Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Hadiah istimewa


__ADS_3

Setelah shalat subuh, Annisa tidur kembali karena hari ini adalah hari libur. Annisa bangun setelah alarm handphonenya bunyi tepat jam 8 pagi.


permisi, permisi, permisi, permisi


Nada pesan ponselnya berbunyi. Ia buka pesan masuk. Ada pesan dari nomor yang tak dikenalnya.


Temui saya di taman kota jam 9 pagi ini. Saya tunggu di bangku taman paling pojok. by Kak Aldi


Siapa ya? kenapa dia tahu nomor aku? Annisa mengingat-ingat nama pengirim pesan di ponselnya.


Astaga, aku jadi pelupa gini sih! dia kan yang kemarin di kantornya kak Furqan! Annisa membalas pesan dari Aldi


Baik, kak! saya akan segera ke sana!


Segera ia berkemas untuk menemui orang yang diidam-idamkannya untuk menjadi kakaknya tersebut. Tak lupa ia pesan taksi online.


Klakson taksi yang dipesannya mengagetkan Annisa. Buru-buru ia keluar dan segera naik taksi.


"Ke taman kota, pak!"


"Baik, dek!"


20 menit sampai di taman kota. Annisa segera turun dari taksi. Setelah membayar taksi, ia berlari kecil menuju tempat yang disebutkan Aldi.


"Assalamualaikum, kak! dari tadi kak?"


"Alaikumsalam! belum, baru aja sampai."


"Mengapa kakak menyuruhku kemari?"


"Saya ingin membicarakan sesuatu denganmu. Saya harap kamu tidak keberatan!" pinta Aldi penuh harap.


"Tentang apa, Kak?"


"Ayo, duduk dulu!" Annisa dan Aldi duduk bersama di bangku taman sembari memperhatikan anak-anak bermain ditaman bersama orang tuanya.


"Seperti yang saya sampaikan kemarin di kantor, kalau Saya ingin kamu menjadi adikku. Saya hidup sendiri, kedua orang tua saya telah lama meninggal. Saya ingin memiliki seorang adik perempun. Saat melihat kamu, saya langsung yakin kamulah orangnya!"


"Memangnya kakak g punya keluarga lain?"


"Saya punya sepupu perempuan, adik dan kakaknya bang Furqan, tapi saya tidak dekat dengan mereka, begitu pula dengan bibi Fani. Kekayaan membuat mereka tidak ingin dekat dengan orang kalangan bawah. Saya hanya dekat dengan bang Furqan saja. Hanya dia yang menghargai dan menyayangi saya sebagai adik sepupunya!"


"Kak, g baik berprasangka buruk pada orang lain apalagi keluarga sendiri?!"


"Saya g berprasangka buruk. Dulu, saat almarhumah ibu saya masih hidup, beliau selalu jadi hinaan bibi hanya karena menikahi ayah dari kalangan bawah. Hingga suatu hari, ibu diusir dari rumah karena fitnah dari bibi Fani. Ibu meninggalkan semua kemewahan yang dimilikinya, terutama perusahaan yang dikelolanya. Dan perusahaan itu dikelola paman, ayahnya bang Furqan. Setelah paman tiada, bang Furqanlah yang menggantikannya. Abang Furqan g tahu, kalau salah satu perusahaan besar yang kini dipimpinnya adalah milik saya, karena saat pengalihan nama, dia masih diluar negeri. Mereka sengaja menyembunyikan semuanya dari bang Furqan!" Aldi menceritakan tentang keluarga dan perusahaan pada Annisa. Ia pun tidak mengetahui cerita yang sebenarnya.


"Mengapa kakak tidak memberitahu kak Furqan tentang hal itu?"


"Suatu saat, Bang Furqan akan tahu sendiri. Maaf ya, saya jadi curhat!"


"G apa-apa, kak!"


"Sebenarnya, saat kakak mengatakan ingin menjadikan saya adik, saya senang sekali kak, ingin rasanya menangis saat itu. Saya merasa bahagia bila memiliki seorang kakak laki-laki, seperti ada yang menjaga! tapi kak, apa saya bisa menjadi adik yang baik?"


"Itu tergantung kamu, kalau mau baik ya baik, kalau tidak ya buruklah! Nanti, kalau ada waktu kita kerumah pamanmu, saya ingin kenal dengan mereka."


"Dari mana kakak tahu soal paman saya?"


"Panjang ceritanya, nantilah baru kakak ceritakan!"


"Nah, sebagai tanda kalau kita berdua sudah terikat menjadi kakak adik, kamu harus menerima sesuatu dari kakak!"


"Apa itu?!" Tanya Annisa penasaran dengan yang dimaksud Aldi


"Ikut kakak, akan kutunjukkan sesuatu padamu," ajak Aldi.


Annisa setia mengekor dibelakang kakaknya. Mereka berdua menuju mobil Aldi. Annisa seketika mematung di samping mobil Aldi. "Ayo masuk!"


"Tapi kita mau kemana, kak?"


"Masuk saja dulu, nanti juga kamu akan tahu!"


Akhirnya Annisa masuk ke mobil. Aldi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aldi menghentikan mobil di depan sebuah dealler dan menyuruh adiknya keluar dari mobil. Mereka berdua masuk ke dalam dealler.


"Kita mau ngapain, kak?!"


"Pilih motor yang kamu suka, Jangan membantah!"


Annisa terpaksa mengikuti perintah kakaknya. Matanya tertuju pada motor scoopy. "Kak, yang ini, motornya imut!" Annisa menentukan pilihannya. Aldi segera menyerahkan kartu sakti yang limitnya bisa membeli beberapa buah mobil mewah sekaligus.

__ADS_1


"Satu lagi, ponsel yang diberikan abang Furqan harus kamu gunakan. Aku yang membelikannya untukmu! Aktifkan lokasimu ke manapun kamu pergi, karena Herman pasti akan menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu padamu!" perintah Aldi pada Annisa.


"Baiklah, kak!"


Kring kring kring


ponsel Aldi berdering. Aldi segera mengangkat telepon genggamnya.


"Kamu dimana? Batalkan pertemuan kita dirumah makan, ternyata hari ini mereka libur. Dan, belum ada tanda-tanda Herman akan menemui kita."


"Aku tahu!"


"Tahu dari mana kamu?"


"Tahu dari peraturan yang terpampang jelas di tembok rumah makan itu. Kalau Abang ke sana, apa yang Abang perhatikan? Abang ke sana hanya fokus memperhatikan Annisa kan? makanya, kalau bucin jangan kelewatan!"


"awas kau, kau semakin berani padaku!" Furqan langsung mematikan telepon tanpa memberi kesempatan kepada Aldi untuk bicara.


Tut Tut Tut


Kebiasaan kamu, Bang.!Belum selesai bicara sudah dimatikan.


"Siapa yang nelpon, kak?"


"Abang Furqan. Kamu pulanglah lebih dulu, kakak masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan!"


"Baiklah, kak!" Annisa pun pulang dengan mengendarai sepeda motor barunya. Annisa sampai depan rumahnya.


Terima kasih ya Allah, atas anugrah yang Engkau berikan kepadaku! Annisa berdoa atas apa yang didapatkan hari ini.


Waktu terus berlalu, beberapa jam kemudian, Annisa melajukan sepeda motornya dengan santai. Annisa berhenti sebentar di toko Snack untuk membeli beberapa snack yang dinginkan temannya. Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke rumah Fitri. Annisa sampai di depan rumah Fitri dan membunyikan klakson sepeda motornya. Semua teman-temannya telah berkumpul di rumah Fitri. Fitri keluar melihat siapa yang datang.


"Gitu dong, Nis! jangan terlalu menumpuk uang. Jika sudah ada rejeki belikan sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Jangan numpang terus, bisa-bisa yang antar jemput kamu nanti dicemburui kekasihnya masing-masing! Apalagi si Egi, pacarnya cemburu buta. Kalau Aku, Kania, dan Siska g masalah, pacar kami orangnya pengertian, iya kan, Sis?!" Fitri bertanya pada Siska yang ikut keluar.


"Apaan sih? jangan gibah, dosa!" Siska mengingatkan.


"Nanti traktir kita semua, ya! meresmikan motor baru," pinta Kania dengan menunjukkan mimik muka mengharap.


"Nanti dulu bahas traktirannya. Kita fokus dulu ke tujuan kita. Dasar wanita, bawaannya makan teerusss!" Hendra mengingatkan dan mengejek teman wanitanya.


Mereka semua duduk melantai. Annisa mengeluarkan Snack yang telah disiapkannya. Egi yang memulai pembicaraan.


"Aku saja yang akan kerumah pak Komar. Kalau kita pergi beramai-ramai, takutnya orang suruhan Herman mengikuti kita. Saya kan tidak dikenal sama mereka. Kalau Annisa yang ke sana, pasti berbahaya buat pak Komar, dan tidak menutup kemungkinan kalau laki-laki brengsek itu akan melakukan hal buruk pada keluarga beliau!" Egi memberi penjelasan pada teman-temannya.


"Egi ada benarnya. Kita g boleh gegabah menghadapi si brekeok itu. Kita kumpulkan saja dulu buktinya, kemudian kita simpan. Jika nanti si ulat bulu itu berulah lagi, baru kita serahkan bukti itu kepada Bu Farah! Bukankah beliau mengatakan, kalau pengacara kondang itu akan membantu kita apabila beliau yang menyuruhnya? Emangnya, Pengacara kondang itu pacarnya Bu Farah ya?!" ucap Siska mengatur teman-temannya.


"wusss, jangan nanya macam-macam! kalau Bu Farah tahu, bisa tamat riwayatmu!" Kania mengingatkan Siska yang mulai ngawur kalau bicara. Bahkan teman-temannya menertawakan dua nama yang disebutkan Siska untuk Herman.


Meskipun mereka asik ngobrol, tapi lupa memakan cemilan yang bawa Annisa terkecuali Siska yang sibuk bicara hingga lupa dengan cemilan kesukaannya.


"aduuuh! ini cemilan siapa yang habiskan? Aku kan belum makan sedikitpun!" protes Siska yang tak sempat menikmati cemilan yang ada di depannya.


"ha ha ha! Siska, Siska, makanya jadi orang itu harus pintar, mulut bicara tangan bergerak. Meskipun kamu belum memakannya, setidaknya bisa menyimpannya dulu," Kania mengejek Siska


"Nis...masih ada g?"


"Semua dah aku keluarkan, kamunya aja yang lelet!"


"Kalian keterlaluan! masa g sisihkan buatku sedikitpun!" Siska memasang muka jutek karena kesal.


Egi pun pamit pada teman-temannya untuk menemui pak Komar di rumahnya, sementara yang lain menunggu di rumah Fitri.


Di rumah wanita simpanan Herman


Herman masih berada di bawah selimut bersama dengan kekasihnya. Ia membatalkan niatnya untuk menemui Furqan dan Fendi. Ia berpikir bisa menangani kedua temannya itu. Jika sudah mendapatkan kembali kerja sama tersebut, ia akan menghancurkan kedua temannya melalui pekerjaannya.


"Sayang, hari sudah sore ni, ayo bangun!"


Herman pun bangun dan meraih gawainya. Ia Hendak menelpon seseorang yang diandalkannya.


kring kring kring


Si botak mengeluarkan gawai dari saku celananya dan melihat siapa yang menelpon.


"Kalian diam dulu, bos nelpon ni!"


"Halo bos! apa yang bisa kami kerjakan?"


"Saya ingin kalian mengurusi seorang wanita. Saya akan kirimkan foto dan alamat rumahnya. Saya tidak mau tahu, wanita itu harus ada dihadapanku malam ini juga, mengerti!" Herman memerintahkan si ketua preman bayarannya.

__ADS_1


"Baik bos, tapi....!" si botak menggantungkan ucapannya.


"Nanti Saya transfer. kalau pekerjaan kalian tidak beres, kalian akan kuhabisi, paham!"


"Paham bos! Bos tenang saja, itu pekerjaan kecil."


Herman langsung mematikan teleponnya. Si botak memberitahu anak buahnya tentang tugas yang diberikan si bos. Tak lama kemudian handphone si botak bergetar menandakan ada pesan masuk. Si botak membuka pesan, dan ternyata pesan dari bosnya yang mengirimkan alamat rumah dan foto Annisa.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Egi telah kembali dari rumah pak Komar. Informasi dari pak Komar sama dengan yang diceritakan Annisa. Mereka sepakat, kalau Egi yang akan menyimpan bukti itu. Kemudian mereka membubarkan diri dan kembali ke rumah maaing-masing. Pukul 10 malam, Annisa sampai depan rumahnya. Ketika akan turun dari sepeda motornya, Annisa melihat bayangan orang di depannya seolah-seolah ingin mendekapnya. Secepat kilat Annisa menyodorkan tendakan ke belakang sambil menahan motornya. Alhasil tendangannya mengenai bagian perut si penyerang dan membuat si penyerang tersungkur ke belakang. Karena keadaannya tidak seimbang, Annisa terpaksa melepaskan sepeda motornya begitu saja, dan berlari keluar mencari tempat yang luas. 7 orang preman mengepung Annisa.


"Sebaiknya nona menyerahkan diri pada kami, sebelum kami melakukan kekerasan!" ucap si botak yang merupakan ketua dari preman tersebut.


"Siapa kalian? mengapa menginginkan diriku?!"


"Nona tidak perlu tahu, cepat serahkan dirimu, kalau tidak kamu akan rasakan akibatnya!" ancam salah anggota preman.


"Kalau aku g mau?!" tanya Annisa dengan nada mengejek.


"Tangkap wanita keras kepala itu!" perintah si botak pada anak buahnya.


Para preman menganggap, jika wanita yang dihadapinya hanyalah wanita lemah yang apabila diancam akan ketakutan. 2 orang preman maju hendak menarik lengan Annisa. Sebelum keduanya menggapai Annisa, tendangan memutar Annisa lebih dulu mengenai kedua preman tersebut. Sontak teman-temannya kaget dengan aksi Annisa yang begitu tiba-tiba. Yang lain ikut menyerang, tapi Annisa yang telah mencapai sabuk hitam dalam beladiri taekwondo tersebut tidak mudah untuk ditaklukkan.


buk! buk! buk!


Tendangan kaki Annisa mendarat manis ditubuh mereka satu persatu. Si botak tak tinggal diam melihat anak buahnya yang kelabakan.


"Hoo! rupanya kau mau main-main denganku anak ingusan?!" Ucap si botak sambil menyerang Annisa.


Sebelum serangan si botak mengenai Annisa, Annisa lebih dulu menggerakkan kakinya beberapa kali hingga mengenai bagian dada si botak. Botak merasakan sesak seolah g bisa bernapas.


Sial! rupanya anak itu cukup kuat. Aku sendiri tidak bisa melawannya! bathin si botak


Bukan Annisa yang ditaklukkan tapi lawannya yang babak belur hampir tak bisa berdiri.


"Mengapa kalian menyerangku?" tanya Annisa mencengkram leher si botak yang sudah babak belur.


"Kami hanya di suruh!"


"Siapa yang menyuruhmu?"


Belum preman itu menjawab sebuah mobil mewah mendekati mereka. Si pemilik mobil turun dan langsung mendekati Annisa.


"Siapa mereka?" tanya Aldi pada Annisa dilanjutkan dengan memberikan bogem mentah menambah warna biru di wajah si botak.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Aldi bertanya dengan wajah ingin menerkam si botak.


"Ayo jawab! atau aku seret kalian ke kantor polisi!"


"Jangan, tuan! kami hanya di suruh!"


"Siapa yang menyuruhmu? ayo cepat jawab, kalau tidak ak...!" Aldi menggantung ucapannya karena si botak ingin bicara.


"Bos Herman, tuan!" Jawab si botak dengan menahan sakit.


"Jika kalian masih mengganggu adikku lagi, aku pastikan kalian tidak akan bisa menghirup udara segar lagi, mengerti!" ancam Aldi.


"Pergi kalian dari sini, sebelum aku berubah pikiran!" perintah Aldi dan segera dilaksanakan oleh si botak dan anak buahnya.


Si botak dan ke enam anak buahnya terpaksa pulang dengan tangan kosong.


"Sudah babak belur di hajar gadis mungil, pulang dihajar sama si bos, apes benar nasib kita!" ujar si botak pada anak buahnya.


"Iya, bos! ternyata yang kita hadapi, gadis mungil tapi berkekuatan kuda!" jawab salah satu anak buahnya.


Setelah kepergian preman-preman itu, Annisa memperbaiki posisi sepeda motornya. Kemudian, ia mendekati kakaknya.


"Kak, mengapa ke sini?"


"Kebetulan kakak lewat sini dan lihat ada orang depan rumahmu!"


"Aku baru pulang dari rumah teman, kak! saat mau parkir motor, tiba-tiba ada yang menyerangku, ternyata orang suruhannya Herman!"


"Mulai sekarang, kamu harus waspada. Sepertinya Herman akan terus mengganggumu!"


"Baik, kak! kalau gitu aku masuk dulu ya, kak!"


"Masuklah dan istirahat! Kakak juga mau pulang."


Annisa masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Aldi kembali ke mobil dan melajukan mobil menuju kediamannya.

__ADS_1


__ADS_2