
"Kamu nyuruh aku bujuk Arumi ? Kamu lupa dari dua minggu lalu aku sama Papa kamu sudah pergi ke rumahnya tapi apa ? Dia bahkan sama sekali gak peduli bahkan Papa kamu yang meminta untuk mencabut laporan saja tidak digubrisnya.Apalagi aku yang membuat dia terluka gara-gara kita berdua.Sudahlah kamu pasrah saja,inikan balasan atas perbuatan kalian."Ujar Abi
"Tapi Mas aku gak mau dipenjara.Tolong lakukan berbagai cara.Ah atau gak minta Lia untuk bujuk Umma nya untuk mencabut laporan itu Mas.Arumi gak mungkin tega mengabaikan permintaan putrinya.Apalagi sekarang aku kan jadi ibu sambung Lia".Ucap Friska memberikan ide yang gila.
"G*la aja kamu nyuruh aku untuk bujuk Lia.Lagi pula mana Lia peduli sama kamu,kenal aja gak.Malah nanti kalau Lia sudah besar dan ngerti pasti kamu akan dibenci putriku itu karena membuat orangtua nya berpisah.Sudahlah Mas gak akan membantu kamu,Mas pergi dulu kamu jaga diri baik-baik di dalam sana".Sahut Abi sambil melangkah keluar.
Friska terus saja berteriak memanggil suaminya tapi teriakannya dihentikan oleh bentakan sipir.
...****************...
{Friska sudah ditahan hari ini.Kamu mau bertemu sama dia ?}
Isi pesan dari Fatih membuat senyuman di bibir Arumi.
'Akhirnya kedua orang itu dipenjara juga'.
{Gak kak,aku malas kesana.Nanti ujung-ujungnya mereka minta dilepasin}.Balas Arumi.
Arumi bukannya tega memenjarakan Friska yang sedang hamil juga Dahlia yang sudah paruh baya tapi kalau Arumi tidak melaporkan mereka berdua ke penjara Friska dan Dahlia pasti akan terus menganggunya juga Lia.
{Rumi,apa kita bisa ketemu ? Ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu }.Bunyi pesan dari Abi membuat Arumi menghela napas.
{Kalau bicara tentang Friska aku gak mau,terus kalau mau rujuk juga aku gak mau}.Balas Arumi tegas.
{Mas datang ya.Kamu dimana ?}.Pesan dari Abi tidak dibalas oleh Arumi.
Arumi melanjutkan kerja nya di dalam restoran.Arumi berniat untuk membuka cabang restorannya juga membuka usaha lain.Tapi Arumi masih bingung untuk membuka usaha apa.
Drttttt drtttt
Bunyi ponselnya mengalihkan perhatian Arumi yang sedang fokus memeriksa gambar lokasi yang diincarnya.Arumi meraih ponselnya itu untuk melihat siapa yang menghubunginya.
Mamah is calling
Ternyata Mamahnya yang meneleponnya,Arumi lantas mengangkat telepon itu.
__ADS_1
Sampai Arumi mendengar kabar buruk yang membuat Arumi menjatuhkan ponselnya.
Setelah telepon itu mati,Arumi segera membereskan ponsel dan juga dompetnya ke dalam tas dan keluar dari dalam kantornya itu.
Arumi pun berpamitan kepada karyawannya,memberikan amanah kepada asistennya yang biasa menggantikan dirinya di dalam restoran.
Arumi kemudian pergi menaiki mobilnya dengan kecepatan lumayan kencang hingga sampai dipelataran rumah sakit.
Arumi berlari menuju ruang UGD dengan air mata bercucuran juga hati nya terus berdebar-debar dengan kencang.
Sampai di ruang UGD,Arumi melihat Mama nya yang sedang menyenderkan kepalanya di dinding rumah sakit.
"Mah".Panggil Arumi membuat Mamah Fitri membuka mata nya.
Mata nya sembab kebanyakan menangis.
"Kamu datang Rumi,Mamah takut Rumi".Air mata Mamah kembali bercucuran.
"Kejadiannya gimana Mah ? Terus apa kata dokter ?".Tanya Arumi juga menangis.
"Kita tunggu dokter dulu ya sayang,Mamah masih belum bisa menceritakannya".Ujar Mamah Fitri kembali menyadarkan tubuhnya.Arumi memeluk Mamah nya dengan erat.Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain.
"Keluarga Pak Arif ?".Tanya Dokter paruh baya itu.
"Saya istrinya Dok".Jawab Mamah Fitri berusaha bangkit dari duduknya.
"Mari berbicara di ruangan saya Bu".
"Saya aja Dok yang pergi ke ruangan Dokter.Mamah disini aja,Mamah masih lemas.Lagi pula Abah lebih butuh Mamah disini".Ucap Arumi.
Dia kasihan melihat kondisi tubuh Mamahnya yang lemas,belum lagi mendengar kabar yang entah bagus atau buruk.
"Baiklah Rumi,Mamah tunggu disini".
Arumi berjalan mengikuti dokter itu menuju ke ruangan dokter.
__ADS_1
...****************...
Arumi keluar dari ruangan dokter itu dengan langkah tertatih.Dia merasa hancur mendengar ucapan dokter itu.Entah apa yang akan dikatakannya pada Mamahnya,dirinya takut jika berterus terang akan membuat sang ibu makin sedih.Tapi kalau tidak diberitahui,Mamahnya pasti akan mendesaknya,juga pasti Mamahnya itu akan tahu juga akhirnya.
"Rumi".Panggil seseorang dari belakang Arumi.
Arumi menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.Terlihat Fatih yang berjalan ke arahnya.
"Kak Fatih".Lirih Arumi.
"Aku tadi ke restoran tapi kamu gak ada,di rumah kata Bibi Asih Mamah dan kamu kemungkinan disini.Menangislah tapi kamu gak boleh menunjukkan air mata kamu itu di depan Mamah dan Abah".Ucap Fatih.
Mendengar ucapan Fatih itu,Arumi menuju taman yang tak jauh dari tempatnya.Tak enak rasanya menangis di lorong yang banyak orang juga takut menganggu orang yang sakit.
Fatih mengikuti Arumi dari belakang menuju taman rumah sakit itu.
Sesampainya di sebuah kursi kosong,Arumi duduk dengan tangan yang menutup wajahnya.
Arumi menangis hampir dua puluh menit,Fatih sama sekali tak menganggu Arumi yang sedang memgeluarkan sesak dalam dadanya.
Sampai Arumi mulai tenang dan menghentikan tangisannya.
"Kamu mau cerita ?"Tanya Fatih setelah melihat Arumi yang mulai tenang.
"Aku gak tahu gimana ceritanya Kak,tapi aku tadi di restoran di telepon Mamah untuk ke rumah sakit karena katanya Abah jatuh di kamar mandi.Sampai aku kesini,kata dokter Abah kena serangan jantung.Dan sebenarnya Abah sudah sering konsultasi dengan Dokter syafii untuk operasi pemasangan ring jantung,mungkin Abah sudah beberapa kali merasakan jantungnya sakit tapi aku sama sekali tidak mengetahui sakit Abah itu Kak.Aku ngerasa gak becus jadi anak,aku bahkan gak sadar kalau Abah saat ini sedang menahan sakitnya.Dan kata Dokter saat ini akan dilakukan operasi untuk membuka penyumbatan pembuluh darah di jantung".Ujar Arumi masih dengan air matanya yang mengalir.
"Rumi,kamu bukan gak becus jadi putri Abah.Tapi mungkin Abah gak ingin kamu khawatir.Sekarang kita disini harus kuatkan Mamah,ayo kita ke dalam.Mamah tadi sendirian,aku sudah panggil Mama kesini taoi mungkin masih dijalan".
Fatih dan Arumi pun kembali ke UGD.Terlihat Mamah Fitri masih menyenderkan kepalanya di dinding rumah sakit dengan mata terpejamnya.
Arumi berusaha menguatkan dirinya,tangannya menghapus air mata yang sesekali masih keluar.
"Kamu kuat Rumi demi Mamah dan Abah".Ucap Fatih berusaha menguatkan Arumi.
"Iya Kak".
__ADS_1
Arumi berjalan mendekat ke arah Mamahnya.Mamah Fitri terbangun mendengar suara langkah kaki yang mendekat.Terlihat Arumi berjalan ke arahnya bersama Fatih.
"Apa kata dokter Rumi ?".Tanya Mamah Fitri