
Harta dan cinta, mampu membuat manusia lupa diri dan kehilangan hati nurani sehingga banyak yang saling membenci karena keduanya. Sadarnya Fani, Lidia dan Anggita adalah anugrah bagi Annisa. Tiada lagi kebencian karena cinta dan perbedaan kasta. Suatu hal yang membahagiakan, jika kita hidup tanpa permusuhan. Itulah motto hidup Annisa. Annisa duduk santai bersama Kania di balkon rumahnya.
"Nia...aku mau nanya, hal apa yang membuatmu bahagia?"
"Kamu nanya?" bukannya menjawab, Kania malah Bercanda.
"Aku serius Nia, jangan bercanda deh!"
"Maaf, maaf deh! aku jawab ya. Yang membuatku bahagia adalah ketika aku hidup damai, meskipun tak memiliki segalanya tapi orang disekitarku tak ada yang membenciku. Hidup seperti itu, bagaikan dunia ini milik sendiri".
"Tepat sekali. Untuk itu, kita tidak boleh membiarkan .orang lain membenci kita. Aku...!" Annisa tak melanjutkan ucapannya karena ponselnya berbunyi.
Kring kring kring
Annisa menerima panggilan diponselnya yang ternyata dari Furqan.
"Assalamualaikum!" sapa Furqan.
"Waalaikumsalam!"
"Kamu di mana sekarang?"
"Di rumah kak, ada apa?"
"Kamu janga ke mana-mana. Aku mau bertemu Bu Erina, Aldi dan Kamu. Ada yang ingin aku bicarakan!"
"Tapi ibu dan kak Aldi g ada di rumah. Mereka ke rumah bibi Fatimah. Kak Furqan telepon ibu atau kak Aldi saja!"
"Oke. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawab Annisa.
"Kak Furqan kenapa Nis?" tanya Kania.
"G tahu tuh. Katanya dia mau ke sini, mau ketemu ibu, aku dan Kak Aldi ingin membicarakan sesuatu".
"Sepertinya dia ingin segera menghalalkan hubungan kalian. Kak Aldi kan sudah menikah, jadi untuk apalagi lama-lama. Keburu tua baru tahu rasa!"
"Enak saja. Bilangin aku ke buru tua, kamu sendiri gimana?" tanya Annisa mengketutkan keningnya.
"Ia juga ya. Eh Nis, telepon Siska yuk, suruh dia kemari. Kita bincang-bincang soal...!"Kania tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa g dilanjutkan? soal apa?"
"Soal apa ya? aku lupa" Kania sendiri bingung.
"Makanya, kalau ngomong dipikir dulu. Belum nikah udah pikun, ha ha ha!" Annisa menertawai Kania.
"Ha ha ha!" Kania ikut tertawa.
"Siska pasti sibuk karena kak Aldi g masuk kantor hari ini".
"Benar juga. Dia kan suka sok sibuk". kata Kania bercanda.
__ADS_1
Kring Kring Kring
Ponsel Annisa berdering. Annisa mengangkat ponselnya. Aldi menghubungi Annisa setelah menerima panggilan dari Furqan.
"Assalamualaikum kak!"
"Waalaikumsalam! Nis...kamu ada kegiatan hari ini?"
"G ada kak, nih lagi nyantai sama Kania".
"Baguslah. Kami akan segera pulang, karena Furqan menelpon akan ke rumah. Ada yang ingin dia bicarakan dengan ibu, aku dan juga kamu".
"Oke kak, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Aldi menjawab salam Annisa dan mengakhiri obrolannya dengan Annisa.
Kemudian, Erina, Aldi dan Fitri kembali dari rumah Fatimah. Dua puluh menit kemudian, Aldi sampai di rumah dan di sambut Annisa. Sedangkan Kania menuju ke dapur karena kehausan.
"Furqan dalam perjalanan ke mari". ucap Aldi.
Belum Erina, Aldi dan Fitri duduk di sofa, klakson mobil Furqan sudah terdengar. Aldi menyambut Furqan di depan pintu. Kemudian, keduanya masuk dan duduk diruang tamu. Aldi memanggil Erina dan Annisa. Tidak lupa Annisa menyuruh mbok untuk membuat minuman dan membawa cemilan. Aldi memulai percakapan.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan Fur?" tanya Erina.
"Begini Bu, Al, saya ingin segera melamar Annisa. Sebelumnya Annisa beralasan, sebelum Aldi menikah dia belum mau dilamar. Sekarang, Aldi sudah menikah. Saya ingin segera menghalalkan Annisa Bu!"
Annisa kaget dengan ucapan Furqan.
"Benar Nis, ap yang dikatakan Furqan?" tanya Erina.
"Lalu...kamu sudah siap jika Furqan datang bersama orang tuanya?" tanya Erina.
"Kak...gimana ini?" Annisa panik dan bertanya pada Aldi.
"Kenapa nanya ke kakak? kan kamu sendiri yang janji ke Furqan. Janji adalah utang lho dek!"ucapan Aldi membuat Annisa salah tingkah.
Mau tidak mau, Annisa harus menyetujui keinginan Furqan.
"Ya udah deh, Aku siap!" jawab Annisa malu-malu.
"Kapan kamu akan datang bersama orang tuamu?" tanya Erina.
"Minggu depan. Kalau Minggu ini saya g sempat, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan dan saya harus mengurus izin untuk ibu dulu". jawab Furqan.
"Baiklah. Bagaimana Al, Nis?"
"Aku terserah ibu saja mana baiknya".
"Nis...bagaimana?"
"Terserah ibu saja, tapi sederhana saja ya Bu, aku g mau publik tahu!" pinta Annisa.
"Iya sayang, ibu tahu!" jawab Erina.
__ADS_1
"Semua sudah jelas. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Ayo Al, kita ke dalam. Dan kamu Nis, temani Furqan sebentar!" titah Erina.
Aldi dan Erina meninggalkan Annisa dan Furqan berdua di ruang tamu.
"Kenapa sih kak, buru-buru amat?"
"Kalau aku g buru-buru, kamu keburu digaet orang. Siapa yang g jatuh hati sama wanita idaman seperti kamu?"
"Kalau ngomong jangan berlebihan kak, g baik!"
"Aku g berlebihan, aku hanya bicara kenyataan dan itu tak bisa dipungkiri".
"Ada juga ya seorang CEO bicara g karuan dan suka mengada-ada. Udah sana pulang kak, jangan terlalu lama di sini. Aku banyak kerjaan sama Kania". ujar Annisa berbohong.
"Kamu sudah pandai berbohong juga rupanya. Ya sudah, aku balik dulu. Aku akan ke kantor sebelum mengurus izin mama. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawab Annisa.
Furqan meninggalkan kediaman Aldi. Kania muncul dari belakang dan mengagetkan Annisa.
"Benarkan dugaanku kalau kak Furqan akan melamarmu!" ucap Kania dari arah belakang.
"Aduh...kamu ngagetin aja. Salam dulu kek, apa kek. Aku bisa jantungan tahu!" Annisa omelin Kania.
"Yah, gitu aja kaget. Makanya kalau berduaan jangan lupa diri, kagetkan jadinya!"
Annisa melempar Kania dengan bantal sofa.
"Terus, acaranya kapan?" tanya Kania.
"Minggu depan, kenapa?" tanya Annisa.
"G. aku nanya aja".
Tanpa memperdulikan Annisa, Kania menghubungi Egi, Hendra dan Siska. Kania mengabarkan kepada sahabat-sahabatnya tentang waktu pertunangan Annisa dengan Furqan.
"Yang benar kamu Nia?!" tanya Siska penasaran.
"Ngapain aku bohong. Kak Furqan baru aja pulang dari sini. Kalian bertiga harus standbay di sini". jawab Kania.
"Halo Gi, Hend...kita segera ke rumah Annisa. Pertunangan ini harus diadakan semewah dan semeriah mungkin, oke!" ucap Siska lewat sambungan konferensi.
"Sebenarnya yang mau tunangan siapa? Annisa saja belum menghubungi kita. Dan...belum tentu Annisa mau dengan acara seperti yang dikatakan Siska. Lagian, acaranya seminggu lagi. Ngapain kita ke sana lebih awal, mau bergosip ya? Menurut kamu gimana Hend?" tanya Egi.
"Betul itu. Heran aku sama dua perempuan ini". jawab Hendra.
"Sudah ya, kami kerja dulu. Dan ya, Jangan telepon sebelum ada perintah dari kak Aldi dan ibu Erina, ngerti! gangguuuu aja". Egi memperingatkan Kania dan Siska sekaligus mengakhiri sambungan ponselnya.
"Halo...Egi, Hend, halo...!" Kania memanggil-manggil Egi dan Hendra tapi tak ada jawaban.
"Sis...mereka sudah off".
"Brengsek benar tu cowok-cowok. awas aja kalau ke temu, akan kulempar mereka kejalanan!" Siska marah karena Egi dan Hendra buru-buru mengakhiri panggilan.
__ADS_1
"Ha ha ha, kalau kau lempar mereka kejalanan yang rugi juga kamu say. Yang benar saja kalau ngomong,ha ha ha!" Kania terus menertawai Siska.
Siska pun memutuskan untuk mengakhiri obrolan karena kesal dengan Kania, Egi dan Hendra. Kania terus tertawa dengan sikap sahabat dan kekasihnya. Setelah itu, Kania menemui Erina untuk menanyakan persiapan acara. Erina, Aldi dan Kania mulai mendiskusikan siapa saja yang akan diundang. Karena hari sudah siang, Erina, Aldi dan Kania memilih istrihat dan akan dilanjutkan esok hari.