Aku Kamu Dan Masa Itu II

Aku Kamu Dan Masa Itu II
CINTA TAK BISA DIPAKSA


__ADS_3

Masih flashback


Saat di bangku SMA


VIA


Sore hari itu turun hujan, saat Aku dan Gabriel akan pulang bersama, pas sekali seperti saran ibu ku harus membawa payung hari ini, ternyata sangat tepat


Gabriel membuka tasnya dan memeriksa


" ah, sepertinya payung ku tertinggal di loker ! " Gabriel memukul pelan kepalanya karena ceroboh. Hari itu harusnya kami bisa pulang bersama dalam satu payung, tapi Gabriel tak menerima usulan ku


" aku harus mengambilnya di loker ! " aku mengiyakan keinginan Gabriel, dia segera berlari kecil kembali ke dalam kelas


" Gabriel, aku menunggu di sini ! " teriak ku padanya, kupikir dia tak mendengar suara ku tapi balasan suara teriakannya jelas ku dengar sore itu


" kau duluan saja, takut hujannya bertambah deras ! "


Akhirnya hari itu kuputuskan untuk pulang sendiri, ah.. tapi tidak jadi, entah mengapa aku tak memutuskan meninggalkan Gabriel sore itu. Karena sudah menunggu beberapa menit aku memutuskan untuk kembali ke dalam kelas


" ah lama sekali, apa dia tidak menemukan payungnya ? " pikir ku karena sudah hampir satu jam aku menunggu tapi Gabriel tak kunjung muncul juga, akhirnya aku memutuskan untuk menyusulnya


***


JENI


Via dan Gabriel tak pernah mengatakan jika mereka menjalin hubungan spesial, tapi aku bisa melihat dari raut wajah sahabatku itu, dia selalu saja mengikuti langkah Gabriel dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan bocah itu


" ah, kesal! kalau saja dia tak datang kesini ! "


Ya, aku sering berharap jika Gabriel tak hadir di antara kami, pertemananku dan Via merasa terganggu dengan kehadiran pemuda manja itu


Aku tak pernah menyukainya bahkan sejak awal kami berjumpa, dia terlihat murung dan di lihat dari tubuhnya dia bukanlah laki laki yang kuat. Gabriel memiliki kulit yang putih bersih hingga uratnya bisa terlihat jelas, bibirnya pun berwarna merah akan semakin merona jika dia terus menggigitnya


Walau begitu pundaknya lumayan kekar, dan telapak tangannya juga besar


Ah, aku jadi teringat kejadian di kamar ku tempo dulu, dia mulai berani maju mendekati ku dengan pesonanya, dia pikir aku akan tergoda, mungkin sedikit

__ADS_1


Tapi sekali lagi aku menjunjung hubungan ku dengan Via, kami sudah banyak menghabiskan waktu bersama, kuanggap kecupannya waktu itu hanya sebuah kesalah pahaman saja, aku tak ingin pertemanan kami menjadi rusak


Sepertinya semakin berjalan waktu, semua bisa saja berubah. Seperti kejadian sore ini


Aku baru saja melempar pensil ku dan mengambilnya kembali di lantai, aku sangat kesal tak bisa menyelesaikan hukuman ku hingga terlambat pulang, bahkan Via pun tak menunggu ku lagi! sejak kapan dia begitu cuek terhadap ku ?


Aku baru saja berjongkok dan mengambil pensil ku, bibir ku berdecak kesal mengingat teman ku itu mungkin sudah sampai di rumah dengan pria sialan itu ! ah aku rasanya ingin murka saja


Sepasang sepatu mengagetkan ku, dengan segera aku bangkit dan mendapati wajah heran Gabriel


" kau.. " ujar ku tak percaya dia masih ada di sini, seperti telepati saja, saat aku mengupat tentangnya dan dia seketika muncul di depan ku


" kau belum pulang ? " tanya nya, apa dia harus bertanya seperti itu ? tentu saja belum, dia tahu aku mendapatkan hukuman karena telat dalam tiga hari berturut turut


" kupikir kau sudah pulang, karena meja mu dari tadi kosong " ucap Gabriel menyadarkan ku, ah.. jangan bilang mereka tidak menyadari kondisi ku yang mengurung diri di kamar mandi karena sakit perut


" ah, aku daritadi di kamar mandi, karena lelah bolak balik mengambil tissu, aku membawa tas ku.. " ujar ku lemas, dengan segera aku mendaratkan diri di kursi, aku akan melanjutkan tulisan hukuman ku


" ah ! hukuman ini membuat ku putus asa ! " gusarku membuang buku hingga jatuh ke lantai


Gabriel mengambil buku yang terjatuh, dia juga mengambil pensil dalam genggaman ku, pemuda itu segera merebahkan duduk dan mulai menulis menyambung tulisan hukuman ku


Gabriel terlihat bengong, dia menurut saja saat kuambil alih lagi tugas ku, tapi penyakit di perutku sungguh tak bisa kompromi, di saat seperti ini perut ku kembali melilit


" aku minta tolong padamu ! " ujarku cepat, dengan segera aku berlari menuju kamar mandi, hari ini benar benar sial untukku


Setelah menghabiskan banyak tenaga di toilet aku kembali ke kelas


Kejutan ! Gabriel menyelesaikan hukuman ku ! ya ampun, aku harus berterima kasih kali ini, walaupun dengan terpaksa, bagaimana pun dia sudah membantu ku


" terima kaa.. " kalimat ku terpotong karena laki laki itu segera berdiri, wajahnya jelas terkejut melihat kedatangan ku, ada apa ?


" apa kau baik baik saja ? wajah mu pucat sekali ! " dengan cepat Gabriel menyeka keringat ku dengan ujung kemejanya, dia pun merapihkan rambut ku yang basah, ah, apa apaan sih ini ! tingkahnya terlalu berlebihan


" aku, tidak apa apa " jawab ku menahan cangguh, dia dengan wajah panik terus saja menyeka rambut depan ku, ah.. begini lagi saja !


" ayo serahkan ini, dan ku antar pulang " ujarnya cepat merapihkan tas dan menggandengku keluar kelas, aku ingin menolak tapi sepertinya tenaga ku benar benar habis saat ini, jadi aku menurut saja

__ADS_1


Sore hari itu, suasana lebih gelap, udara juga terasa lebih dingin, mungkin karena hujan. Aku merasakan genggaman tangan Gabriel yang mengerat di telapak tangan ku, setelah menyelesaikan hukuman aku mengikuti langkah Gabriel yang perlahan


tak berselang lama Via muncul di hadapan ku, membuat perasaan ku kian cemas dan semakin lemah, hawa dingin seperti seketika menerpa dan membuat tubuhku kaku, aku melihat raut terkejut di wajahnya


" ah, aku ambil sesuatu dulu di loker ! " Gabriel kembali meninggalkan aku dan Via berdua saja, aku tak mau ketakutan ku selama ini terjadi, aku tak mau pertemanan kami menjadi rusak hanya karena Gabriel, aku selalu menjauhi itu !


Gabriel datang dengan sebuah payung dan jaket, dia segera meletakkan jaket itu di pundakku, aku masih bingung harus memasang wajah seperti apa saat Via melihat tingkah pemuda itu padaku, mungkinkah dia marah ?


" kau baik baik saja Jen ? " Via merangkul bahu ku, wajahnya terlihat cemas. Aku hanya bisa mengangguk ragu, aku sempatkan melirik ke arah wajah Gabriel, pemuda itu tersenyum lebar seperti tak ada yang cangguh diantara kami, apa hanya aku yang terlalu berpikir berlebihan ?


" Via... "


***


" Viaa.. "


berkali kali Zian memanggil Via hingga akhirnya gadis itu tersadar dari lamunannya, Zian tersenyum getir menyadari gadis di hadapannya masih saja terganggu dengan masa lalu nya


" minuman mu sudah dingin " ujar Zian mengingatkan isi gelas Via, gadis itu membalas dengan senyuman kecil


Gabriel menuruni mobilnya dan menghampiri Jeni, pria itu mengantarkan banyak bahan perbantuan untuk yayasan


Hari ini wajah Jeni terlihat pucat, membuat beberapa orang khawatir dan menanyakan keadaanya, mungkin karena kehamilannya atau karena kekhawatirannya


Zian bisa melihat jelas kedatangan Gabriel yang menyapa orang di sekitarnya dengan senyuman, Zian juga bisa menangkap raut wajah Jeni yang menyimpan sejuta duka di sana


Via mengerutkan alis melihat sorot mata Zian yang menatap lama ke arah berlawanan dari posisi duduknya, baru saja Via mau menoleh mengikuti arah pandangan Zian, pemuda itu segera menahan wajah Via, dia menahan dengan telapak tangannya


" ada apa ? " tanya Via heran


Zian awalnya terlihat bingung, tapi dia tersenyum lebar dan menjawab raut bingung Via


" kau tak suka pemandangan di sana, lebih baik lihat wajah tampan ku saja ! " jawab Zian berusaha menghibur


Via tertawa geli, dia tahu betul jika Zian ada di pihaknya, pria ini berusaha menghibur perasaannya yang patah hati, padahal sendirinya masih merasakan sakit karena cintanya tak terbalaskan, tapi apapun itu Via merasa senang, dia menurut saja


Gabriel meraih pundak Jeni, pria itu menuntun istrinya memasuki mobil, ah.. walau mereka belum membuat pesta besar, tapi kedua keluarga sudah mengesahkan pernikahan mereka, itu adalah jalan keluar yang terbaik untuk Gabriel.. mungkin Jeni.. tapi tidak untuk Via

__ADS_1



__ADS_2