuk memberikan ramuan penawar racun kepada Rose.


Sedangkan Alex, dia kembali ke istana yang telah Brayen siapkan.


...----------------...


Kamar Rose.



Saat datang ke kamar Rose. Brayen meringis pada bau obat yang tidak enak, dan dengan cepat melintasi ruangan, menuju ke tempat tidurnya.


Ada kursi di samping tempat tidur, itu mungkin tempat duduk tabib istana yang memeriksa keadaan Rose setiap saat.


Di sana juga ada Layla seorang dayang yang sangat setia kepada Rose, dia terus menangis terisak-isak sambil berdiri di samping Rose.


kemudian Brayen menyuruh Layla pergi dari ruangan itu.


setelah Layla pergi, Brayen langsung duduk di kursi, memejamkan mata, dan menatap Rose dengan intens. Rambut putih berkilau berserakan di atas bantal seputih salju.


Brayen menyeka wajahnya dengan tangannya. Dia menatap terus wajah Rose yang berbaring di tempat tidurnya.


Wajahnya begitu tidak berwarna sehingga terasa seperti mayat. Matanya yang tertutup tidak menunjukkan tanda-tanda terbuka.


Brayen segera memberikan ramuan yang dia bawa, dia mulai memiringkan botol ramuan itu dan menuangkannya ke dalam mulut Rose.


tapi ramuan itu tidak masuk ke tenggorokannya, dan malah keluar .


sekali lagi, dia mengambil sendok yang ada di sampingnya dan menuangkan penawar tersebut, kemudian di tuangkan lagi ke dalam mulut Rose.


Terjadi lagi, ramuan itu tidak masuk ke tenggorokkannya, dan keluar lagi.

__ADS_1


" haaaaa, sepertinya tidak ada cara lain lagi " Ucap Brayen.


Brayen berencana untuk menggunakan mulutnya. Dia memasukkan ramuan itu ke dalam mulutnya, dan dia maju ke depan wajah Rose.


sekarang wajah dan bibir mereka saling berdekatan. Brayen mulai memasukkan ramuan itu lewat mulutnya ke dalam mulut rose.



Dan cara itu pun berhasil, penawarnya masuk ke tenggorokkan-nya.


" Haaah, apa yang ku lakukan? " Brayen bergumam.


Dia bahkan tidak tahu mengapa dia buru-buru memberi penawarnya. 'Bukankah kamu selalu berharap dia pergi?' Jika dia memilih untuk tidak melakukan apa-apa, Rose pasti akan mati.


Dengan Rose yang tidak sadar di depannya, Brayen berjuang untuk menemukan alasan untuk membuat dirinya mengerti, kenapa dia melakukan ini.


Ya, itu harus menjadi dorongan. Siapa pun secara naluriah akan bertindak jika seseorang sekarat di depan mata mereka, terutama kekacauan ini terjadi karena rencananya yang gagal.


...----------------...


keesokan harinya


Istana Alex.



" Ada apa Yang Mulia, apa anda ingin di pijat? " Tanya Viktor serius.


" Pijat, pijat. Otakmu yang harus di pijat!! Aku sedang serius!! " Alex serius.


" Saya juga serius yang mulia!! " Jawab Viktor serius dengan ekspresi datar.


" Haaahh, sudahlah. Aku memanggilmu bukan minta di pijat, ada hal yang ingin aku ketahui darimu, tentang Ratu Rose yang membunuh putri Raisya, cepat katakan padaku semuanya. " Ucap Alex


" Ya ampun, yang mulia, sejak kapan anda perduli dengan hal-hal seperti ini? Anda kan hanya peduli dengan tumpukan kertas yang ada di meja anda , ini sungguh tragedi yang langka, kita harus menuliskan tragedi ini ke dalam buku sejarah." Viktor mengejek Alex.


" Sialan kau Viktor!! Kau sedang mengejekku kan! " Tegur Alex.


" Hohoho~~ Saya mana berani ,yang mulia kan raja, bisa-bisa kepala saya menjadi taruhannya. " Ucap Viktor enteng.


" Jangan banyak bicara, cepat langsung beritahu aku." Ucap Alex tidak sabar.


" Tapi, setiap satu kalimat anda harus memberi saya 100 koin emas " Ucap Viktor.

__ADS_1


" V****ik**—tor**.....Apa gaji yang ku beri kurang, hah? " Alex murka.


" Tidak yang mulia, saya hanya bercanda. " Jawab Viktor takut.


" Kalau begitu cepat lanjutkan!! sebelum aku menggantung leher mu itu!! " Teriak Alex.


" Glek" Viktor menelan ludah.


" Baiklah yang mulia. " Jawab Viktor patuh.


Kemudian dia mulai bercerita.


" Sebenarnya kematian Putri Raisya ini di anggap tabu untuk di bicarakan, jadi saya hanya mendapat beberapa informasi saja.


" Putri Raisya..



" Beliau mati cukup tragis, dengan leher tergorok, di katakan bahwa yang mulia Ratu ada di tempat ke jadian, dan beliau tertangkap sedang memegang pisau di tangannya dan gaun yang bersimbah darah ....


" Untuk apa ratu di istana? bukankah dia belum menjadi ratu waktu itu? " Tanya Alex serius.


" Karena pemilihan calon ratu....


" Ouhhhhh....Lanjut!! " Ucap Alex.


" Setelah itu saya dengar yang mulia Raja Brayen melakukan investigas menyeluruh dan mulai menyelidikki siapa yang membunuh adiknya. Yang pasti orang yang ada di tempat kejadianlah yang pertama di introgasi dan di selidiki. " Jelas Viktor


" jadi? ......" Alex berbicara lagi.


" Untuk kelanjutanya saya tidak tahu, lagi pula hal ini bersifat rahasia, jadi tidak ada yang tahu kelanjutan dari kasus ini. " Jawab Viktor.


" Jika yang mulia ratu Rose bersalah, dia akan di hukum mati, tapi dia malah di angkat menjadi Ratu. Jika dia tidak bersalah, siapa pelaku sebenarnya yang belum tertangkap sampai sekarang? " Alex berasumsi.


" Hemmmm.....Jika ingin tahu semuanya, aku harus bertanya kepada Brayen. " Gumam Alex.


...----------------...


BERSAMBUNG.....


NANTIKAN CHAPTER SELANJUTNYA


APA YANG SEBENARNYA TERJADI MENGENAI KEMATIAN PUTRI RAISYA.....

__ADS_1


BYE BYE ......



__ADS_2