
Arumi dan Fatih kemudian turun ke lantai bawah restoran Arumi.Tangan Fatih tak lepas menggengam tangan Arumi,biarpun Arumi katanya tak apa-apa tapi Fatih tetap saja khawatir apalagi wajah Arumi masih tampak pucat.
Pihak WO nya ternyata baru saja sampai bersamaan dengan Fatih dan Arumi yang turun dari lantai dua.Arumi kemudian mengajak pihak WO itu ke salah satu tempat lesahan restorannya.
"Ini Kak Fatih kan ya ? Alumni Universitas Bina Negara angkatan 2012 ?".Tanya salah satu tim WO yang berjenis kelamin perempuan itu dengan tatapan yang terus tertuju pada Fatih.
"Iya".Jawab Fatih singkat.
"Wah Kak Fatih saya Nina alumni Universitas Bina Negara juga angkatan 2014.Aku senang banget bisa ketemu Kakak lagi setelah beberapa tahun.Kakak makin tampan".Puji perempuan itu terang-terangan.Membuat Arumi mengerutkan dahinya,baru ini Arumi melihat seorang perempuan begitu terang-terangannya memuji suami dari perempuan lain di depan istrinya.
Semua tim WO yang berada di sana segera menyenggol lengan perempuan yang bernama Nina itu untuk berhenti bicara yang tidak penting.Apalagi melihat wajah Arumi dan Fatih yang terlihat tidak nyaman.
Nina bahkan tidak memedulikan peringatan teman-teman satu timnya,tatapannya masih saja terus tertuju pada Fatih.
"Ehem bisa kita lanjutkan untuk pembahasan yang lebih penting ? Kalau tidak,meeting ini dibatalkan saja".Tegur Arumi dengan wajah tajam menatap Nina.
Salah satu teman satu tim Nina segera mencubit lengan Nina hingga perempuan itu mengaduh.Nina melihat temannya itu dengan pandangan kesal tapi temannya itu tidak kalah kesalnya melihat Nina.
"Maaf ya Bu,Pak atas teman saya yang tidak berkenan pada Bapak dan Ibu.Oh ya Bu Kiki tidak bisa hadir karena anaknya masuk rumah sakit,jadi kami diutus untuk meeting dengan Bapak dan Ibu".Ucap salah satu tim WO yang bernama Ilmi itu.
Arumi masih saja memperlihatkan wajah kesal apalagi Nina masih saja terus melirik Fatih dengan tatapan berbinar membuat Arumi semakin kesal.
Bahkan Arumi sama sekali tak terlihat semangat melihat beberapa katalog yang ditawarkan WO itu.
"Kamu milih yang mana Sayang ? Ada yang kamu suka ?".Tanya Fatih ke arah Arumi dengan tatapan lembut.
__ADS_1
"Aku gak tahu Kak,aku belum bisa memutuskan yang mana".Ujar Arumi terlihat malas menatap katalog itu.
Semua tim yang hadir kecuali Nina terlihat menahan napas,berharap mereka bisa menggaet Arumi dan Fatih memilih WO mereka untuk acara pernikahan.Apalagi owner mereka sudah mewanti-wanti untuk bisa menggaet pasangan itu.
Nina menatap Arumi dan Fatih dengan tatapan cemburu,apalagi Fatih yang terlihat sangat lembut dan perhatian pada Arumi.Sesuatu hal yang tidak pernah ditemukannya setelah bertahun-tahun mengenal Fatih.Fatih yang dikenalnya adalah pria tampan yang cool dan pendiam,apalagi tatapan tajam Fatih seringkali membuat orang takut tapi juga membuat terpesona para wanita.
Nina memperhatikan Arumi,meski terlihat pucat tapi kecantikan Arumi masih belum pudar.Apalagi jika berbicara atau tersenyum kecil terlihat lesung pipi yang menambah kecantikan perempuan itu.Nina menatap Arumi dengan tatapan iri,meski Nina juga tidak kalah cantik tapi dibandingkan Arumi tentu saja dirinya kalah telak.
"Ini acaranya hanya resepsi saja ya ? Tidak ada akad nikah ?".Tanya Ilmi mewakili pertanyaan yang ingin Nina ajukan.
"Saya sudah menikah dengan istri saya ini dua bulan yang lalu.Jadi hanya perlu resepsi saja".Balas Fatih.
"Oke baiklah,kalau begitu tim kami undur diri dulu.Saya harap bisa mendengar kabar baik dari Bapak dan Ibu".
Tim WO itu pun beranjak pergi dengan Nina yang masih saja melirik Fatih.Tapi Fatih cuek saja,hanya menatap Arumi yang terlihat cemberut.
...****************...
"Baiklah Sayang,nanti aku hubungi Mbak Kiki untuk membatalkannya.Aku tidak mau hanya karena salah satu orang membuat kamu gak nyaman".Ucap Fatih mengelus kepala Arumi yang masih tertutup hijab itu.
Arumi bersyukur punya suami yang sangat pengertian seperti Fatih.Arumi sebenarnya suka dengan beberapa desain yang ditampilkan di dalam katalog itu tapi Arumi tidak mau menimbulkan orang ketiga di acara pernikahannya itu.Meski Arumi yakin Fatih mencintainya tapi tetap saja ada perempuan yang mengejar cinta suaminya membuat Arumi merasa ketakutan.
Arumi masih trauma atas pernikahannya dengan Abi.Abi yang dianggapnya sangat mencintainya dan tidak menduakannya taoi dibelakangnya Abi mampu melakukan itu membuat Arumi ketakutan Fatih akan berbuat
seperti itu.
__ADS_1
Makanya Arumi hanya mengantisipasinya,apalagi dirinya sadar Fatih sangat husband materials membuat perempuan muda baik gadis ataupun janda masih berharap memikat Fatih.
Arumi memegang kepalanya yang sekarang makin sakit memikirkan perempuan lain yang berusaha memikat Fatih.
"Kamu pusing Sayang ? Ayo ke rumah sakit,kamu janji loh sama aku tadi kalau kamu sakit lagi kamu mau untuk diperiksa".Ucap Fatih terus memperhatikan Arumi yang terus saja memijat keningnya.
Arumi pun terpaksa mengangguk apalagi kepalanya makin terasa berat.Hingga saat Arumi berdiri tiba-tiba pandangan Arumi terlihat berputar dan akhirnya semua gelap dirasakannya.
Hal terakhir yang diingat Arumi hanya wajah Fatih yang terlihat panik.
...****************...
Arumi mengerjapkan matanya saat cahaya lampu terasa menyilaukan saat Arumi membuka matanya dengan pelan.
"Kamu sudah sadar Sayang,Alhamdulillah.Aku panggil Dokter dulu ya Sayang".Suara Fatih terdengar di samping kanan Arumi.Fatih memencet nurse call bell yang terletak di dinding kamar itu.
Arumi mengedarkan tatapannya keseluruh ruangan itu.Ruangan ini seperti di rumah sakit,dan Arumi sadar sekarang tangannya sedang di infus.
"Aku di rumah sakit Kak ? Aku kenapa bisa ada di sini ?".Tanya Arumi menatap Fatih yang terlihat senyum sumringah melihat Arumi.
"Iya Sayang,kamu tidak sadarkan diri saat kita masih di ruang kerja kamu".Ucap Fatih dengan senyuk tak lepas dari wajah tampannya.
Arumi terlihat heran melihat Fatih yang terus saja tersenyum bahagia melihatnya.Arumi ingin berpikiran buruk kepada Fatih ketika Dokter dan perawat datang ke ruang rawatnya itu.
Dokter perempuan itu dengan tenang terlihat memeriksa Arumi.
__ADS_1
"Saya kenapa ya Dok ? Dari kemarin sebetulnya saya merasa tak enak badan.Tapi kemarin belum terasa menganggu sakitnya.Tapi hari ini semua badan saya terasa remuk redam apalagi mual muntah."
Dokter itu tersenyum mendengar ucapan Arumi.