
Di Kediaman Furqan
"Fur... entar malam kamu jangan kemana-mana!"
"Memangnya kenapa, Bu?"
"Ibu akan memperkenalkan kamu dengan seorang wanita. Dia cantik, berpendidikan dan karirnya sangat bagus. Ibu ingin menjodohkan dia denganmu. Kamu pasti akan langsung jatuh cinta padanya!" ucap Bu Fani meyakinkan putranya.
"Ibu yakin kalau Furqan nanti akan menyukai wanita itu?!" Susi meragukan ibunya.
"Ibu yakin, Sus! Furqan selalu nurut apa kata Ibu!" ucap Bu Fani sambil melirik putranya.
"Aku akan pulang lebih awal!" jawab Furqan pada ibunya. Mendengar jawaban itu, Bu Fani merasa telah mendapatkan lampu hijau untuk wanita pilihannya.
"Tapi aku g yakin, Bu!"
"Itu kamu, bukan adikmu. Hanya kamu dirumah ini yang g nurut sama Ibu!"
"Mengapa aku nurut sama Ibu? karena Ibu bawaannya selalu memaksakan kehendak, g perduli sama perasaan aku, aku suka atau tidak, ibu g perduli kan?!"
"Bu! mengapa bahas itu di meja makan sih? selera makanku jadi hilang ni!" Fiona protes dengan apa yang dilakukan ibunya.
Furqan secepat mungkin menghabiskan sarapannya agar segera menjauh dari obrolan yang hanya akan menghabiskan waktunya. Ia segera meninggalkan meja makan yang membosankan itu. Melihat Kakaknya meninggalkan meja makan, Fiona pun berlari mengikuti kakaknya.
"Kak, tunggu! aku numpang ke kampus ya, aku malas bawa mobil!"
"Lalu, siapa yang akan jemput kamu?"
"Aku naik bis aja".
"Hahaha! kamu, naik bis? kakak g yakin itu."
Fiona tak perduli dengan ucapan kakaknya. Dia duluan masuk ke mobil, di susul oleh kakaknya.
"Berangkat, pak!" perintah Furqan pada sopirnya.
"Baik, tuan!"
"Dalam perjalanan ke kampus Bina Jaya, Furqan menanyakan perihal naik bis pada adiknya.
"Fio... apa kamu yakin mau naik bis?"
"Emangnya kenapa kak dengan bis? bis juga bisa membawaku ketempat tujuanku kan?!"
"Tapi, kamu ini kan anak manja?!"
"Semanja-manjanya aku, tapi tidak seperti kak Susi. pasti kakak bisa melihat perbedaan kami berdua. Aku capek kak, ngikutin keinginan Ibu yang kadang tak masuk akal dan suka menghina orang yang tidak di sukainya!"
"Kakak lihat, kamu nurut sekali sama Ibu?!"
"Soalnya aku malas dengar Ibu ngamuk-ngamuk."
Merekapun sampai depan kampus. Sebelum turun, Fiona salaman dengan kakaknya dan mengingatkan kakaknya untuk tidak memberi tahu Ibunya tentang dia yang naik bis. Saat keluar dari mobil, seseorang berteriak memanggil nama adiknya.
"Fio...!"
Furqan memperhatikan dari dalam mobil. Sepertinya anak itu teman dekatnya Fiona?! tanya Furqan pada dirinya sendiri.
"Siapa yang tuan perhatikan?" tanya pak Min sopir pribadinya.
"Laki-laki yang menunggu Fiona di depan sana, pak!"
"Ooo dia! Saya tahu siapa dia, tuan!"
"Siapa?!"
"Namanya Fardan, anak teman saya. Kebetulan kami bertetangga. Anaknya sangat baik, patuh dan hormat pada orang tua," jelas pak Min.
"Sudah kalau begitu, kita langsung ke kantor!"
"Baik, tuan!" Pak Min segera melajukan mobilnya menuju kantor. Sementara Furqan menelpon Aldi agar menemuinya di kantor.
15 menit berlalu, Furqan sampai di kantor. Ia segera keruangannya. Saat sedang memeriksa berkas yang ada di atas mejanya, tiba-tiba ada yang nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Siapa lagi kalau bukan Herman.
"Pagi, bro!" Herman menyapa Furqan tanpa merasa bersalah.
"Pagi juga!"
"Gini, Fur! Aku datang ke mari ingin membahas pembatalan kerja sama yang kau kirimkan ke padaku. Kamu tidak serius kan?!"
"Maksud kamu?!"
"Kita berdua adalah teman sejak kecil, apalagi orang tua kita juga berteman, sudah pasti kamu tidak akan tega melakukan itu pada perusahaanku."
"Aku serius melakukannya, bahkan aku pastikan kalau perusahaanku tidak akan pernah berhubungan dengan perusahaanmu!" tegas Furqan pada Herman.
"Tapi, apa alasannya?"
"Kamu tidak merasa kalau kamu melakukan kesalahan?!"
"Aku tidak melakukan apapun!" elak Herman
Furqan menyodorkan gawainya pada Herman saat di rumah makan.
"Ini masalah kecil, Fur! tidak ada hubungannya dengan kerja sama kita."
"Itu menurutmu. Kamu tahu kalau rumah makan itu milik teman kita, tapi kenapa kau malah mengacau di sana?!"
"Itu urusan pribadiku, tak ada hubungannya dengan perusahaan."
"Tetap ada, Herman! Kamu adalah seorang CEO dan merupakan pewaris tunggal Agung Pratama. Tapi sayangnya kamu melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang berkedudukan tinggi. Kamu tahu? akibat ulahmu, rekan kerja menanyakan apa Putra Jaya bekersama dengan Agung Pratama? Aku tidak mau ambil resiko, Her! sebelum mereka kecewa denganku, lebih baik aku mengambil tindakan lebih cepat, dengan nemutuskan hubungan kerja sama kita. Aku harap kamu bisa paham maksud dan tujuanku!"
"Itu hanya alasanmu saja! aku tahu, kau hanya mengancamku kan?!"
"Maya...!"
"Iya, pak!"
"Berikan berkas yang harus ditandatangani Agung Pratama!"
Maya memberikan berkas yang harus ditandatangi oleh Herman. "Silahkan tandatangan di sini!" perintah Maya.
"Aku tidak akan pernah tanda tangan, paham!" ucap Herman dengan kasar dan melemparkan berkas itu ke Maya.
"hmmmmm! sekalipun kau tidak tanda tangan, kerja sama kita tetap dibatalkan. Aku yang memutuskannya! jika tidak ada yang ingin kau tanyakan, silahkan tinggalkan kantor ini!" Furqan mengusir Herman dengan kasar.
Awas kau, Fur! aku akan membalasmu! bathin Herman. Kemudian, dia melangkah keluar meninggalkan ruangan Furqan.
Sepeninggal Herman, Furqan segera mengirimkan hasil keputusannya pada perusahaan Mitra Abadi yaitu sahabatnya Fendi sebagai CEOnya.
Brengsek! bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan sekarang? Herman berbicara sendiri dan menyita perhatian karyawan.
__ADS_1
"Itu kan CEO perusahaan Agung Pratama?" tanya Vania pada teman kerjanya.
"Iya, sepertinya dia sedang kesal. coba perhatikan wajahnya, seperti kena gigitan tawon, ha ha ha!"
Herman yang menyadari kalau dirinya yang ditertawakan, mendekati Vania dan yang lainnya. "Kalian cari mati, haaa!" Bentak Herman
Vania dan yang lain merasa ketakutan. Belum hilang rasa takutnya, mereka kembali dikagetkan dengan teriakkan seseorang.
"Ada apa ini?"
Vania menoleh ke arah suara, dan ternyata Aldi baru saja sampai. Saat masuk, ia mendengar suara bentakan. "Ini, pak! Pak Herman marah-marah g jelas," ucap Vania
"Pak Herman, ada apa?" tanya Aldi pura-pura baik
"Ajari mereka sopan santun, Di! dan ya, katakan pada Furqan aku tidak akan berhenti sampai di sini!" tegas Herman pada Aldi. Kemudian, Ia meninggalkan perusahaan Putra Jaya dengan kekecewaan.
tok! tok! tok!
"Masuk!" Furqan mempersilahkan Aldi masuk keruangannya.
"Sepertinya ada yang sedang terjadi?!"
"Semuanya sudah selesai! lalu informasi apa yang bisa kamu sampaikan hari ini?!"
"Informasi yang aku dapatkan, akan cukup mengagetkan Abang."
"Informasi apa?"
"Tentang perusahaan Agung Pratama. Perusahaan itu terus mengalami kerugian akibat ulah Herman. Dan, puncak dari kerugian itu adalah jika Abang memutuskan kerja sama dengan Agung Pratama, perusahaan itu akan bangrut. Herman di utus ayahnya untuk menyelesaikan masalah karena ulahnya. Sekarang ini, Agung Pratama hanya bergantung pada Putra Jaya dan Mitra Abadi. Abang harus waspada, dia pasti tidak akan tinggal diam!"
"Kemungkinan dia langsung menemui Fendi. Kesanapun dia tidak akan mendapatkan apa-apa!" tegas Furqan.
"Akhirnya, kita tidak harus kerepotan berurusan dengannya, karena dia suka memaksakan kehendaknya!" Aldi ikut lega karena keputusan Furqan.
di Negara lain
"Ma...cepat dong, nanti kita ketinggalan pesawat!" ucap Anggita pada mamanya.
"Iya, sayang! sabar doong!"
Hari ini, Anggita dan ibunya akan terbang ke Indonesia. Anggita dan keluarganya sementara tinggal di singapura. Anggita merupakan model kelas papan atas. Karirnya sebagai model sangat cemerlang. Anggita menjadi model bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri seperti Singapura, Inggris dan Italia. Karir yang cemerlang membuatnya menjadi wanita yang glamour. Anggita rela kehilangan hal lain asalkan bukan karirnya. Anggita mengikuti keinginan ibunya untuk dijodohkan dengan seorang laki-laki hanya karena laki-laki itu dari kalangan atas bahkan terkaya di negaranya sendiri dan terkenal sampai keluar negeri.
Anggita dan ibunya ikut penerbangan pagi, agar bisa istirahat dan mempersiapkan kedatangannya kerumah sahabatnya jika sudah sampai di tanah air. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tanah air. se tibanya di tanah air, mereka telah ditunggu sopir pribadi keluarganya.
Akhirnya, aku balik juga ke tanah air tercintaku, ucap Anggita dengan rasa bahagia.
Ibu Lidia tertawa melihat putrinya yang kegirangan setelah menginjakkan kakinya di tanah air. Ia tahu Anggita begitu cinta dengan Indonesia. Saking cintanya dengan Indonesia, ia pernah jambak-jambakan dengan temannya sesama model, karena temannya menghina Indonesia.
"Anggi, ayo nak! pak Mumun sudah nungguin kita!"
"Iya, Bu!"
Pak Mumun telah berdiri di samping mobil.
"Pagi, pak Mun! pak Mun sehat kan?"
"Alhamdulillah, Non!"
"Ayo pak Mun, kita berangkat! aku dah g sabar mau sampe rumah."
"Baik, Non!" Pak Mun segera melajukan mobilnya menuju perumahan elit Flamboyan.
"Pak Mun! mbok Minah sudah belanja keperluan di rumah kan?" tanya Bu Lidia pada sopirnya.
"Waaah...! aku ga sabar pengen cepat sampai rumah, Bu!"
"Sabar sayang, tuh rumah kita sudah kelihatan!"
Setelah sampai rumah, Anggi cepat keluar dari mobil, begitu pula ibunya. Mbok Minah berlari kecil dari dalam rumah menyambut majikannya. Ibu Lidia tersenyum melihat Mbok Minah yang senang dengan kedatangan mereka.
"Pagi menjelang siang, mbok Min!"
"Pagi, Non!" jawab mbok Minah sembari membungkukkan badannya.
Pak Mumun dan mbok Minah mengangkat barang bawaan Anggita dan ibunya ke lantai dua. Sesudah memasukkan semua barang ke dalam kamar Anggita dan ibunya, mbok Minah dan pak Mumun segera turun ke bawah untuk kembali bekerja. Meja makan sudah tersedia makanan yang akan di santap oleh sang majikan.
Anggita dan Ibunya telah menggunakan baju santai dan menuju meja makan. Anggita sangat berselera dengan masakan buatan mbok Minah. Mereka makan dengan lahap. selesai makan, keduanya duduk santai di balkon memandangi hijau dan asrinya wilayah Flamboyan.
"Bu...jam berapa kita kerumah teman ibu?"
"Selesai magrib, sayang! kenapa? g sabar ya mau bertemu sang pangeran?!" Bu Lidia meledek putrinya.
"Bukan hanya itu, Bu! tapi aku ingin segera keliling Indonesia selagi aku di sini."
"Hentikan dulu kebiasaanmu menghambur-hamburkan uang, nak! usia kita akan terus bertambah, dan kita tidak tahu, apakah esok hidup kita akan terus seperti ini atau akan berubah?!"
Bu Lidia tidak pernah bosan menasehati putrinya yang sangat boros soal keuangan. Dia hanya ingin agar putrinya bisa hidup lebih tenang dan bahagia. Tidak seperti sekarang,Anggita sibuk dengan karir hingga lupa untuk istirahat.
"Bu...hidup itu harus dinikmati. untuk apa mencari materi kalau hanya untuk disimpan?"
"Ibu tahu, sayang! tapi tak selamanya kita berada dalam kejayaan, jika Allah berkehendak kita bisa miskin saat ini juga!"
"Udah Bu! Anggi malas bahas gituan. lebih baik aku istirahat dikamar saja!" Anggi meninggalkan ibunya sendirian da memilih istirahat di kamar. Bu Lidia hanya bisa geleng kepala mendengar perkataan putrinya.
Malam hari
"Halo, jeng! jadi datang kan?" tanya Bu Fani melalui telepon seluler
"Jadi dong! 15 menit lagi kami berangkat!"
"Aku tunggu, ya!"
"Anggi...ayo nak, Tante Fani sudah menunggu kita!"
Anggi keluar menemui ibunya didepan kamarnya. "Aduh...anak ibu, sangat cantik!" celetuk Bu Lidia.
Anggita menggunakan dress selutut warna maroon yang serasi dengan kulitnya yang putih mulus. Kalung dan anting berlian yang dikenakannya menambah kecantikannya semakin mempesona. Semua yang dikenakan Anggita bernilai ratusan juta.
Ibu dan anak segera masuk mobil, dan meluncur menuju kediaman Furqan. Tak lama kemudian, mereka sampai depan rumah Furqan dan membunyikan klakson mobil agar Terdengar oleh penghuni rumah. Satpam yang berjaga segera membuka pintu pagar dan mempersilahkan mereka masuk.
Bu Fani menunggu di depan pintu. Anggita dan ibunya keluar dari mobil dan menemui pemilik rumah.
"Hai, jeng! apa kabar? kangen aku sama kamu!" ucap Bu lidia sambil cipika cipiki dengan sahabatnya.
"Apalagi aku, kangen berat sama kamu. dah terlalu lama kita g ketemu!" ucap Bu Fani.
Setelah berpelukan dengan sahabatnya, Bu Fani menoleh pada Anggita.
"Malam Tante!"
"cantik sekali kamu, nak! sangat sempurna." ucap Fani penuh pujian.
__ADS_1
Sedang asyik ngobrol, mereka dikagetkan dengan bunyi klakson mobil. Furqan baru pulang dari kantornya.
"Itu anak Tante!"
Furqan keluar dari mobil dan menyambangi tamu ibunya. "Malam Tan!" ucap Furqan
"Malam, Fur! aduh... anakmu makin ganteng aja jeng!"
"Siapa dulu dong, anakku!" Bu Fani melontarkan pujian untuk dirinya sendiri.
Anggita yang berdekatan dengan Furqan, hatinya menjadi g karuan. ternyata laki-laki yang akan dijodohkan dengannya sangat tampan dan sangat kaya raya. Sedangkan Furqan biasa saja, seolah-olah tak melihat orang.
Aku beruntung banget bisa dijodohkan denganmu, bathin Anggita
"g diajak masuk ni!"
"Aduh..., lupa jeng, keasyikan ngobrol. Ayo semua, kita masuk ke dalam!" ajak Bu Fani yang baru menyadari keadaan.
Semua sudah berada dalam rumah. "Fur! kenalin ini putrinya sahabat ibu."
Furqan mengulurkan tangannya pada Anggita.
"Furqan!"
"Anggita!"
"Fur. .ayo cepat ganti pakaianmu, setelah itu turun kita makan bersama!" perintah Bu Fani pada putranya
Furqan segera naik dan masuk ke kamarnya. selesai ganti pakaian dan menggunakan pakaian santai membuatnya kelihatan sangat cool. Ia segera turun dan berbaur dengan tamunya di meja makan. Anggita makin tergila-gila dengan Furqan.
Siska dan Fiona diam saja melihat ibunya yang sibuk dengan tamunya.
"oh ya jeng, karir Anggita sangat memuaskan ya, dan dia makin cantik! Apa dia sudah punya pacar?" tanya Fani.
"Anggi belum ada pacar, Tante!" Anggita secepat kilat menjawab meskipun bukan dia yang ditanya.
Lidia menginjak kaki putrinya di bawah meja. Jawaban spontan putrinya membuatnya malu pada Furqan. Anggita tersenyum menahan sakit, dan matanya menatap Furqan penuh cinta.
"Jangan terlalu menatap adikku seperti itu, nanti dia ilfil denganmu!" Siska mengingatkan Anggita yang terlalu menampakkan cintanya pada Furqan. Teguran itu tak membuat Anggita tersindir.
"Baguslah kalau nak Anggi belum memiliki kekasih! Tante akan menjodohkanmu dengannya!" ucap Bu Fani seraya menoleh pada putranya
Furqan tetap diam dan acuh terhadap apa yang dilakukan ibunya. sejenak ia memperhatikan Anggita. Anggita menyadari perhatian sang pujaan.
"Bagaimana Fur, kamu setujukan dengan Ibu?"
Semua terdiam tatkala Furqan menoleh kearah Anggita. "Apa yang lebih penting dalam hidupmu, sekarang maupun ke depan?" Furqan bertanya pada Anggita.
Karena terlalu bahagia, Anggita menjawab tanpa berpikir apakah jawabannya tepat atau akan membuatnya kehilangan tambang emas yang telah lama didambakannya.
"Karirku, ya karirku! aku memulai karir dari nol, jadi aku harus mempertahankannya!"
"Meskipun telah bersuami nantinya?!"
"Iya, semuanya kan bisa dibicarakan dengan pasangan. Yang jelas keduanya harus berjalan!"
"Kalau nanti suamimu melarang?"
"Jangan dong! justru harus mendukungku. Menjadi model adalah impianku sejak dulu!"
"Jika nanti kamu memiliki anak, kemudian terjadi musibah dimana ada anak dan orang tuamu, siapa yang lebih dulu kamu selamatkan?" Furqan terus memberikan pertanyaan.
"Anakku! aku akan menyelamatkan anakku, karena aku yang melahirkannya. setelah itu, aku selamatkan juga orang tuaku!" Anggita terus menjawab tanpa berpikir panjang.
"Bu, Tante! dari jawaban yang diberikan Anggita atas pertanyaanku, aku sudah punya keputusan tentang perjodohan ini."
"Berikan ponselmu!" Furqan meminta handphone Anggita. Anggita mengira kalau Furqan akan menyimpan kontaknya di handphonenya. Anggita menyerahkan ponselnya dan Furqan meletakkan ponsel itu didepanmya.
"Habiskan dulu makanannya, tidak baik bicara terus sambil makan!"
Susi merasa ada yang aneh dengan Furqan. G biasanya Furqan banyak bicara ketika di meja makan, begitu pula dengan Fiona. Fiona menatap kakaknya dengan intens. Fani tak curiga dengan perubahan sikap Furqan. Fani mengira kalau Furqan akan menerima perjodohan ini.
Semua telah menyelesaikan makan malamnya dan kembali keruang tengah untuk melanjutkan obrolan tentang perjodohan Anggita dan Furqan.
"Bagaimana jeng, apakah nak Furqan benar-benar setuju dengan perjodohan ini?" Lidia mencari kejelasan dari rencana mereka.
"Jangan khawatir, putraku selalu mengikuti keinginanku! Anggita pilihan yang tepat untuk putraku. Selain cantik, Anggita juga memiliki karir yang cemerlang. Seorang CEO perusahaan besar, harus memiliki pendamping yang cantik, mapan dan tentunya bisa menempatkan diri ketika bertemu kolega-kolega perusahaan seperti putrimu!" Fani memuji Anggita dan membuat Lidia semakin yakin kalau putrinya akan menjadi menantu diistananya Furqan.
"Kak, ke atas yuk! malas mendengar mereka," Fiona mengajak Susi untuk menjauh.
"Ayo!" Mereka berdua ke lantai atas dan duduk santai diruangan yang dikhususkan untuk bersantai. Tapi mereka berdua tetap bisa memantau keadaan dari atas.
"Aku malas mendengar Ibu yang sejak tadi memuji Anggita. Aku memang setuju Furqan dijodohkan, tapi tidak dengan seorang model. Ibu malah membawa model itu kerumah ini. Kamu lihat wajahnya kan? senyam senyum sendiri macam orang gila. Kita taruhan, apakah Furqan terima perjodohan ini atau tidak? taruhannya, siapa yg menang akan menerima uang 100 juta dari yang kalah, oke!"
"Baiklah! Aku pilih, tidak!" jawab Fiona.
"Aku pilih, diterima. Karena Furqan g akan pernah bisa membantah ibu. Kamu ingat g, waktu Furqan macarin anak pengusaha properti itu, mereka putus karena Ibu kan? siapkan hadiahnya!" Siska merasa kalau dia akan memenangkan taruhan.
waktu menunjukkan pukul 9 malam. Furqan ingin secepatnya istirahat. Furqan mengetik pesan di handphone Anggita yang ada ditangannya. Kemudian, ia kembalikan kepada Anggita . "Jangan baca dulu pesan yang aku ketik di ponselmu, tunggu sampai aku ke atas!" Setelah itu, ia kekamarnya di lantai dua.
Lidia dan Anggita penasaran, apa pesan yang diketik Furqan. sedangkan Fani tersenyum bahagia. Perlahan Anggita membuka kotak pesan dan matanya seakan ingin keluar dari tempatnya saat membaca isi pesan tersebut.
Aku tahu kamu cantik, mapan dan wanita karir, tapi sayangnya aku tidak membutuhkan wanita seperti itu. Apalagi jawaban atas pertanyaanku, sangat tidak tepat. Sesukses apapun seorang wanita, kodratnya tetaplah seorang istri dan harus nurut sama suaminya. alasanmu sudah membuatku kecewa, apalagi alasan lainnya, benar-benar mengecewakan. untuk itu aku putuskan, aku tidak ingin memiliki pendamping hidup seperti itu. Aku harap kamu ngerti.
Napasnya naik turun menahan emosi yang memuncak. Selama ini, tak seorangpun laki-laki yang menolaknya dan justru dirinya yang selalu menolak setiap ada yang ingin mendekatinya meskipun itu dari atas. Tapi sekarang, yang terjadi malah sebaliknya. Ia sudah berusaha tampil secantik mungkin demi ingin menarik simpati dari Furqan. Meskipun dia belum mengenalnya, tapi dari keinginan ibunya sudah pasti dia orang kalangan atas. Bibir bergetar, matanya terasa panas, ingin rasanya ia masuk kedalam vas bunga yang ada didepannya karena malu. Perlahan butiran bening meluncur mulus dipipinya. Cepat-cepat ia menyeka bening mutiara itu. Dirinya tidak ingin dilihat lemah dihadapan keluarga sahabat ibunya.
"Bu... ayo, kita pulang sekarang, g ada gunanya kita di sini!" Anggita mengajak ibunya pulang.
"Tapi, nak! ada apa? apa Furqan menolakmu lewat pesan diponselmu itu?" tanya Lidia pada putrinya. Yang dikhawatirkannya terjadi.
"Iya, Bu!" jawab Anggita menahan sesak di dada.
"Apa? Furqan menolakmu? Jeng, mana bukti dari ucapanmu, kalau putramu akan nurut padamu!" Lidia kaget dengan jawaban putrinya dan balik bertanya pada sahabatnya.
"Tenangkan dirimu, jeng! aku yang akan mengurus semuanya. Kamu tenang saja, ya!"
"Gimana aku bisa tenang, jeng! lihat putriku, dia rela meninggalkan pekerjaannya demi putramu, dan jeng meyakinkan kami. Ternyata semuanya sia-sia, aku kecewa padamu, jeng! Anggi, ayo kita pulang!" Lidia kecewa dan mengajak putrinya pulang.
Anggita dan ibunya segera meninggalkan kediaman Fani, sedang di dalam rumah ada yang kesenangan.
"Ayo, kak! jgn mikir ataupun protes, cepat transferkan uangnya kerekeningku!" Fiona mendesak kakaknya. Susi tak bisa berkutik. Uang 100 juta lenyap dalam hitungan detik.
Fani bingung harus ngapain. Baru kali ini Furqan tidak menuruti keinginannya.
Aku tidak boleh memaksa dia sekarang, lebih baik aku bujuk pelan-pelan saja. ini juga sudah larut, aku harus istirahat dulu, agar bisa berpikir jernih besok! gumam Fani
Anggita dan ibunya sampai dirumah. Anggita turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan cukup keras. Bu Lidia pun nyusul anaknya masuk ke dalam rumah. Anggita menjatuhkan dirinya di sofa dengan menahan tangis.
"Bu, gimana dong! aku g mau kehilangan Furqan. Aku menyukainya, Bu! aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya!"
"Tenangkan dirimu, Anggi! Ibu juga g habis pikir dengan Furqan, apa yang kurang darimu. Cantik, mapan dan sukses, apalagi yang dia cari?!"
__ADS_1
"Bantu Anggi, Bu!"
"Sudah, ini sudah larut, kita istirahat dulu! nanti baru kita pikirkan lagi. Ibu makin ngantuk mikirin kamu dan Furqan". Lidia meninggalkan putrinya yang sedang galau tingkat dewa. Anggita pun menuju kamarnya dengan pikiran dan perasaan kacau. Biar bagaimanapun, dirinya harus tidur untuk menetralkan hati dan perasaannya. Sebagian penghuni bumi telah menikmati indahnya mimpi dan meregangkan otot setelah bekerja seharian.