
Susi yang baru keluar dari kamarnya, heran melihat adiknya tidak ke kantor.
"Fur ...g ngantor kamu?!"
"Tidak kak! kak...sebaiknya kakak siap-siap menggantikan aku diperusahaan. Aku akan tinggalkan perusahaan!" ucap Furqan
"Kamu gila, aku g mau urus perusahaan. Aku ingin fokus dibutik. Kamu kenapa sih, ada masalah?!" tanya Susi
Sejak ibunya di penjara, Susi, Fiona dan Furqan sudah sering ngobrol dan bercanda. Susi merasakan kebahagiaan tatkala bisa bercengkrama dengan adik-adiknya di rumah dan saling perhatian satu sama lain.
"Annisa...Annisa memutuskan hubungan kami!"
"Tapi...tapi kenapa Fur? ada masalah antara kalian berdua?!" Susi khawatir dengan keadaan Furqan apabila Annisa menjauh darinya.
"Karena ibu! Aku dan Annisa membesuk ibu. Ibu merendahkan Annisa dan memintanya meninggalkanku. Annisa satu-satunya wanita kukenal yang menghormati ibu. Dia tidak ingin aku durhaka pada ibu. Jika ibu seperti ini terus, aku tidak bisa lagi mengikuti keinginannya!" Furqan putus asa menghadapi ibunya.
"Aku akan mencoba membujuk ibu!" bujuk Susi
"Entahlah, aku lelah menghadapi ibu. Aku tidak ingin berdebat dengannya, tapi... ibu tak mengerti!"
Di rumahnya, Annisa duduk sendirian di taman belakang dan Fitri datang menemaninya. Fitri tahu, kalau Annisa ada masalah dengan Furqan. Tidak biasanya ia duduk sendirian dan kelihatan murung.
"Nis...kamu kok kelihatan murung? ada masalah?!" tanya Fitri.
"Ia. Aku...dah memutuskan hubungan dengan kak Furqan!"
"What...! tapi kenapa Nis?!"
"Ibunya memintaku untuk menjauhi kak Furqan!"
"Lalu kamu ikuti?!"
"Ya!" jawab Annisa singkat.
"Nis...jangan lakukan itu! Furqan akan sangat kecewa dengan keputusanmu itu. Dia sangat mencintaimu, Nis!" Fitri melarang Annisa.
"Tapi aku harus bagaimana? aku g mungkin menyuruh Kak Furqan melawan ibunya. Aku tidak mau menanggung dosa hanya karena cintaku padanya. Mungkin ini yang terbaik untuk kami berdua!" Annisa pasrah.
"Apa kamu memikirkan bagaimana perasaan kak Furqan kedepannya? Aku saja, tidak bisa membayangkannya. Berulang kali dia katakan padaku, kalau dia tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi. Apa permintaan ibunya lebih kuat dari cintamu kepadanya?!"
"Cintaku begitu besar padanya. Siapa yang mau kehilangan orang seperti dia? sangat jarang, ada laki-laki yang mampu menahan nafsunya ketika bersama kekasihnya, dia mampu melakukan itu. Dia laki-laki yang mampu menjaga kehormatanku. Tapi...?"
"Tapi apa? yang aku tahu, jika orang tua menghalangi anaknya yang sudah siap lahir bathin untuk menikah, mereka juga berdosa. Apa yang diragukan ibunya dari kamu? cantik ia, baik ia, kaya apalagi. Orang baik akan mendapatkan yang baik, seperti kamu dan Furqan!"
"Fit...kamu tahu kan, kehilangan orang tua itu sangat menyakitkan? aku butuh orang tua yang akan membimbingku dalam berumah tangga, bukan orang tua yang justru menjadi musuh dalam rumah tanggaku nanti!"
"Ya sudah, semua keputusan ada padamu! tapi ingat, jangan sampai kamu menyesalinya, aku masuk dulu!" Fitri mengingatkan Annisa. Fitri meninggalkan Annisa dan membantu Kania mengemasi pesanan orang.
Di Kantor Aldi
Siska menemui Aldi.
"Bos...ada rapat sore ini di hotel Angkasa Putra dengan perusahaan Mitra Persada!" Ucap Siska pada Bosnya.
"Semua sudah disiapkan?" tanya Aldi.
__ADS_1
"Sudah bos!" jawab Siska.
"Kita akan ke sana lebih dulu dan menunggu mereka!" titah Aldi.
"Baik bos!"
Siska kagum pada bosnya, karena meskipun dia adalah pemimpin perusahaan besar, tapi tidak berlaga seolah dia yang harus diutamakan. Siska kembali ke mejanya dan menyiapkan berkas yang mereka bawa saat rapat. Sedang sibuk dengan pekerjaan, Siska tak menyadari kedatangan Furqan. Saat mengangkat kepala, Siska kaget Furqan telah berdiri didepan mejanya.
"aduhhh...bos kedua, kalau muncul itu bersuara dong, ngagetin aja deh! mau bertemu siapa?" tanya Siska jutek.
"Bosmu mana?" tanya Furqan.
"Ada di dalam!" jawab Siska. Kemudian, Siska menekan intercom untuk memberitahu kedatangan Furqan.
"Suruh masuk!" perintah Aldi.
"Silahkan masuk bos!" perintah Siska pada Furqan.
Furqan masuk dan langsung duduk di sofa khusus tamu.
"Ada masalah?!" selidik Aldi.
"Soal Annisa. Annisa ingin memutuskan hubungan denganku! aku minta bantuanmu untuk membujuk Annisa agar menarik kembali keputusannya. Aku tidak bisa kehilangan dia, Al!"
"Apa kamu melakukan kesalahan?!"
"Tidak! tapi ibuku yang memintanya untuk menjauhiku dan dia menyetujui itu. Kamu harus membantuku, Al!" pinta Furqan.
"Akan aku coba, tapi aku tidak berjanji. Berhasil dan tidaknya kita lihat saja nanti!" Jawab Aldi.
"Mau bertemu Kuncoro?!" selidik Aldi.
"Ya! aku harus harus membeli pelajaran padanya agar tidak lagi mengganggu Annisa!" geram Furqan.
"Tidak perlu, Fur! Annisa baik-baik saja. G usah diperpanjang. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama".
"Tapi...Al! aku tidak ingin hal buruk terjadi pada Annisa ke depannya. Paman Kuncoro pasti membantu ibuku. Maafkan atas ketidak mampuanku melindungi Annisa, Al!" Furqan meminta maaf.
Furqan kembali ke kantornya. Sementara Annisa, Tidak melakukan aktifitas apapun setelah memutuskan hubungannya dengan Furqan. Ia seperti kehilangan separuh jiwanya.
Erina menemui Annisa di taman belakang.
"Nis...apa yang kamu pikirkan? udah seharian ini kamu g makan. Ada masalah apa, sayang?"
"Aku putus dengan kak Furqan, Bu!"
"Kok bisa?!"
"Tante Fani yang memintaku. Aku tidak bisa bertahan kalau Furqan harus melawan orang tuanya".
"Bagaimana dengan Furqan?"
"Furqan g mau kami putus. Tapi...harus gimana lagi, Bu?"
"Coba lihat dirimu, baru kemarin putus udah g makan seharian ini! melupakan seseorang yang kita cinta dan kita sayangi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sangat berat, bahkan ada yang merusak dirinya. Ibu lihat, kamu g bisa melupakan Furqan".
__ADS_1
Annisa meletakkan kepalanya di paha Erina dan Erina mengelus kepalanya yang tertutup hijab. Annisa bingung dengan sikapnya. Berani memutuskan tapi tak mampu menerima kenyataan.
"Kalau kamu seperti ini terus, kamu bisa sakit. Lebih baik, fokuskan pikiran pada bisnismu. Kasian Fitri dan Kania, mereka berdua sibuk. Sementara kamu, sibuk sendiri dengan keputusanmu. Yang semangat doong!"
Annisa tersenyum pada Erina. "Makasih, Bu!"
Erina membalas senyuman Annisa. Erina bahagia melihat anak asuhnya semangat kembali.
"Bu...aku ingin bertemu kak Furqan!"
"Pergilah!" perintah Erina.
Annisa menemui kedua sahabatnya yang sedang sibuk mengurus barang di gudang.
"Fit...Nia! aku keluar sebentar ya, ada urusan". izin Annisa.
"Oke!" jawab Fitri dan Kania.
Annisa meraih kunci mobilnya dan sebelum masuk ke mobil, ia menghubungi Furqan terlebih dahulu.
Kring kring kring
Furqan yang sedang melamun dikursi kebesarannya, melirik nama yang tertera di layar ponselnya. Ia segera menerima panggilan Annisa dengan senyum bahagia.
"Halo, sayang!"
"Kak...temui aku di restoran kak Ainun! aku ingin bicara denganmu. Jangan lama ya!"
"Oke kesana sekarang". jawab Furqan penuh semangat.
Kemudian, Annisa berangkat dengan pikiran yang berkecamuk dikepalanya. Ia jadi bingung, apa yang ia bicarakan dengan Furqan. Sesampainya di restoran, Furqan sudah lebih dulu nyampe di sana. Furqan keluar menyambut Annisa. Keduanya masuk keruang VIP agar tak ada yang menganggu mereka.
"Duduk, kak!" pinta Annisa. Keduanya sama-sama duduk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Aku...apakah boleh aku meminta hubungan kita dilanjutkan?" tanya Annisa malu.
"Kamu tidak bercanda kan?"
"Aku serius, kak! setelah aku pertimbangkan kembali, aku putuskan untuk kembali meneruskan hubungan kita. Itupun kalau kak Furqan tidak keberatan!"
"Untuk apa aku keberatan? toh, bukan aku yang mulai kan?"
Annisa tertunduk malu dan Furqan malah menggodanya.
"Jangan tunduk terlalu lama, nanti ada yang meluk!"
Mendengar penuturan Furqan, Annisa melotot pada Furqan.
"Nis... apa yang membuatmu tidak ingin kusentuh walaupun hanya memegang tanganmu? apalagi menciummu".
"Jika seseorang benar-benar mencintai kita, maka dia akan tahu batasannya. Kami wanita, seperti telur diujung tanduk. Salah sedikit, akan hancur tak bisa lagi disatukan. Sekecil apapun kesalahan wanita dimasa lalunya, itu akan menjadi bayangan hitam dalam kehidupannya dan dianggap noda oleh lelaki yang mendekatinya. Kalau kaum pria, sebesar apapun kesalahannya, kalian merasa itu adalah wajar. padahal, g boleh seperti itu. Seharusnya, kesalahan-kesalahan dimasa lalu harus dijadikan pelajaran, dan saling menerima kekurangan satu sama lain. Jika seorang wanita sudah pernah di sentuh oleh laki-laki lain saat pacaran dan kemudian putus, maka wanitanya akan disebut bekas si dialah, si itulah. Kalau kalian, g kan? bebas-bebas aja. Dan...yang paling penting, kita belum menikah dan belum sah untuk bersentuhan. Paham, pak?!"
Furqan menatap lekat Annisa.
__ADS_1
Seandainya semua wanita di dunia ini bisa menjaga dirinya seperti Annisa, tidak akan ada lagi yang terhina karena masa lalunya. Benar juga apa yang dikatakannya, kalau namanya saling mencintai harus saling menerima kekurangan masing-masing.