Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Putuskan Hubungan


__ADS_3

Liburan ke Bali membawa keberuntungan pada para jombloan. Jika mereka tidak ikut ke Bali, mereka belum tentu ada yang di tembak alias menerima pengakuan cinta.


Setelah kembali dari Bali, suasana hati sudah berubah. Siska belajar jadi wanita kalem, Kania sudah sering tersenyum. Sedangkan Fitri, dia malu pada Annisa dan Erina.


"Bu...bisa g Fitri, Siska dan Kania tinggal dipaviliun?" tanya Aldi pada Erina.


"Boleh saja, asalkan tidak boleh ada yang merayap diam-diam ke sana!" Erina sengaja mewanti-wanti Aldi. Annisa menahan tawa mendengar ucapan Erina.


"Betul, Bu!" sahut Annisa.


"Siapa yang mau merayap ke sana?!" tanya Aldi keheranan.


"Siapa tahu salah satu kekasih dari mereka ingin bertemu diam-diam, bisa aja kan?" Erina terus menguji Aldi.


"Kekasih? siapa Bu?" tanya Aldi


"Mana ibu tahu soal itu? Yang tahu itu ya kekasihnya, siapa lagi?!"


"Kak! waktu di Bali kemarin, aku dan Furqan makan disebuah restoran. Di samping kami, Aku dengar ada yang nyebut nama Fitri gitu, dan cowoknya itu ngungkapin cinta ke Fitri. Itu bukan kakak dan Fitri kan?!" Annisa pura-pura g kenal.


"G tahu ah. Aku berangkat dulu. Bu...!" Aldi segera mengakhiri sarapan paginya dan menyalami Erina. Ia sengaja menghindar dari adik dan ibu asuhnya.


Annisa dan Furqan akan membesuk Fani dipenjara. Annisa dan Furqan janjian di kantor polisi. Annisa pamit pada Erina untuk membesuk Fani dan Erina mengizinkannya. Annisa mengendarai mobil sendiri dan dalam perjalanan, ia dihadang sebuah mobil hitam. Karena jalanan sedang sepi, Annisa menghubungi Aldi dan Siska dan mensharelock lokasinya. Annisa memperhatikan mereka dari dalam mobil. Empat orang berbadan besar mendekati mobil Annisa dan menyuruh Annisa keluar. Annisa mencoba bertahan di dalam dan keempat penghadang itu mengedor-ngedor pintu mobil. Tak lama kemudian, Aldi dan Siska muncul bersamaan dan keluar dari mobil.


"He....kalian ngapain ganggu cewek itu?" tanya Aldi.


Saat perhatian mereka beralih ke Aldi dan Siska, Annisa segera keluar dan mendekati Siska.


"Apa urusan kalian?" tanya salah satu penghadang


"Jelas itu menjadi urusan kami, karena gadis ini adalah sahabat saya dan adiknya dia!" ucap Siska sambil menunjuk Aldi.


"Oooo, jadi kalian anak miliader itu?!" tanya si penghadang


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Aldi


"Kalian berdua!" jawab si penghadang.


Annisa menatap sinis pada preman-preman yang menghadangnya. Tatapan sinis Annisa membuat mereka naik darah.

__ADS_1


Seorang preman hendak menyerang Annisa dan Siska, tapi serangannya hanya mengenai tempat kosong. Alhasil, kegagalannya semakin membuatnya marah. Kemudian, preman yang lain ikut menyerang Siska dan Annisa. Aldi membiarkan Siska dan adiknya bertarung melawan lebih dulu. Seorang preman yang baru keluar dari mobil mengambil sebuah balok dan ingin memukul Aldi dari belakang, tapi Annisa bergerak cepat dengan melempar sebuah batu sebesar kepalan tangan dan mengenai lengan penyerang. Aldi balik badan dan menyerang orang yang menyerangnya.


"Brengsek!" ucap Aldi. Aldi tak ingin memberikan kesempatan pada dua orang preman yang menyerangnya. Hanya dengan dua tendangan, keduanya langsung ambruk dan g bisa lagi berdiri. Sementara, Seorang preman mengeluarkan sebilah pisau dan ingin menusukkannya pada Annisa. Annisa bergerak lebih lihai dan menghindar dari pisau tersebut. Saat posisi pemegang pisau tak seimbang, Siska melayangkan tendangan dengan kekuatan penuh. Tak bisa menghindar, akhirnya tendangan Siska tepat mengenai dada bidang si preman dan tumbang dengan meringis menahan sakit.


Annisa melakukan serangan pada tempat yang membuat semua pria bisa kehilangan kesadaran dalam sekejap. Si preman hanya bisa menahan napas karena rudalnya menerima tendangan dengan ikhlas. Ekspresi wajahnya membuat Siska ngakak karena merasa lucu.


"Wek Wek Wek, aduh pecah deh modal Abang!" Ucap Siska pada sipreman


"Aw...awas ya kalian!" ancam preman


"G usah ngancam bang. Masuk rumah sakit aja dulu, betulin dulu bentuknya ya, ha ha ha!" Siska terus tertawa.


Sedang Asyik tertawa, ponsel salah satu preman berdering. Aldi mengambil alih dan melihat nama penelpon. Aldi kaget, karena nama pak Kuncoro yang ada dilayar ponsel tersebut. Aldi menerima panggilan dari Kuncoro.


"Kalian berhasil membawa gadis itu?" Tanya Kuncoro pada anak buahnya.


"Selamat pagi pak Kuncoro! jadi mereka anak buah bapak?" tanya Aldi. Kuncoro tidak menjawab, malah menutup telponnya. Aldi segera melacak posisi Kuncoro dengan ponselnya. Setelah ia tahu dimana Kuncoro berada, Aldi segera kesana dengan membawa salah satu anak buah Kuncoro.


"Siska, bawa dia!" perintah Aldi pada Siska


"Kamu lanjutkan perjalananmu. Kakak akan menemui Kuncoro di rumahnya!" tegas Aldi pada Annisa.


"Baik Kak, kakak hati-hati ya!" jawab Annisa


"Oke bos!" Canda Siska pada Annisa


Aldi dan Siska menuju rumah Kuncoro, dan Annisa langsung ke kantor polisi. Setibanya di depan rumah Kuncoro, satpam menghadang Aldi.


"Mau bertemu siapa pak?" tanya satpam


"Mana majikanmu? katakan padanya Saya datang menemuinya!"


"Tuan ada di atas dan g bisa di ganggu. Ada pesan untuk beliau?"


"Siska, seret dia ke mari! beritahu majikanmu, jangan berani mengganggu adikku. Aku tidak akan segan-segan menghancurkannya. Ingat itu!" tegas Aldi pada satpam. Kemudian, Aldi menyerat preman yang mereka bawa ke hadapan satpam.


Meskipun Aldi sudah berkuasa, tapi dia tidak serta Merta bertindak semaunya. Aldi memperhatikan norma-norma di masyarakat. Kemudian, Aldi dan Siska kembali keperusahaan. Mengapa Aldi dan Siska bisa bersama? karena Siska bekerja sebagai Sekretaris Aldi sekaligus bodyguardnya. Siska menyukai pekerjaan barunya.


Annisa pun tiba di kantor polisi. Ia disambut Furqan yang lebih dulu tiba.

__ADS_1


"Kenapa lama, sayang?" tanya Furqan khawatir


"Tadi, aku di hadang oleh beberapa orang preman!" jawab Annisa santai


"Apa? Siapa mereka? kamu g apa-apa kan?!"


"Aku g apa-apa kak! lihat, aku baik-baik aja kan? Kak Aldi dan Siska yang membantuku!"


"Syukurlah! lalu siapa mereka?" sekali lagi Furqan menanyakan preman-preman yang menghadang kekesihnya.


"Aku dengar, kak Aldi menyebut nama Kuncoro!"


Mendengar jawaban kekasihnya, Furqan segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kuncoro. Saat Kuncoro menerima panggilannya, Furqan tak memberi kesempatan padanya untuk bicara.


"Halo Paman, aku akan menemui paman di kantor setelah aku dari kantor polisi!" ucap Furqan dan langsung mematikan ponselnya.


Setelah menghubungi Koncoro, Aldi dan Annisa masuk dan mememui Fani.


"Mengapa kalian kemari?" tanya Fani pada putranya.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Furqan


"Tidak perlu perhatian pada ibu. Karena gadis ini, kamu rela memenjarakan ibu Furqan! dan kamu, kamu senang kan aku di penjara?" Fani kecewa dengan putranya dan menyalahkan Annisa.


"Bukan Furqan yang memenjarakan ibu, tapi kesalahan ibu sendiri! Seharusnya ibu sadar karena sudah melakukan kesalahan besar hanya demi harta. Bu...berhentilah menyalahkan orang lain, Annisa ke sini karena punya niat baik. Dia sayang sama ibu, meskipun ibu jahat padanya!" Furqan menasehati ibunya.


"Sayang sama ibu? Dia sayang karena ada maunya. Dia mau, ibu merestuinya denganmu kan? humm, g akan pernah!" geram Fani.


Annisa kesal juga mendengarnya. Tapi, Annisa sabar menghadapi mak lampir dan bicara dengannya.


"Tante...Saya datang ke sini, murni karena ingin membesuk Tante bukan minta restu! jika saya mau, saya bisa menikah dengan Furqan tanpa restu Tante, tapi tidak saya lakukan. Saya g mau kak Furqan durhaka pada ibunya!" jelas Annisa agar Fani mengerti.


"Kalau kamu tidak ingin Furqan durhaka, tinggalkan dia. Itu cara yang tepat untuk menjauhkan Furqan agar tidak durhaka. Untuk apa bertahan dengannya, kalau kamu tidak mendapat restu dariku? atau jangan-jangan kamu sudah menyerahkan tubuhmu padanya?" Fani merendahkan Annisa. Annisa hanya bisa sapu dada mendengar omongan buruk dari Fani.


"Bu...Annisa tak serendah itu. jangankan menyerahkan tubuhnya, memegang tangannya pun aku g pernah. Dia menjaga harga dirinya dan tak ingin di sentuh sebelum resmi dinikahi. Mungkin ibu tak percaya, tapi itulah kenyataannya!"


"Omong kosong!" ucap Fani tidak percaya.


"Kalau memang itu yang Tante inginkan, aku g masalah. Aku akan memutuskan hubunganku dengan Furqan. Dan, aku harap kak Furqan menerima keputusanku ini serta tidak lagi memaksakan diri untuk meminta restu pada Tante!" Annisa pergi meninggalkan ruang besuk. Annisa merasakan sesak di dada atas keputusan yang diambilnya. Bagaimanapun, ia sudah memiliki mimpi bersama Furqan. Tapi, semuanya harus ia pendam sendiri. Tak lama kemudian, Furqan menyusulnya.

__ADS_1


"Kak Fur! kakak dengar kan apa yang Tante inginkan? ikutilah apa yang menjadi keinginannya. Tante butuh ketenangan walaupun dia dalam penjara. Tante tidak akan tenang, jika kita masih bersama. Ikhlaskan semuanya, Kak! terima kasih sudah mencintaiku dengan setulus hati. Walaupun kita berdua saling mencintai, tapi...kita tak harus bersama. Aku sangat, sangat mencintaimu, tapi aku tidak harus memilikimu!" Air mata Annisa jatuh tanpa di undang. Kemudian, Annisa meninggalkan kantor polisi serta meninggalkan Furqan yang masih dalam keadaan syok dengan keputusan Annisa.


Apakah kisah kita hanya sampai di sini? tidak! tidak akan aku biarkan kau pergi, sayang! gumam Furqan menyemangati dirinya.


__ADS_2