
Rose yang sudah lama berjalan-jalan di taman, dia akhirnya memilih kembali ke istananya.
Tapi, saat dia akan kembali, Rose melihat laki-laki yang sedang berjongkok, seorang laki-laki dengan rambut panjang yang berkilau jika terkena matahari.
Dan Rose, memanggilnya.
" Taran!? " Panggil Rose.
Ternyata laki-laki itu adalah Taran. Dia sedang mencari bunga untuk di jadikan penawar.
Taran yang di panggil namanya, dia menengok untuk memastikan siapa yang memanggilnya.
Taran yang sudah memastikan siapa yang memanggilnya, dia dengan refleks berdiri dan memberi hormat kepada Rose.
" Salam bulan kekaisaran, semoga anda di berkahi. " Taran memberi salam dengan sopan.
" Kau tidak perlu melakukan itu di sini Taran. " Ucap Rose.
" Mana mungkin saya berani tidak sopan kepada yang mulia. " Ucap Taran.
" Layla, kau boleh pergi, aku akan berbicara dulu dengan Taran sebentar. " Perintah Rose kepada Layla.
Layla menjawab dengan sopan.
" Baik yang mulia, hamba undur diri, salam. " Layla pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Layla pergi, Rose berjalan ke arah sebuah bunga, bunga yang di perhatikan oleh Taran.
" Itu..bukankah itu bunga untuk membuat ramuan? " Tanya Rose memastikan.
Taran dengan wajahnya yang tiba-tiba memerah, dia menjawab pertanyaan Rose.
" Anda benar yang mulia, itu bunga untuk membuat ramuan. " Jawab Taran.
Rose pun memetik bunga tersebut dan melihatnya dengan teliti.
Saat di teliti lagi, Rose ingat, bahwa bunga itu di gunakan sebagai bahan dasar pembuatan ramuan penyubur.
" Ini....Bunga Parijoti. Apa kau akan membuat ramuan penyubur kandungan? " Tanya Rose.
Taran bertingkah aneh, wajahnya semakin memerah.
" Ya, anda benar, itu bunga Parijoti. " Jawab Taran.
Rose semakin bertanya-tanya.
" Apa kau akan menikah dengan calon istrimu? " Tanya Rose.
" Tidak, saya tidak akan menikah. Jangankan calon, kekasih pun saya tidak punya. " Ucap Taran.
" Ahhh. "
" Maaf, aku telah menyinggung perasaanmu. " Ucap Rose.
" Tidak apa-apa yang mulia, saya sudah terbiasa. " Ucap Taran.
Rose bertanya lagi.
" Untuk siapa ramuan itu di buat? Apa seseorang di istana ini membutuhkan ramuan itu? " Tanya Rose.
Taran menjawab.
" Itu....Maaf yang mulia, sebenarnya itu untuk yang mulia. " Jawab Taran.
" Aku? Kenapa? " Tanya Rose.
" Itu...Itu karena Raja terdahulu. Beliau menitipkan pesan, untuk membuat ramuan penyubur agar anda bisa menghasilkan cicit. Ahhh, keturunan maksud saya. " Jelas Taran.
Rose membayangkan sesuatu, wajahnya tiba-tiba memerah.
Rose teringat ciuman panas antara dia dan Brayen.
Rose pun mengingat kata-kata Brayen.
— Aku ingin melakukannya itu sekarang.
— Jangan hentikan aku.
" Yang mulia? " Taran memanggil Rose.
Dengan panggilan itu, Rose sadar kembali dari pikirannya.
" Ada apa? " Tanya Rose.
Taran maju ke depan Rose dan dia berkata.
" Maaf, jika saya lancang. " Ucapnya.
" Apa? " Rose bingung.
__ADS_1
Taran mengulurkan tangannya ke arah telinga Rose, dia ingin membuang sebuah daun yang menempel di rambutnya.
Saat Taran melakukan aksinya, tiba-tiba suara teriakan terdengar di belakangnya.
" Taraaan!! "
Ketika Taran berbalik, pedang sudah di arahkan ke lehernya.
' Sringg ' Suara pedang.
" Ya..yang mulia raja. " Panggil Taran panik.
Ternyata itu adalah Brayen.
" Ray!? " Panggil Rose.
Brayen menatap lekat Taran, dia terlihat marah dan emosi.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Brayen.
" Ray hentikan!! " Ucap Rose.
" Taran, dia hanya membantuku mengambil daun yang tersangkut di rambutku. " Rose mencoba menjelaskan.
" Benar yang mulia, saya hanya membantu yang mulia ratu. " Ucap Taran.
" Turunkan pedangmu terlebih dahulu, kau akan melukainya Ray!! " Pinta Rose.
Brayen menurunkan pedangnya dan memasukkannya lagi kedalam sarungnya.
" Ikut aku!! " Brayen menarik Rose dan membawanya pergi.
Rose pun melirik ke belakang dan memberi kode kepada Taran, agar dirinya pergi.
Taran mengerti, dan dia pun segera pergi, sebelum Brayen kembali lagi.
Taran tidak menyangka, Brayen akan semarah itu.
" Huuk, leherku masih aman. " Gumam Taran.
...----------------...
Brayen membawa Rose pergi ke sebuah ruangan.
Brayen dengan ganas mendorong Rose ke dinding.
Dia mencium leher Rose dengan agresif.
" Berhenti..Ray! " Rose meronta.
" Ray!! " Rose mendorong Brayen.
Brayen mendekat lagi, dan dia memeluk Rose.
Brayen kembali sadar, dia pun meminta maaf atas sikapnya.
" Maaf...maafkan aku. " Ucap Brayen.
" Aku adalah pria yang mudah cemburu, aku tidak ingin kau di sentuh oleh laki-laki lain selain diriku, bahkan satu helai rambut pun aku tidak rela. " Ucap Brayen lembut.
Rose pun memeluk Brayen erat, dan dia berkata.
" Taran tidak bermaksud begitu, dia hanya membantuku. " Ucap Rose.
" Tetap saja aku tidak suka. " Ucap Brayen.
" Baiklah, kau tidak suka, maka ini tidak akan terjadi lagi lain kali. " Ucap Rose.
" Tidak ada lain kali. " Tegas Brayen.
" Ya, baiklah. Sekarang jawab, kemana kau pergi? " Tanya Rose.
Brayen melepaskan pelukannya dan dia merogoh sakunya.
Dia mengambil Cincin yang dia beli.
Brayen mengeluarkan Kota cincinnya.
Dan dia membukanya.
" Aku mencari sebuah cincin, ini sepasang. Selama pernikahan aku tidak membelikanmu cincin. " Ucap Brayen seraya membukannya.
" Ini, cantik. " Ucap Rose.
" Apa kau suka? " Tanya Brayen.
__ADS_1
" Ya, aku suka. " Ucap Rose.
" Syukurlah jika kau suka, karena masih banyak lagi, aku sudah mengirim cincin itu ke kamarmu. " Ucap Brayen.
" Apa? " Rose kaget.
" Kenapa kau selalu membeli banyak barang, aku kan sudah bilang, jika aku tidak suka jika harus memakai barang-barang yang berlebihan. " Jelas Rose.
" Maaf, tapi aku sudaj terlanjur memborongnya. " Ucap Brayen.
" Haaaahh, jangan lakukan itu lagi. " Pinta Rose
" Ya, aku berjanji. "
Brayen menatap jari manis Rose, dan dia pun berbicara.
" Biarkan aku memasangkannya di jarimu. " Ucap Brayen.
" Baiklah, tolong. "
Rose memberikan lengannya.
Brayen memasangkannya dengan hati-hati.
" Ini indah Ray. " Rose melihat cincin yang ia kenakan di jari manisnya.
" Ini adalah cincin yang di pilih langasung olehku. " Ucap Brayen.
" Berarti ini sangat spesial. "
" Ya, spesiaaal. "
Mereka sekarang sudah memiliki cincin pengikat, dulu saat Rose menikah, Brayen tidak membelikannya.
...----------------...
Malam Hati....
Brayen dan Rose duduk berdua.
Rose ingin bertanya lagi tentang kepergiannya ke kerajaan moniquee.
" Bisakah besok, kita pergi ke kerajaan moniquee. " Tanya Rose.
" Kenapa cepat sekali? " Tanya Brayen.
" Karena aku memiliki banyak waktu luang beberapa hari. " Jawab Rose.
" Beri aku izin. " Rose menegaskan.
Mau, tidak mau Brayen harus memberikan izin, karena dia tidak mau melihat Rose marah.
" Haah, baiklah. Aku akan mempersiapkan semuanya. " Ucap Brayen.
| Entah kenapa perasaanku tidak enak. | Pikir Brayen.
" Terima kasih. " Ucap Rose.
" Perjalanan kesana memakan waktu lama, apa kau sanggup? " Ucap Rose.
" Kau tidak perlu khawatir untuk itu, kita akan menggunakan sihir teleportasi. " Ucap Brayen
" Aku sudah pernah melakukannya dan itu memang sangaaaat cepat. " Ucap Rose.
Saat mereka berbincang, tiba-tiba seekor burung datang, burung itu membawa sebuah surat di kakinya.
" Burung!! " Ucap Rose dan menghampiri burung tersebut.
" Ini burung kemarin, kenapa mereka menggunakan burung ini secara sembarangan. " Brayen berbicara.
Rose melihat surat dan dia kemudian mengambil dan membacanya.
Ternyata surat itu dari kerajaan Moniquee, Julius bertanya dengan tidak sabar, dia menuliskan surat untuk bertanya kapan Rose akan datang ke kerajaannya.
" Ini pas, karen aku sudah memutuskan. " Gumam Rose.
" Ray, aku akan menulis surat dulu sebentar, tolong jaga burung itu. "
" Jangan lama-lama. " Ucap Brayen.
Rose menulis surat untuk di kirim ke kerajaan moniquee, bahwa Rose akan datang besok dengan sihir teleportasi.
...----------------...
BERSAMBUNG........
jadi, bentar lagi Brayen bakal di uji mental dan ketahanannya menghadapi Julius🤣 dan abangnya Rose.
__ADS_1