
Arumi keluar dari persidangan dengan wajah tersenyum.Meski bibirnya tersenyum,mata nya tampak berkaca-kaca.Arumi tak pernah menyangka kalau pernikahan yang dikira akan bertahan sampai maut memisahkan,ternyata Hakim pengadilan agama yang memisahkan.
7 tahun menjalani pernikahan dengan bahagia dengan menghasilkan satu orang putri sungguh sekarang hanya tinggal kenangan.Pernikahan penuh cinta dihancurkan oleh orang ketiga.
Sama yang dirasakan oleh Abi,dia sekarang hanya bisa menangis pilu membayangkan pernikahannya telah hancur karena kesalahannya menghadirkan orang ketiga.
Abi menatap Arumi yang berjalan pergi meninggalkan dirinya.Arumi tampak tersenyum,mungkin dirinya bahagia karena lepas dari pria pengkhianat seperti Abi.
"Arumi !".Panggil Abi ke arah Arumi.
"Ya Mas."
"Sekali lagi Mas minta maaf,Mas akan sering luangkan waktu untuk Lia.Dan Mas ingin menyerahkan ini,karena saat ini kita telah berpisah,dan Mas gak punya hak lagi untuk tinggal di rumah pemberian Abah".Abi menyerahkan kunci rumah yang ditempatinya selama tujuh tahun ini.
Arumi mengambil kunci yang diserahkan Abi.
"Terus Mas sekarang tinggal dimana ? Apa Mas mau untuk tinggal di salah satu rumah yang Mas beli dulu.Aku akan menyerahkannya untuk Mas".
Memang selama tujuh tahun menikah,Abi dan Arumi sudah mempunyai aset yang berupa beberapa rumah,tanah,dan kos-kos an.Rumah-rumah itu sekarang dikontrakkan.
"Gak,itu sekarang milik mu Arumi.Mas juga gak mau kalau Friska tahu rumah itu,dia akan berusaha merebutnya.Mas hanya ingin minta izin untuk tinggal di kos an yang kamu miliki,Mas ingin memulai dari nol lagi".
"Gak Mas,aku gak akan serakah karena itu aset kita berdua selama menikah,aku akan membaginya nanti.Tapi aku minta tolong kalau bisa jangan sampai Friska tahu.Bukan aku marah,tapi aku gak mau hasil kerja keras Mas selama ini habis tak bersisa di tangan Friska dan Mama.Biarpun kita telah berpisah,tetap saja Mas adalah Ayah dari Lia putri kita.Nanti kalau Mas ingin membuat usaha,hubungi aku aku akan memberikan uang bagi hasil aset itu".
__ADS_1
Arumi telah memutuskan untuk membagi aset yang telah mereka miliki selama menikah.Meski perjanjian pranikah itu membuat aset itu telah menjadi milik Arumi,tetap saja Arumi tidak akan mau memiliki semuanya.
Meski Abi telah mendua dan membuatnya kecewa,tapi selama berumah tangga Abi adalah suami yang baik dan Ayah yang baik sebelum Friska menghancurkannya.
"Kamu yakin Arumi ?".
"Ya Mas,aku yakin.Tapi tolong jangan sampai Friska tahu".
"Baiklah,Terimakasih Arumi.Aku akan menghubungimu setelah aku tahu untuk membangun usaha apa.Kalau begitu Mas pamit dulu,Mas perlu untuk membereskan barang Mas sebelum pergi dari rumah".
"Mas Abi ini kunci rumah kontrakan di jalan kucing,rumah itu sebenarnya sudah kosong dari dua minggu yang lalu.Itu rumah yang Mas beli sendiri dan atas nama Mas Abi.Aku gak ingin Mas gak punya rumah,apalagi sampai Lia tahu.Ambillah Mas".Arumi menyerahkan kunci rumah yang memang Abi beli dengan hasil bekerjanya.
Air mata Abi tampak mengenang di sudut mata nya,terharu melihat Arumi yang masih berbaik hati kepadanya meski telah Abi hancurkan hati Arumi.
Setelah Abi mengambil kunci yang telah diserahkan Arumi,Abi pun bergegas pergi dari
gedung persidangan itu.Tak ingin hati nya yang rapuh diketahui banyak orang.Dia ingin sendiri meratapi nasib nya yang telah ditinggalkan orang yang dicintainya.
Arumi menatap punggung Abi yang sekarang berjalan pergi menuju mobilnya.
"Woyyy masih aja natap mantan,gak tahu apa ada yang merasa cemburu disini.Move on dong Arumi.Move on !".Rania dengan berapi-api malah mengomeli Arumi yang menatap Abi yang pergi.
"Apa sih Nia ? Ngaco aja deh".Arumi mengerucutkan bibirnya pura-pura sebal kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ih bibirnya minta dicium,gak sadar status sudah jadi jomblo lagi.Mas Fatih,kalau masa iddah Arumi selesai langsung nikahin aja Arumi,dia sudah gak sabar pengen dicip*k".Rania dengan isengnya menggoda kedua orang yang sekarang sama-sama single itu.Kedua orang yang digoda Rania,wajahnya tampak memerah malu mendengar ucapan Rania.
"Rania !!".Kedua orang yang tak lain Fatih dan Arumi serentak meneriakkan nama Rania untuk berhenti menggoda mereka berdua.
"Cieeee jodoh nih kok kompak banget sih.Ih gemes deh,jadi kangenkan sama Bebeb aku.Aku pulang duluan ya,aku mau ke kantor Bebeb aku dulu.Mas Fatih jangan lama-lama lagi mumpung sasaran sedang sendiri.Nanti di embat orang nangis lagi,merana lagi.Byeee duo jomblo".Rania melarikan diri melihat dua orang yang didepannya sudah mengeluarkan tanduk.
"Dasar Rania ! ".Arumi masih cemberut melihat kepergian sahabatnya yang iseng itu.Tak menyadari tatapan pria yang sekarang sedang fokus ke arah bibir Arumi yang mengerucut.
'Astagfirullah,mikirin apa sih Fatih.Gak usah pikirkan omongan Rania yang iseng itu'.Fatih menggelengkan kepalanya mengusir pikiran jorok yang sempat muncul diotaknya.
"Pak Fatih kenapa ? Kok geleng-geleng ".Tanya Arumi yang heran melihat Fatih yang mengelengkan kepalanya.
"Eh gak kok,gak apa-apa,hanya sedikit pusing.Sekarang kita pulang saja,ayo saya antar kamu pulang atau mau ke restoran ?".
"Ke restoran aja Pak,hari ini restoran biasanya lebih ramai".
Arumi mengikuti langkah Fatih yang berjalan di depannya.
"Kamu bisa untuk gak memanggil aku dengan sebutan Pak.Kita hanya berbeda dua tahun saja Arumi".Fatih menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk menatap wajah Arumi.
"Terus saya manggil apa ? Sudah biasa sih manggil dengan Pak.Apa mau saya panggil Mas Fatih ? Apa Kakak ?".
"Panggil Kakak saja atau Bang juga boleh,aku gak mau disamain dengan mantan suami kamu itu."Jawab Fatih yang berjalan meninggalkan Arumi yang mematung mendengar ucapan Fatih.
__ADS_1