
Dua hari berlalu
Hari yang penuh misteri bagi sahabat-sahabat Annisapun tiba. Farah dan anak buahnya siap menyambut Erina, Annisa dan Aldi, sementara awak media sudah stand by di rumah makan sejak pagi. Mereka tidak mau ketinggalan untuk mendapatkan informasi dari seorang pengacara hebat yang puluhan tahun menghilang dan tak ada yang mendapatkan informasi akurat tentang dirinya. 15 menit kemudian, Erina dan kedua anak Darmajaya muncul beserta pengawal-pengawalnya. Para pengawal berjaga-jaga diluar, bukan hanya area rumah makan tapi juga diluar area rumah makan. Dan pengawal-pengawal misterius ditugaskan segara sembunyi-sembunyi untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.
Seorang wartawan memang ditugaskan untuk meliput sebelum konferensi pers dilakukan dan disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi swasta.
Pemirsa! Pada hari ini akan diadakan konferensi pers yang bertempat di rumah makan "sahabat". Rumah makan ini sengaja di boking untuk acara konferensi pers yang dilakukan oleh seorang pengacara ternama yang sudah puluhan tahun menghilang yaitu Erina. Menurut informasi dari Erina bahwa konferensi pers ini dilakukan untuk mengumumkan kehadiran dua orang anak seorang pengusaha terkenal dimana kedua orang tuanya telah meninggal karena sengaja diracuni oleh orang yang iri dengan kesuksesannya saat anaknya berusia 4 tahun. Erina sendiri adalah pengacara keluarga pengusaha tersebut. Untuk lebih jelasnya, jangan pindahkan channel anda, tetaplah bersama kami!.
Di kediaman Fani
Fani yang sedang nonton televisi kaget mendengar seorang wartawan menyebut alasan dilakukannya konferensi pers di rumah makan "Sahabat". Posisinya yang semula tiduran langsung berubah.
Aku harus melakukan sesuatu sebelum Erina buka suara, ucap Fani dengan perasaan tidak tenang. Ia mengambil dponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo! Sekarang juga bawa anak buahmu kerumah makan "Sahabat". Kacaukan acara di sana, bila perlu habisi siapa saja yang menghalangi kalian. Jangan menghubungiku jika kalian gagal!" Fani memerintahkan seorang kepala preman andalannya.
"Baik, bos! Kami akan memberi pelajaran pada mereka." Jawab kepala preman. Kepala preman mengumpulkan 20 orang anak buahnya.
Erina memberitahu awak media kalau konferensi pers akan dilaksanakan setelah makan siang. Kemudian, Erina memerintahkan Farah untuk menyiapkan makanannya. Semua awak media yang hadir dipersilahkan untuk makan siang terlebih dahulu. Tak ada seorangpun dari wartawan yang menyangka akan di jamu seistimewa ini.
Annisa ngobrol ria dengan sahabat-sahabatnya. Penyakit Siska yang suka kepo pun kambuh. Ia menanyakan yang mana pengacara keluarganya Annisa.
"Nis... pengacara keluarga kalian yang mana sih?!" tanya Siska dengan kekepoannya.
"Tuh, ibu yang bersama kak Aldi. Beliau kakak ipar Bu Farah, kakaknya pak Faruq suami Bu Farah. Pak Faruq juga akan hadir di sini!" jawab Annisa membuat Siska semakin pusing memikirkannya.
Tampak Erina melihat jam tangannya dan sesekali melihat keluar. Beliau seperti menunggu seseorang. Yang ditunggunya pun datang dengan senyum bahagia karena bertemu langsung dengan kakaknya. Faruq langsung duduk di kursi yang telah disiapkan. Karena Faruq sudah hadir, Annisa dan Aldi segera bergabung bersama Erina dan Faruq.
Faruq yang membuka acara konferensi pers tersebut.
"Sebelumnya, kepada kalian semua kami ucapkan terima kasih karena memenuhi undangan kami. Konferensi pers ini sengaja dilakukan untuk memperkenalkan kedua penerus tahta kerajaan tuan Darmajaya dan nyonya Berlian. Untuk kejelasannya, Bu Erina sendiri yang akan menyampaikannya!" Pak mempersilahkan kakaknya untuk bicara.
"Mungkin ada yang bertanya dari mana saya selama ini? Saya sengaja hadir di sini setelah sekian lama menghilang. Saya merupakan pengacara keluarga tuan Darmajaya dan nyonya Berlian. Setelah beliau tiada, saya sengaja menyamar menjadi seorang pembantu untuk membesarkan putra Tuan Darmajaya, sedangkan putrinya yang juga telah lama menghilang kini sudah bersama saya. Jika ada yang ingin bertanya, silahkan!"
"Apakah benar tuan Darmajaya dan istrinya sengaja diracuni? jika benar apakah pelakunya sudah diketahui?"
__ADS_1
"Bagaimana dengan perusahaannya? siapa yang mengelola perusahaan raksasa itu sekarang?"
"Mengapa Bu Erina baru mengungkap semuanya ke publik?"
Awak media terus melontarkan pertanyaan kepada Erina. Tapi sebelum beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari anaknya dan Erina membacanya.
Bu! beberapa preman suruhan Fani sedang menuju ke rumah makan. Mereka ditugaskan untuk mengacau di sana.
Erina menghubungi anak buahnya.
"Bersiaplah!" perintah Bu Erina pada kepala pengawalnya.
"Baik, Bu!"
Senyum menghiasi bibir Erina. Wanita yang tak muda lagi ini, memandang keluar rumah makan. Wartawan mengikuti arah pandangan Erina. Tak di duga, beberapa preman datang dan mengacau dan ingin menerobos masuk.
Inilah yang kuharapkan terjadi. Akhirnya, kau masuk perangkapku Fani. Kau akan muncul sendiri dan mengakui semuanya, bathin Erina.
Awak media pun mulai panik dengan kedatangan preman-preman tersebut. Erina menenangkan mereka semua.
Beberapa orang pengawal menghampiri preman-preman suruhan Fani dan langsung menghajar mereka. Perkelahian pun tak bisa dielakkan. Pengawal yang rata-rata menguasai bela diri dengan mudah melumpuhkan pengacau-pengacau tak bernyali tersebut. Kepala pengawal menghubungi Erina.
"Semuanya sudah kami bereskan!"
"Lepaskan yang lain, dan bawa satu orang ke hadapanku!" pinta Erina. Kepala pengawal memerintahkan anggotanya untuk melepaskan yang lainnya, sedangkan ketuanya di seret ke hadapan Erina. Awak media kagum dibuatnya.
Persiapan yang sempurna, bisik seorang wartawan kepada temannya.
Klik kamera puluhan kali terdengar. Erina kembali menjawab beberapa pertanyaan.
"Saya akan menjawab pertanyaan yang pokok. Tuan Darmajaya dan istrinya meninggal karena di racuni oleh orang terdekatnya. Mungkin mereka merasa kalau saya tidak memiliki bukti. Buktinya tersimpan rapi. Mengenai perusahaannya, pembunuhnyalah yang sekarang meneruskannya. Saya baru mempublikasikannya, karena saya menunggu Aldi dewasa hingga bisa mengambil keputusan!"
"Siapa nama pelakunya dan nama perusahaannya?" seorang wartawan kembali bertanya.
"Saya tidak bisa menyebutkan nama pelaku dan nama perusahaannya karena jangan sampai melibatkan orang yang tidak bersalah. Dan, surat kepemilikan yang sah ada ditangan saya.
__ADS_1
Dan dia adalah suruhan seseorang untuk mengacaukan konferensi pers ini!" ucap Erina sambil menunjuk kepala preman.
Wartawan ingin bertanya langsung pada premannya, siapa yang menyuruhnya melakukan kekacauan, tapi Erina melarang mereka. Erina berdiri dan mendekati ketua tersebut. "katakan kepada bosmu, saya menunggunya dan kedua penerus Darmajaya ingin bertemu dengannya! Lepaskan dia!" perintah Erina kepada kepala pengawalnya.
"Siap, Bu!" kepala pengawal menyeret ke tua preman keluar dan melemparkannya seperti melempar botol bekas.
Erina menyuruh Aldi dan Annisa berdiri. "Inilah aset berharga tuan Darmajaya dan nyonya Berlian. Keduanya nanti akan mengambil alih perusahaan milik tuan Darma."
Aldi dan Annisa menundukkan kepalanya kepada awak media sebagai tanda perkenalan. Klik kamera terus mengarah ke mereka dan wajah Aldi dan Annisa menghiasi layar kaca televisi.
Erina mengakhiri konferensi pers dan menyuruh media untuk menunggu kelanjutannya dari perjalanan kedua anak asuhnya. Setelah konferensi pers selesai dan awak media sudah ke tempat tugasnya masing-masing, Annisa mendekati sahabat-sahabatnya. Fitri dan Kania malu mendekati Annisa karena statusnya yang kini menjadi putri terkaya. Sedangkan si kepo Siska, langsung memeluk sahabatnya dan mengucapkan selamat karena Annisa telah bersama dengan orang-orang yang sangat menyayanginya.
"Nisa...!"Siska memeluk Annisa dan menitikkan air mata.
"Selamat ya, Nis! Akhirnya sekarang kamu bersama dengan orang-orang yang menyayangimu. Aku sangat terharu melihatmu dengan si cakep duduk di sana." Siska selalu saja membuat orang lain tertawa.
"Kamu naksir kakakku?" tanya Annisa pada Siska yang memuji kakaknya.
"Aku mengaguminya bukan naksir dia. Bedakan dong!" Siska protes dengan ucapan Annisa.
"Kalian berdua, mengapa tidak mengucapkan selamat pada sahabat kesayangan kita? kalian masih bernapas kan? woeee! kalian berdua kenapa sih?" Siska kesal dengan Fitri dan Kania yang tidak meresponnya.
"Fit, Nia! kalian g mau lagi bersahabat denganku hanya karena aku putri orang kaya?" Annisa bertanya pada sahabatnya.
"Maaf ya, Nis! kami berdu....." Sebelum Fitri selesai bicara, Siska lebih menariknya.
"G usah banyak drama, ayo peluk sahabat kita!gitu aja kok repot. Seharusnya kalian ikut senang, sahabat kita adalah pemilik perusahaan raksasa dan terkaya di negara kita. Jadi, kalau kita memiliki hutang dan g bisa dibayar, cukup telepon dia saja yang bayar. Gimana Nis, kamu setujukan?" Lagi-lagi Siska membuat sahabat-sahabatnya ingin membunuhnya.
"Siskaaaaa...! kamu benar-benar keterlaluan." Teriak Fitri dan Kania bersamaan.
Siska menunjukkan wajah tidak bersalahnya. Farah, Faruq, Aldi dan Erina tertawa karena ulahnya. Hendra dan Egi yang muncul dari depan mendekati Annisa dan mengucapkan selamat padanya. Fitri, Kania, Siska dan Annisa berpelukan seperti teletubis.
"Ternyata suami my bos cakep bingit!" Siska kembali berulah. Ia berani memuji Faruq didepan Farah.
"Siska... ibu akan menelepon polisi untuk menahanmu karena berani memuji suami ibu." Farah mengancam Siska.
__ADS_1
"Pak! emangnya, memuji kegantengan seseorang kena pidana dan pasal berlapis ya? tapi g apa-apa deh, kan ada bapak yang jadi pengacaraku. Bapak mau kan membelaku?" ucap Siska dengan santai. Semua yang ada didalam tak mampu menahan tawa. Tawa kebahagiaan menggema dalam rumah makan "Sahabat".