
Annisa sudah sembuh seperti sedia kala. Furqan yang selalu menjaganya. Annisa tak mengetahui kalau Fani sudah di tahan dan ditetapkan sebagai tersangka atas beberapa kejahatan yang dilakukannya. Furqan tak ingin membebani pikiran Annisa, tapi Furqan juga ingin agar Annisa bisa melarang Erina agar tidak mengumumkan kejahatan ibunya dan perusahaan ke publik. Bukannya ingin membela orang tuanya, tapi Furqan ingin menjaga nama baik ibunya. Ibunya memang bersalah dan biarlah ia menjalani hukumannya dengan tenang. Furqan rela kehilangan segalanya, asalkan kakak dan adiknya tidak di bully masyarakat dan juga teman-temannya. Furqan memberanikan diri berbicara pada Annisa tentang keluarganya.
"Sayang...! bolehkah aku bicara?" tanya Furqan
"Kak Furqan kenapa? bicara saja harus minta persetujuan dulu dariku, kakak sakit ya?!" Annisa heran melihat perubahan Furqan. Furqan hanya diam menatap Annisa.
"Kok diam? katanya mau bicara? kakak mau bicara tentang apa?" tanya Annisa dengan lembut.
"Tentang ibuku!" Jawab Furqan.
"Tante Fani kenapa kak? dia g apa-apakan?" tanya Annisa. Perhatian Annisa membuat Furqan merasa bersalah.
"Ibu dan Tante Lidia sudah di tahan karena terbukti melakukan kejahatan padamu."
"Apa kak, ditahan?! antarkan aku ke sana, sekarang!" pinta Annisa
"Tapi sayang, kalau Bu Erina tahu kamu menemui ibuku di tahanan, pasti beliau akan marah padamu!" ucap Furqan.
"Ibu g akan marah padaku. Percaya deh!" Annisa berdiri hendak menemui Erina dan minta izin untuk membesuk Fani. Langkahnya tertahan karena Erina lebih dulu menemui Annisa.
"Bu...! aku mau besuk Tante Fani, boleh g?" tanya Annisa
__ADS_1
"Pergilah. Tapi ingat, jangan terlalu lama dan cepat pulang. Fur...ibu percayakan Annisa padamu, jaga dia!" ucap Erina
"Baik Bu!" jawab Furqan. Furqan tak menyangka kalau Erina akan mengizinkan Annisa membesuk ibunya. Mereka berdua segera menuju kantor polisi. Setibanya di kantor polisi, mereka berdua dipertemukan dengan Fani.
Fani sangat murka dengan kedatangan Annisa. Ia bahkan mengeluarkan kata-kata kasar pada Annisa.
"Ngapain kamu ke sini, ha?" Fani bertanya dengan bentakan. Annisa terkejut di buatnya.
"Astagfirullah! Tante, Saya ke sini dengan niat baik!" Ucap Annisa sedikit kecewa dengan sikap calon mertuanya.
"Niat baik?! dasar anak setan kamu Annisa. Aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan anakku, tidak akan pernah. camkan itu! dasar gadis g tahu malu. Sudah tahu saya menjodohkan Furqan dengan gadis lain, kamu terus mendekatinya. Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita?" Fani terus berkata kasar pada Annisa. Furqan yang sengaja membiarkan mereka bicara berdua mendekati Annisa karena sudah tidak tahan mendengar ucapan ibunya.
"Annisa...ayo kita pulang! buang jauh-jauh niat baikmu itu." Furqan kecewa dengan sikap ibunya.
"Iya kak!" Annisa keluar dan menunggu di mobil. Sedangkan Furqan langsung bicara pada ibunya.
"Jika ibu bisa menahan sedikit saja keegoisan ibu, Annisa pasti akan berbaik hati mau membantu ibu untuk keluar dari sini. tapi nyatanya, ibu sendiri yang ingin tetap berada di sini. Jaga diri ibu baik-baik!" pinta Furqan pada ibunya. Kemudian, Furqan meninggalkan ibunya yang sedang memikirkan ucapan putranya. Tapi sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur.
Furqan menyusul Annisa ke mobil. Tak ada yang bersuara, keduanya diam seribu bahasa. Kemudian, Keduanya meninggalkan kantor polisi dan singgah di taman kota. Furqan mengajak Annisa keluar dan duduk di kursi taman sambil memandang bunga-bunga bermekaran. Melihat Annisa tenang dan tersenyum bahagia karena melihat anak-anak bermain, Furqan memberanikan diri untuk memulai percakapan. Furqan meminta maaf pada Annisa atas sikap dan ucapan ibunya.
"Dek...maafkan sikap ibuku! tidak seharusnya ia bersikap begitu padamu."
__ADS_1
"G apa-apa kak! semua ibu akan melakukan hal yang sama untuk putranya. Dia hanya ingin yang terbaik untukmu kak!"
"Tapi sayang, sikap ibu sangat keterlaluan sama kamu. Siapa pun yang mendengar ucapan ibu, pasti akan menilai kalau ibu itu jahat padamu."
"Sudahlah kak, aku tidak ingin membahas itu. Yang aku pikirkan sekarang adalah hubungan kita. Bagaimana hubungan kita selanjutnya jika tante Fani tidak merestui kita? apakah kita akan seperti ini terus menerus atau kita akan menjadi anak durhaka? Kak, anak laki-laki adalah harapan orang tuanya, yang akan menjaganya di masa tuanya. Jika kita memaksakan hubungan ini, aku akan menjadi wanita paling jahat di dunia ini, Wanita yang rela membuat seorang anak laki-laki durhaka pada ibunya hanya karena cintanya. Aku g mau kak, aku g bisa, hiks hiks hiks!" Annisa memberi pengertian pada Furqan. Ia menangisi kisah cintanya yang terhalang oleh restu orang tua. Bagaimanapun, Furqan adalah sosok yang dikagumi, di cintai bahkan diidamkan oleh setiap wanita.
"Apa maksud ucapanmu itu, sayang?"
"Kak...! walaupun Tante Fani adalah pembunuh orang tuaku, aku bisa memaafkannya, tapi tidak dengan restunya. Tanpa restunya, hubungan ini akan sulit kita tentukan ke mana arahnya, ke mana cinta kita akan berlabuh. Aku tidak ingin hidup dengan dosa, kak!"
"Sayang...aku sudah pernah mengatakannya padamu, aku tidak perduli dengan restu ibuku. Dengan atau tanpa restu darinya, aku akan mengikatmu dengan ikatan pernikahan. Kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita nanti. Tenangkan dirimu dan yakinlah, kita bisa lalui semua ini!" Furqan membujuk Annisa.
"Hiks hiks hiks! mungkin bagi kakak, restu tidak penting tapi bagiku itulah kunci kebahagian kita, bukan yang lain!" Air mata Annisa tak ingin berhenti mengalir.
"Lalu aku harus bagaimana? menunggu restu dari ibu?!"
"Ya aku tidak butuh yang lain kak, aku hanya butuh restunya!"
"Tapi Nisa, sampai kapan? kapan ibu akan memberikan restunya pada kita?"
"Usaha dong kak! aku ingin kita bisa menjalin hubungan tanpa cela. Aku ingin bahagia tanpa ada yang tersakiti, apalagi itu ibu. Seorang ibu adalah surga untuk anak laki-lakinya. Percuma kita hidup bahagia, jika diluar sana ada hari yang tersakiti, hati yang terluka karena keegoisan kita berdua. Kak! aku tidak ingin tersenyum diatas derita Tante Fani. Sejahat apapun dia, aku tidak punya hak untuk menghakiminya, untuk merebut anak kebanggaannya, harapannya dan kebahagiaannya. Kakak tau kan kalau dia selalu memuji kakak diluar sana, di hadapan teman-temannya? karena kakak adalah kebanggannya. Mungkin saat ini dia sedang menanggung derita karena kejahatannya, haruskah kita menambah derita itu, haruskah kita menabur garam diatas lukanya? Sejahat apapun dia, kita tidak harus membuatnya semakin terluka, semakin menambah kebenciannya pada kita!" Annisa berusaha menyadarkan Furqan yang bertahan dengan kegoisannya. Furqan tak menyangka Annisa akan berpikir sejauh ini. Ibunya sudah jahat padanya, tapi dia masih memikirkan perasaan ibunya.
__ADS_1
Hatimu terbuat dari apa, sayang? ibuku sudah sangat jahat pada keluargamu, tapi kamu tetap memikirkan perasaannya, memikirkan kebahagiaannya. Aku semakin yakin, jika engkaulah cinta sejati ku. Selamanya aku akan mencintaimu!