Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Rencana Licik Fani


__ADS_3

Seminggu sudah Annisa dari rumah pamannya. Artinya hari ini Annisa akan bertemu dengan orang tua Furqan. Hari yang menegangkan bagi Annisa karena akan bertemu dengan sosok yang sangat berarti bagi Furqan.


"Mbok! ibunya kak Furqan menerima aku g ya?"


"Yakinkan dirimu. Jika dihatimu ada keraguan tunda dulu pertemuan kalian. Mbok khawatir, terjadi sesuatu padamu!" Mbok Minaiya mengkhawatirkan Annisa.


"Sepertinya tidak bisa ditunda mbok! ini kemauan ibunya kak Furqan. Dia bilang, ibunya udah g sabar mau bertemu denganku, mbok!"


"Kalau begitu bersiaplah, nanti nak Furqan akan menjemputmu!" perintah mbok Minaiya.


Annisa mempersiapan diri dan mentalnya untuk menghadapi keluarga Furqan. Annisa hanya menggunakan gaun sederhana yang tetap saja memperlihatkan kecantikan Annisa.


Sementara di rumah Furqan sedang sibuk menyiapkan makanan enak untuk menyambut kedatangan Annisa. Furqan sangat bahagia melihat perubahan sikap ibunya dan menyuruhnya untuk memperkenalkan gadis pujaannya walau sebenarnya dibalik perubahan itu tersimpan niat jahat pada Annisa.


"Fur... udah jam berapa ini? mengapa belum jemput dia, sebentar lagi udah jam makan siang lo?" tanya Fani pada anaknya.


"Iya, Bu! aku berangkat sekarang." Furqan segera keluar dan menuju mobilnya. dia sudah g sabar untuk menjemput Annisa. Saat Furqan sudah meninggalkan rumah, Susi menemui ibunya.


"Ibu yakin menyetujui pilihan Furqan?"


"Kita lihat saja nanti. Ibu hanya ingin tahu siapa gadis itu? Apakah dia pantas menjadi calon menantuku atau hanya akan jdi benalu di rumahku!"


"Terserah ibu saja. Tapi ingat, Bu! jangan sampai ibu salah mengambil keputusan. Akibatnya, ibu sendiri yang akan menyesal!" ucap Susi memperingatkan ibunya.


"Ibu tidak akan pernah menyesal dengan keputusan ibu soal adikmu. Yang mendampingi adikmu harus sederajat dengan kita, tidak boleh dari kalangan bawah. Dan kamu juga, memilih suami yang sepadan, jangan asal cinta gembelpun di gaet!" Fani mengingatkan Susi.


"Maaf ya, Bu! pilihan hidupku hanya aku yang menentukan, bukan orang lain apalagi Ibu. sebab aku yang menjalaninya bukan ibu kan?" jelas Susi.


"Dasar anak durhaka!" ucap Fani.


Susi meninggalkan ibunya yang sedang merasa jengkel. Kemudian Fani mendengar suara mobil putranya. Ia menyuruh mbok Iyem menyambut mereka. Sebelum turun dari mobil, Annisa menanyakan seperti apa ibu dari ke kasihnya itu.


"Kak! orang tuanya kakak gimana sih orangnya? soalnya aku takut, kak!"


"G usah takut, ibuku baik kok! Lagian kan ada aku!" Furqan meyakinkan Annisa. Lalu keduanya turun dari mobil dan disambut mbok Iyem


"Silahkan, Tuan muda! nyonya sudah menunggu Tuan dan Nona."


Saat keduanya sudah berada diruang keluarga, Fani keluar dari kamarnya dan menemui Furqan dan kekasihnya. Alangkah kaget dan marahnya dia melihat Annisa yang ada didepan matanya. Akan tetapi, dia berusaha menyembunyikan perasaannya tersebut agar rencananya bisa terlaksana dengan baik.


"Sayang... ternyata kamu ya pilihan anakku?"


Annisa merasa seperti pernah bertemu ibunya Furqan. Tapi ia lupa pernah bertemu di mana. Annisa tersenyum malu mendengar ucapan Bu Fani.


"Maaf, siapa namamu?"

__ADS_1


"Annisa, Tante!"


"Kamu dan Furqan kenal dimana?"


"Di rumah makan Sahabat, Tante!"


"Tante sudah siapkan makanan lezat untuk menyambutmu, sayang! ayo, kita langsung ke meja makan saja. Mbok panggil yang lain ya!"


"Baik, nya!"


Susi dan Fiona turun dari lantai dua dan ikut bergabung. Semua ngobrol santai sambil menikmati makanannya masing-masing. Susi dan Fiona mencurigai ibunya yang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba berubah 360 derajat. Setelah semuanya makan siang, Fiona, Susi, Furqan dan Annisa ngobrol santai diruang tengah. Susi dan Fiona makin dekat dengan Annisa. Sementara Fani izin sebentar ke kamarnya hendak mengambil sesuatu untuk Annisa. Kemudian Fani keluar dan pura-pura tidak menemukan apa yang dia cari.


"Bu... kok mukanya cemberut gitu?" tanya Susi.


"Ada yang ibu cari dikamar untuk Annisa, tapi g ke temu. astaga... ibu lupa kalau barangnya masih ada di toko langganan ibu!" Fani menunjukkan aktingnya.


"Fur! ibu minta tolong sama kamu, pergi ambil barangnya di toko langganan ibu ya, cepat...!sebelum Annisa pulang." perintah Fani.


"Annisa g boleh pulang sebelum aku balik!" ucap Furqan pada ibunya.


Furqan senang karena ibunya akan memberi sesuatu untuk Annisa. Tanpa bertanya lagi, Furqan segera meluncur ke toko langganan ibunya. Pemilik toko telah bekerja sama dengan Fani untuk mengulur waktu putranya sampainya rencana selesai dijalankan.


"Annisa...!"


"Ya, Tante!"


"Maksud, tante?"


"Coba deh kamu bercermin, bukankah kamu hanya seorang pelayan rumah makan? Sepertinya kamu sangat tidak layak untuk putraku. Anakku mencari calon istri yang sepadan dengannya, bukan gadis kelas bawah sepertimu! Dia pasti hanya mempermainkan kamu. Ha....saya tahu kenapa kamu mendekati putraku, kamu mau hidup enakkan? sayangnya kamu g pantas dengan putraku. Dia seorang CEO Perusahaan ternama dan pewaris tunggal perusahaan "Putra Jaya". Saya curiga, sepertinya kamu merayu putraku dengan tubuhmu agar dia mau denganmu. Apa yang bisa diharapkan dari seorang pelayan? sebaiknya kamu jangan bermimpi sebelum kamu tidur, mimpimu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Sampai mati pun saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua, ingat itu! sebaiknya kamu pulang sekarang, dan jangan coba-coba memberitahu anakku!" Fani melontarkan hinaan dan mengusir Annisa dengan kata-kata menyayat hati. Annisa seperti dihimpit bumi dan langit, hatinya menangis mendengar hinaan dari orang tua kekasihnya. Annisa mencoba tegar agar tidak dianggap lemah. Susi dan Fiona kaget dengan apa yang ibunya ucapkan.


"Bu...apa yang ibu lakukan?" tanya Fiona yang geram dengan perlakuan ibunya.


"Jangan ikut campur urusan orang tua, Fiona!" bentak Fani pada putrinya.


"Ibu keterlaluan. Mengapa ibu harus pura-pura baik, kalau ternyata hati ibu menyimpan racun? ibu tega pada kak Furqan. Fiona akan memberitahu kak Furqan soal ini, Ibu benar-benar g punya perasaan!"


"Bu...selama ini kami selalu mengikuti keinginan ibu, tapi kali ini kami g setuju dengan perbuatan ibu pada Annisa. Bu...bagaimana jika kami dipelakukan sama seperti Annisa? apa ibu bisa menerima? ibu g akan terima kan? Bu, bagaimana perasaan Furqan kalau dia tahu apa yang ibu lakukan pada Annisa?" Susi ikut menyadarkan ibunya.


"Cukup! hanya karena gadis gembel ini kalian membantah ibu! Kalian berdua dengar, jangan coba-coba memberitahu Furqan soal ini, ibu akan menarik fasilitas kalian, paham!"


Annisa mendekati Susi dan Fiona.


"Mbak Susi, dek Fio! saya g apa-apa kok. saya mengerti, seorang ibu selalu menginginkan pendamping terbaik untuk anaknya. Dan mungkin, saya bukan termasuk diantaranya. Tidak perlu merasa tidak enak dengan saya. Meskipun saya dan Kak Furqan memiliki niatan untuk mengingat hubungan kami dengan ikatan pernikahan, tapi tanpa restu seorang ibu, semuanya tidak akan terjadi. Dan Tante, terima kasih sudah mengingatkan saya. Saya tidak akan memberitahukan kak Furqan. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu! Kalau kak Furqan nanyain saya, tolong beri dia alasan yang tidak membuatnya marah pada orang tua!" Annisa pamit dengan tetap tersenyum pada pemilik rumah.


"Kak...sebaiknya tunggu kak Furqan, nanti dia yang antar kak Annisa pulang!" Fiona melarang Annisa.

__ADS_1


"G apa-apa, dek! saya bisa pulang sendiri." Annisa hendak pergi dari rumah Furqan, tiba-tibanya gawainya bergetar. Annisa berhenti sebentar dan segera membaca pesan yang dikirim mbok Minaiya.


Mobil sudah ada di depan, cepat keluar dari rumah itu! perintah mbok Minaiya. Annisa bertanya-tanya dalam hatinya, darimana mbok Minaiya tahu kalau dirinya di usir. Memang mbok Minaiya tak mengatakan kalau dia diusir, tapi dari nada pesannya Annisa tahu kalau mbok Minaiya tahu terjadi sesuatu pada dirinya. Annisa pun segera keluar dari rumah dan menemui sopir pribadi yang diperintah mbok Minaiya.


G ada yang tahu kalau ada alat yang diselipkan mbok Minaiya di dalam tas Annisa. Alat itu dikendalikan oleh putranya dan hasilnya langsung diperdengarkan pada mbok Minaiya. Annisa masuk ke mobil dan menyuruh sopir segera meninggalkan kediaman Furqan. 10 menit Annisa berlalu, Furqan kembali dari toko dan langsung masuk ke dalam rumah menemui ibunya di ruang keluarga. Tapi, tak ada siapapun disana, hanya ada mbo Iyem yang sedang beres-beres.


"Mbok... yang lain pada ke mana?"


"Nyonya Dikamarnya, non Susi dan non Fiona keluar 5 menit yang lalu, katanya hendak belanja, dan non Annisa sudah pulang 10 menit yang lalu, Tuan!" ucap mbok Iyem.


Furqan ingin menemui ibunya tapi diurungkannya. Ia memilih menelpon adiknya lebih dulu.


Gawai Fiona bergetar tanda panggilan masuk dari Furqan. Fiona mengeluarkan gawainya dan memperlihatkannya pada Susi.


"Kak! gimana ini? kita harus jawab apa?"


"Angkat, nanti aku yang bicara!" Fiona mengangkat telepon dari kakaknya.


"Halo, Fur!"


"Kalian di mana?"


"Di mall, sedang belanja! ada apa?"


"Mengapa Annisa pulang kalian tidak mengabari aku?"


"Annisa yang minta. Katanya nanti dia yang nelpon kamu. Soalnya tadi dia buru-buru pulang, katanya sih ada urusan mendadak. Ibu sudah berusaha menahannya, tapi tak berhasil!" Susi terpaksa berbohong .


"Tapi Annisa tidak menghubungiku?"


"Mungkin dia lupa! sudah ya, kami mau belanja dulu nih!" lagi-lagi Susi berbohong.


Susah lebih dulu menutup teleponnya, dan Furqan masih terus memikirkan Annisa. Furqan menuju kamar ibunya.


Tok! tok! tok!


Fani keluar menemui Furqan. Ia pura-pura marah pada Furqan.


"Kamu ngambil barang sekecil itu saja, kenapa lama? Annisa ke buru pulang, dan ibu sudah berusaha menahannya tapi tetap g bisa. Ibu suruh telepon kamu, dia bilang nanti saja setelah sampe di rumah. Lain kali kalau di suruh jangan lelet. Udah, ibu mau istirahat dulu!" Fani hendak menutup pintu tapi buru-buru balik dan memanggil anaknya.


"e e e, mana cincinnya, sini?" Fani meminta cincin yang ada pada Furqan. Furqan meninggalkan ibunya dan langsung menuju kamarnya.


Ngapain cincin semahal ini aku kasih ke gadis gembel itu, g akan pernah! bathin Fani


Fani kembali masuk kamar dan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Anak bodoh. Ibu tidak akan pernah merestui kalian berdua! Kemudian melanjutkan istirahatnya yang terganggu oleh kedatangan Furqan


__ADS_2