Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Dipermalukan


__ADS_3

Semua undangan telah hadir di pesta mewah adik iparnya Fendi. kecuali tim dari rumah makan "Sahabat".


Ainun istri Fendi, menginginkan pernikahan adiknya diadakan sederhana saja, tapi suaminya ingin yang terbaik buat adik iparnya.


Tim rumah makan "Sahabat" datang terlambat, karena mobil yang mereka tumpangi mogok. Bu Farah yang hadir lebih awal karena membawa kendaraan sendiri. Bu Farah mencari-cari anak buahnya.


Kemana mereka, apa mereka g hadir? gumam Bu Farah


Lima menit kemudian, Bu Farah melihat mereka buru-buru masuk sehingga menyita perhatian tamu yang lain. Tentun saja mereka malu karena jadi perhatian. Mereka tidak menyadari bahwa perhatian itu bukan semata-mata karena mereka terlambat, tapi karena penampilan seorang gadis dengan polesan make up natural yang membuatnya sangat cantik dan anggun, siapa lagi kalau bukan Annisa. Bu Farah segera menemui mereka


"Mengapa terlambat?" Tanya Bu Farah kepada Hendra.


Hendra yang dipercayakan untuk mencari transportasi buat mereka berenam, bukannya mengantar ke tujuan malah mogok.


"Mobilnya mogok Bu!" jawab Hendra dibenarkan oleh teman-temannya dengan anggukan kepala.


"Ya sudah! tenangkan dulu diri kalian, kemudian nikmati hidangannya!" perintah Bu Farah


Keadaan Hendra, Egi, Siska, Fitri dan Annisa sudah seperti biasa, g ngos-ngosan lagi seperti saat sampai di tempat acara karena mereka lari agar tidak terlambat. Mereka pun berbaur dengan tamu yang lain untuk menikmati hidangan yang disediakan dan di hibur dengan alunan musik.


Tanpa Annisa sadari, ada dua pasang mata yang mencuri pandang padanya. Tiba-tiba alunan musik tak terdengar lagi dan MC sengaja menunda waktu sekitar 15 menit. Setelah itu terdengar suara bersamaan munculnya seorang wanita memakai topeng menyanyikan sebuah lagu dan membuat para tamu terbuai dengan suaranya yang indah hingga sebagian tamu ikut bernyanyi.


"Cinta Dalam Hati" dari Ungu.


Mungkin ini memang jalan takdirku


Mengagumi tanpa di cintai


Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia


Dalam hidupmu, dalam hidupmu


telah lama kupendam perasaan itu


Menunggu hatimu menyambut diriku


Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah


Bahagia untukku, bahagia untukku


reff:


Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu


Meski ku tunggu hingga ujung waktuku


Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya


Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja


Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya


Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja


Tepuk tangan riuh menyambut wanita bertopeng. Tak ada yang tahu siapa wanita itu, kecuali mempelai pria.


Fendi ikut bergabung bersama Furqan dan Herman yang merupakan teman sekaligus rekan bisnis. Mereka ngobrol bertiga. Mereka heran mengapa wanita bertopeng itu menuju ke arah mereka. Ainun merangkul Fendi, dan Fendi gelagapan, malu dan marah bercampur aduk.


"Hei...Anda siapa? berani sekali menyentuhku!"


Ainun semakin erat merangkul suaminya dan membisikkan kata cinta.


"Aku sangat mencintai dan menyayangimu hingga akhir hayatku!"


"Lepaskan tanganmu, saya sudah beristri dan saya sangat, sangat mencintai dan menyayangi istriku. Tak ada yang bisa menggantikannya!" Fendi berusaha memberi pengertian kepada wanita itu dengan suara pelan agar tidak mengganggu tamu lain.


"Benarkah?!"


Herman dan Furqan semakin bingung. Sesungguhnya mereka ingin menegur wanita itu, tapi mereka ikut penasaran dengan akhir dari drama yang mereka lihat. Tak terkecuali Annisa dan teman-temannya yang berada tidak jauh dari mereka berempat.


"Tolong lepaskan, sebelum saya mengusir Anda!"


"Baik, semoga Anda tidak menyesalinya!" ucapnya sambil pura-pura pergi.


"Tunggu!" Adik Ainun melangkah mendekati kakaknya dan berpura2 tidak mengenalnya.


"Kak, mengapa mengusirnya? Kasihan dia!" ucap adik Ainun pada kakak iparnya.


"Kakak tidak mengenalnya, dia telah berani menyentuhku, lalu kenapa kamu membelanya? Kembali temani istrimu, jgn biarkan dia sendirian!"


"Ayo ikut aku, nanti di sana baru buka topengmu!"


Ainun mengikuti adiknya, sekilas dia melirik suaminya dan menunjukkan kesedihan.


Setelah sampai di pelaminan, Ainun berdiri diantara adik dan iparnya serta membuka topengnya untuk berfoto bersama. Senyum bahagia terukir di bibirnya.


Ainun......! Pekik Fendi menyebut nama istrinya.


"Ha ha ha ! Engkau di kerjai sama istri dan adik iparmu!" Ujar Herman sambil tertawa.


"Tapi kok, istri sendiri g di kenal!" Furqan bertanya dengan heran.


"Sudah tiga tahun Aku menikah dengannya, Tapi Aku g pernah mendengarnya nyanyi. Ternyata istriku memiliki suara yang indah dan merdu!" kagum Fendi


"Kalian lanjutkan ngobrolnya, Aku mau gabung bersama istriku!"


Fendi mendekati istri dan adik iparnya, lalu dia menatap istrinya dengan penuh makna. Istrinya mengalihkan tatapan suaminya dengan mengajaknya foto dengan keluarga.


Sementara dua manusia hebat, mapan, dan tentunya tampan kembali mencuri pandang pada Annisa.


"Nis, sepertinya mata mereka berdua tertuju ke kamu deh!" ucap Fitri yang tak sengaja melihat ke dua pria itu.


"Siapa?" tanya Annisa

__ADS_1


"Tapi kamu jangan melihat ke mereka langsung, cukup di lirik aja ya!"


"Fit, kalian bisik- bisik apaan sih ?" tanya Siska penasaran.


Annisa pun melirik tanpa menjawab pertanyaan Siska. Benar saja, mata mereka berdua tertuju padanya. Annisa sedikit panik dengan melihat Herman, dan mengajak teman-temannya pulang.


"Hen, Gi, pulang yuk!"


"Yah.... kok pulang, acaranya kan belum selesai, foto-foto pun belum!" Protes Siska.


Herman berjalan ke arah Annisa. Annisa mulai gelisah ketika melihat Herman menuju ke arahnya. Melihat Herman sama saja membuka luka lama yang sudah tertutup. Sementara Furqan hanya memperhatikan dari tempat duduknya.


"Hai Annisa, apa kabarmu?"


Annisa hendak menghindar, tapi baru saja melangkah, Herman menarik lengannya dengan keras dan membawa Annisa dalam dekapannya.


"Lepaskan tangan kotormu, jangan menyentuhku!" geram Annisa.


Annisa berusaha melepaskan diri dari dekapan Herman, tapi Herman makin kuat mendekap Annisa.


"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, kamu harus membayar mahal semuanya, bila perlu dengan tubuhmu!" Herman yang tempramen mengancam Annisa dengan suara cukup keras dan menyita perhatian tamu lain.


Semua mata tertuju pada mereka. Teman-temannya kaget dan tidak sempat membantu Annisa.


"Heee, lepaskan! apa-apaan kamu, jangan kurang ajar dong sama orang!" bentak Hendra membela Annisa.


Herman tersenyum sinis menatap mereka.


"Siapa yang kurang ajar? Kau tidak perlu membelanya, bahkan dia tidak pantas untuk di bela," tegas Herman pada Hendra.


"Lepaskan....!"


Herman melepas dekapannya karena mendengar suara Fendi. Annisa segera menjauh dari Herman dan Fitri memeluk Annisa. Ainun istri Fendi datang dan menenangkan Annisa.


"Her, sebagai teman seharusnya engkau tidak membuat kekacauan di pesta adik iparku. jika ada urusan dengan gadis ini, selesaikan setelah kalian keluar dari gedung ini! Yang kau lakukan ini benar-benar membuat kami malu!" tegas Fendi.


"Tolong Herman, jangan mengganggu! Annisa memang tamu di sini tapi dia juga karyawanku, jadi Aku harus melindunginya!" Ainun ikut membela Annisa.


Furqan yang sejak tadi hanya memperhatikan drama itu mendekati Fendi dan Ainun.


"Apa maksudmu kalau dia karyawanmu ? dan mengapa bisa kamu mengundang mereka?"


"Istriku yang membuka rumah makan "Sahabat" ! Aku lupa memberitahumu!" Jelas Fendi pada Furqan.


Hendra dan Egi menatap Herman seolah ingin menerkamnya.


"Mengapa menatapku seperti itu? kalian hanyalah cecunguk-cecunguk tidak berguna!" Kata Herman sambil berlalu ingin menjauh dari kumpulan orang-orang yang membela Annisa.


"Tunggu....!" Annisa menghentikan Herman


Herman berhenti dan tersenyum menatap orang2 yang melawannya.


"Mengapa, apa kau berubah pikiran?"


Plak!


Lima jari tangan mendarat manis di pipi mulus Annisa dan membuat bibir ranum Annisa berdarah. Herman melayangkan tamparan pada Annisa karena merasa telah dipermalukan.


"Kau hanyalah wanita murahan!"


"Sekeras apapun tamparan Anda, tidak akan menghapus jejak perbuatan Anda pada Saya. Anda membuat seseorang kehilangan pekerjaannya hanya karena dia menolong Saya. Anda menampar Saya karena Anda malu kan? lalu bagaimana dengan Saya? Anda mengatakan Saya seorang wanita murahan, tapi Andalah yang berusaha melecehkan Saya. apa perlu Saya beritahu semua orang, apa yang pernah Anda ingin lakukan pada Saya, ha... !" Annisa membentak Herman dan kemudian berlari keluar meninggalkan teman-temannya, tak ada air mata.


Taksi......!


Annisa naik taksi pulang ke rumahnya. Dirinya tak lagi perduli apa yang akan terjadi padanya karena telah berhadapan dengan seorang penguasa.


Teman-temannya pun segera pamitan pada Ainun dan Bu Farah serta menyusul Annisa. Mereka mengikuti taksi yang ditumpangi Annisa.


Di dalam Gedung


Ainun menatap suaminya. "Sayang, apa maksud perkataan Annisa?"


"Entahlah! Nanti kamu tanyakan padanya, diakan karyawanmu! Kita jangan bahas itu dulu, kasihan tamu yang lain!" ucap Fendi pada istrinya.


"Dan kamu Her, apa yang kamu lakukan sungguh memalukan!" Kata Fendi pada Herman dengan sedikit menekan ucapannya.


Herman cuek saja dan menjauh dari Fendi dan istrinya. Sedangkan Furqan tetap diam dengan rasa penasarannya terhadap apa yang terjadi antara temannya dan Annisa.


Annisa sampai di depan rumahnya di susul teman- temannya. Setelah membayar ongkos dan taksinya pergi, Annisa segera masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan teman-temannya.


Nis.... tunggu!" Fitri menghentikan Annisa.


"Nis...biarkan kami menemanimu. Kamu bisa cerita soal masalahmu, dan kami siap membantu kalau kau butuh bantuan!" Fitri menenangkan Annisa.


"Masuklah!"


"Nis...! biar Fitri, Kania dan Siska yang menemanimu, Aku dan Egi pulang dulu. Kalau butuh sesuatu, telepon saja!"


"Makasih ya Hend, sudah mau membantuku!"


"Sama-sama! Kami pamit ya, assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab kaum wanita bersamaan.


Hendra dan Egi meninggalkan rumah Annisa. Annisa dan teman-temannya duduk bersama diruang tengah.


"Nis...kamu wanita kuat. Kalau kejadian tadi terjadi padaku, mungkin bakalan nangis dan pingsan karena malu. Tapi kamu malah menantangnya dan sepertinya dia orang kaya?!" Tutur Kania


"Oh ya Nis, apa pernah terjadi sesuatu antara kamu dengan dia?" tanya Siska penasaran.


"ya! antara Aku dengan dia hampir terjadi sesuatu yang menjijikkan. Kenapa Aku tidak menangis? karena air mataku telah habis karena perbuatannya. Aku tidak selemah dulu, seorang wanita miskin dan menjadi bulan-bulanan mereka yang beruang. Kini dia muncul dihadapanku, Aku harus melawannya sekalipun Aku harus mati ditangannya. Dia adalah anak pemilik Kampus tempat Aku kuliah dulu, seorang pria brengsek dan menjijikkan. Aku sudah tenang dan bisa melupakan semuanya, tapi sekarang bayang-bayang kejadian itu kembali menari-nari di mataku!" jelas Annisa dengan penuh amarah.


"Kalau boleh kami tahu, apa sebenarnya yang terjadi antara kalian berdua?" Tanya Siska lagi

__ADS_1


Lima tahun yang lalu, Aku kuliah di kampus "Bina Jaya". Aku yang merupakan mahasiswa baru, selalu ke kampus lebih awal, hingga Aku dekat dengan pak Komar seorang satpam kampus. Beliau sangat menyayangiku seperti putrinya yang juga kuliah di kampus itu. Beliau selalu memberi nasehat yang tidak pernah Aku lupa hingga hari ini. Sebulan kuliah, ada seorang senior mengungkapkan perasaannya padaku, tapi Aku menolaknya. Dia adalah senior tiga tahun di atasku. Tiga bulan kemudian, hal menjijikkan itu terjadi. Saat Aku hendak ke toilet, seseorang menarik Aku, mendekap mulutku dan membawaku ke gudang tidak jauh dari kampus. Kampus masih sunyi waktu itu, karena masih pagi sekali. Lelah Aku melawan tapi sia-sia. Saat sampai di sebuah gudang, barulah dia melepaskan dekapannya.


"Lepaskan Saya kak! Kakak mau ngapain?"


"Kamu berani menolakku, Aku tidak akan melepaskanmu. Aku pantang mengungkapkan perasaanku dua kali dan pantang untuk di tolak!"


"Lalu kakak maunya apa?"


"Tubuhmu!"


"Tidak kak, tolong jangan lakukan itu padaku. Aku mohon lepaskan saya kak, lepaskan Saya!"


"Percuma kamu memohon, teriak pun tak ada gunanya, tidak akan ada yang datang ke tempat ini. Aku adalah anak dari pemilik Kampus ini, jadi Aku bebas melakukan apa saja padamu!"


Aku menangis, dan berdoa dalam hati semoga ada yang bisa menolongku. Laki-laki itu malah menutup mataku, agar bebas menggerayangi tubuhku. Dia merobek bajuku, dan menyentuh bagian tubuhku. Tak berhenti sampai disitu, diapun berusaha melepaskan jeansku, tapi karena Aku memberontak, Dia agak kesulitan membukanya. Melihatku seperti itu, Dia menamparku dengan sangat keras hingga membuatku terhuyung dan kepalaku membentur tembok, dan aku kupun pingsan. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi, hanya setelah itu Aku merasa ada yang menggoyang-goyangkan badanku. Mataku terasa berat untuk ku buka, dan Aku hanya bisa mendengar suaranya kalau ternyata Aku masih bersamanya. Melihat Aku bergerak, Dia kembali melucuti pakaianku dan berkata:


Waaah....! ternyata kau melindungi dirimu dengan memakai pakaian berlapis-lapis, dasar gadis bodoh. Walaupun kamu belum sepenuhnya sadar, Kau akan tetap bisa merasakan sentuhan ku gadis cantik, ha ha ha!"


Aku hanya bisa merasakan gerakan tangannya


yang menggerayangi tubuhku. Dia terus mengoceh.


"Sebaiknya Aku nikmati dulu tubuhmu dengan sedikit terbuka seperti ini. Setelah Aku puas, Aku akan melepaskan semua pakaianmu, ha ha ha!"


Dia Menindih tubuhku dan mulai menciumiku. Air mataku terus mengalir, Aku teringat orang tuaku yang susah payah membiayai kuliahku. Walaupun Aku masuk dengan mengandalkan beasiswa, tapi orang tuaku telah banyak mengeluarkan biaya untukku. Dan semuanya akan sia-sia jika hal buruk itu terjadi padaku. Aku pasrah, dan Aku akan bunuh diri setelahnya. Aku tak sanggup jika harus melihat kesedihan orang tuaku, mengetahui anaknya telah diperkosa orang.


Tangannya terus bergerak menyentuh bagian-bagian sensitifku. Meskipun masih tertutup, tapi Aku merasa seolah Dia telah menodai ku. Dengan mata tertutup, Aku terus memohon.


"Tolong lepaskan Aku, Kak!"


"Kau tidak akan kulepaskan. Inilah akibatnya kalau kau berani menolakku. Pantang Aku ditolak perempuan, paham!"


Saat Dia akan melepaskan seluruh pakaian dalammu, tiba-tiba ada yang mengedor-ngedor pintu. Aku bahagia, karena akan ada yang menolongku. Aku pun berteriak, toloooong!


Dia membekap mulutku. Suara gedoran pintu makin keras. "Buka pintunya atau kudobrak!" ucap orang diluar.


Brengsek, berani mengganggu kesenanganku. Siapa sih? Laki-laki itu marah.


Semakin lama semakin keras, dan tiba-tiba pintu terlempar karena di tendang dari luar oleh seseorang, aku berusaha untuk mengendalikan kesadaranku. Mataku mulai terbuka dan kulihat pak Komar berlari menghampiriku. Pak Komar mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhku. Setelah itu, Pak Komar menampar laki-laki sialan itu. Dia murka terhadap pak Komar dan mengancam pak Komar.


"Satpam sialan! berani kamu menampar saya. Tunggu saja, kamu akan kehilangan pekerjaanmu. Kamu tahu siapa Saya kan?"


"Saya tidak takut dengan ancamanmu, sekalipun kamu pemilik kampus ini. Saya tidak akan membiarkan orang lain dilecehkan olehmu. Ingat itu!"


"Ayo nak, bapak antar kamu pulang!"


"Terima kasih sudah menolongku!"


Akhirnya Aku pulang di antar pak Komar. Sesampainya di rumah, pak Komar menceritakan kejadian itu pada kedua orang tuaku. Ibuku syok dan langsung tak sadarkan diri. Bapakku marah dan ingin menemui laki-laki itu, tapi pak Komar menahannya dan memberitahunya bahwa tak ada gunanya Bapak melaporkannya karena mereka bisa membeli hukum. Setelah pak Komar bicara dengan bapak, beliaupun pamit pulang. Sejak itu, bapak dan ibuku sering melamun karena kepikiran kejadian itu. Hingga suatu hari, Bapak pulang dari jualan keliling, menyebrang jalan sambil melamun dan tidak menyadari kalau ada mobil yang lewat. Bapak pun tertabrak dan meninggal saat itu juga. Sedangkan ibuku, kena serangan jantung dan meninggal di hari yang sama dengan bapakku.


Aku seperti dihimpit bumi. Mereka yang kusayangi pergi meninggalkan Aku sendiri. Tak ada lagi tempat Aku bercanda, mengeluh dan merajuk. Sejak kepergian orang tuaku, Aku tak pernah lupa wajah dan perbuatannya.


Beberapa hari kemudian, Aku masuk kampus dan tak kulihat lagi pak Komar didepan pos satpam. Ternyata beliau dipecat karena dituduh memfitnah laki-laki tersebut. Hingga saat ini Aku g tahu lagi dimana beliau berada.


"Dasar cowok brengsek, kaya kok tapi tak punya malu!" Kania mengomel.


"Betul! Jika kita bertemu dia lagi dan masih kurang ajar, kira lempar dia dengan apa saja yang bisa kita gunakan!" usul Siska pada teman-temannnya dan membuat teman-temannya ingin menertawainya.


"Terima kasih, kalian mau mendengar cerita dan mau membantuku. Tapi, kalian tidak perlu melibatkan diri dalam masalahku. Aku g mau hal yang sama terjadi pada kalian juga. Laki-laki itu orang berada, dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Cukup Aku yang menghadapinya. Karena Aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya!"Jelas Annisa.


"Tunggu, tunggu...! bukankah dia berteman dengan suami pemilik tempak kita bekerja? artinya dia g bisa macam-macam dengan kita, kan ada bos yang membela!" Ucap Siska yang membuat teman-temannya heran dengan ucapannya.


"Sis... kamu tu dengar kan apa yang dikatakan Annisa barusan? Dia itu bisa melakukan apa saja. Artinya, temannya pun bisa dilawannya. Paham g sih kamu?!" ucap Fitri sambil menunjukkan wajah kesalnya pada Siska.


"Sudah sudah, jangan berdebat lagi. Yang jelasnya, jangan mempersulit diri, oke!" larang Annisa.


"Nis...meskipun kita ini baru berteman belum lama, tapi hati kita sudah menyatu sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai saudara, sebagai apa lagi ya...!" ucap Siska untuk kesekian kalinya sambil memikirkan kelanjutan ucapannya.


"Tu kan bulet!" Kania menimpali.


"Apaan tu bulet?" tanya Fitri dan Annisa bersamaan.


"Buntut dan lelet!"


"ha ha ha, ha ha ha!" Seketika tawa mereka pecah.


"Nia, kamu bisa aja. Perutku sakit ni gara-gara kamu, ha ha ha," Fitri terus tertawa sambil memegang perutnya.


"Aduuuh! makasih ya, karena kalian Aku bisa tertawa lepas seperti ini dan seolah-olah Aku g ada masalah, ha ha ha!" ucap Annisa dengan tawanya.


Stop...! Siska berteriak. Seketika semua berhenti tertawa.


"Kamu kenapa?" tanya Fitri


"G kenapa-kenapa, hanya mau teriak aja!"ucap Siska santai dan tersenyum kecil memperlihatkan ginsulnya.


Siskaaaaaa...! Teriak Kania, Annisa dan Fitri bersamaan. Siska lari ke dapur menghindari ketiga temannya


"Nis...! bukannya kami g mau menemanimu malam ini, tapi besok kita semua akan kembali bekerja dan butuh tenaga. g apa-apakan kalau kami pulang dulu, nanti besok kita kumpul lagi di sini?!" Ucap Fitri pelan-pelan karena khawatir membuat Annisa sedih.


"G apa-apa. Justru Aku baru aja mau nyuruh kalian pulang, karena Aku akan baik-baik saja walaupun ditinggal sendiri. Bukannya mau ngusir, tapi kita semua butuh istirahat yang cukup setelah kejadian hari ini!"


"Sis....! mau pulang nggak? kita mau balik nih!"


Siska kembali setelah mendengar panggilan Fitri.


"kalau begitu kami pamit ya! Assalamualaikum!"


"waalaikumsalam!"


"Sampai bertemu besok ya!" Ucap Annisa pada teman-temannya.


Setelah semuanya pergi, Annisa masuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


Sebaiknya Aku istirahat aja, Aku harus kuat, Aku tidak boleh kelihatan lemah. Laki-laki itu pasti akan kembali mengusikku. Tak perduli dia siapa, Aku akan menghadapinya, bathin Annisa


__ADS_2