
Arumi berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.Dia merasa seperti gadis perawan yang pertama kali menikah.Padahal saat menikah dengan Abi,Arumi tidak merasakan perasaan seperti ini.
'Aduh aku gimana dong.Aku harus gimana ? Apa yang harus aku lakukan ?'.Batin Arumi.
Arumi menatap dirinya dalam cermin.
'Dasar Rumi m*sum ! Apa sih yang kamu pikirkan.Tenang Rumi,ini bukan pertama kalinya kamu menikah.Tapi tetap saja aku malu'.
Arumi kemudian membuka hijab instan yang dipakainya.Dan mengurai rambut hitam dan panjangnya.Rambut Arumi sedikit ikal tapi itu membuat Arumi tampak sangat cantik.
Arumi kemudian membuka walk in closet nya.Dan meraih baju tidur terusan putihnya.Arumi masuk ke dalam ruang gantinya.
Setelah berganti baju,Arumi kemudian duduk di depan meja riasnya.Arumi meraih beberapa skin care malam yang rutin dipakainya.
Saat Arumi sibuk dengan aktivitas merawat wajahnya,Arumi tidak sadar kalau aktivitasnya itu sedang diawasi oleh seseorang.
Orang yang asyik menonton aktivitas Arumi yang sedang merawat wajahnya itu tentu saja adalah suami Arumi yang bernama Fatih.Fatih sebenarnya sudah ada di dalam kamar itu sejak Arumi berganti baju.
Tapi tadi saat Arumi keluar dari berganti baju,Fatih sedang menunduk di samping tempat tidur untuk mengambil dompetnya yang terjatuh.
"Astagfirullah".Ucap Arumi kaget melihat Fatih yang sudah ada di dalam kamar.
Fatih dengan senyum kecilnya berjalan ke arah Arumi yang masih duduk di kursi riasnya.
"Kamu cantik sekali sayang".Ujar Fatih mengelus rambut halus Arumi.
Arumi mengigit bibir bawahnya,merasa malu mendengar pujian dari suaminya itu.
"Kak Fatih dari kapan di sini ? Kok Aku gak tahu ".Tanya Arumi berusaha menahan rasa malunya.
Fatih masih terus mengelus rambut halus Arumi.Untuk pertama kalinya mengelus rambut perempuan apalagi perempuan yang dicintainya membuat Fatih merasa ketagihan.
"Kak,kok gak dijawab !".Protes Arumi tidak mendengar jawaban Fatih.
__ADS_1
"Aku sudah ada disini dari tadi sayang.Dari kamu keluar dari ruangan itu".Jawab Fatih masih dengan mengelus rambut Arumi.
Arumi mengerutkan keningnya mendengar jawaban Fatih.Padahal saat keluar dari walk in closetnya Arumi sama sekali tidak melihat ada orang di dalam kamar ini.
"Tapi kok aku gak lihat Kakak tadi ".
"Aku lagi ngambil dompet tadi jatuh di samping tempat tidur ".Jawab Fatih lagi sekarang menunduk mensejajarkan wajahnya
dengan wajah Arumi.
Arumi mengalihkan tatapan matanya,menghindari tatapan Fatih yang lekat
menatapnya.Fatih memegang dagu Arumi,mengarahkan wajah Arumi ke arahnya.
"Kakak ingin kamu menatap mata kakak ".
Arumi kemudian menatap wajah Fatih.
"Kamu kok sekarang malu sih ? Tadi kamu dengan beraninya menyatakan cinta sama aku.Kok sekarang kamu malu-malu ".Goda Fatih menoel dagu Arumi genit.
"Ih mukul-mukul.Aku balas ya ".Ucap Fatih sambil mengarahkan tangannya ke arah Arumi.
Arumi menutup matanya,dirinya merasa takut.Dan tak menyangka Fatih akan tega untuk memukulnya.
Tapi Arumi kemudian mengerutkan keningnya lagi saat tak merasakan rasa sakit akibat pukulan Fatih.Arumi membuka matanya dan menatap Fatih yang sekarang terkekeh kecil melihat Arumi.
Arumi mengerucutkan bibirnya merasa sebal karena dikerjai Fatih.
"Jangan seperti itu Rumi,aku gak sekuat itu untuk menahannya ".Ucap Fatih dengan nada suara yang terdengar berat.
Arumi yang mengerti maksud Fatih,mengalihkan tatapan matanya.Meski dirinya siap saat Fatih akan meminta haknya,tapi tetap saja dirinya merasa malu.
"Tidurlah.Aku tahu kamu capek,Kakak gak akan minta hak ku malam ini.Kita masih berduka.Ayo istirahatlah.Besok kita masih sibuk ".Ucap Fatih meraih tangan Arumi.
__ADS_1
Arumi menatap Fatih yang mengandeng nya ke arah tempat tidur.Fatih membaringkan Arumi dengan lembut.Arumi hanya pasrah saja diperlakukan seperti itu oleh Fatih.
"Tidurlah sayang.Aku mau mandi dulu.Selamat malam sayang,mimpi indah.I love you ".Ujar Fatih sambil mencium kening Arumi untuk kedua kalinya setelah akad nikah.
Diperlakukan seperti itu,malah membuat Arumi sama sekali tidak bisa tidur.Arumi menatap ke arah kamar mandi yang telah dimasuki Fatih.
'Ya Allah.Kebaikan apa yang telah ku lakukan mendapat suami seperti ini.Semoga saja sifat Kak Fatih akan seperti ini terus sampai kami menua dan dipisahkan oleh maut.'
Arumi kemudian mengingat saat dulu menikah dengan Abi,meski Abi juga lembut kepadanya dan tidak pernah berkata kasar tapi Abi sama sekali tidak pernah memperlakukannya seperti ini.Bukan maksud membandingkan tapi itulah yang dirasakan Arumi.
Mendengar suara air yang sudah mati dan langkah kaki yang berjalan ke arah pintu,membuat Arumi tersentak kaget dan buru-buru menutup matanya.
Arumi berharap Fatih sama sekali tidak akan sadar kalau dirinya belum tidur.Siapa sih perempuan yang akan bisa tidur kalau untuk pertama kalinya di perlakukan seperti tuan putri ?.
Arumi mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya.Tercium bau wangi maskulin yang membuat Arumi menyukai wangi itu.Wagi khas yang tercium jika berada di dekat Fatih.
'Kak Fatih pakai sabun apa ya sampai wangi begini.Kok aku jadi suka wanginya.Besok aku akan melihatnya ke kamar mandi.' Gumam Arumi dalam hati.
Arumi semakin mengeratkan matanya saat merasakan tekanan di atas spring bed itu.Arumi menahan nafasnya saat merasakan kalau dibelakangnya ada Fatih yang telah berbaring.
'Aku gugup banget.Nanti kalau Kak Fatih sadar aku belum tidur gimana'.
Arumi semakin menahan nafasnya saat merasakan tangan dingin yang meraih kepalanya dan diletakkan di bawah lengan kekar itu.
'Ya Allah aku gimana ini.Aku gak kuat kalau begini.Mana dia wangi banget lagi.'
"Rumi,ayo bernapas.Jangan ditahan seperti itu ".Bisik Fatih ke telinga Arumi.
Arumi kemudian melepas nafasnya yang tertahan Dirinya pun tidak kuat untuk terus menahan nafasnya.
"Kamu bandel ya,disuruh tidur kamu malah menahan napas.Kenapa ? Gugup ya dekat Kak Fatih yang ganteng dan wangi ini.Ya Kakak sadar kok,tapi kan sekarang kamu sudah memiliki pria tampan ini".Ucap Fatih yang terdengar percaya diri.
Arumi yang mendengar ucapan konyol dari Fatih itu,meski memang benar apa yang diucapkan Fatih pura-pura mengorok.Yang membuat Fatih tertawa kencang.
__ADS_1
Pelukan Fatih semakin erat dirasakan Arumi,dan sepertinya ada sesuatu yang terasa mengganjal di rasakan Arumi di sela pahanya.
"Kamu tahu kan apa itu ? Sekarang kamu tidur kalau tidak Kakak gak akan jamin kalau kamu akan bisa tidur sampai esok pagi,kamu pasti tahu dan mengerti kan Rumi.Meski aku masih perjaka tapi soal itu aku akan jamin kamu. akan puas ".Bisik Fatih di telinga Arumi