AKU TAHU PERSELINGKUHANMU MAS

AKU TAHU PERSELINGKUHANMU MAS
Bab 26


__ADS_3

Abi sedang mencari lowongan pekerjaan dari internet saat ponselnya berbunyi.Terlihat ada nomor Friska yang sedang menelepon Abi.


"Halo".Sapa Abi saat dirinya mengangkat telepon dari Friska.


"Halo.Mas,Papa nanya kapan Mas nikahi aku.Perutku sudah mulai membesar.Tapi aku mau sebelum Mas nikahi aku,Mas harus rebut rumah yang ditempati mantan istri kamu yang tua itu.Gimana Mas ? ".Friska terus saja mengungkit rumah yang ditempati Arumi.


"Gak bisa Friska,aku kan sudah beberapa kali bicara kalau rumah itu hadiah dari Abah nya Arumi.Kalau itu syaratnya aku gak bisa Friska untuk menikahi kamu".Abi berbicara dengan suara yang menahan geram.


Entah kenapa Friska sangat ingin memiliki rumah Arumi itu.


"Tapi aku pengen rumah itu Mas.Demi anak kita Mas".Friska terus saja ngotot untuk memiliki rumah itu.


"Terus kamu mau aku ngelakuin apa Friska ? Kalau kamu memang mau rumah itu kamu minta saja sama Arumi kalau dia memang berbaik hati untuk mu.Tapi aku sih gak yakin apalagi melihat semua apa yang kamu lakukan untuk membuat Arumi menderita.Sudah ya ? Aku gak akan bisa memenuhi permintaan kamu itu.Mending kita gak usah nikah aja,kamu urus bayi itu aja."


Abi langsung mematikan telepon itu.


'Entah apa lah yang merasuki saat itu,kenapa bisa aku tergoda dengan perempuan manja seperti Friska.'


...****************...


Kepala Arumi terasa sakit dari kemarin.Pagi ini,setelah melaksanakan sholat subuh,Arumi kembali berbaring di atas kasur karena kepalanya masih terasa sakit.


Arumi meraih ponselnya untuk menghubungi Mamah nya.


"Assalamualaikum Ma,Rumi minta tolong Mamah kesini bentar ya.Kepala Rumi sakit banget,aku pusing kalau melangkah keluar.Aku belum bangunin Lia,belum nyiapin sarapan juga".


Arumi langsung mematikan teleponnya.Kepala nya makin terasa sakit karena berbicara.Arumi kembali tertidur.


Dua jam kemudian,Arumi terbangun karena ketokan pintu dari luar kamar nya.


"Mamah masuk aja,pintu nya gak aku kunci kok".Sahut Arumi kembali memejamkan mata nya.


Terdengar suara pintu yang dibuka,juga suara langkah kaki yang mendekati Arumi yang masih terbaring di atas kasur.


Sebuah tangan menyentuh dahi Arumi.Arumi berusaha membuka mata nya yang terasa berat.

__ADS_1


"Kamu panas Rumi.Kamu gak mau ke rumah sakit aja".Suara yang terdengar berbeda dengan suara Mamah nya.


"Siapa ?".Tanya Arumi masih berusaha untuk membuka mata nya.


"Mama Widya,Fatih tadi bilang kamu lagi sakit.Dan karena kalian belum nikah,jadi Fatih ngajak Mama kesini.Mau hubungi Mama kamu,Fatih gak tahu nomor teleponnya juga alamat rumah orang tua kamu.Kamu gak mau ke rumah sakit aja Rumi ?".Ternyata orang itu adalah Mama Widya,ibunya Fatih.


'Berarti yang tadi aku telepon itu Kak Fatih'


"Gak usah Ma,aku cuma sedikit pusing aja.Nanti juga baikan kok,terus Lia kemana Ma ?".Arumi berusaha bangun dari tidurnya,tidak enak rasa nya karena Mama Widya di dalam kamar nya.


"Gak usah bangun,kamu tiduran aja.Lia sudah berangkat sekolah diantar Fatih tadi.Kamu mau sarapan ? Biar Mama bawa kesini."Mama Widya kembali ke dapur untuk membawa makanan Arumi.


Arumi kembali berusaha untuk duduk,dan bersandar di headboard.Tak lama kemudian,Mama Widya kembali ke kamar Arumi sambil membawa nampan yang berisi sarapan Arumi.


"Maaf ya Ma,Rumi ngerepotin Mama.Tapi terimakasih sudah berbaik hati membawa sarapan buat Rumi".Arumi masih merasa tak enak hati kepada wanita paruhbaya di depannya ini.


"Gak ngerepotin kok sayang.Rumi kan calon menantu Mama.Mama gak mau calon menantu Mama ini kenapa-napa."


Ucapan Mama Widya itu membuat Arumi tersipu malu.Gak anak gak Mak nya suka banget bikin Arumi jadi malu.


"Masakan Mama enak banget".Arumi memuji masakan Mama Widya.


"Bukan Mama yang masak tapi calon suami kamu."


"Eh calon suami aku ? Siapa ?".Tanya Arumi kebingungan.


"Siapa lagi kalau bukan Fatih.Tadi pas Mama masuk ke rumah ini.Fatih lagi masak di dapur,jadi Mama disuruh bangunin Lia,dan mandiin Lia.Terus Fatih nganter Lia ke sekolah.Terus Mama tinggal di sini buat ngelihat keadaan kamu."


Arumi terdiam mendengar ucapan Mama Widya.Masih tak menyangka pria yang beberapa saat ini menunjukkan perasaannya kepada Arumi bisa memasak seenak makanan yang sedang di santap Arumi ini.Juga tak menyangka Fatih rela tak berangkat kerja untuk membantu nya.


"Sudah kamu makan lagi yang banyak biar kamu minum obat.Oh ya kotak P3k kamu dimana ?".


"Di dapur Ma,di dekat kulkas".


Mama Widya keluar kamar meninggalkan Arumi yang masih sarapan.

__ADS_1


...****************...


Setelah sarapan dan minum obat,Arumi kembali tertidur.Arumi tertidur cukup lama,sampai waktu menunjukkan sudah jam satu siang.


Arumi terbangun karena mendengar suara Lia yang sedang ketawa.Arumi membuka mata nya tapi kembali menutup mata nya.Keadaannya masih sama seperti tadi pagi meski telah minum obat.


Arumi berusaha bangun dari tidurnya karena ingin ke kamar mandi.Apalagi Arumi tahu ini sudah waktu zuhur sehingga Arumi berniat untuk sholat.


Arumi berjalan dengan tertatih-tatih.Kepalanya masih sangat pusing,tapi Arumi berusaha untuk tetap ke kamar mandi.


Tetapi belum juga sampai ke kamar mandi,kepala Arumi terasa berputar.Pandangan Arumi menggelap dan Arumi terjatuh.Pingsan di depan kamar mandi.


...****************...


Hidung Arumi terasa tercium bau obat-obatan.Juga telinga Arumi mendengar suara orang yang berbincang-bincang di dekatnya.


Bulu mata Arumi bergerak,dan tak lama kedua mata nya pun terbuka dengan pelan.


Terlihat di atas mata nya plafon putih yang bentuknya terlihat berbeda dengan kamar nya .Arumi mengalihkan tatapan mata nya ke sekeliling ruangan.Terlihat di sofa Abah dan Mamah yang sedang asyik berbincang dengan Mama Widya.Saking asyiknya perbincangan itu,ketiga orang itu bahkan tidak sadar kalau Arumi sudah siuman.


Ceklekkk


Suara pintu ruangan itu terbuka menampilkan pria yang tak lain adalah Fatih juga Lia yang terlihat tertidur dengan nyaman di pundak Fatih.


Tatapan Arumi dan Fatih bertemu.Membuat pipi Arumi memerah.


'Kenapa pipi ku terasa panas'.


Melihat tatapan pria itu yang intens kepada nya membuat Arumi mengalihkan tatapannya ke dinding putih rumah sakit.


"Kamu sudah sadar Rumi ? Apa yang sakit ? Biar aku panggil Dokter buat periksa kamu."Suara Fatih terdengar dekat.Fatih sekarang berada satu meter di depan Arumi.


"Iya Kak".Jawab singkat Arumi.


Fatih setelah meletakkan Lia yang tertidur di atas sofa dekat Abah kembali ke luar untuk memanggil dokter untuk memeriksa Arumi.

__ADS_1


__ADS_2