Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Penyesalan


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Annisa, Anggita terus dihantui perasaan tidak tenang. Anggita tak bisa menentukan sikap antara melanjutkan dendamnya atau mengikuti saran Anggita. Keinginannya untuk menghancurkan keluarga Fani jadi terhambat. Kata-kata yang Annisa lontarkan padanya seperti pisau tajam menusuk jantungnya. Semakin ia ingat, semakin membekas dihatinya. Annisa bingung harus memulai segala aktifitasnya dari mana. Menghindar dari kekacauan hatinya, Anggita membesuk ibunya di penjara. Lidia menemui putrinya yang telah lama tidak membesuknya.


"Anggita... ada apa dengan dirimu nak? kenapa kamu berubah seperti ini?!" tanya Lidia pada putrinya.


"Maafkan Anggita, Bu! Anggita baru datang membesuk ibu hari ini".


"G apa-apa sayang. Tapi apa yang terjadi dengan dirimu?!"


"hiks hiks hiks! hidup Anggita hancur, Bu! Anggita seperti bangkai yang tergelatak dipembuangan sampah, hewanpun tak sudi untuk melihatnya. Anggita sudah melangkah terlalu jauh, Bu. Ibu ingat Ronald teman Anggita yang sangat mencintai dan rela melakukan apa saja untukku? tak peduli lagi dengan Furqan, Anggi kembali mendekati Ronald yang setia pada Anggita. Ronald menyambutku dengan cinta, hingga hal dulu yang pernah kami lakukan terulang kembali. Aku pikir, dia masih seperti dulu. Aku ingin memanfaatkan cintanya untuk membalaskan dendamku pada keluarga Tante Fani, tapi ternyata dia tak seperti dulu. Setelah aku ikuti keinginannya, dia dan Soni malah menjebakku dengan menyuruh seseorang untuk melakukan hal yang menjijikkan padaku. Anggi tak bisa berbuat apa-apa, Bu!"


"Kenapa kamu melangkah tanpa bertanya lebih dulu pada ibu, Anggi?! apa yang kamu dapatkan sekarang? kehancuran Anggi, kehancuran. Ibu kecewa sama kamu!" ucap Lidia.


Mendengar perkataan ibunya, Anggita merasa bersalah.


"Pulanglah, tenangkan dirimu! ingat pesan ibu, jangan bertindak gegabah sebelum bertanya sama ibu".


Lidia kecewa pada putrinya. Air matanya tak mampu ia tahan. Dalam hati ia menjerit mendengar cerita Anggita. Anggita pulang dengan perasaan campur aduk. Perasaan bersalah pada ibunya menghantui dirinya. Sementara Lidia, duduk termenung membayangkan nasib putrinya ke depan.


Semua ini salahku. Maafkan ibu, Anggi! ibu telah merusak hidupmu. ibu terlalu memaksakan keadaan kepadamu. Seharusnya ibu tidak memaksa menjodohkanmu dengan Furqan.


Lidia hanya bisa meratapi kesalahannya. Kemudian, Lidia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.


Setelah dari membesuk ibunya, Anggita tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia singgah di taman kota. Anggita duduk sendiri dan merenungi perjalanan hidupnya.


Apakah aku salah memperjuangkan cintaku padanya? kenapa aku yang harus mengalami hal buruk ini? ibu dipenjara, aku kehilangan kebahagiaanku. Apakah ini adalah karma untukku?!


Seketika setetes embun membasahi pipinya. Tangisan yang tak terdengar namun sangat menyayat hati sang pemilik air mata. Karena rasa yang dialaminya sangat dalam, Anggita tak menyadari jika ada seseorang yang mengamatinya sejak ia berada di taman kota. Pria tampan itu mendekati Anggita.

__ADS_1


"Hai...!" sapa pria tersebut.


Anggita tak menjawab sapaannya. Sekali lagi ia menyapa Anggita, tapi tetap sama tak ada respon dari si dara yang sedang terluka. Pria tersebut memilih duduk di samping Anggita dan mengejutkan Anggita. Anggita segera bereaksi menjauhkan diri dari pria tersebut.


"Tidak perlu khawatir, aku g akan macam-macam denganmu. Aku hanya sedikit terganggu dengan keadaanmu. Ada yang bisa aku bantu?" tanya pria tersebut.


Mendengar pertanyaan pria tersebut, seketika air mata Anggita tumpah ruah bah air sungai yang mengalir. Meskipun ia tidak mengeluarkan suara saat menangis, tapi gerakan tubuhnya tak bisa ia tahan.


"Maaf jika pertanyaanku mengganggumu! aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja".


Anggita berusaha mengendalikan dirinya, karena pria yang ada disampingnya memiliki itikad baik terhadapnya. Setidaknya, ia memiliki seseorang untuk mendengar keluh kesahnya. Anggita pun mengangkat wajah dan melihat pria tersebut walau hanya sebentar.


"Maaf...tadi aku terbawa suasana, jadi g memperdulikanmu".


"G apa-apa. Aku melihat kamu sangat sedih. Itulah sebabnya aku menghampirimu. Kamu baik-baik saja kan? Kamu bisa cerita kepadaku jika ada masalah, mungkin aku bisa membantumu!"


"Aku malu menceritakan masalahku. Jika aku cerita, kamu akan beranggapan buruk, bahkan kamu akan jijik kepadaku". ucap Anggita.


"Semudah itukah kamu berubah?!" tanya Anggita.


"Awalnya sangat sulit tapi dengan niat yang tulus aku berhasil melewatinya. Seandainya aku tidak bertemu dia, mungkin aku masih seperti dulu atau mungkin sudah dipenjara atau dibunuh oleh orang-orang yang dendam denganku. Dia seorang wanita imut dan cantik yang membuatku tergoda dan ingin berbuat tak senonoh padanya, tapi malah dia menjatuhkan mental dan kejantananku. Jika aku ingat-ingat, sangat memalukan tapi membawa keberuntungan untukku". cerita sambil tersenyum mengingat kejadian masa lalunya.


Anggita ikut tertawa mendengar cerita Deni. Entah mengapa, Anggita merasa nyaman ngobrol dengan Deni. Ia merasa Deni orang yang tepat untuk diajak curhat.


Sebelum Deni melanjutkan obrolannya, Ia memperkenalkan diri pada Anggita.


"Oh ya...kita belum kenalan. Sudah panjang kali lebar aku bicara, tapi aku g tahu nama kamu".

__ADS_1


"Anggita!"


"Nama yang cantik secantik orangnya. Sia-sia jadi wanita cantik kalau murung, sedih dan merana. Kamu g mau tahu namaku?". canda Deni.


Anggita merasa terhibur dengan candaan Deni. Beban hidupnya seolah hilang dalam sekejap. Baru saja Anggita mau nanyain nama, Deni sudah lebih dulu menyebutkan namanya.


"Aku, Deni. Semoga kamu suka dengan namaku!"


"Ha ha ha, emang namamu bisa di makan?!" tanya Anggita sembari tertawa.


"Bisa, kalau kamu mau! tapi harus jadi istriku dulu". lagi-lagi Deni bercanda.


Anggita merasa malu dengan candaan Deni barusan. Anggita kembali terdiam.


"Jangan marah, hanya bercanda. Gimana, perasaanmu srkarang?" tanya Deni.


"Terima kasih sudah menghiburku. Seandainya kamu g datang, aku g tahu harus gimana. Aku merasa g bisa berbuat apa-apa untuk diriku sendiri". jawab Anggita sambil menundukkan kepalanya.


"Hidup itu pilihan. Pilihan kita harus tepat jika ingin bahagia. Dan...semua orang punya masa lalu, masa di mana kita tak berharga bagi siapapun. Tapi dengan adanya kata penyesalan, akan membuat kita lebih berharga dari sebelumnya. Orang baik itu bukan karena dia tak pernah melakukan kesalahan, tapi orang baik itu adalah orang yang pernah berbuat salah seperti kita dan kemudian menyesalinya. Kita harus jadikan kesalahan itu sebagai cambuk untuk merubah hidup kita menjadi lebih baik. Meskipun penyesalan itu datangnya selalu belakangan, tapi hasilnya selalu yang terbaik". Jelas Deni penuh makna.


"Apakah kamu sering ke sini?" tanya Anggita.


"Ya! aku sering ke sini. Disinilah aku merenungi semuanya. Disinilah aku memilih langkah yang tepat untuk hidupku. Seandainya tanaman di taman ini bisa bicara, mungkin mereka akan mengusirku karena kejahatan yang kulakukan. Tapi ciptaan Tuhan tak pernah salah. Disaat kita bimbang, tanaman-tanaman ini ikut menghibur kita. Mereka melengkapi kehidupan kita dengan keindahannya".


"Terima kasih sudah mau menghiburku. Setidaknya aku bisa sedikit tenang dan memiliki teman". ucap Anggita.


"Jika kamu sudah bisa berpikir dengan tenang, aku bisa pergi sekarang. Nanti kita ke temu lagi!" Deni langsung meninggalkan Anggita.

__ADS_1


Anggita berteriak menanyakan kapan Deni akan ke taman lagi, tapi Deni tak mendengar suaranya. Anggita pun tersenyum sendiri mengingat momen pertemuannya dengan Deni. Anggita meninggalkan taman dengan perasaan lebih baik. Ia sudah bisa menentukan pilihan untuk hidupnya.


*Seburuk apapun kita, Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah*


__ADS_2