
"Loh pengantin baru masih ada disini ? Memangnya kalian gak malam pertama ? Masa' malam pertamanya di sini,nanti kalau aku jadi kepengen nikah gimana ? Aku kan masih jomblo ?".Suara Arga yang memasuki kamar rawat Abah Arif terdengar.Tentu saja dia sedang menggoda pengantin baru.
Arumi yang kesal segera melempar sendalnya ke arah Arga,Arga yang tahu itu kemudian menghindar alhasil lemparan sendal Arumi meleset.
"Mulut kamu Ga mau aku kasih cabe.Nikah mah nikah aja tapi aku gak yakin ada cewek yang mau sama kamu.kamu kan dari lahir jomblo".Ucap Arumi balas mengejek Arga.
"Jomblo juga jomblo berkualitas harus nyari yang spek bidadari dong."Sahut Arga dengan percaya diri.
"Ngimpi aja,dulu aja kamu di tolak sama Nayla yang kata kamu spek bidadari".Ujar Arumi dengan muka sinis.
Perdebatan Arumi dan Arga jadi tontonan yang menarik untuk semua orang disana.Apalagi bagi Fatih yang duduk di samping Arumi.Tangannya tidak lepas mengenggam tangan Arumi.
"Cie tangannya gak lepas nih,mumpung sudah halal ya Fatih ? Aih jadi tambah pengen nikah ".Sekarang giliran Fatih yang digoda Arga.
"Iya kamu tahu aja sudah halal ini.Aku tunggu giliran kamu Ga".Balas Fatih dengan santai.Berbeda dengan Arumi yang baru sadar kalau tangannya dari tadi digenggam oleh Fatih,wajahnya menjadi merah merona yang semakin membuat Arga menggoda mereka berdua.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian semua orang.Terlihat salah satu perawat memasuki ruang rawat itu.
"Permisi,tadi Ibu minta ganti infus untuk Pak Arif ya ? Saya periksa dulu ya Pak Bu".
Perawat itu kemudia berjalan ke arah Abah Arif yang sedang tertidur.Perawat itu memeriksa infus yang memang sudah habis.Perawat itu mengalihkan tatapannya ke arah Abah Arif,tapi kening perawat itu mengerut melihat keadaan Pak Arif.Perawat yang bernama Dina itu kemudian menekan tombol nurse call untuk memanggil perawat lain.
Perawat itu dengan panik memeriksa Abah Arif dari menekan nadi di pergelangan tangan,mengambil stetoskop untuk memeriksa denyut jantung,juga membuka kelopak mata Abah Arif.
Arumi dan yang lainnya merasa keheranan melihat perawat itu yang tampak panik dan memeriksa Abah Arif.
__ADS_1
"Kenapa Sus ? Abah gak apa-apa kan ya ?".Tanya Arumi mulai mendekat.
Perawat itu membalikkan tubuhnya ke arah Arumi dan lainnya.
"Maaf Pak Bu,tapi saya sedang menunggu untuk Dokter memeriksa Pak Arif.Saya belum bisa memberitahukan hal itu kepada Bapak dan Ibu.Mohon untuk keluar dulu Pak Bu.Perbanyak doa ya Pak Bu ".Ucap suster itu dengan raut wajah yang tampak prihatin.
Mamah Fitri mulai menangis,takut akan kehilangan suaminya itu.Arumi memeluk Mamahnya itu menguatkan.Fatih lekas membawa istri dan mertuanya untuk keluar ruangan.
Semua orang memanjatkan doa untuk Abah Arif.Semua berharap Abah Arif baik-baik saja.
Derap langkah kaki terdengar dari arah kiri.Dokter Syafii terlihat berlari ke arah ruangan Abah diikuti dengan beberapa perawat.
Arumi berusaha menahan air matanya,dia khawatir akan kehilangan Ayah yang sangat menyayanginya itu.
Mamah Fitri masih menangis,sekarang Mamah Fitri bahkan lemas mengkhawatirkan keadaan suaminya di dalam sana.
lesu menatap semua orang di depan nya.
"Bagaimana keadaan Ayah saya Dok ?".Tanya Arumi berusaha menahan air matanya.Dia berharap wajah lesu Dokter Syafii bukan pertanda kalau keadaan Abah mengkhawatirkan.
"Innalillahiwainnailaihirojiun,maaf kami pihak rumah sakit sudah berusaha tapi Allah telah menjemput Pak Arif.Saya dan pihak rumah sakit turut berduka cita.Pak Arif sepertinya sudah meninggal lebih dari dua jam".
Jawaban Dokter Syafii itu membuat Mamah Fitri jatuh pingsan.Dia tidak kuat mendengar suami yang dicintainya itu telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.Arga yang berada d samping Bibinya itu segera meraih badan Mamah Fitri.Dan mengendongnya untuk diantar keruang rawat.
Arumi pun menangis dengan kuat,kehilangan Abah Arif merupakan pukulan yang sangat kuat dirasakan Arumi.Sosok Ayah yang baik,lembut,dan selalu menyayanginya itu telah pergi untuk selamanya.
Fatih memeluk Arumi dengan erat,dirinya pun meneteskan air mata mendengar kepergian mertuanya itu.Meski Fatih baru mengenal Abah empat bulan yang lalu,tapi kedekatannya bersama Abah mengingatkannya dengan sosok Almarhum Papanya.Apalagi saat mengingat dirinya yang menjabat tangan Abah untuk ijab kabul itu adalah jabatan tangan terakhirnya bersama Abah.Jabatan pertama dan terakhir sebagai menantu dan mertua.
__ADS_1
"Rumi,kamu jaga Mamah.Biar aku,Arga dan yang lainnya mengurus jenazah Abah.Aku akan menghubungi Mama untuk datang ke rumah Abah sekalian untuk memberitahukan kepada pengurus RT atas meninggalnya Abah. "Ucap Fatih melepaskan pelukannya.
Arumi hanya mengangguk singkat,dia tidak punya tenaga sekedar membalas ucapan Fatih.Arumi kemudian melangkah mengikuti kemana Arga tadi pergi.
Arumi masih dengan meneteskan air matanya kembali mengingat senyuman Abah untuk terakhir kalinya saat melihat dirinya telah menikah dengan Fatih.Tak menyangka permintaan untuk dirinya menikah dengan Fatih adalah permintaan terakhir dari Abahnya itu.
...****************...
Sejam kemudian,Arumi dan Mamah Fitri sudah berada di dalam mobil jenazah untuk mengantar Abah untuk pulang.Sebenarnya Fatih tadi menolak Mamah Fitri berada di dalam mobil jenazah itu karena melihat kondisi Mamah yang lemas dan terus menangis.
Tapi Mamah Fitri bersikeras untuk menaiki mobil jenazah itu,setidaknya untuk terakhir kalinya dia berada satu mobil dengan sang suami.
"Bah,kamu kenapa pergi tiba-tiba Bah ? Kenapa gak ajak Mamah ? Mamah sama siapa Bah ?".Racau Mamah Fitri yang memeluk peti mati Abah.
"Mah sudah.Abah sudah tenang,sudah gak sakit lagi.Mamah masih punya Arumi.Kalau Mamah ikut Abah,Arumi sama siapa Mah ".Arumi berusaha meraih tubuh Mamahnya.Memeluknya dengan erat,mereka berdua saling melepaskan rasa kehilangan mereka dengan tangisan.
Sejam kemudian,mobil jenazah itu yang diikuti mobil Fatih dibelakangnya telah sampai dikediaman Abah.Banyak orang terlihat berada di rumah itu untuk turut berduka karena kehilangan sosok Abah.
Mamah Fitri kembali pingsan setelah turun dari mobil.Fatih kemudian mengendongnya untuk dibawa ke dalam rumah.
Arumi membalas jabatan tangan dari orang-orang yang datang.Lelehan air mata makin deras keluar dari matanya menyadari banyak orang yang juga kehilangan Abahnya.
Arumi yang melihat Lia yang berada di samping Mama Widya segera meraih putrinya itu.Dia menumpahkan segala sesak di dalam dadanya di atas kepala Lia.Lia yang sudah mengerti kalau Kakek besarnya sudah pergi juga meneteskan air matanya.
"Rumi,Mama turut berduka cita.Sini peluk Mama".Mama Widya meraih tubuh Arumi untuk dipeluknya.
Ketiga perempuan itu yang berbeda usia itu saling berpelukan menumpahkan kesedihan.
__ADS_1