Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Duka di Hari Bahagia.


__ADS_3

Menanti hari bahagia adalah hal yang didambakan oleh setiap pasangan pengantin. Begitu pula dengan Furqan yang hatinya deg-deg kan saat hati itu tiba. Ia bolak-balik berkaca melihat penampilannya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Fani mendekati putranya yang kelihatan g tenang.


"Nak...ada apa? ibu perhatikan kamu seperti setrika, bolak-balik sejak tadi. Kamu gugup?!"


"Siapa yang gugup Bu? aku hanya g sabar ingin segera bertemu Annisa. Dia pasti cantik sekali hari ini. Aku ingin sekali menyentuh pipinya Bu!"


"Kamu mau dapat bogem mentah dari Annisa? Annisa bisa disentuh kecuali sudah ijab kabul, itu baru sah!"


"Tapi kan akan ijab kabul juga Bu! hanya sebentar aja masa nggak bisa?"


"Udah, jangan mikir macam-macam. cepat siap-siap, ibu tunggu di bawah!"


"Oke Bu, mmmmuaahh!" jawab Furqan lalu mencium pipi Fani penuh bahagia.


Fani meninggalkan putranya yang sedang bahagia menyambut hari pernikahannya. Seisi rumah sedang menunggu Furqan yang belum juga turun dan bergabung dengan yang lain.


"Bu...Furqan kok belum turun? udah jam berapa ini? dia mau dinikahkan atau kita batalkan saja?" tanya Susi pada Fani.


"Udah ibu suruh cepat-cepat, tapi masih juga belum turun. Kamu susul dia dilamarnya!" perintah Fani pada Susi.


Susi menuju ke kamar Furqan. Susi masuk tanpa mengetuk pintu karena Furqan tidak mengunci pintunya.


"Fur...kenapa masih berdiri mematung? ayo cepat turun, semua udah menunggu di bawah. Mau nikah nggak sih?"


"Siapa yang nggak mau? kak...pasti Annisa makin cantik, aku jadi nggak sabar ingin segera memeluknya!"


"Makanya jangan diam di kamar, Annisa dan keluarganya sudah menunggu. Siska nelpon terus nanyain kita. Nggak sabaran tapi lelet kayak keong. Cepat keluar, ayo!" titah Susi pada adiknya.


"Kakak duluan aja, entar lagi aku turun!"


"Tapi jangan lama. Kalau tidak, pernikahan kalian akan dibatalkan. Kita tungguin di bawah!"


Susi meninggalkan Furqan. Sementara Furqan mempercepat ritualnya dan turun ke bawah. Fani dan yang lain tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang dirasakan putra satu-satunya. Fani terkenang almarhum suaminya.


Ayah...anak kesayanganmu akan menikah dengan Annisa, gadis yang ibu benci di masa lalu. Tapi dia juga yang membawa warna baru dikeluarga kita. Seandainya ayah masih di sini, engkau akan melihat betapa bahagianya putra kita!


Tak terasa, Fani menitikkan air mata. Susi dan Fiona mendekati ibunya.


"Ibu kenapa?"


"Ibu teringat ayahmu ayah kalian!"


"Ibu jangan sedih dong. Ayah pasti ikut merasakan kebahagiaan kita!" Susi memberi kekuatan pada ibunya.


Fiona dan Susi memeluk Fani. Kemudian, Susi memberi perintah agar segera bersiap. Sementara pak Min dan teman-temannya yang sengaja dimintai bantuannya sudah menunggu di depan rumah.


Furqan dan Fani satu mobil. Susi dan Fiona serta asisten rumah tangga satu mobil pula. Petugas yang mengawasi Fani berada tepat dibelakang mobil Furqan. Tetangga yang diundang nyusul dibelakang. Setengah perjalanan, mobil berhenti mendadak. Susi dan Fiona bertanya-tanya mengapa mobil Furqan berhenti mendadak. Tak ada pilihan lain kecuali semua mobil menepi. Susi dan Fiona turun dan mendekati mobil Furqan. Begitu pula pak polisi.


"Fur...buka pintunya! kenapa berhenti?!" tanya Susi diselimuti rasa heran.


Furqan yang sudah bisa menenangkan diri segera membuka pintu mobilnya. Ketika pintu mobil terbuka, mata Susi sontak terbelalak melihat ibunya sudah terbaring tak berdaya.


"Ibu...ibu kenapa Fur?!" tanya Susi diselimuti kekhawatiran.


"Ibu...ibu bangun! bangun Bu!" Fiona berusaha membangunkan ibunya sambil mengoyang-menggoyangkan tubuh Fani.


Polisi ikut membantu menyadarkan Fani tapi tidak berhasil. Melihat kepanikan Susi dan Fiona, semuanya ikut merasa khawatir atas keadaan Fani.


"Cepat bawa kerumah sakit!" perintah salah seorang polisi bernama Arman.


"Suruh yang lain balik, karena ibu Fani harus dilarikan kerumah sakit!" perintah Arman pada sopir keluarga Furqan selain Mimin.


Arman mengambil alih mobil Furqan. Susi dan Fiona akan ikut kerumah sakit. Arman segera melajukan mobil Furqan menuju rumah sakit terdekat. Sementara, dikediaman Aldi sudah gelisah menunggu kedatangan Furqan dan keluarganya.

__ADS_1


Sesampainya dirumah sakit, Fani langsung dibawa keruang UGD. Susi, Furqan, Fiona dan Arman gelisah menunggu diluar.


"Kak...apa yang terjadi dengan ibu? hiks hiks hiks!" tanya Fiona pada Susi dan Furqan sambil menangis karena khawatir.


"Kita hanya bisa berdoa, semoga ibu baik-baik saja. Serahkan semuanya pada yang kuasa!" ujar Susi menguatkan adiknya.


Sepuluh menit kemudian, dokter yang memeriksa Fani keluar dan Furqan, Susi dan Fiona langsung menemui dokter tersebut.


"Dok...bagaimana kondisi ibu saya?"


"Maaf pak...kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain. Saya harap kalian bisa menerimanya dengan ikhlas. Saya permisi karena ada pasien lain yang harus saya periksa!" pamit dokter pada Furqan, Susi, Fiona dan Arman.


Mendengar penuturan dokter, Fiona langsung menerobos masuk dan memeluk jenazah ibunya sambil menangis histeris.


"Ibu...jangan tinggalkan kami Bu! Kak Furqan akan menikah, tapi kenapa ibu malah pergi! kenapa Bu?" Fiona menangisi jenazah ibunya dan terus melontarkan pertanyaan.


Setelah kepergian dokter, Furqan dan Susi ikut memeluk jenazah Fani.


"Bu...kenapa Bu, kenapa dihari bahagia ini, ibu harus meninggalkan kami? bukankah ibu bahagia jika aku menikah dengan Annisa? tapi kenapa Bu, kenapa?" Furqan histeris dengan kepergian ibunya.


Masih dalam keadaan semrawut, ponsel Susi berdering. Meskipun Susi begitu terpukul dengan kepergian ibunya, ia tetap tenang dan menerima panggilan dari Siska.


"Halo kak Susi, kalian sudah di mana? lho...kenapa ada suara orang menangis? kak...apa yang terjadi?" Siska heran karena mendengar suara tangisan.


"Sis...maafkan kami karena tidak tepat waktu, karena dalam perjalanan tiba-tiba ibu saya pingsan. kami sekarang di rumah sakit membawa ibu, dan....!" Susi menahannya ucapannya karena menahan sesak di dadanya.


"Dan kenapa kak?!"


"Dokter tidak bisa menyelamatkannya, hiks hiks hiks!" Susi menjawab dengan linangan air matanya.


"Apa...meninggal? Innalillahi wainnailaihi rajiun. Aku sampaikan kepada ibu Erina. Yang sabar ya kak. Assalamualaikum!" ucap Siska mengakhiri panggilannya.


"Waalaikumsalam!" jawab Susi.


"Fur, Fio...sudah, kita harus segera membawa pulang jenazah ibu!"


Susi, Furqan, Fiona dan Arman membawa pulang jenazah Fani. Arman sudah melaporkan meninggalnya Fani pada atasannya dan meminta untuk ikut membantu mengurus jenazah Fani.


Di rumah, Mimin dan asisten rumah tangga lainnya sudah bersiap menyambut jenazah majikannya. Mereka sedih dan merasa kehilangan karena Fani sangat sayang dan selalu memperhatikan mereka. Jenazah pun sampai dikediaman Furqan. Jenazah segera di bawa kedalam rumah. Furqan, Susi dan Fiona duduk menghadap jenazah ibunya. . Furqan menatap jenazah ibunya. Ingatannya melayang jauh mengingat masa lalu ibunya hingga ibunya berubah. Meskipun kini ia kehilangan sosok penting dalam hidupnya, tapi ia juga bahagia karena ibunya meninggal disaat dirinya sudah berubah.


Susi menumpahkan air matanya.


"Ibu...ibu...! hiks hiks hiks!" Susi terus bertanya pada jenazah ibunya dengan tangisan pilu.


Di Kediaman Aldi


Siska mendekati Erina.


"Ibu...!" panggil Siska.


"Sudah kamu telpon ke sana? mereka sudah di perjalanan?" tanya Erina.


Siska menunduk sembari menahan tangisnya. Ia tak mampu menjawab dan hanya menyerahkan rekaman percakapannya pada Erina.


"Siska...ada apa? kenapa tidak menjawab pertanyaan ibu dan kamu malah menangis?"


Siska terus diam. Erina membuka rekaman tersebut. Ia terkejut dengan isi rekaman itu.


"Panggil Aldi kemari, cepat Siska!" perintah Erina.


Siska turun ke bawah mencari Aldi. Setelah ia temukan, Siska berbisik pada Aldi.


"Kak...ibu memanggilmu, cepat temui ibu!"

__ADS_1


Aldi segera naik ke atas dimana Erina berada.


"Ibu memanggilku?" tanya Aldi.


"Al...ada berita duka. Kita harus membatalkan pernikahan ini!"


"Tapi...apa hubungannya dengan pernikahan Annisa Bu?!" tanya Aldi heran.


"Karena yang meninggal adalah Fani, ibunya Furqan. Ketika Siska menghubungi mereka, ternyata mereka di rumah sakit, dan Siska merekamnya!" ujar Erina sambil memperdengarkan rekamannya.


"Innalillahi wa innailaihi Raji'un. Tapi aku nggak bisa memberitahu Annisa Bu!"


"Kamu urus tamu yang lain, Annisa nanti ibu yang urus. Cepat lakukan, karena kita harus ikut hadir dipemakaman Fani!" perintah Fani pada Aldi.


Aldi segera turun ke bawah menghadap tamu yang sudah hadir sejak awal. Sedangkan Erina langsung menuju ke kamar Annisa. Setelah duduk tepat di depan Annisa, Erina menarik napas dalam-dalam. Fitri dan Kania menatap Erina penuh tanda tanya. Erina memegang tangan putrinya dan perlahan buka suara.


"Nis...kamu wanita yang kuat, sabar dan tidak mudah putus asa. Ibu yakin, apa yang akan ibu sampaikan ini tidak akan membuat kamu kecewa dan kamu harus tegar!" ucap Erina.


Annisa menatap ibunya lekat-lekat. Annisa tidak mengerti maksud ucapan Erina.


"Bu...apa yang ingin ibu sampaikan? apakah terjadi sesuatu di bawah?!" tanya Annisa.


"Nis...tadi ibu menyuruh Siska untuk menghubungi Susi dan menanyakan posisi mereka. Mereka sudah dalam perjalanan menuju ke sini, tapi tiba-tiba Fani pingsan dan dibawa kerumah sakit. Dokter...!"


Tanpa menunggu Erina selesai bicara, Annisa langsung bertanya tentang keadaan Fani.


"Lalu, bagaimana keadaan bibi Fani Bu?"


"Fani meninggal Nis!"


Annisa, Fitri dan Kania kaget mendengar ucapan Erina. pikiran mereka bertiga langsung melayang memikirkan Susi dan Fiona.


"Bu...suruh pulang semua tamu yang sudah datang, kita harus ke sana. Aku tidak apa-apa dengan batalnya pernikahan ini, karena masih ada waktu lain. Fitri, Kania...bantu aku membersihkan riasanku, cepat!" pinta Annisa pada kedua sahabatnya.


"Kak Aldi dimana Bu?" tanya Annisa.


"Kakakmu mengurus tamu di bawah. Mungkin semua tamu sudah pulang. Cepat selesaikan, Ibu tunggu kalian di bawah!" perintah Erina.


Fitri, Annisa dan Kania bekerja secepat mungkin. Setelah selesai mereka bertiga turun dan menemui Aldi dan Erina. Sementara Siska disuruh lebih dulu kekediaman Fani. Erina dan anggota keluarganya melajukan kekediaman Fani. Sesampainya di kediaman Fani, Annisa segera turun dan langsung masuk ke dalam. Fiona yang menyadari kedatangan Annisa, langsung lari memeluk Annisa sambil menangis.


"Kak...ibu, hiks hiks hiks!" ucap Fiona dengan tangisan.


Annisa memeluk Fiona. Kemudian, Susi pun memeluk Annisa. Annisa tak mampu menahan air matanya. Bagaimanapun ia tahu rasanya kehilangan orang tua. Tak ada lagi tempat untuk keluh kesah.


"Kak...maaf kami datang terlambat. Kakak dan Fio harus sabar, semua sudah menjadi takdir Allah. Sepeninggal bibi, kita harus terus mendoakannya karena yang bibi butuhkan setelah ini adalah doa dari anak-anaknya!"


"Nis...kenapa dihari bahagia kalian malah menjadi duka? ibu sangat ingin melihat Furqan duduk di pelaminan denganmu, tapi ibu malah pergi sebelum hal itu terjadi. Nis...maafkan kesalahan ibu yang telah lalu!"


"Kami sudah memaafkan bibi jauh sebelum ia minta maaf kak. Ikhlaskan bibi Fani. Fio...sekarang kamu harus lebih baik setelah kepergian bibi, kamu harus lebih menghormati kak Susi karena dia yang menggantikan bibi sekarang. Dia seorang kakak sekaligus ibu di rumah ini!" nasehat Annisa pada Fiona.


Aldi mendekati Furqan yangmasih duduk di depan jenazah ibunya. Kehilangan ibunya membuatnya lemah. Ia belum sempat membahagiakan ibunya. Aldi menyentuh pundak Furqan, Furqan menoleh ke Aldi.


"Al...maafkan ibuku, maafkan dia!" ucap Aldi sembari menahan air matanya.


Kemudian, Erina mendekati Aldi dan Furqan.


"Fur, Al...cepat kalian urus pemakaman Fani. Dan kamu Fur...yang sabar ya nak, jangan merasa sendiri. Jika kalian ingin, ibu akan selalu ada untuk kalian selama ibu bisa!"


"Terima kasih Bu. Bu...maafkan kesalahan ibuku!"


"Sudahlah, semua kesalahannya sudah kami maafkan!"


Fani segera dimakamkan. semua yang mengenal Fani ikut sedih dan merasa kehilangan karena yang mereka tahu Fani adalah sosok yang baik. Kemudian, mereka semua pulang. Erina, Aldi, Annisa, Kania, Fitri, Egi dan Hendra, masih menemani Furqan, Fiona dan Susi. Erina memberikan nasehat pada ketiga anak Fani agar mengikhlaskan ibu mereka. Mereka mengikuti apa kata Erina dan semuanya kembali pulang.

__ADS_1


__ADS_2