Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Permintaan sang Kekasih


__ADS_3

Setelah Furqan mengantar Annisa ke rumahnya, Furqan kembali kerumahnya. Setibanya di rumah ia di sambut Susi dan Fiona yang sedang sedih karena ibunya sudah terbukti bersalah.


"Fur...bagaimana dengan ibu, apa yang harus kita lakukan? berusaha dong Fur, untuk mengeluarkan ibu dari tahanan!" Susi mendesak adiknya.


"Aku baru pulang dari membesuk ibu bersama Annisa. Seandainya ibu mau sedikit saja ramah pada Annisa, mungkin ibu bisa bebas sebelum masuk pengadilan. Tapi yang ibu lakukan justru sebaliknya. Ibu malah menghina Annisa. Kak, Fio! kalian ikut aku sekarang juga ke rumah Aldi untuk menemui Bu Erina. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini, hidup dalam kebohongan karena perbuatan orang tua kita." Furqan mengajak kakak dan adiknya kerumah Aldi. Setibanya di rumah Aldi, mereka bertiga di sambut Annisa yang sebelumnya telah dihubungi oleh Furqan. Annisa mempersilahkan mereka keruang keluarga. Sambutan Annisa membuat Susi dan Fiona merasa malu karena orang tuanya.


"Kak, Fiona! kalian duduk aja dulu. Aku panggilkan ibu dulu ya!" ucap Annisa mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Susi yang baru pertama kali ke rumah Aldi menyebarkan pandangan dan matanya tertuju pada sebuah foto yang terpampang di dinding ruang keluarga. Susi merasa mengenal kedua sosok yang ada dalam foto itu. Perlahan ia berdiri dan mendekati foto tersebut. ia menyentuh ujung bingkai foto dan mengingat- ngingat, dimana ia pernah bertemu keduanya. Furqan yang melihat sikap aneh Susi merasa heran, akan tetapi ia biarkan saja. di saat yang sama, Erina dan Annisa datang menemui mereka. Erina kaget melihat Susi yang ada di depan foto bos besarnya. Melihat Erina sudah datang, Fiona langsung berdiri dan menarik kakaknya agar duduk kembali, Susi pun kembali ke tempat duduknya.


"Apa kamu mengenal mereka berdua?" tanya Erina pada Susi. Susi merasakan, wanita yang ada didepannya adalah wanita hebat.


"Ia Tante, tapi lupa di mana aku mengenal mereka!" jawab Susi.


"Bu Erina...aku sengaja membawa mereka ke sini, agar Bu Erina mau menceritakan hubungan paman Darmajaya dengan ayahku!" ucap Furqan. Ernia hanya tersenyum menanggapi permintaan Furqan.


"Mengapa tidak tanyakan pada ibu kalian?" tanya Erina


"Ibu tidak akan pernah menceritakan yang sebenarnya kepada kami. Karena kebenciannya pada paman, membuat ibuku buta hati dan tak mau mengakui semuanya!" jelas Furqan pada Erina.


"Apakah kedua saudaramu ini akan percaya sepenuhnya pada ceritaku?" tanya Erina meminta kepastian. Erina meragukan Susi dan Fiona.


"Mereka harus menerima kenyataan. Puluhan tahun kami dibohongi dan hidup dalam kesalahan yang tersembunyi. Hanya ibu yang bisa menceritakan itu pada kakak dan adikku!"


"Ibu salut padamu, Furqan! Kamu seorang CEO sebuah perusahaan besar, kamu bisa melakukan apa saja dengan kuasamu, tapi tidak kamu lakukan. Itulah sikap seorang pemimpin, berani menghadapi masalah dan menerima kenyataan, sepahit apapun kenyataan itu!" Erina memuji sikap Furqan.

__ADS_1


"Jika memang itu adalah hak saya, maka itu akan saya lakukan. Tapi kenyataanlah yang menghentikan langkah saya. Saya tidak bisa bertahan dengan mengambil hak orang lain. Saudara-saudara saya harus tahu kebenaran yang selama ini dikubur oleh orang tua kami, dan mau tidak mau harus menerima kebenaran itu!" Furqan menjelaskan mengapa dirinya bertindak jauh.


"Baiklah, ibu akan menceritakannya sekaligus akan memperlihatkan bukti bahwa apa yang kalian miliki saat ini bukanlah milik kalian!"


Susi dan Fiona tidak mengerti maksud ucapan Erina.


"Fur...apa yang bukan milik kita?" tanya Susi dalam kebingungan. Fiona menganggukkan kepalanya menyetujui pertanyaan Susi.


"Apa yang kita nikmati selama ini bukanlah milik kita kak, tapi milik paman Darmajaya, milik Aldi dan Annisa!" jawab Furqan


"Apa...?" tanya Susi dan Fiona secara bersamaan. Susi dan Fiona kaget dengan ucapan Furqan. Keduanya g percaya akan masalah yang menimpa keluarganya. Erina hanya tersenyum melihat reaksi Susi dan Fiona, sedangkan Annisa menundukkan kepalanya karena merasa g enak dengan Susi dan Fiona.


Erina menyodorkan sebuah buku yang berisikan sebuah catatan perjalanan Darmajaya dan sebuah album foto.


"Saya tidak ingin cerita, tapi bacalah dan lihatlah apa yang ada di depan kalian!" pinta Erina pada Susi dan Fiona.


"Paman, Tante ...! jika benar orang tua kami melakukannya, maafkanlah mereka dan maafkan kami yang tak tahu apa-apa ini. Aku sudah mengingat kenangan baik kalian, kalianlah yang selalu menjagaku, membawaku jalan-jalan, meskipun ayah dan ibu marah pada kalian. Paman menyayangiku seperti anak paman sendiri, hiks hiks hiks!" Susi tersungkur di bawah bingkai foto besar itu dengan berlinang air mata. Ia tak menyangka jika orang tuanya sejahat itu. Melihat kakaknya tak dalam kondisi baik, Fiona segera mendekati Susi dan membantunya berdiri. Susi bangkit dan berlari memeluk Annisa dengan linangan air mata sedih, bersalah dan kehilangan paman dan Tante yang menyayanginya.


"Annisa...maafkan sikap kasar kami padamu, kami tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu dan Aldi, tapi kami mohon maafkanlah orang tua kami. Karena mereka kalian kehilangan segalanya, kami tersenyum diatas penderitaan kalian. Sekarang baru aku mengerti, mengapa ibu sangat membenci Aldi? ibu membenci Aldi karena dia putra paman, tolong maafkan kami Annisa!" Susi dengan tangisannya terus memohon maaf pada Annisa atas semua kesalahan mereka. Furqan kagum pada kakaknya yang dia tahu hanyalah seorang gadis berperilaku bar-bar dan tak mau mengalah (bukan bar-bar seperti perempuan malam ya sayang, tapi perempuan ceplas ceplos dan tomboy😊😊😊) mau menerima dan meminta maaf pada Annisa.


"Kak Susi...semua kesalahan Tante Fani sudah kami maafkan. Hanya saja, Tante Fani harus tetap menjalani hukumannya karena sudah merencanakan penculikan bahkan pembunuhan. Maafkan kami karena sudah membuat Tante Fani menderita!" Annisa dengan kebesaran hatinya meminta maaf pada Annisa. Susi dan Fiona hanya bisa menerima dan menangisi kenyataan.


"Kak...kita harus menyerahkan perusahaan pada mereka, karena itu bukanlah milik kita. Tanpa aku pimpin pun, perusahaan itu akan tetap merajai dunia bisnis. Aku hanya meneruskannya saja. Apakah kalian keberatan dengan keputusanku?!"


Susi dan Fiona menganggukkan kepala tanda setuju. Furqan bahagia melihat perubahan pada kakaknya. Kemudian, Furqan menghadap Erina dan Annisa untuk membicarakan keinginan terbesarnya setelah perusahaan di ambil alih.

__ADS_1


"Bu, Annisa...Saya punya permintaan, semoga Ibu dan Annisa menyetujuinya!"


"Apa itu?!" tanya Erina penasaran dengan keinginan Furqan


"Saya mohon Bu, Nis! untuk tidak memberitahu publik soal perusahaan dan orang tua kami, biarlah mereka tahu sendiri. Jika kalian melakukan konferensi pers, sudah pasti orang diluar sana akan membully saudara-saudara saya. Saya ingin kak Susi dan Fiona hidup tenang walau tak semewah sebelumnya!" Furqan mengutarakan keinginannya.


"Bagaimana Nisa?" tanya Erina pada Annisa. Meskipun Erina adalah pengacara keluarga dan dipercayakan oleh Aldi untuk mengurus semuanya, tapi keputusan finalnya tetap ada pada Aldi dan Annisa. Sebelum Annisa menjawab, Aldi yang baru pulang dari kantor cabang langsung menjawab pertanyaan Erina.


"Itu lebih baik, Bu!" semua mencari sumbet suara.


Annisa lari memeluk kakaknya. Ia bahagia dengan keputusan Aldi. Annisa mengekor dibelakang Aldi untuk bergabung dengan yang lain.


"Sikap inilah yang Ibu inginkan dari kalian. bukan hanya tegas, tapi juga berhati mulia. Ibu senang mendengarnya. Kalian tidak perlu khawatir soal perusahaan, Furqan akan tetap menjadi pemimpin di perusahaan itu. Putra Jaya hanyalah cabang dari Putra Angkasa yang sekarang dipimpin orang kepercayaan Tuan Darmajaya. Tidak ada pengalihan kepemilikan perusahaan Putra Jaya beserta cabangnya, sebab itu sudah sah menjadi milikmu dan atas namamu!" ucap Erina kepada Furqan.


"Tapi, Bu?!" Furqan bertanya karena g percaya.


"Furqan! Putra Angkasa adalah induk dari beberapa cabang perusahaan termasuk Putra Jaya. Kamu sangat percaya kepada semua direktur yang memimpin perusahaan karena mereka mengikuti perintahmu kan? yang kalian tahu hanyalah keuntungan dan kerugian tapi bukan kepemilikan perusahaan. Nama ayahmu juga namamu, hanyalah sebagai pengelola tapi bukan pemilik, tapi yang mengendalikannya adalah aku. Itu kelalaianmu dalam memimpin!" Erina tersenyum melihat Furqan dalam kebingungan.


"Al...maksudnya?!" Furqan meminta penjelasan Aldi.


"Fur...aku juga baru tahu kalau selama ini ibu yang mengendalikan perusahaan. Kita tidak pernah menemukan yang aneh-anehkan di perusahaan? ternyata itu ibu yang lakukan bersama anak buah ayahku." ucap Aldi


Furqan jadi lega. Setidaknya, ia tidak harus memulai dari nol. Susi dan Fiona mendekati Furqan dan saling berpelukan. Erina, Aldi dan Annisa mendekati mereka bertiga.


"Hiduplah dengan tenang. Kami tidak sejahat itu, menyerahkan kalian ke publik. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan kewajiban kalian adalah memperbaiki kesalahan itu. Tetaplah sayang pada ibu kalian, sekalipun dia membohongi kalian selama ini. Urusan publik, itu sudah menjadi urusan saya!" pesan Erina pada anak-anak Fani.

__ADS_1


Furqan menatap Annisa dengan senyum bahagia. Dirinya bisa menunjukkan sikap bijaksana kepada kekasihnya. Itu menjadi nilai plus bagi hubungannya. Annisa membalas senyum Furqan dengan senyuman mautnya. Furqan yang melihat senyuman itu, seakan meleleh seperti bongkahan es diletakkan dalam wadah panas.


__ADS_2