
seorang siswa SMA sedang berlarian mengejar ketertinggalan nya, wajah nya terlihat sangat cemas ketika gerbang sekolah akan segera di tutup, anak laki laki itu segera menahan laju gerbang dengan tangan nya menyisah kan jarak hingga badannya menyelinap masuk
" dasar kau ya ! " hardik school guard geram
laki laki itu tertawa cengengesan hingga matanya menyipit, dia tertawa hingga pak penjaga semakin kesal
" rapih kan seragam mu dan segera masuk ! " perintah penjaga tegas
dengan terburu buru Yosi memasuk kan kemeja nya asal, anak itu segera berlari menuju kelas yang sudah lama dia tinggalkan
namanya Yosi, siapa yang tak mengenal remaja satu itu, dia sangat menyukai bermain game, hampir dua tahun dia tidak datang ke sekolah karena fokus pada e sport yang dia impikan
entah ada angin apa hari ini dia muncul lagi di gedung sekolah masih dengan gaya khas nya yang suka terlambat dan seenak nya
Yosi berjalan memasuki kelas dengan cuek, beberapa teman nya terlihat takjub dan menyapa ramah, lihat lah banyak anak remaja wanita yang terpesona dan berteriak genit
Yosi masih sama seperti dulu, si cuek itu tetap menyita perhatian
" haii.. " sapanya ramah pada seorang siswa yang bahkan enggan menoleh, gadis itu fokus dengan materi di buku nya
" Rahel, apa kau tak mengingat ku ? " tanya nya dengan tatapan menggoda
Rahel menoleh sejenak dan mengerutkan dahi, gadis itu kembali meneruskan catatan nya
" tidak, aku tidak mengenal mu " ujar Rahel ketus
gadis itu tidak menyukai orang orang yang bergunjing di belakang punggung nya, dia juga tak menyukai gaya Yosi yang seperti ini, anak ini berpakaian seperti preman saja
Yosi menggunakan kaos oblong berwarna putih di dalam kemeja nya, mulut nya terus saja mengunyah sesuatu di dalam sana, mata nya yang sipit terus menatap tajam Rahel, sesekali pria muda itu tersenyum ramah
Rahel merasa terganggu dengan kehadiran nya, dia mau apa sih ! pikir Rahel heran
gadis itu memberikan sedikit perhatian pada pemuda yang berjongkok di samping nya, dia harus meluang kan sedikit waktu sepertinya, kalau tidak pria ini bisa saja terus begini hingga guru tiba
" kau lupa pada ku ? " tanya Yosi
Rahel mengerut kan dahi
" siapa ya ? " tanya nya tak mengerti, siapa pria asing ini sih ! Rahel tak punya kisi kisi untuk bisa mengingat nya
" ya ampun kau berhutang dua macam padaku ! " ujarnya dengan mengacuhkan tanda V dengan jarinya
" yang pertama kau ingkar janji di hari perpisahan sekolah dasar kita , dan kedua kau belum melunasi janji mu di rumah sakit ! " jelasnya dengan mimik di buat pura pura kesal
Rahel mencoba serius mengingat omongan pemuda ini
perpisahan sekolah dasar ?
di rumah sakit ?
" ahhhh... apa kau pria itu ! " tanya Rahel dengan mata membulat dan wajah tak percaya
Yosi mengangguk cepat
" kau ingat ! " serunya bahagia
__ADS_1
" ah.. jadi kau.. " raut wajah Rahel sedikit kecewa ketika menyadari pria beberapa bulan yang lalu terlihat seperti ini
Rahel memperhatikan sekali lagi
pemuda ini terlihat sangat bersih dan tampan, wajahnya pun.. pantas saja banyak yang terpesona, ketampanannya benar benar seperti harta warisan ! bisik hati Rahel sambil terus menatap pemuda di hadapannya
" sekarang kau ingat kan " ujar Yosi senang, dengan segera dia duduk di kursi kosong di samping Rahel
badannya menyenggol bahu Rahel
" aku menepati janjiku ! " jawabnya tersenyum simpul
pemuda itu saat ini terlihat ceria dan bersemangat, Rahel bisa merasakan itu, dia sangat berbeda dengan sosok yang ditemuinya kala itu
gadis itu tersenyum, dia ikut senang
" jangan terus menatap ke arah ku.. " ujar Yosi menggoda, Rahel segera membuang pandangannya dari wajah Yosi
dihh.. kesal hati Rahel, tapi dia tersenyum
" kau memenuhi janji mu, tapi kau harus memenuhi yang satu nya lagi " ujar Rahel sibuk membaca buku di hadapan nya
" tenang saja, aku terlahir cerdas, bahkan jika serius aku bisa melewati kecerdasan kakak ku ! " ujar Yosi sombong
Rahel membulatkan bibir nya tak percaya
" ayo kita lihat ! " tantang Rahel bersemangat
gadis itu mengingat pertemuan mereka..
" Rahel, apa kau siap ? " bisik Sofia sambil menyentuh bahu Rahel
gadis itu mengangguk ragu
Zian berjongkok dan menyentuh lutut adiknya, kakak laki laki itu menatap Sofia sesaat dan berusaha meyakinkan Rahel
tapi gadis itu masih saja terlihat takut dan tegang
" apa kau mau sesuatu ? " tanya Zian berusaha menenang kan adik nya
dengan cepat Rahel mengangguk
" ka aku ingin menghirup udara segar dulu, dada ku terasa sesak " ujar Rahel dibalas tatapan Zian pada Sofia
" aku ingin ke taman " pinta Rahel
wajahnya terlihat kosong dan tegang membuat Zian dan Sofia khawatir, Zian segera mengiya kan permintaan Rahel, pria itu segera mendorong kursi roda adiknya keluar menuju taman
dengan berlahan Zian mengantar Rahel menuju taman di depan sana, dia ingin adiknya bisa sedikit rileks
" kita sudah di taman .. " ucap Zian pelan memberi tahu Rahel jika mereka sudah sampai ke tempat permintaan gadis itu
Rahel mengangguk ragu
" ka biarkan aku sendiri di sini.. " pinta Rahel membuat Zian keberatan
__ADS_1
" tidak apa apa ka hanya satu jam saja " pinta Rahel lagi agar Zian mengabulkan nya
" baiklah kakak akan memesan makanan untuk mu " ucap Zian dengan ragu meninggalkan adiknya di taman, sebelum menghilang menuju cafetaria Zian terus saja menoleh, menatap wajah kosong adiknya
Rahel menarik nafas dalam dan menghembuskannya
dia menarik lagi dan menghembuskannya
hingga beberapa kali
gadis itu memencet tombol kursi rodanya dan berjalan berlahan , tangannya memastikan tidak ada apapun yang menghalangi di depan sana
dia masih terus melaju berlahan, hingga tangannya menyentuh ranting ranting dari bunga bougenville
Rahel menghentikan laju kursi rodanya, sepertinya dia harus berhenti di sini, suara ramai suasana rumah rawat semakin samar, gadis itu semakin merasakan ketenangan
dengan ragu kakinya menjulur turun, dia melepas sendalnya dan mulai merasakan lembab dan dinginnya rerumputan, Rahel menyukai sentuhan itu walau dia ragu untuk berjalan
gadis itu hanya berdiri lama di depan kursi rodanya
tangannya menyentuh lagi ranting ranting bougenville dan mencari bunganya, gadis itu terus saja meraba
" huhuhuhuuu...... huuuu..... "
suara itu terdengar pelan pada awalnya tapi semakin jelas kemudian
Rahel mulai menyimak
" huhuhu.... huhuhu... hiksss.... " tangisan itu semakin jelas
Rahel sudah tak fokus lagi pada bunga kertas yang ingin dia dapatkan, gadis itu lebih penasaran pada suara tangisan yang semakin jelas saja terdengar
gadis itu mendekati sumber suara, kini semakin jelas dia berada sangat dekat dengan sosok yang menangis itu, tapi Rahel tidak tahu harus berbuat apa
" kau kenapa menatap ku ! mau meledek ya ! " kesal suara lelaki di depan Rahel, matanya masih terus saja mengucurkan air walau mulutnya masih sempat mengupat
Rahel menggeleng, dia membuat wajah bingung
" ah maaf.. aku tak bermaksud begitu " ujar Rahel tak bisa mencari pasti dimana suara lelaki itu berasal, apakah dia sedang duduk ? fikir Rahel
" terus kau mau apa di sini ? aku sengaja mencari tempat sepi supaya tidak ada yang melihat, tapi kau.. hikss.. " ujarnya kesal sambil terus menahan tangis
Rahel memasang wajah heran
" aku tidak akan melihat mu " ujar Rahel sambil tersenyum kecut
" apa maksud mu ? " tanya nya tak paham, pria itu bangun dan mengibaskan tangannya di depan pandangan Rahel, dia baru sadar jika gadis di depannya tidak bisa melihat, tangisan pria itu seketika mereda
" kau... kau tak bisa melihat ? " tanya nya tak percaya, Rahel mengangguk cepat
tangan pria itu segera menarik lengan Rahel, memaksa gadis itu duduk di..
Rahel meraba alas duduk nya, selembar bahan tipis ??
next...
__ADS_1
jangan lupa dukung lewat VOTE poin yaa.. di kasih JEMPOL juga,, plisss karena ini novel belum officially *sadðŸ˜