
Setelah meninggalkan hotel Sahara, Furqan dan Aldi menepi serta berunding tentang apa yang akan mereka lakukan terhadap kejadian di hotel. Entah siapa yang akan memberitahu Annisa soal kejadian tersebut. Furqan tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari orang yang ia cintai tersebut.
"Al...aku sendiri yang akan memberitahu Annisa dan memberikan video ini padanya. Meskipun aku di jebak, aku tetap harus menjelaskan semuanya. Tapi aku harus mulai dari mana Al?"
"Kamu ikut aku ke kantor. Soal Annisa, nanti aku yang urus. Aku akan bantu sebisa mungkin".
"Terima kasih Al. Kau memang yang terbaik!" Furqan memeluk Aldi.
"Jangan memelukku, aku bukan istrimu!" canda Aldi.
"Jangan bercanda dong Al, aku bisa gila ni!"
"Ha ha ha, bisa-bisanya kamu dijebak oleh simpanannya si Herman. Belum lagi si Broto yang ikut membantunya. Ikan emas termakan umpannya". Aldi menertawai Furqan.
"Akkhhhh!" Furqan berteriak karena frustasi.
Aldi hanya tertawa melihat Furqan frustasi menghadapi masalah yang menimpanya. Aldi terus melajukan mobilnya menuju kantornya. Sebelum sampai di kantor, Aldi menelpon Annisa dan Fitri.
Kring Kring Kring, Kring kring kring
Berulang kali ponsel Annisa berdering tapi g ada yang angkat. Fitri datang ke ruang tengah dan memberitahu Annisa.
"Nis...ada yang nelpon nih!"
"Siapa Fit?"
Fitri mendekati ponsel Annisa dan melihat siapa yang nelpon. Ia melihat nama suaminya.
"Kak Aldi Nis!"
"Angkat aja Fit, siapa tahu penting!"
Fitri menerima panggilan suamniya.
"Halo...!" ucap Fitri.
"Halo sayang, Annisa mana?"
"Annisa ada di belakang, g tahu ngapain. Dia nyuruh aku yang terima. Mau bicara dengannya?"
"Dengan kamu saja. Kalian berdua ke kantor sekarang. Ada hal penting yang harus diselesaikan. Jangan beritahu ibu dulu karena ini masalah perselingkuhan Furqan!" Aldi sengaja membuat istrinya syok.
Furqan langsung berdiri mendengar ucapan Aldi terhadap istrinya. Ia seolah meminta penjelasan atas terbukanya Aldi pada istrinya. Tapi Aldi memberi kode agar ia tenang saja. Furqan kembali duduk.
"Apa....? nggak mungkin kak, Kakak jangan bercanda deh!" Fitri syok mendengar ucapan suaminya. Hampir saja hp yang dipegangnya jatuh kelantai.
Fitri melihat sekeliling. Ia takut jangan sampai ada yang mendengar suaranya. Sedangkan Aldi yang mendengar teriakan istrinya segera menjauhkan ponsel dari telinganya karena kerasnya suara Fitri.
"Jangan sampai Annisa tahu. Kalian cepat ke kantor, Kakak tunggu!" Aldi menutup ponselnya.
Fitri masih mematung tak percaya. Ia bingung harus ngapain. Annisa datang mengagetkannya.
__ADS_1
"Heiii, kenapa diam seperti patung Fit? kak Aldi bicara apa?" tanya Annisa.
Masih dalam ketidakpercayaannya terhadap apa yang ia dengar dari suaminya, Fitri menjawab tanpa sadar.
"Kak Aldi mengatakan kalau kak Furqan selingkuh". jawab Fitri jujur.
"Apa?!" tanya Annisa memperjelas ucapan Fitri.
"Eh bukan, maksudku kita di suruh datang ke kantor sekarang. Kak Aldi bilang ada masalah di sana". Fitri berusaha meralat jawabannya.
"Fit...bicara yang benar. Aku tahu kamu bohong. Aku tidak akan marah walau itu benar Fit. Bicaralah!" pinta Annisa.
Fitri melihat ada genangan air mata yang tumpah. Ia menyesal karena sudah keceplosan mengatakannya. Aldi pasti akan marah padanya.
"Nis...maafin aku. Kak Furqan beneran selingkuh. Kita harus ke kantor sekarang, mungkin kak Aldi akan menjelaskannya padamu. Ayo, nanti kak Aldi menunggu lama!" ajak Fitri.
Annisa mencoba menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan perlahan menghembuskannya. Ia akan menemui kakaknya untuk mengetahui kejelasan dari ucapan Fitri.
Annisa dan Fitri meluncur menuju kantor Aldi. Tiba di sana, keduanya langsung menuju ke Lift khusus petinggi perusahaan. Keduanya pun sudah berada di depan ruangan Aldi. Siska yang melihat mereka meloncat kegirangan melihat kedua sahabatnya berada di kantor. Ada keanehan yang dirasakan Siska saat melihat Annisa yang hanya tersenyum kecil dan seolah tak melihatnya. Siska berusaha meminta penjelasan pada Fitri tapi Fitri justru melarangnya untuk banyak bertanya. Siska pun diam dan kembali kemejanya. ia akan meminta penjelasan setelah Fitri dan Annisa pulang.
Annisa dan Fitri masuk ke dalam ruangan pribadi Aldi. Aldi melihat Annisa murung dan malas bicara. Fitri menyadari kalau suaminya merasa heran dengan adik iparnya itu. Fitri segera mendekati suaminya dan menjauh dari Annisa serta meminta maaf kalau dialah yang menyebabkan Annisa jadi murung. Annisa tak bicara sedikit pun. Ia merasa dirinya seperti dihimpit bumi.
"Kak...maaf, dia sudah tahu. Aku keceplosan saat dia bertanya padaku". Fitri menunjukkan rasa bersalahnya pada Aldi.
"Kok bisa?!"
"Habisnya aku syok saat mendengar Kak Furqan selingkuh". Fitri membela diri. Ia takut Aldi marah padanya.
"Kak Furqan ada di sini?!"
"Iya!" jawab Aldi.
Fitri pun pergi membuat dua gelas kopi untuk Aldi dan Furqan. Sementara Aldi mendekati Annisa yang sedari tadi diam tak bersuara. Ketika Aldi menyebut namanya, air matanya langsung tumpah dan dia memeluk kakaknya.
Aldi menenangkan Annisa. Kemudian, Aldi mengajak Annisa untuk duduk di sofa.
"Duduklah! jangan cengeng dong dek, harus kuat jika ingin bahagia!" Aldi memberi support pada Annisa.
"Siapa yang g terluka kak, ketika seseorang yang kita cintai selingkuh. Apalagi, pernikahan kami tinggal menghitung hari. Kalau kak Furqan g serius, kenapa dia ngotot ingin segera menikah, hiks hiks hiks!" Annisa kecewa dengan Furqan.
Furqan yang bersembunyi dibelakang meja kerja Aldi merasakan sakit ketika mendengar Annisa menangis. Ia ingin segera keluar dari persembunyiannya, jika Aldi tidak melarangnya.
"Itulah sebabnya kakak menyuruhmu ke mari, agar kamu bisa mengetahui yang sebenarnya. Kamu siap melihat videonya?"
Annisa menatap kakaknya. Kemudian, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia sudah siap. Aldi mengambil ponselnya dan memperlihatkan rekaman video tersebut kepada Annisa. Sekuat apapun Annisa, air matanya tetap tumpah dan ingin rasanya ia berlari. Perlahan, suara tangis Annisa mulai reda. Annisa mengerti dengan isi rekaman tersebut. Ia memang tidak yakin kalau kekasihnya akan selingkuh darinya. Aldi mengetik sesuatu di ponselnya dan memberikannya pada Annisa untuk di baca. Isi pesan tersebut adalah meminta Annisa untuk pura-pura kecewa dan menolak untuk melanjutkan pernikahan mereka. Annisa setuju dan akan mulai berakting.
"Kak...kenapa kak Furqan setega itu melakukan semua ini, kenapa?" Annisa pura-pura kecewa.
"Dek...coba perhatikan baik- baik rekaman itu. Di situ jelas sekali kalau Furqan itu di jebak karena ingin balas dendam. Dia g sengaja melakukannya, kamu harus bisa terima itu!"
"Kak...aku ini seorang wanita. sengaja ataupun tidak, selingkuh tetap tidak dibenarkan. Kalau memang dia di jebak, kenapa bukan dia langsung yang menjelaskannya pada Nisa, kenapa harus kakak?"
__ADS_1
Saat Aldi hendak bicara, Fitri tiba-tiba muncul dengan dua gelas kopi di tangannya. Aldi menyuruh Fitri untuk menaruh gelas kopi itu di atas meja dan memintanya duduk di sofa yang lain. Kemudian, Aldi melanjutkan aktingnya dengan Annisa.
"Furqan mau menjelaskannya padamu, tapi kakak yang menahannya. Kakak yang memintanya membiarkan kakak menjelaskannya, tapi kamu malah tidak terima seperti ini. Kakak terserah padamu saja, mau melanjutkan pernikahan atau tidak itu hak kamu!"
"Maafkan Nisa kak, Nisa harus membatalkan pernikahan Nisa dan kak Furqan. Nisa ke cewa padanya!"
"Nis...pikirkan baik-baik, jangan sampai kamu nyesal nantinya. Kak...apa benar kak Furqan selingkuh?" Fitri ikut memberi saran pada Annisa dan bertanya pada suaminya.
"Nisa sudah melihat rekaman videonya. Dan dia sudah mengambil keputusan. Kita harus menghormati keputusannya itu. Nanti kita akan bahas dengan ibu jika sudah di rumah nanti". ucap Aldi pada istrinya.
Furqan tak sanggup lagi mendengar keputusan Fitri. Ia segera keluar dari persembunyiannya dan protes pada Aldi.
"Tunggu Al! kamu bagaimana sih? bukannya kamu mau membantu menjelaskan semuanya pada Annisa, tapi nyatanya kamu malah tidak berbuat apapun. Nis...percaya padaku, aku tidak selingkuh. Aku dijebak oleh wanita simpanannya Herman dengan bantuan salah satu klienku. Percaya padaku Nis. Al...bantuin dong!"
"Minum dulu kopinya. Sengaja aku suruh istriku untuk buatkan kopi agar kamu bisa tenang!"
"Al...kamu jangan membuatku tambah pusing. Kopi itu g ada hubungannya dengan ketenanganku. Hanya dengan Annisa percaya padaku, baru aku bisa tenang. Aku g butuh yang lain". Furqan terus mencari jalan agar masalahnya selesai.
"Kak...maaf, aku harus membatalkan pernikahan kita. Anggap kita tidak pernah bertemu. Ayo kak, kita pulang. Aku ingin segera sampai rumah!" Annisa sengaja membuat Furqan semakin frustasi.
"Fur...kami akan lebih dulu. Maaf, aku tidak bisa membantumu memberi penjelasan pada Annisa. Hubungan kalian cukup sampai di sini!"
Mendengar ucapan Aldi, Furqan tersungkur di lantai. Ia tak menyangka kalau kejadian yang menimpanya akan berakibat fatal. Furqan seperti kehilangan nyawanya. Ia sudah tidak peduli dengan keadaannya dan mengis sejadi-jadinya.
"Nis...maafkan aku dek! aku tidak pernah ada niat untuk selingkuh. Aku benar-benar dijebak!" Furqan terus memohon.
Ketika semuanya hendak keluar ruangan, Furqan berteriak sekuat mungkin memanggil Annisa.
"Annisaaaaa!"
Annisa balik badan dan menegur Furqan.
"Kakak kenapa? kok jadi berantakan begitu? malu kak, sama yang lain. CEO kok cengeng, ha ha ha!" Annisa menertawai Furqan.
Sementara Fitri dan Furqan kebingungan terhadap Annisa dan Aldi.
"Kalian berdua kenapa? bingung? makanya pintar akting biar jadi artis, ha ha ha!" Aldi menertawai Furqan dan Fitri.
"Ayo bangun! Nisa sudah memaafkanmu dan dia tahu kalau kamu dijebak". ucap Aldi.
Furqan berdiri dan membereskan wajahnya yang basah oleh air mata.
"Kamu g akan membatalkan pernikahan kita kan? dan tahu dari mana aku di jebak?"
"Dari rekaman itu kak. Semua terekam di situ. G ada alasan bagiku untuk menghakimi kakak".
"Kamu hampir membuatku mati bunuh diri dek. Aku lebih baik mati dari pada kehilanganmu!"
"Sudah bisa tenang sekarang?" tanya Annisa pada Furqan.
"Terima kasih dek!" Furqan merasa semangat hidupnya kembali.
__ADS_1
Annisa, Aldi dan Furqan membiarkan Fitri masih dalam kebingungannya. Fitri menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung dengan suami dan adik iparnya.