
Hari ini sidang terakhir perceraian Abi dan Arumi.Rencananya Arumi akan berangkat sendiri tanpa di antar Abah Arif.Sebenarnya Abah Arif akan mengantar Arumi ke persidangan,tapi tiba-tiba saja asam urat Abah Arif kambuh hingga rencana untuk mengantarkan Arumi terpaksa dibatalkan.
Drtttt drttttt
Bunyi ponselnya yang menandakan ada pesan masuk.Arumi yang sedang memilah gamis dan hijab yang akan dikenakannya untuk menghadiri persidangan lantas menoleh ke arah ponselnya yang berada di atas meja kecil samping tempat tidur.
Arumi kemudian mendekati meja itu dan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan pagi ini.
{Saya sudah dibawah.}
Arumi mengerutkan dahinya melihat pesan dari Fatih.
'Apa maksudnya dia di bawah ?'.Tanya Arumi dalam hati.
{Maksudnya Pak ?}
{Kita pergi bersama ke pengadilan.Aku sudah dibawah mau jemput kamu.}
Bola mata Arumi membesar melihat balasan dari Fatih.
'Ini orang kenapa sih ? Kok tiba-tiba banget mau jemput.Gak bilang-bilang lagi.'
Arumi tak membalas pesan Fatih lagi.Arumi bergegas memakai gamis dan hijabnya.Arumi tampak terburu-buru.
Saat Arumi keluar dari kamarnya,bola mata nya ingin keluar melihat Fatih yang ternyata sudah berada di sofa bersama dengan Abah Arif.
'Kok sudah ada di sini aja'.
"Rumi kamu sudah selesai bersiap ? Ini Nak Fatih sudah disini dari tadi.Kamu lama banget sih."Abah Arif mengomeli putrinya karena membuat Fatih menunggu.
'Lama apa ? Baru juga 15 menit yang lalu itu pengacara WA dia dibawah'.
"Maaf Pak.Soalnya Pak Fatih gak bilang dari kemarin mau pergi bersama".
"Iya".Balasan singkat dari Fatih membuat Arumi merasa jengkel.
__ADS_1
'Dih nih orang gak bisa apa jawab panjangan dikit.'
"Bah kalau begitu Arumi sama Pak Fatih berangkat dulu ya.Doain Arumi ya Bah,semoga persidangan ini berjalan lancar."Arumi mencium tangan Abah nya,berpamitan untuk pergi.
"Iya Rumi.kamu hati-hati ya Fatih.Ini putri saya satu-satunya,tolong kamu jaga dari si borokokok satu itu".Abah Arif memberi pesan kearah Fatih yang juga menyalim tangan nya.
"Iya Bah".Panggilan Fatih kepada Abah membuat Arumi mengerutkan dahinya.
...****************...
Suasana dalam mobil itu terasa sunyi.Baik Fatih dan Arumi hanya terdiam,menatap ke arah jalan.Arumi sesekali melirik Fatih yang terlihat serius mengemudikan mobilnya.
"Apakah kamu sudah mendapat undangan untuk reuni SMA ?".Suara Fatih membuat Arumi yang sedang melamun kaget.
"Reuni ? Sudah Pak".Jawab Arumi singkat.Malas jawab panjang-panjang ternyata hanya ditanggapin singkat.
"Oh".
Benar kan apa yang dipikirkan Arumi,pria disampingnya ini pasti akan meresponnya dengan singkat.
Tak menunggu waktu lama,mobil yang ditumpangi Arumi itu pun sampai di pelataran gedung pengadilan agama.
"Arumi !".Suara cempreng dari belakangnya membuat Arumi menoleh.Terlihat sang sahabat,Rania berjalan ke arahnya dengan senyum yang sangat mencurigakan.
"Cieee calon janda ".Godaan Rania membuat Arumi ingin menimpuk wajah sahabatnya itu.
Fatih berjalan duluan meninggalkan Arumi dan Rania.Arumi pun menyusul Fatih tak ingin memperdulikan Rania dengan godaan yang membuat wajah Arumi terlihat merah.
"Ciee calon janda sudah dapat gandengan buat reunian,hahaha.Mi kamu ajak aja Mas Fatih jadi pasangan kamu saat reunian dua minggu lagi.Dia kan jomblo yang sedang menunggu cinta calon janda.Hahaha".Godaan Rania belum berhenti meski sudah ada di depan ruang sidang.
Godaan Rania membuat wajah dua orang di depannya itu memerah.
"Sudah Nia.Malu tahu,nanti orang ngira aku cerai karena aku yang selingkuh.Lagi an gak enak sama Pak Fatih,nanti pacarnya marah.Gak mungkin Pak fatih gak punya pacar atau istri.Umurnya kan..."Arumi yang sadar ucapannya akan menyinggung Fatih soal umur Fatih yang tahun ini sudah masuk 30 tahun segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Rania yang tahu apa yang akan dibicarakan Arumi,terus saja tertawa apalagi melihat wajah Fatih yang masam.
__ADS_1
"Hahaha,Kamu masa gak tahu,Mas Fatih masih menyandang jomblo abadi sampai saat ini.Soalnya cewek yang dicintai masih milik orang lain biarpun sebentar lagi akan menyandang gelar janda".
"Rania !".Suara berat dari Fatih segera menghentikan ucapan dari Rania.
"Iya Mas.Ampun gak lagi,aku akan tutup mulut."Rania membuat gerakan seolah dia mengunci mulutnya.
Arumi,Fatih,dan Rania menunggu giliran mereka untuk masuk ruang sidang.Kehadiran Abi belum tampak meski waktu untuk sidang akan segera tiba.
"Si br*ngsek belum muncul juga wajahnya.Apa dia berat untuk cerai dari kamu Arumi."
"Biarin Nia,aku sudah gak peduli lagi sama Abi."
Orang yang dibicarakan oleh Arumi dan Rania tak lama kemudian mulai menampakkan wajahnya.
Abi terlihat lusuh dan baju nya terlihat lecek seperti tak disetrika.
"Arumi !".Abi berdiri di depan Arumi dengan wajahnya yang melas.
Sampai sekarang Abi rasanya berat untuk berpisah dari Arumi.Tapi apalah hendak dikata,perbuatannya kemarin memang sangat fatal.
"Ya."Jawaban singkat Arumi dengan wajahnya yang tampak dingin menatapnya makin membuat Abi nelangsa.
"Maafkan Mas untuk kesalahan Mas sama kamu selama kita berumah tangga.Tolong jaga Lia dengan baik,maaf belum bisa menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kamu dan Lia."Permintaan maaf dari Abi membuat Arumi menghembuskan nafasnya dengan berat.
Selama ini,Arumi tidak pernah terpikirkan kalau pernikahannya akan kandas karena orang ketiga.
"Ya Mas,aku juga minta maaf belum jadi istri yang baik untuk kamu.Mari kita saling memperbaiki diri untuk putri kita Lia.Aku ingin meski sekarang kita akan berpisah,tapi masih ada Lia diantara kita".
"Kamu istri yang baik Arumi,Mas saja yang tidak bersyukur telah memiliki kamu."Abi sekarang menangis di hadapan istri yang telah dia sakiti hati nya itu.
"Boleh Mas minta untuk terakhir kali sebelum putusan cerai dari hakim untuk memeluk dan mencium kening kamu ?".Permintaan dari Abi membuat sepasang mata membulat setelah mendengar ucapan Abi.
"Baik Mas,aku harap Mas Abi bisa memperbaiki diri.Aku pun akan memperbaiki diri ku."
Abi segera memeluk dan mencium kening Arumi dengan dada yang sesak.Tak menyangka perpisahan dengan wanita yang dicintainya ini akan terjadi.
__ADS_1
Dilain sisi,ada seorang pria yang sedang mengalihkan tatapannya ke arah lain,tak mau melihat pemandangan yang merusak hati nya.