
Via
Aku terus memperhatikan wajah sendu Gabriel, dia mencoba menahan tangisannya di depan ku, walau begitu aku bisa paham akan kesedihannya yang mendalam
" Papa hanya meninggalkan hadiah heli dengan remote control hari itu. Saat itu aku sedang bermain dengan riang di ruang tengah rumahku, ketika ku dengar suara teriakan mama di ruang tengah, aku segera menghampiri.. " Gabriel menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya
" setelah teriakan itu, mama hanya terus bergumam. Tidak mungkin, tidak mungkin.. " suara Gabriel semakin lemah ku dengar, hingga hampir kalah dengan deburan ombak malam ini. Aku menarik jaket merapatkan kancingnya, malam ini angin begitu kencang hingga hawa dingin menelisik di sela sela pakaian tebal kami
ku lihat diam diam Gabriel menyeka airmatanya dengan cepat, dia menyembunyikan kesedihannya yang bisa ku lihat jelas. Gabriel ingin menangis tapi gengsi nya masih tinggi ku rasa
" mama terduduk lemas dengan gagang telpon di tangannya, bibirnya terus bergumam walau sudah tanpa suara lagi, aku hanya menatap bingung ada apa gerangan? pikir ku tak mengerti, kenapa wajah mama sangat sedih dan shock " lanjut Gabriel dengan wajah sendu nya semakin menjadi, matanya jelas berkaca kaca
" ...ternyata itu adalah hari terakhir papa, hadiah heli itu adalah pemberian terakhir papa, dan kemarin itu adalah pertemuan terakhir kami " wajah Gabriel tertunduk lesu, aku tak tahu harus bagaimana menghadapi rasa sedih akan kehilangan sosok ayah, ah aku pun tak tahu harus meraut wajah seperti apa jika itu menyangkut kehilangan orang terkasih kita
" Gabriel.. " ucap ku mencoba memberikan senyuman dan menahan titik air mata jatuh, tapi tetap saja airmata itu mengalir sendiri, aku tak bisa melihat raut sedih temanku ini
" harusnya mama membenci lautan yang telah merebut orang yang terkasih, harusnya kami tak dekat dekat lagi pada lautan karena telah menjadi jarak pemisah keluarga utuh kami ! " ketus Gabriel menahan gusar, walau dia jengkel hanya sedih yang terlukis nyata dari wajahnya
tatapan nanar wajah Gabriel ke arah lurus di depan sana membuat ku setuju. Seperti kata bocah laki laki ini, lautan telah mengambil orang berarti dalam hidupnya, lautan telah memisahkan dia dan ayahnya, lautan telah membuat luka pada Gabriel yang malang
" Gabriel, ayo bangun ! " ujar ku meminta teman ku itu segera bangkit dari posisi duduknya, aku memintanya ikut berdiri seperti diri ku. Wajah Gabriel terlihat heran dengan postur ku yang mantap, dia seperti bertanya tanya apa yang akan aku lakukan di malam hari ini
" Gabriel kau ingin bilang kau membenci lautan kan ! kau ingin teriak kalau lautan sudah menyakiti mu ! " seru ku mengagetkan wajah Ganriel, tapi tak berselang lama bocah tampan itu mengangguk menyetujui ucapan ku, aku tersenyum senang
" kalau begitu katakan lah ! " ujar ku meminta Gabriel meneriakkan keluhan hatinya, mengeluarkan gundah gulana di dalam hatinya. Aku mendorong punggungnya perlahan dan meminta bocah laki itu menatap lautan dan berteriak lah !
Tapi Gabriel masih diam saja. Dia seperti tak tahu harus berseru apa, itu membuat ku kesal sendiri melihat tingkahnya yang bingung
" ayo Gabriel ! berteriak lah ! " ujarku memaksa wajah bingung itu, tapi Gabriel masih saja tak mengerti dengan ucapan ku, ah kau ini ! aku menjadi tak sabaran, dengan cepat aku mengambil posisi Gabriel, tangan kubuat menyorong di sisi mulut ku
" Lautaaan yang jahaaat.. !! kauu mengambil kebahagiaankuuu.. !! " teriak ku memecah kesunyiaan malam. Wajah Gabriel mengerut heran, dia masih tak percaya mendengar ucapan ku itu
" kenapa ? " ujar ku mendapati sorot heran dari teman ku ini, bukanya itu yang ingin kau katakan kan ! aku hanya ingin membantu mu melampiaskan perasaan dan beban yang kau pendam di dada
__ADS_1
" ayoo katakan !! " sekali lagi aku memaksa, tapi Gabriel menggeleng pelan, dia tak mau menuruti kemauan ku
" ayolaah ! " pintaku lebih memaksa, tapi Gabriel lagi lagi terlihat ragu
ck tingkah mu itu, kau tak perlu ragu kalau itu memang keinginan mu, lepas kan saja, dengan begitu beban di dadamu akan lebih ringan, bukan kah begitu ?
" lihat aku ! " aku mengambil posisi, berdiri tegap dan mencoba mengumpulkan suara seperti tadi
" Lauutaan jaahhaat.. !! kau perebut kebahagiaaan....... !!! "
teriakan ku kali ini lebih menggema mungkin karena deru angin yang kencang, deburan ombak yang menepis batu karang pun seperti gempa kecil, membuat posisi berdiri ku sedikit goyah
" akuu benciiii...... "
DWUUUUAAARR... !!!
Baru saja aku menghimpun tenaga melanjutkan upatan ku, lampu mercusuar yang menyala tiba tiba padam, deburan ombak semakin keras menerjang karang, angin pantai senakin kencang berhembus
kilatan api dan dentuman keras seperti menyambar kami, memberi bias cahaya berwarna orange menyapa wajah kami, aku hanya bisa mematung dengan sisa upatan di tenggorokan ku
Gabriel tak kalah terkejut, dia memasang wajah takut dan juga bingung sementara aku hanya bisa bengong saja
" Via, ada kapal yang terbakar.. " kalimat Gabriel seperti menyadarkan ku. Aku tak lagi mematung, kalimat Gabriel barusan mengingatkan ku akan kepulangan ayah esok hari
" Gabriel, itu bukan kapal ayah ku kan ? " tanya ku dengan raut tanpa ekspresi, Gabriel menatap wajah ku lama, dia tak bisa menjawab pertanyaan ku
" Gabriel, ayah ku akan pulang.. itu bukan kapal ayah ! " tegas ku tak percaya dengan dentuman yang masih berkali kali ku dengar walau tak sedasyat tadi
" Via segera hubungi bantuan ! "
BYUUURRR !!!!
Tanpa pengaman, tanpa aba aba, tanpa pikiran panjang Gabriel terjun ke laut lepas malam itu, bocah itu yang sangat anti dengan panas matahari, dengan lengket air asin, dengan bau pantai. Ah dia sudah tak memikirkannya lagi, aku hanya terus tertegun melihat temanku itu berenang cepat ke tengah laut lepas, apa yang dia lakukan !
__ADS_1
Aku bingung dengan keadaan yang ku hadapi saat ini, dentuman di depan sana, menara mercusuar yang kehilangan kontrol nya., dan sekarang..
Gabriel, dimana dia, anak laki laki itu kian jauh, bocah itu nekad berenang ke laut dan menghampiri kapal di sana, apa yang dia lakukan ! itu sangat tak masuk akal, itu sangat berbahaya
Aku segera melompat turun dari karang, berlari secepat mungkin sebisa ku, aku berlari dan terus memacu kecepatan, aku menuju pemukiman dan pos jaga, bersiap meminta bantuan
belum sampai masuk ke pemukiman perumahan beberapa orang ku lihat sudah bersiap dengan kapal kecil dan pelampung, sepertinya mereka sudah lebih dahulu tahu dengan kecelakaan kapal di depan sana, semua bersiap memasuki lautan
Aku berlari lagi keluar dari kerumunan orang yang sibuk, aku hanya ingin menunggu di tempat tadi, di tempat dimana aku dan Gabriel duduk, di sana aku akan menunggu kabar baik dari mu, menunggu kau kembali ke tepian, menunggu semua nya akan baik baik saja
aku memainkan air dengan ujung sendal ku, sudah berapa lama aku menunggu mu, beberapa bapak bapak menghampiri ku dan meminta ku segera menepi atau lekas pulang, tapi aku tak mau, aku masih mau menunggu diri mu, kita datang berdua kesini, kita juga harus pulang berdua ! itu janjiku pada diri sendiri
tak begitu lama sosok Gabriel yang basah kuyup muncul ke permukaan, dia segera mengagapai tepian dengan berpegang pada batu karang, aku segera terjun dan membantunya yang kepayahan, aku membantu Gabriel mengangkat seseorang di dalam dekapannya, sesorang dengan pelampung di badannya
Kami menarik pria paruh baya yang di bawa Gabriel, kami menariknya hingga bisa di baringkan di atas pasir, Gabriel merapihkan rambut pria itu, dan setengah badannya yang telah habis terbakar
Aku tak percaya saat rambut itu tersingkap, wajah yang begitu ku kenal, wajah yang kutunggu tunggu, wajah pria yang sangat aku sayangi
" Ayaaah... " aku menutup mulut dengan kedua telapak tangan ku, semua rasa bercampur aduk di dalam dada ku, aku sekali lagi menatap jelas wajah pucat yang terbaring di pasir, aku menggeleng tak percaya, aku tak percaya dengan penglihatan ku di malam remang ini
" tak mungkiiinn.. " Gabriel meraih bahu dan merangkul ku cepat
" AYAAAAHHHHH... !!!!!! "
teriakan ku sekali lagi memecah malam, kali ini diiringi tangis menyayat hati, aku tak bisa percaya semua ini, tangisanku semakin menajdi jadi
lautan memang jahat ! kau merenggut kebahagiaan ku ! kau mengambil ayah ku, kau membuat luka di dalam hatiku ! aku tak ingin percaya, aku tak mau meyakini jika pria setengah badan ini adalah ayah ku ! adalah tumpuan hidup kami, aku tak bisa percaya !
aku tak ingin percaya dengan penglihatan ku, hingga beberapa orang menyadarkan ku untuk segera menyingkir dibantu oleh tim medis, mereka membawa jasad ayah ku dengan identitas jelas di kantung plastik itu
" itu nama ayah kuu... " ucap ku lirih masih berderai air mata, dia benar ayah ku ? jadi dia memang ayah ku ? bagaimana mungkin, aku tak ingin percaya
Ayaaah... Lautan begitu jahat ! dia merebut mu dari ku ! bukan hanya Gabriel, kini aku pun menjadi yatim, lautan... kau begitu jahat telah merebut kebahagiaanku.. haruskah aku membenci mu ?
__ADS_1