Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Pelajaran untuk Anggita


__ADS_3

Anggita yang mendapatkan lampu hijau dari Ronald untuk membalas sakit hatinya merasa bahagia. Anggita merasa bisa memanfaatkan Ronald yang sangat mencintainya. Anggita tidak pernah tahu kalau Ronald sudah menganggap dia hanyalah sebagai wanita murahan yang bisa ia singkirkan kapan saja ia mau.


Dasar bodoh, mau-mau saja aku manfaatkan. Setelah kamu membalaskan dendam ku, aku akan membuangnya seperti sampah yang tak berguna lagi. Dia pikir, aku mau dengannya yang hanya seorang pengusaha kecil. Kamu hanyalah pelarian Ronald, kamu hanya pelarian, dan Kau Annisa, kamu akan kujadikan wanita murahan, dan anginpun akan jijik dengan tubuhmu, bila perlu akan aku sebarkan foto tubuh motormu nanti, ha ha ha! lirih Anggita.


Ronald yang sedang duduk santai di kamarnya mendengar ucapan Anggita lewat alat perekam yang ia pasang di tas Anggita tanpa Anggita tahu.


hmmmm, aku bukan Ronald yang dulu Anggita. Kamu akan merasakan akibatnya jika mencoba mempermainkanku ! Lirih Ronald.


Ronald tak ingin bermain terlalu lama dengan Anggita. Segera ia menghubungi temannya yang sangat tergila-gila pada Anggita.


"Halo Son, kamu di mana?"tanya Ronald lewat telepon selulernya.


"Aku ada di club dong, di mana lagi?" jawab Soni.


"Ada hal penting yang harus kamu lakukan, dan ini akan menguntungkan kamu". jelas Ronald.


"Yang benar kawan, aku jadi penasaran. Aku tunggu kamu di club biasa, oke!" ucap Soni.


"Oke!" Jawab Ronald.


Kemudian, Ronald menyudahi obrolannya dengan Soni dan bergegas menemui Soni. Tiba di club, Ronald di sambut Soni dan membawanya keruangan khusus. Soni langsung bertanya tentang maksud Ronald.


"Apa yang harus aku lakukan? sepertinya ini menarik!" tanya Soni.


"Son...Anggita menemuiku. Kamu tahu kan kalau aku sudah tidak ada perasaan lagi padanya. Aku akan membantumu untuk mendapatkannya". ucap Ronald.


"Maaf kawan, aku pun sama. Perasaan itu hilang dalam sekejap. Tapi...apa maksudmu menyampaikan ini padaku?!" tanya Soni dengan heran.


"Aku ingin memberi sedikit kejutan padanya. Kamu setuju denganku?"


"Maksudmu?!" tanya Soni penasaran.

__ADS_1


"Aku hanya dijadikan alat untuk membalaskan dendamnya. Agar aku mau membantunya, ia rela aku jadikan pelampiasan nafsu dan ia menikmati itu. Akan kubuat dia lebih bernafsu lagi dan tentunya bukan denganku tapi denganmu". jelas Ronald.


"Ha ha ha...apa? aku g mau menikmati barang bekas. Kamu yang enak, aku yang dapat ampasnya. Sialan kamu!" umpat Soni.


"Terus...dengan siapa?" tanya Ronald.


"Bayar orang lain saja, gitu aja kok repot. Tapi ingat, buat seolah-olah dia yang mencarimu duluan agar tidak ada alasan baginya untuk menuduhmu kalau dia di jebak". Saran Soni.


"Saran yang bagus". jawab Ronald.


Saat sedang asyik ngobrol, ponsel Ronald berdering. Dengan senyum licik, Ronald mengangkat ponselnya.


"Sayang...bagaimana? kamu sudah melakukannya? kenapa kamu g menghubungiku? aku ingin melihat kekejamanmu pada mereka". ucap Anggita.


"Sabar dong sayang! kamu tunggu saja hasilnya". jawab Ronald.


Mengetahui kalau Anggita yang menelpon, Soni pura-pura menyuruh Ronald menemuinya di hotel Permata. Tentu saja, Anggita mendengar ucapan Soni. Anggita berpikir, ia akan ke hotel tanpa memberi tahu Ronald. Karena makngsa sudah masuk perangkap, Ronald mengakhiri obrolannya dengan Anggita.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Ronald dan Soni menuju hotel Permata. Tak lupa mereka menghubungi orang suruhuannya untuk memberi pelajaran pada gadis ambisius itu. Tiba di hotel, Ronald dan Soni di sambut oleh Anggita. Keduanya tersenyum menunjukkan kalau rencana mereka akan berhasil. Ronald pura-pura bertanya mengapa Anggita bisa ada di hotel Permata.


"Sayang... kok ada di sini?!" tanya Ronald pura-pura nggak tahu.


"Aku...aku, tiba-tiba saja pengen kemari, ternyata ketemu kalian berdua di sini". jawab Anggita berbohong.


Ronald dan Soni langsung menuju ke kamar yang sudah mereka pesan sebelumnya. Tanpa diminta, Anggita mengekor di belakang kedua pemuda gagah tersebut. Ronald dan Soni sudah menyiapkan rencana dengan sempurna. Anggita tak menaruh curiga sedikitpun pada mereka berdua. Setelah ketiganya sudah di kamar, Ronald pun meminta pelayan membawakan pesanannya. Anggita bergelut manja dalam pelukan Ronald dan Soni hanya tersenyum licik menatap wanita yang dulu pernah membuatnya mabuk kepayang. Tanpa berpikir panjang, Anggita meneguk segelas minuman yang di bawa pelayan hotel. Saat sedang asyik ngobrol, Anggita merasakan ada yang bergejolak dalam dirinya. Rasa pusing dan nafsu birahi yang muncul seketika membuatnya membuatnya tak bisa mengendalikan diri.


Apa yang terjadi denganku? kenapa aku jadi pusing dan bernafsu begini? ahhh....! ucap Anggita dalam hatinya.


Birahinya semakin bergejolak dan tak mampu lagi ia tahan. Rasa pusing tak dihiraukannya. Anggita langsung memeluk Ronald dan menyeretnya ke tempat tidur. Ronald berusaha untuk tidak tergoda dengan rayuan Anggita, meskipun sebenarnya ia sangat menginginkannya. Ia pusatkan pikirannya pada ucapan Anggita tentang dirinya yang gampang dimanfaatkan. Ronald menjauhkan Anggita dari tubuhnya. Anggita yang kehausan akan cumbuan, serentak menarik lengan Soni. Gejolak nafsu birahi dalam diri Soni meronta-ronta mendengar rintihan manja Anggita. Akan tetapi, tekadnya untuk tidak lagi jatuh cinta pada Anggita membuatnya sangat mudah mengendalikan dirinya. Soni mendekati Ronald dan menanyakan langkah selanjutnya.


"Bagaimana? kita tuntaskan sekarang?!" tanya Soni.

__ADS_1


"Biarkan dia menikmati gairah yang memuncak dalam dirinya. Aku ingin melihat sejauh mana ia akan meronta-ronta menunggu cumbuanmu". jawab Ronald mengejek Soni.


"Bedebah kau. Sebejat-bejatnya aku, aku ingin kekasih yang original, bukan yang bekas macam dia". jelas Soni.


"Sejak kapan kamu tobat?" tanya Ronald.


"Sejak aku melihat seorang gadis berhijab saat aku makan di restoran "Sahabat". Dia berbeda dengan gadis yang pernah aku jumpai. Jika aku memikirkannya, rasanya aku g bisa tidur dan makan. Dia seperti menyatu dengan jiwaku". Jelas Soni sembari menutup matanya karena membayangkan Gadis yang dipujanya.


"Siapa namanya?" tanya Ronald.


"Itu dia masalahnya. Aku g sempat menanyakan namanya. Aku duduk berdekatan dengannya, tapi dia menganggap seolah-olah aku g ada disekitarnya. Dia g terpengaruh dengan ketampananku. Sementara, wanita lain disekitarnya, selalu mencuri pandang padaku. Sakit rasanya bro, ketika ketampanan kita tak berpengaruh pada satu wanita, apalagi wanitanya itu benar-benar cantik dan memiliki aura yang membuat laki-laki manapun yang melihatnya akan tergoda. Sakit bro, sakit...!" Jelas Soni panjang lebar.


"Dulu kamu menolak setiap wanita yang mengejarmu karena Anggita. Sekarang, kamu g dianggap seorang wanita yang kamu kagumi melebihi kekagumanmu pada Anggita sebelumnya. Kasihan sekali dirimu kawan!" ejek Ronald.


"Ha ha ha...!" Ronald dan Soni tertawa bersama.


Kemudian, Ronald memandang ke arah Anggita yang terus menggeliat minta dicumbu.


"Dulu aku sangat mencintainya. ternyata dia hanya memanfaatkan diriku". ucap Ronald.


"Sayaaaaaaang... kemarilah, peluk aku, cumbu aku sayang!" pinta Anggita yang dikuasai oleh nafsunya.


"Suruh dia masuk! Aku ingin segera pergi dari sini". pinta Ronald pada Soni.


Soni pun memanggil laki-laki yang mereka bayar untuk melayani Anggita. Dengan senyum bahagia, laki-laki itu segera mendekati Anggita yang sudah mulai melepaskan pakaiannya karena gejolak birahi dalam dirinya.


"Lakukan sesuka hatimu!" perintah Ronald pada orang bayarannya.


"Dengan senang hati bos". Jawab sang eksekutor.


Ronald dan Soni meninggalkan Anggita dan dengan laki-laki yang akan memuaskan nafsunya. Tanpa basa-basi, laki-laki tersebut langsung membalas rintihan Anggita sehingga membuat Anggita kewalahan dan tak bertenaga lagi. Setelah pekerjaannya selesai, Laki-laki tersebut segera meninggalkan Anggita sendirian, sedangkan Anggita merasakan sakit disekujur tubuhnya. Ia terpaksa harus menghabiskan malamnya dihotel.

__ADS_1


__ADS_2