Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Nona Kecil kembali


__ADS_3

Hari berlalu, bulan berganti. Sudah lima bulan tugas Annisa mengantarkan paket makanan. Furqan masih belum bisa menaklukkan wanita pujaan hatinya. Sementara, Anggita terus menerus memikirkan cara untuk mendapatkan Furqan. Ia rela kehilangan pekerjaannya di Italia demi usahanya mendapatkan emas.


Tidak masalah pekerjaanku di Italia dibatalkan, yang penting aku bisa mendapatkan tambang emas yang bisa menjamin hidupku tujuh turunan. Toh, aku masih bisa kembali ke Singapura untuk kontrakku bulan depan, gumam Anggita.


Anggita meninggalkan ibunya sendirian dan pergi ke kantor Furqan. Sesampainya di kantor Furqan, Anggita langsung menuju lift khusus petinggi perusahaan. sekurity menahannya untuk pindah ke lift yang lain.


"Maaf, Nona! Anda tidak boleh lewat sini. Ini khusus petinggi perusahaan. Silahkan Nona ke lift yang ada di sebelah kiri Nona!"


"Kamu g tahu siapa saya?" tanya Anggita pada sekurity


"Memangnya nona siapa?"


"Saya tamu bos kamu, paham!"


"Siapa nama Nona? supaya kami laporkan kepada bos kami!"


"Tidak perlu! Saya sudah diberi akses oleh pemilik perusahaan ini, Nyonya Fani. Kamu tahu siapa beliau kan? Jadi, jangan menghalangi saya untuk bertemu dengan bosmu. Tapi, kalau kamu masih tidak percaya juga, saya akan menelponnya!" ancam Anggita yang membuat sekurity sedikit ketakutan. Semua tahu bagaimana sikap Fani jika keinginannya di lawan. Sekurity menatap Anggita.


"Sudah boleh saya ke atas?"


"Silahkan, Nona!"


Baru saja Anggita ingin melangkahkan kakinya ke dalam lift, seseorang menahannya.


"Tunggu!" Aldi yang kebetulan baru datang menahan Anggita.


"Anda hendak ke mana?" tanya Aldi penuh selidik


"Bertemu CEO perusahaan ini. Dia calon suami saya. Sebaiknya kalian minggir, jangan menghalangi saya untuk menemui dia!"


"Sejak kapan Anda terdaftar jadi calon istri CEO perusahaan ini?! yang saya tahu, dia belum memiliki calon istri." Aldi menanyakan status Anggita


"Sebaiknya Nona diam di sini! Saya akan menghubungi CEO yang Anda maksud." Aldi menghubungi Furqan.


Furqan yang sedang memeriksa laporan dikagetkan dengan ponselnya yang bergetar. Ia hentikan pekerjaan sejenak dan mengangkat gawainya.


"Halo, pak CEO! calon istri bapak yang bernama Anggita, akan keruangan bapak sekarang juga."


Anggita yang ingin berteriak memanggil Furqan di cegat oleh Aldi.


"sssssst, jangan bersuara atau saya suruh sekurity menyeret anda keluar!" ancam Aldi.


"Siapa yang menyuruh wanita itu datang ke kantorku? siapa yang berani mengatakan kalau dia calon istriku? suruh dia pulang, atau kalian semua yang ada di situ saya pecat!" Furqan murka karena mendengar sebutan calon istri.


"Baik, pak!"


"Apa Nona dengar dengan jelas apa yang dikatakan calon suaminya? silahkan tinggalkan kantor ini sebelum Nona di usir!" tegas Aldi pada Anggita yang ngotot ingin menemui Furqan.


"Awas kamu! akan aku laporkan ke Tante Fani." Anggita balik mengancam Aldi. Setelah itu dia keluar meninggalkan kantor dengan kesal.


Aldi langsung menuju ruangan Furqan dan meledek sepupunya itu..


"Bang, kenapa g bilang-bilang sih kalau sudah ada calon istri! Kalau aku tahu, aku akan suruh Annisa menjauh darimu. Dan...!" Sebelum Aldi melanjutkan ucapannya, sebuah map telah melayang ke wajahnya. Tentu saja reaksi Furqan hanya membuat Aldi menertawakannya.


"G ada gunanya Abang menyerangku kalau Annisa tidak bisa Abang dapatkan. Abang beneran serius g sih sama gadis itu? kalau Abang serius, aku akan membantu Abang untuk mendapatkan hatinya. Aku ingin dia mendapatkan yang terbaik, yang bisa menjaga dan melindunginya!"


"Itulah yang aku tanyakan beberapa yang lalu, tpi kalian malah menertawakanku. Aku berikan waktu sampai besok, jika kamu gagal kamu g perlu bekerja lagi di kantor ini, bagaimana?!"


"Oke! tapi ini tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaanku. Aku memang ingin orang seperti Abang yang akan menjadi pendampingnya."


Deringan gawai Furqan membuat mereka menghentikan obrolan. Furqan melihat nama siapa yang tertera di layar handphonenya.


"Ayo angkat! pasti calon istrimu melapor padanya." ucap Aldi


"Halo, Bu!"


"Fur... kenapa kamu melarang Anggita ke kantor, ibu yang menyuruh dia menemuimu. Dia itu calon istrimu, perlakukan dia dengan baik, sayang! Ibu g mau tahu, Anggita akan sering menemuimu di kantor."


"Kalau Ibu tetap pada keinginan Ibu, Aku pun akan tetap pada keinginanku. Maafkan Furqan, kalau nanti Ibu merasa aku melawan dan tidak menuruti Ibu. Sudah cukup Ibu mengatur dengan siapa Aku harus menikah, aku punya pilihan sendiri, Bu! Berhentilah Ibu memaksaku dengan wanita kuntil anak itu!"


"Furqaaan...! jaga ucapanmu. Pilihan Ibu adalah yang tepat untukmu," Fani marah dan memutuskan obrolannya.


"Bagaimana dengan bibi Fani? aku khawatir jika kamu dengan Annisa bersama, bibi Fani pasti akan melakukan apapun untuk memisahkan kalian. Aku g akan diam jika hal itu terjadi, bang!"


"Aku bukan Furqan yang dulu. Soal lain, ibu boleh ikut campur, tapi soal pendamping hidupku, akulah yang menentukannya."

__ADS_1


"Aku pegang kata-katamu." Aldi meyakinkan Furqan. Mendengar ucapan Aldi, Furqan merasa ada sesuatu yang disembunyikan Aldi darinya. Tapi, Furqan ragu untuk menanyakannya.


Pembahasan tentang jodoh mereka sudahi dan melanjutkan pekerjaan kantor. Sementara di rumah Aldi, Annisa sibuk membuat kue bersama mbok Minaiya. Annisa sudah dekat dengan pekerja yang ada di rumah kakaknya. Mereka pun senang karena dihormati dan dihargai oleh majikannya sendiri. Seperti g ada perbedaan diantara mereka. Semua kue sudah jadi termasuk kerupuk kesukaan Annisa. Setelah semua disimpan ditempatnya masing-masing, Annisa permisi untuk mandi.


"Mbok, Ema! Aku mandi dulu, kotor nih!"


"Iya, Non! cepat sana mandi." Mbok Minaiya menyuruh Annisa agar segera mandi.


Annisa naik ke kamarnya dan segera mandi. 10 menit kemudian, mbok Minaiya naik ke lantai dua hendak ke kamar Annisa. Mbok Minaiya masuk dan meletakkan toples kerupuk di atas meja kec yang di kamar Annisa. Annisa Keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Ketika mbok Minaiya berbalik, dirinya syok dengan apa yang dilihatnya di punggung sebelah kanan Annisa. Air matanya seketika meluruh tanpa ada adegan menyedihkan. Jelas Annisa kaget dibuatnya.


"Mbok, kenapa menangis?"


Mbok Minaiya terus mengeluarkan air matanya seolah ada kesedihan yang mendalam yang menyelimuti dirinya. Perlahan dia menatap Annisa dan membelai pipi Annisa.


"Akhirnya Nona kecil kembali kerumah ini!"


"Nona Kecil siapa, Mbok?"


"Non! apakah di punggung Nona itu tanda lahir?"


"Selain di punggung non, apa masih ada di bagian lain?"


"Ada mbok, dua tahi lalat kembar di paha kiri."


"Aku g tahu kalau aku memiliki tanda lahir. Ibuku yang memberitahu. Akupun memeriksanya di cermin, ternyata benar aku memiliki tanda lahir. Tanda lahirku cantikkan, mbok? Kalau di paha aku bisa lihat sendiri, mbok! Tapi kenapa mbok nangis dan mengatakan "akhirnya nona kecil kembali ke rumah ini?! sebenarnya ada apa sih, mbok?!" Annisa terus bertanya tentang maksud ucapan mbok Minaiya.


Mbok Minaiya tidak menjawab pertanyaan Annisa. Justru dia bertanya lebih jauh tentang Annisa.


"Apa kedua orang tua Nona bernama Darmawan dan Marliana?!"


"Kok, mbok tahu nama orang tua saya?"


Bukannya menjawab pertanyaan, mbok Minaiya malah nangis terisak-isak. Annisa panik dan menelpon kakaknya.


Ponsel Aldi yang ada di atas meja Furqan bergetar. Aldi segera mengangkat gawainya dan menjauh dari Furqan.


"Assalamualaikum! ada apa, dek?"


"waalaikumsalam! Kak, cepat pulang, Mbok Minaiya nangis terus kak, g tahu kenapa?!"


"Iya, iya, kakak pulang! Jaga dia ya!"


Aldi menutup teleponnya dan meraih kunci mobilnya. Ia berlari meninggalkan Furqan sendirian. Furqan bingung dengan sikap Aldi yang terburu-buru seperti ada sesuatu yang terjadi.


Aldi sampai di rumahnya dan segera turun dari mobil. Ia masuk ke rumah dan naik ke kamar adiknya. Aldi nyelonong saja tanpa ketuk pintu. Ia melihat mbok masih terisak-isak dan menyandarkan kepalanya di bahu Annisa. Melihat siapa yang datang, mbok Minaiya semakin terisak-isak. Aldi dan Annisa bingung harus berbuat apa.


"Mbok, mbok kenapa menangis? apa ada keluarga mbok yang meninggal?" Aldi bertanya pad mbok tentang penyebab ia menangis. Mbok menyeka air matanya dan menyuruh Aldi mengambil sebuah kotak kecil yang ia simpan dalam lemarinya. Aldi turun dan langsung mencari kotak tersebut. Lalu Aldi kembali ke kamar Annisa dengan membawa kotak tersebut.


"Ini, mbok!"


Mbok Minaiya mulai tenang. Perlahan ia buka kotak kecil itu. Aldi dan Annisa penasaran dengan isi kotak tersebut dan menanyakannya langsung pada mbok Minaiya.


"Mbok...sebenarnya apa yang ada dalam kotak itu?!" tanya Aldi


Tanpa menjawab, mbok memperlihatkan sebuah foto dua orang anak kecil pada Aldi. Aldi makin bingung dengan apa yang mbok perlihatkan.


"Ada apa dengan foto ini? siapa dua orang anak ini, mbok?!" Aldi bertanya lagi.


Dengan terbata-bata karena menahan tangis, mbok menjawab pertanyaan Aldi. "Kalian berdua."


"Kami berdua? maksudnya apa ini, mbok?!" Aldi semakin penasaran.


"Anak laki-laki yang di foto ini adalah tuan Muda dan anak perempuan itu adalah nona kecil, non Annisa!" jawab mbok minaiya.


"Apa? mbok, tolong jelaskan apa maksud dari semua ini?! Annisa bingung, mbok!"


Mbok Minaiya yang sudah tenang mulai menceritakan kejadian 26 tahun silam. Sudah saatnya ia menceritakan semuanya kepada Aldi dan Annisa.


"26 tahun yang lalu, tuan besar dan nyonya besar memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun lebih. Tuan besar memiliki seorang sahabat yang selalu bersamanya suka maupun duka. Namanya tuan Darmawan dan nyonya Marliana. Mereka berdua membangun usaha bersama dan sukses di Flores, Kupang. Sayangnya, sahabat tuan besar itu g memiliki anak. Jika ia kerumah, ia selalu menggendong non Annisa. Bahkan, non Annisa sering dibawa pulang kerumahnya. 9 bulan usia non Annisa, tuan besar masuk rumah sakit. Dokter mengatakan kalau tuan harus dioperasi karena gagal ginjal. Sebulan mencari pendonor, tapi sia-sia. Sahabat Tuan besar memeriksakan diri dan ternyata beliau yang cocok untuk donor. Tanpa ragu, sahabat Tuan besar mendonorkan ginjalnya untuk tuan besar. Sebagai ucapan terima kasih, tuan besar menyerahkan non Annisa pada sahabatnya sebagai pancingan. Jika nyonya Marliana sudah hamil, maka non Annisa akan tuan besar ambil kembali. Nyonya tidak keberatan karena beliau tinggal tidak jauh dari kediaman tuan besar. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena bencana besar melanda Flores. Masing-masing menyelamatkan diri entah ke mana. Sejak kejadian itu, tuan besar dan tuan Darmawan g pernah bertemu lagi. Tuan besar dan nyonya pindah ke Jakarta. Tuan dan nyonya besar terus mencari tapi g ketemu. Tuan dan nyonya menyuruh mbok untuk merahasiakan semua ini dari tuan muda termasuk masalah perusahaan. Dan akhirnya, tanpa di cari nona kecil kembali kerumah ini," Mbok Minaiya mengakhiri ceritanya dan menatap ke dua anak majikannya tersebut.


"Maksud mbok, kami berdua ini saudara kandung?!" tanya Annisa yang syok dengan apa yang didengarnya.


"Iya, Non! kalian berdua anak tuan Darmajaya dan nyonya Berlian."


"G mungkin mbok, g mungkin! bapakku Darmawan bukan Darmajaya. G mungkin!" Annisa g percaya dengan apa yang di dengarnya. Air matanya mengalir tak tertahan. Ia kembali mengenang almarhum kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Mbok, apa cerita mbok itu bisa di percaya?!" tanya Aldi yang juga syok dengan cerita mbok Minaiya.


"Tuan... mbok ikut tuan dan nyonya besar sudah 35 tahun. Mbok yang mengasuh kalian berdua. g mungkin mbok salah dengan tanda lahir itu!" Mbok Minaiya meyakinkan kedua anak majikannya.


"Satu lagi Tuan Muda, masalah perusahaan! Ada berkas yang akan mbok perlihatkan pada Tuan."


"Nanti dulu, mbok! selesaikan dulu tentang kami berdua."


Kemudian Aldi mendekati adiknya dan merangkulnya agar bisa tenang. kini dia bisa menyentuh adiknya tersebut.


"Kita akan kerumah paman untuk menanyakan kebenaran dari semua ini. Kemudian, kita lakukan tes DNA. Sebenarnya kakak percaya pada cerita mbok Minaiya, karena dialah yang membesarkan kakak. Dia g memiliki keluarga lain selain kakak. Kakak tidak tega mendengar mbok memanggil kakak dengan panggilan tuan muda, tapi beliau tetap pada pendiriannya. Hal itu dilakukannya untuk mengenang almarhum kedua orang tua kita. Jika kamu sudah tenang, kita bisa kerumah paman sekarang juga!"


"Kita kerumah paman sekarang, kak! Aku harus mencari kebenaran tentang semua ini." Annisa menyeka air matanya dan mengajak Aldi kerumah pamannya.


"Mbok, kami kerumah paman Annisa dulu. Terima kasih mbok, sudah membuka rahasia besar ini!"


"Iya, tuan! bawa kembali nona kecil. Kalian berdua tidak boleh terpisahkan lagi. Sudah saatnya tuan muda dan nona muda mengetahui semua rahasia tentang tuan dan nyonya besar. Tuan muda sudah dewasa, sudah waktunya mengambil alih perusahaan tuan besar."


"Kami berangkat dulu!"


"Hati-hati, Tuan!"


Aldi menganggukkan kepalanya mengiyakan pesan dari mbok Minaiya.


Kedua segera meluncur ke rumah pak Hermawan. Setibanya di rumah pamannya, Annisa segera turun dan menemui pamannya yang kebetulan tidak ke kantor. Wajah Annisa yang sedih membuat pamannya bertanya-tanya.


"Kamu kenapa, nak? dan siapa laki-laki ini?!"


Bukannya menjawab, Annisa malah menangis dipelukan pamannya. Pamannya curiga pada Aldi. Menyadari kecurigaan pak Hermawan, Aldi memulai percakapan.


"Maaf, paman! saya Aldi, kakak angkatnya Annisa. kami datang ke sini ada yang ingin kami tanyakan. Kami harap, jawaban paman bisa membuka kebenaran tentang Annisa."


"Maksud, nak Aldi?"


"Tentang siapa orang tua kandung Annisa. Annisa tinggal bersama saya. Saya terpaksa membawanya ke rumah saya, karena orang yang dulu melecehkannya kembali mengganggunya. Annisa takut jika tinggal dengan paman, preman-preman suruhan laki-laki bejat itu akan melakukan kekerasan pada keluarga paman. Maafkan saya paman, kalau saya lancang membawa Annisa tinggal bersama saya!"


"Terima kasih sudah menjaga Annisa dengan baik. Ayo duduk dulu, tidak baik cerita sambil berdiri begini!"


Pak Hermawan menenangkan Annisa dan menyuruhnya duduk. Mereka bertiga duduk di ruang tengah agar bisa bercerita dengan tenang. Pak Hermawan memulai Cerita tentang keluarga kakaknya.


"Annisa...maafkan paman jika menyembunyikan rahasia tentang siapa kamu sebenarnya. Keberadaanmu dalam kehidupan Darmawan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga. Sesungguhnya, kamu bukan anak kandung bapakmu. Kamu adalah putri dari sahabatnya yang sangat disayanginya seperti dia menyayangi paman. Bapakmu tidak pernah sedikitpun melupakan sahabatnya itu. Terkadang, bapakmu menangis sendirian mengingat sahabatnya. Bapakmu pernah berkata pada paman, kalau paman dan sahabatnya adalah kebahagiaannya. Kalau paman tidak salah, nama sahabatnya itu adalah Darmajaya dan istrinya bernama Berlian. Mereka memiliki satu orang putra. Paman sangat menyayangi Annisa. Annisa sudah paman anggap anak sendiri, seperti kakakku menjadikan Annisa putri kesayangannya. Sebelum bapakmu meninggal, dia berpesan agar paman mencari keluargamu secara diam-diam. Tapi paman tidak menemukannya. Paman juga sedikit egois, karena tidak ingin kehilangan Annisa. Apalagi Paman g tahu dimana keberadaan keluarga pak Darmajaya. Maaf paman, Nisa!" Pak Hermawan menatap keponakannya dengan meneteskan air mata. Ia tak menyangka kalau dirinya harus menjelaskan siapa Annisa sebenarnya.


"Paman tidak perlu khawatir dan sedih. Annisa tidak akan meninggalkan paman walaupun dia telah menemukan keluarganya. Cerita paman sama dengan cerita pengasuh saya. Saya tidak perlu lagi melakukan tes DNA pada Annisa. kesamaan cerita yang kami dengar sudah membuktikan kebenaran tentang siapa Annisa sebenarnya!" Aldi menenangkan pak Hermawan.


"Apa maksudnya tes DNA?"Pak Hermawan bingung mendengar ucapan Aldi.


"Saya putra Darmajaya, Aldi Darmajaya kakaknya Annisa paman!"


"Allahu Akbar!" Pak Hermawan memeluk Annisa dengan meneteskan air mata kebahagiaan. Bu Siti ikut memeluk Annisa dan ikut menangis karena bahagia.


"Annisa...almarhum bapak dan ibumu akan bahagia dengan bertemunya kamu dengan kakak kamu!"


Annisa semakin terisak menahan tangis diperlukan pamannya. Tak disangka dirinya akan memiliki cerita hidup yang sangat rumit.


"Jangan sedih lagi. Kamu harus bahagia, nak!" kata Bu Siti.


"Nak Aldi! meskipun Annisa sudah tinggal bersama nak Aldi, paman dan bibi harap Annisa masih bisa menemui kami!" ucap pak Hermawan.


"Jangan khawatir, paman! Saya justru bahagia karena saya akan memiliki paman dan bibi sebaik kalian."


Pak Hermawan dan Bu Siti memeluk Aldi. Kebahagiaan terpancar di wajah kedua orang tua itu. Annisa dan Aldi berpelukan melepaskan rindu yang puluhan tahun terpendam. Annisa sangat bahagia karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Kemudian, keduanya pamit pulang karena mbok Minaiya menunggu mereka.


Aldi dan Annisa meninggalkan keluarga pak Hermawan dan menuju kediaman mereka.


"Dek...! bagaimana perasaan saat ini? jika kamu masih belum bisa menerima kenyataan kalau kita saudara kandung, kakak mengerti. Kakak tidak akan memaksamu untuk menerima kenyataan ini. Mungkin ini terlalu mengagetkan buatmu."


"Kak! Aku ingin melihat wajah bapak dan ibu. Seperti apa wajah mereka?"


Aldi mempercepat laju mobilnya. Tiba dirumah, mbok Minaiya menyambut mereka berdua. Annisa masih kelihatan sedih dan Aldi merangkul adiknya dan mengajaknya keruang kerjanya. Aldi mengeluarkan foto saat dia bersama orang tuanya. Tak banyak kenangan yang tersimpan karena kedua orang tuanya meninggal saat usianya 9 tahun. Orang tuanya meninggal karena keracunan. Semua bukti disimpan oleh mbok Minaiya. G ada yang tahu, kalau mbok Minaiya merupakan pengacara keluarga Darmajaya. Nama asli mbok Minaiya adalah Erina. Ia hanya menyamar sebagai pembantu untuk melindungi Aldi dari keluarga pamannya.


"Ini album foto ayah dan ibu. Lihatlah!"


Annisa perlahan membuka album foto itu. Air mata tak bisa lagi terbendung. Ia merindukan kedua orang tuanya. Annisa kaget melihat wajah ibu kandungnya yang bagai pinang di belah dua dengan dirinya.


"Ibu mirip denganmu, dek! Itulah sebabnya saat kakak pertama kali melihatmu, kakak terasa dekat denganmu. Naluriku mengatakan, kalau kakak harus melindungimu. Akhirnya, semua menjadi kenyataan."

__ADS_1


"Ayah pun mirip dengan kakak. Hanya ayah lebih ganteng dari kakak!" Dibalik kesedihannya ia mencoba menghibur hatinya dengan mengejek kakaknya.


"Kita berdua akan memulai kehidupan baru. Tidak boleh ada kesedihan lagi. Kamu harus bahagia," Aldi memeluk Adiknya. Mbok Minaiya bahagia melihat kebahagiaan anak majikannya. Dirinya akan tetap menyamar hingga tiba waktunya untuk menjadi dirinya sendiri dan menyelesaikan masalah yang menimpa keluarga Darmajaya.


__ADS_2