Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Ancaman Anggita


__ADS_3

Setelah melewati perawatan intensif, Fani sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah pulih. Fani diantar oleh anak-anaknya kembali ketahanan.


"Bu...jalani semuanya dengan ikhlas agar hati ibu selalu bahagia. Ibu jangan khawatir, kami akan selalu membesuk ibu di sini!" Ucap Susi menguatkan ibunya.


"Susi, Furqan...jaga Fiona! dan kamu Fio, ikuti apa yang kakakmu katakan, jangan membantah!" titah Fani pada putrinya.


"Siap Bu! ibu tenang aja, aku bukan Fiona yang dulu yang suka acuh terhadap aturan. Sekarang, aku adalah Fiona yang super duper patuh dan sholehah. Benarkan kak?!"


"Udah ah, jangan bercanda!" larang Susi.


Sebelum masuk kembali keruang tahanan, Fani meminta Furqan untuk membesuknya bersama Annisa.


"Fur... jika nanti kamu datang membesuk ibu, bawa Annisa ke mari. Kemarin dirumah sakit, ibu belum bertemu dengannya. Ingat ya, jangan lupa lagi!"


"Baik, Bu!" jawab Furqan.


Setelah ngobrol dengan anak-anaknya, Fani masuk keruang tahanan dengan perasaan tenang dan bahagia. ketiga anaknya kembali kekediamannya.


Furqan kembali sibuk dengan pekerjaan kantornya. Tak lupa ia memberi tahu kekasihnya tentang perubahan ibunya. Meskipun ibunya tidak memberi tahu Furqan secara langsung, tapi Furqan sangat meyakini jika ibunya telah memberi lampu hijau untuk hubungan mereka. Furqan akan ke rumah Annisa untuk membicarakan hubungan mereka. sebelum kerumah Annisa, terlebih dahulu Furqan menghubungi Annisa.


kring kring kring


Annisa bergegas menjawab panggilan di ponselnya.


"Assalamualaikum, kak!"


"Alaikumsalam. Sayang, kamu g sibuk kan?" tanya Furqan melalui telepon.


"Aku sedikit sibuk, emangnya ada apa ka?" tanya Annisa.


"Boleh aku menemuimu?"


"Mengapa baru tanya sekarang? sebelumnya juga g pernah nanya kalau mau bertemu denganku. Sepertinya kakak kesambet ya, he he he!" ledek Annisa.


"Jangan protes. Aku menemuimu untuk membicarakan perubahan ibu. Sepertinya ibu sudah memberi lampu hijau untuk hubungan kita".


"Alhamdulillah. Lalu bagaimana kondisi Tante?"


"Ibu sudah balik ke tahanan. Dan...ibu memintaku membesuknya bersamamu. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu. Kamu g keberatan kan?"

__ADS_1


"Tidak. justru aku senang jika Tante Fani g benci lagi padaku. Tapi...apa perlu kakak menemuiku? kakak sudah menjelaskan semuanya lewat telepon".


"Kamu melarang aku?!"


"Bukan begitu. semua sudah jelas, untuk apalagi datang menemuiku. Lebih baik sibukkan diri dengan urusan kantor, oke! aku tutup teleponnya ya, kak!" ucap Annisa.


"Tunggu! baiklah, aku tidak akan menemuimu. Dua hari lagi kita besuk ibuku. Jangan lupa masak makanan seperti yang kamu bawa ke rumah sakit, ibuku menyukainya. Aku merindukanmu!"


"Gombal, Assalamualaikum!" ejek Annisa sambil mengakhiri obrolannya.


Belum sempat Furqan menjawab salam, Annisa sudah memutuskan teleponnya. Furqan hanya bisa geleng kepala. Kemudian, Furqan menyelesaikan pekerjaannya. Furqan memberi tahu sekretarisnya, kalau semua karyawan boleh pulang lebih awal. Setelah itu, Furqan meninggalkan kantor dan menuju kediamannya.


Susi yang melihat adiknya pulang lebih awal dari kantor merasa heran.


"Udah pulang Fur?!" tanya Susi dengan heran.


"iya, kak! aku sengaja pulang lebih awal karena mau ingin bicara sesuatu yang penting denganmu".


"Apa?"


"Kak, ada makanan g? aku lapar. Aku g sempat makan di kantor".


"Tunggu! kakak suruh mbok siapkan dulu". Susi menuju kebelakang dan menyuruh asisten rumah tangga untuk menyiapkan makanan untuk adiknya.


"Kak...!"


"Ada apa? sepertinya penting!"


"Aku mau bicarakan tentang hubunganku dengan Annisa".


"Ada masalah?!"


"G ada, kak. Aku akan segera melamar Annisa pada Bu Erina. Ibu sudah memberi lampu hijau pada kami berdua. Bagaimana menurut kak Susi?"


"Pertemukan dulu Annisa dengan Ibu. Dan mintalah restu pada ibu. Jika ibu sudah memberi kalian restu, g ada alasan lagi untuk Annisa menahanmu untuk melamarnya. Kapan kalian akan besuk ibu?"


"Lusa,kak! Aku sudah menghubungi Annisa".


"Lebih cepat lebih baik. Jangan di tunda, keburu ibu menarik kembali kesadarannya. Bisa-bisa, kamu g akan pernah mendapatkan Annisa".

__ADS_1


"Aku yakin, jika ibu sudah sadar sepenuhnya". Furqan meyakinkan kakaknya.


"Itu menurutmu. Kalau kakak masih ragu. Semoga saja apa yang kamu katakan itu benar".


"Aamiin!" ucap Furqan.


"Kak, boleh nanya?"


"Silahkan!"


"Kalau kak Susi kapan akan menyuruh si doi datang melamar? Aku g mau nikah duluan sebelum kak Susi nikah lebih dulu".


"G akan lama lagi. Dia setuju kalau kami akan menikah di kantor agama saja. Kakak g bisa menggelar pernikahan di rumah sementara ibu di penjara. Kamu setuju kan?"


"Aku setuju selama kakak bahagia".


"Terima kasih dek!"


Keduanya saling berpelukan. Sebelum mereka mengenal dekat keluarga Annisa, keluarga Fani g pernah akur. Ada hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kelurga Fani. Susi melepaskan pelukan pada adiknya dan menyuruh Furqan istirahat. Furqan mengikuti perintah kakaknya.


Susi dan mbok Mimin bekerja sama membersihkan dapur. Sejak mengenal keluarga Annisa, Susi mengerti bagaimana seharusnya menjadi seorang wanita. Susi sadar, setinggi apapun pendidikan dan jabatan seorang wanita, dia tetaplah akan menjadi seorang istri yang harus patuh pada suaminya selama itu adalah hal baik. Sedang sibuk membantu mbok Mimin, Susi dikagetkan dengan teriakan seseorang dari arah depan.


"Furqan... Furqan...keluar kau!" teriak Anggita seperti orang gila. Susi keluar menemuinya.


"Anggi...kenapa teriak kayak kesetanan begitu? g ada orang tuli di rumah ini. Siapa yang mengizinkan kamu masuk? Aku sudah bilang padamu, jangan pernah datang ke mari!"


"Kalian harus membebaskan ibuku. Karena membantu Tante Fani, ibuku harus mendekam dalam penjara. Kalian g ada niat sedikitpun untuk melindungi ibuku. Manusia macam kalain ini, g ada perasaan sedikitpun!" marah Anggita pada Susi.


"Apa yang harus kami lakukan? sudah baik Annisa meminta sidang tertutup untuk kasus ibumu dan ibuku, kalau tidak aku dan kamu tak bisa menampakkan wajah di muka umum. Ibumu terbukti melakukan kejahatan, apa yang harus di bela. Kami sendiri, sudah ikhlas ibu kami ditahan, agar g ada lagi kejahatan yang dilakukan, begitu pula ibumu. Kamu mengerti kan?" tanya Susi.


"Aku g akan pernah menerima semua ini. Aku g akan pernah memaafkan keluarga kalian. Aku kehilangan pekerjaanku dan ibuku di penjara. Itu semua karena keluarga sialan ini!"


"Jaga ucapanmu Anggita! tidak perlu menyalakan orang lain. Ibumu dan ibuku sama-sama melakukan kejahatan. Harusnya kamu sadar akan hal itu. Kamu jangan sampai lupa, semua terjadi juga karena ulahmu yang memaksakan diri ingin menikah dengan Furqan. Sudah ditolak masih juga ngotot. Jadi perempuan dimana urat malumu?"


"Kak...ada apa sih ribut-ribut?!" tanya Fiona yang baru saja pulang dari kampusnya.


"Nih setan betina. Siang bolong begini datang ngamuk di rumah orang". ucap Susi sembari menunjuk Anggita.


"Kak Anggita...bisa g pergi dari sini? Kami ingin hidup tenang tanpa gangguan darimu. Seharusnya dengan kejadian yang menimpa orang tua kita, kak Anggi sadar dan bertobat. Bukan makin liar kayak begini. Keluar g?" ancam Fiona.

__ADS_1


"Aku akan pergi, tapi ingat kalian berdua, aku akan membalas sakit hatiku ini, ingat itu!" Ancam Anggita pada Susi dan Fiona.


Anggita segera keluar dari dalam rumah dan membanting pintu dengan sangat keras hingga membuat orang lain kaget. Anggita marah akan perlakuan keluarga Fani padanya dan ibunya dan berjanji akan membalasnya.


__ADS_2