Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Srikandi Berdarah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Lidia menghubungi anak buah suaminya yang masih setia bersamanya. Mereka bertemu di rumah lama Lidia.


"Bos! mengapa berkumpul di sini?" tanya seorang anak buah suaminya bernama Alex


"Ada tugas untuk kalian. Tugas ini harus berhasil, jika tidak kalian tidak akan mendapat bayaran. Kali ini, bayarannya cukup tinggi!"


"Lalu tugasnya apa bos?" tanya Alex


"Perhatikan foto ketiga orang ini! Mereka adalah target utama kalian. Jika tidak bisa ditangkap hidup-hidup, habisi saja kalau mereka melawan!" ucap Lidia penuh semangat.


"Siap bos! sudah lama kita tidak dapat target yang bayarannya memuaskan." ucap ketua mereka bernama Roky.


"Bayaran kalian milyaran kalau kalian bisa menghabisi mereka!" Lidia memanas-manasi anak buahnya.


"Woooow! aku jadi g sabar ingin cepat bergerak." ucap Alex.


"Jika kita bertemu di jalan, anggap kita tidak saling kenal, mengerti!"


"Mengerti, bos!" Bandit-bandit tersebut saling tos karena mendapatkan pekerjaan dengan bayaran tinggi dan Lidiapun meninggalkan mereka.


Di rumah Aldi


"Bagaimana dek, sudah siap keluar?" tanya Aldi pada adiknya.


"Sudah, kak! mulai sekarang, aku bukan Annisa yang lemah lagi. Aku sudah siap menghadapi kendala apapun di luar sana!"


"Bagus! itu baru adikku!"


"Emangnya kemarin-kemarin aku bukan adiknya Aldi?"


"Ha ha ha!" kakak beradik itu tertawa bahagia.


Aldi dan Annisa baru akan keluar rumah setelah kejadian penculikan beberapa hari lalu. Mereka berdua akan ke rumah makan "Sahabat" tanpa di temani Erina. Sebelum kerumah makan, Annisa dan Aldi singgah di salah satu toko yang khusus menjual cemilan. Annisa membeli beberapa cemilan untuk di bawa ke rumah makan. Selesai belanja, keduanya menuju parkiran.


"Dek... tunggu sebentar ya, kakak ke toilet dulu!"


"Jangan lama ya, kak!"

__ADS_1


"Iya!" Aldi segera berlari menuju toilet.


Annisa memasukkan barang belanjaannya ke bagasi. Sedang sibuk memasukkan barang belanjaan, satu dari lima orang preman yang mengikuti mereka sejak dari masuk tiba-tiba menarik kerudung Annisa. Annisa terhuyung kebelakang, kemudian Annisa mengatur keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh.


Seorang preman menyerang Annisa dengan tendangan kearah perut, namun meleset karena gerakan Annisa yang gesit. Annisa justru menangkap kakinya dan menariknya hingga preman tersebut hilang keseimbangan. Annisa memutar badannya secara spontan sehingga yang menarik kerudungnya ikut terganggu keseimbangannya. Akhirnya, Annisa terlepas dari preman tersebut.


Annisa berdiri dengan tenang dan memperhatikan preman-preman tersebut satu persatu. Annisa tersenyum menatap mereka dan senyuman itu dianggap sebagai cemoohan pada mereka berlima. Ketenangan Annisa menghadapi mereka, membuat nyali mereka sedikit ciut. Karena tak ingin dianggap takut, kelimanya menyerang Annisa secara bersamaan. Annisa yang jago dalam beladiri tersebut melangkah mundur, kemudian balik menyerang. Cara Annisa melayangkan tendangan menyapu batok kepala membuat seorang preman melongo.


Belum sadar dari keterkejutannya, kepalan tangan Annisa lebih dulu mendarat di pipi kanannya. Tangan meninju dan kaki menendang. Pukulan dan tendangannya selalu tepat sasaran. Dalam sekejap, semua tumbang seperti petani membabat rumput. Annisa kembali ke mobil. Seorang preman berusaha melukai Annisa dari belakang, akan tetapi tendangan Aldi lebih dulu menyapanya. Kekuatan yang hanya tersisa 15 persen, membantunya untuk cepat pingsan.


"Kenapa tidak berteriak, dek?"


"Nisa masih bisa atasi, kak!"


Keduanya masuk ke mobil dan menuju rumah makan. Dalam perjalanan, mereka di hadang sebuah mobil hitam. Aldi mengirimkan pesan pada Andrew dan Andrew melacak lokasi mereka. Setelah lokasinya dapat, Andrew mensharelock lokasinya lalu mengirimnya ke petugas yang mengawal keluarga Darmajaya. Polisi segera bergerak ke lokasi dimana Aldi dan Annisa di hadang.


"Kak, gimana?"


"Diam saja di dalam. sebentar juga mereka pasti pergi." ucap Aldi pada adiknya.


"Okayyyy!"


"Kabur kan?"


"Kak Aldi seperti dukun, pandai menebak. he he he!" Annisa menertawai kakaknya.


Annisa dan Aldi melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian, Annisa dan Aldi tiba di rumah makan. Fitri yang mengenali mobil Aldi merasa senang dan memberi kode pada yang lain.


"Sstt!"sambil melirik ke arah Aldi dan Annisa.


Siska mengikuti arah lirikan Fitri. Seketika mulut embernya langsung bocor.


"Itu baru namanya anak konglomerat, g lupa sama yang melarat. Iya kan nona-nona cantik?"


Kania dan Fitri hanya geleng-geleng kepala. Aldi dan Annisa masuk dan menyapa mereka semua.


"Assalamualaikum, semua!"

__ADS_1


"Alaikumsalam!" jawab yang lain kompak.


"Bos...dalam rangka apa ke sini? ada yang mau di bagiin seperti sebelumnya?" Siska bertanya dengan gayanya yang centil.


"Siska... malu-maluin aja deh!" Fitri menegur Siska.


"Hellowww, sayang! apanya yang malu-maluin? dia sahabat kita dan hanya dia yang ngerti kekurangan kita. Jadi, g ada di kamus aku tu malu sama dia." Siska pede dengan ucapannya.


Kania dan Fitri menepuk jidat mereka karena ulah Siska. Annisa pun tersenyum mendengar ucapan Siska.


"Kak...ambilin barangnya di mobil ya!" Annisa menyuruh kakaknya. Siska langsung protes pada Annisa.


"Tunggu, kak! nanti aku yang ambil. Orang ganteng kayak gini kok di suruh-suruh. Jangan mau kak, disuruh ama Nisa!" Siska makin menggila.


Aldi menahan tawanya melihat tingkah sahabat adiknya yang satu ini. Siska kembali dengan beberapa tas belanjaan. Saat ingin meletekkannya di atas meja, Siska dan yang lainnya dikagetkan dengan suara beberapa orang yang hendak menerobos masuk ke dalam. Bondan dan sekuriti sudah berusaha menahannya, tapi mereka tetap ngotot ingin masuk kedalam. Siska berlari keluar dan meneriaki mereka yang mengacau.


"Stop! siapa kalian dan apa tujuan kalian mengacau di sini?"


"Suruh keluar gadis dan laki-laki yang baru masuk tadi, kami ada urusan dengannya!" ucap Alex.


"Kalian punya urusan dengan mereka berdua? ah masa!"


"Hee anak kecil, jangan membuat kami marah, cepat suruh keluar!" ucap preman yang lain.


"Marah?! iiii takyuuuut!" Siska makin mengejek mereka.


"Kurang ajar, berani kamu mengolok-olok kami, ha?" Alex murka dengan Siska. Siska tersenyum sinis menatap mereka. Alex tak tahan dengan senyuman ejekan Siska, dia langsung menyerang Siska. Bukan Siska namanya kalau tidak melawan. Saat kepalan tangan Alex hendak mendarat di wajahnya, secepat kilat Siska menangkap lengan Alex kemudian kakinya melayang dan mendarat di bagian vital Alex. Alex menahan sakit pada alat vitalnya. Yang lain ikut menyerang Siska. Annisa berlari keluar dan segera membantu Siska. Aldi membiarkan dua perempuan itu menghadapi mereka.


"Nisa... ayo kita bermain!" Keduanya tos dan langsung membentuk kuda-kuda.


Seorang preman mengeluarkan pisau dari balik bajunya dan menyerang Annisa. Annisa menanggapinya dengan tenang. Ketenangan Annisa seperti ular yang kelihatan diam ternyata siap menerkam mangsa. Satu pukulan dan satu tendangan, sudah cukup membuat preman tersebut terduduk di lantai.


"Kalau kalian belum bisa jadi preman, lebih baik kalian pulang minum ASI dulu!" Siska memarahi mereka.


Ke tujuh preman seperti mendapat ejekan dari seorang anak kecil perempuan. Tak mampu menahan serangan dari Annisa dan Siska, mereka memilih kabur meninggalkan rumah makan.


"Kami berdua adalah Srikandi berdarah." Siska memberi julukan pada dirinya dan Annisa. Kemudian, mereka berdua masuk dan bergabung dengan yang lain.

__ADS_1


"Siapa mereka?" tanya Fitri.


"Tikus got yang cari makan." Siska bercanda ditengah kepanikan sahabatnya. Annisa geleng kepala mendengar ucapan Siska.


__ADS_2