
Aldi sibuk menghubungi beberapa perusahaan yang memproduksi tas wanita dan jaket pria. Untuk jam tangan, ia melihat kesiapan adiknya. Tidak membutuhkan waktu lama, Annisa sudah bisa melakukan pemasaran melalui dunia Maya. Annisa mengirim beberapa foto tas mahal, jaket beserta deskripsi dan legalitas keasliannya. Tas dan jaket yang ia pasarkan, harga puluhan juta hingga ratusan juta rupiah dengan jaminan barang palsu uang dikembalikan. Barang 3 hari sampai 5 hari di terima tergantung lokasi pemesan. Instragram dan Facebook Annisa sudah dibanjiri para pecinta prosuk-produk bermerek, mulai dari yang bertanya hingga ingin membeli. Yang akan melayani pembeli adalah mbok Minaiya. Seorang model papan atas telah menandai salah satu foto tas berwarna silver.
Saya yang warna silver, dan saya sangat percaya kalau yang anda jual barang asli. Kirim noreknya ya@SyantikAnggita
Okay, norek siap meluncur@Minaiyalawyer
Bisa COD g sih???????@FifianPutri
Ha ha ha, ini bukan barang KW sayang, asli dari perusahaannya langsung lo@Minaiyalawyer
Jaket warna merah, bungkus@Lolitabatubara
Annisa sangat semangat dengan bisnis barunya.
Ternyata bisnis online menyenangkan juga. Pantas, banyak yang memilih melakukannya. Selain mudah, juga tidak mengganggu aktifitas yang lain, gumam Annisa
Di Rumah Makan
Fitri, Kania, Siska dan yang lainnya terus mengamati pintu masuk, berharap Annisa akan datang. Hingga waktu makan siang selesai, yang di tunggu tak juga muncul. Yang membuat mereka heran, sikap Bu Farah yang kelihatan biasa saja tidak menunjukkan kalau dia sedang marah karena Annisa tidak datang hingga siang ini. Karena penasaran, Fitri memberikan diri bertanya pada Bu Farah yang kebetulan sedang memantau keadaan.
"Bu...kenapa ya, Annisa g datang hari ini?!"
Bu Farah tersenyum manis pada Fitri dan yang lainnya. "Annisa sudah resign dari rumah makan ini."
"Apaaaaa, resign?!" Fitri dan yang teriak karena syok.
"Kalian membentak ibu, ya?" Farah pura-pura marah melihat ekspresi Fitri dan teman-temannya.
"Ti...tidak! bukan begitu, Bu! Saya hanya syok mendengarnya. Karena Annisa g pernah cerita sebelumnya kalau dia mau resign. Kok, dia tega sih g bilang sama kita?!" ucap Fitri pada Bu Farah.
Butiran air mata bah mutiara meluncur tak mampu di tahannya. Fitri terduduk dikursi yang ada disampingnya, begitu pula Siska, dan Kania. Sedangkan Egi dan Hendra diam tak bersuara karena merasa kehilangan sahabatnya. Melihat suasana kurang kondusif, pekerja yang lain menanyakan apa yang sedang terjadi. Jawaban Kania dengan linangan air mata membuat pak Bondan, sekurity dan para koki ikutan penasaran.
"Annisa telah pergi meninggalkan kita, hiks hiks hiks!" jawab Kania sambil menangis.
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un!" ucap pak Bondan.
"Paaaak! bapak mau Annisa meninggal ya?" Siska marah pada pak Bondan.
"Lah, kan Kania yang bilang kalau Annisa telah meninggalkan kita?!"
"Tapi bukan meninggal pak, dia hanya berhenti bekerja!" jawab Kania kesal
"Alhamdulillah!" ucap pak Bondan.
__ADS_1
Siska menggebrak meja mendengar jawaban pak Bondan.
Brak!
"Pak Bondan suka kalau Annisa g kerja di sini lagi?!" tanya Siska.
"Bapak pergi dari sini deh. Dari tadi bikin kesal saja!" usir Fitri
"Bapak ngucapin Alhamdulillah itu, karena Annisa g meninggal seperti yang dikatakan Kania. Coba tadi Kania bilang, Annisa berhenti bekerja, g mungki bapak mengucap Innalillah. Benar kan?!" Pak Bondan berusaha membela diri. Ucapan pak Bondan membuat mereka semua menertawai Kania.
Farah sudah menduga sebelumnya, kalau akhirnya akan seperti ini. Farah mengerti akan reaksi anak-anaknya karena beberapa bulan ini mereka seperti bukan orang lain, tapi saudara. G pernah ada dengki, iri dan saling menjatuhkan diantara mereka.
"Bu, kok Ibu biarkan sih Annisa mengundurkan diri?" tanya Fitri merengek pada bosnya.
"Kakaknya yang datang langsung menemui ibu. Annisa sendiri g tahu soal itu".
"Lo, bukannya Annisa tinggal sendirian?! dia kan g punya kakak atau adik, Bu?" tanya Hendra yang merasa g percaya kalau Annisa memiliki kakak.
"Annisa baru bertemu kakaknya sebulan yang lalu. Dan sekarang, Annisa tinggal bersama kakaknya. Kalian lihat g mobil putih yang sering parkir di seberang jalan? itu mobil kakaknya yang jemput dia kalau pulang kerja. Kalian jangan bertanya lagi, ayo semua kembali bekerja. Jangan membuat ibu memecat kalian".
Semua bubar dan kembali bekerja walau hati diselimuti kesedihan. Mereka tak seceria sebelumnya. Ada yang duduk melamun, ada yang setia dengan air matanya dan ada yang ngomong sendiri. Terlalu larut dalam kesedihan membuat mereka tidak menyadari kalau ada pelanggan VIP, siapa lagi kalau bukan Furqan. Furqan menekan tombol intercom karena Annisa g muncul-muncul juga. Akhirnya, Fitrilah yang menggantikannya melayani pelanggan VIP.
"Mengapa kamu datang? mana Annisa?" tanya Furqan pada Fitri. Furqan tahu kalau Fitri adalah teman baik Annisa. Bukannya menjawab, Fitri malah menangis di depan Furqan.
Hiks! hiks! hiks!
"Memang Pak, tapi kedatangan anda membuat saya semakin sedih karena biasanya dia yang melayani pelanggan diruangan ini, tapi sekarang dia sudah berhenti Pak, hiks hiks hiks!" Fitri semakin menunjukkan kesedihannya.
"Maksudmu, Annisa berhenti bekerja?"
"Iya Pak!"
"Ya sudah, kalau begitu saya g jadi pesan makanan. Ini uang buat kamu dan suruh Bu Farah menghubungj saya!" Furqan keluar meninggalkan Fitri sendirian yang masih g menyadari kalau dia menerima uang pemberian Furqan.
"Baik, pak! akan saya sampaikan." jawab Fitri. Setelah Furqan tak terlihat lagi, Fitri pun balik badan hendak keluar, tapi ia di kagetkan dengan segepok uang yang ada ditangannya.
"Lah, ini uang siapa? kenapa bisa ada di tanganku?!" Fitri bertanya pada dirinya sendiri.
Kemudian Fitri berpikir sejenak, dan diapun mengingat kalau Furqanlah yang memberinya uang. Fitri segera keluar dan menemui Farah. Setelah menyampaikan pesan Furqan, Fitri mengumpulkan teman-temannya yang sedang tidak sibuk mulai dari sekurity hingga koki. Ia membagikan uang pemberian Furqan secara merata.
"Kamu dapat uang dari mana, Fit? uangnya banyak lagi." tanya Kania.
"Kamu ngepet ya?" Siska mencandai Fitri yang masih saja bersedih.
__ADS_1
"Kalau mau dapat bagian, jangan nuduh sembarangan!" jawab Fitri kesal.
"cie cie, sensitif nie!" Siska masih terus berulah.
Fitri melempar Siska dengan kotak tisu. "Aku dikasih pelanggan VIP. Karena bukan Annisa yang layani, dia malah pergi dan memberikan uang ini!" Jelas Fitri.
"Bukannya pelanggan VIP itu CEO Putra Jaya? Astagaaa... coba kalian pikir, dia selalu meminta Annisa yang melayaninya dan dia juga yang minta kalau Annisa yang harus ngantar paket ke kantornya. Bukan tidak mungkin tapi ini terjadi, dia pasti suka sama Annisa. iya kan?!" Siska mulai menggunakan akalnya.
"Sepertinya, Annisa g tahu kalau bos itu menyukainya. Kita harus bisa menemui Annisa untuk menyampaikan kecurigaan kita pada pelanggan ganteng itu." Siska mulai berpikir jauh dan membuat teman-temannya mengakuinya.
"Betul!" jawab Kania dan Fitri bersamaan.
Setelah di bagi, semua kembali disibukkan dengan banyaknya pelanggan yang datang untuk makan malam. Bu Farah sudah menelpon Furqan tentang berhentinya Annisa.
Pagi harinya
Furqan tidak langsung ke kantor tapi ke rumah Aldi. Sekurity mempersilahkan Furqan untuk menemui tuannya di taman belakang. Furqan langsung ke taman belakang. Semua penghuni rumah sedang sarapan di taman belakang.
"Al... tega kamu tidak memberitahuku kalau Annisa sudah resign! Kemarin sore aku ke rumah makan. Sahabatnya yang menemuiku dan melihatku dia malah menangis. Saat aku tanya, dia jawab karena melihatku membuatnya merindukan Annisa yang sudah berhenti bekerja!"
Annisa yang mendengarkan Furqan ikut nyambung. "Ini semua karena kak Aldi. Aku saja g tahu, Kak! Kak Furqan g ke kantor?"
"Aku kangen sama kamu, makanya aku ke mari. G keberatan kan kalau aku menemuimu?"
"G masalah, selama tidak mengganggu bisnisku. Oh ya Kak, promosiin dong kepada teman-teman kakak produk yang aku jual!"
"Emangnya kamu bisnis apaan?"
Annisa segera mengklik foto produk yang ia jual dan diperlihatkan kepada Furqan. "nih, ada jaket pria juga!"
"Aku tidak perlu ragu lagi untuk menemui cintaku. Kalau dirumah makan, menemui sangat susah, tapi sekarang jadi mudah. Kamu tenang saja, produk yang kamu jual akan habis dalam sekejap."
"Terima kasih, kak!" Annisa memiliki jalan untuk lebih memudahkannya dalam menjual produk.
"Kalau kalian ngobrol terus, kapan sarapannya?" tanya Aldi pada Annisa. Keduanya langsung bergeser ke tempat masing-masing. Mbok Minaiya mengajak semuanya sarapan pagi bersama. Selesai sarapan, Furqan dan Aldi langsung ke kantor karena ada pekerjaan kantor yang tertunda. Furqan, Aldi dan Maya sibuk hingga waktu makan siang terlewatkan begitu saja. Rasa lapar tak terasa karena banyaknya masalah di perusahaan. Masalah selesai, Furqan dan Aldi menyuruh Maya pulang lebih dulu sedangkan mereka berdua memanggil direktur keuangan untuk diinterogasi.
Direktur keuangan menemui mereka berdua di ruang rapat. Wajahnya pucat pasi karena ketahuan melakukan korupsi.
"Pak Tegar, apa maksudnya ini?!" Furqan melemparkan berkas yang ada ditangannya.
"Sa... saya tidak tahu, Pak!"
"Bapak g tahu?! Bapak yang mengetahui semua pengeluaran diperusahaan ini. Saya tidak mau basa basi, kamu lunasi uang yang kamu tilap ini atau kamu mendekam dalam penjara! Waktumu hanya 1 minggu!" Furqan menekan pak Tegar.
__ADS_1
Pak Tegar bingung harus bagaimana. Uang yang dia korupsi sudah dihabiskan untuk keluarganya berlibur ke luar negeri.
Mengapa bisa ketahuan sih? Bathin pak Tegar. Dirinya pulang dalam keadaan lunglai karena memikirkan bebannya.