
Waktu yang ditunggu Furqan pun tiba. Izin untuk ibunya sudah ada. Dengan pengawalan dari kepolisian, Fani akan menemani putranya menuju kediaman Aldi. Karena ayah Furqan sudah tiada, maka Sholeh yang akan mewakili ayahnya. Beliau adalah supir pribadi yang belum bekerja dengan Furqan. Furqan sangat menghormati beliau begitu pula adik-adiknya. Susi dan Fiona memakai gamis warna merah maroon. Fani pun menggunakan gamis warna senada dengan anak-anaknya. Para asisten rumah tangga, menggunakan warna ungu terong. Furqan sudah tidak sabar dan terus menerus mendesak Susi dan Fiona agar secepatnya keluar. Susi dan Fiona seperti dikejar setan saat berdandan. Keduanya keluar dari kamar dengan secepat kilat agar tidak diteriaki lagi.
"Ternyata kalian berdua cantik juga!" puji Furqan pada Susi dan Fiona.
"Itu mata di taro dimana? kamu g lihat kecantikanku yang selalu terpancar setiap hari? mau berangkat g?" Susi sedikit kesal dengan adiknya.
"Ayo! semua sudah siap?" tanya Furqan pada anggota keluarganya.
"Siap dong!" jawab Susi dan Fani.
"Kita berangkat!" ajak Furqan.
Semua anggota lamaran segera masuk ke mobil yang sudah disiapkan oleh asisten pribadi Furqan. Mereka nampak bahagia karena Furqan akan melamar tambatan hatinya. Tak lama kemudian, keluarga Fani memasuki kawasan rumah elit di mana Annisa tinggal. Furqan dan yang lain langsung menuju kediaman Aldi dan sudah tentu kedatangan mereka sudah di tunggu sejak tadi. Fani mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawab Erina dan Aldi.
Erina langsung mempersilahkan keluarga Furqan masuk ke dalam. Semua langsung duduk melantai diruangan seluas 8 x 10 meter persegi. Susi dan Fiona takjub dengan desain interior rumah Aldi. Fani bahagia bisa masuk ke dalam rumah Aldi. Fani merasa damai ketika duduk bersama Erina, Aldi dan Annisa. Fani bisa melihat, hari ini tak ada perbedaan antara majikan dan pembantu. Semua membaur dengan senyum bahagia. Erina mempersilahkan Fani untuk mengungkapkan tujuan kedatangannya.
"Bu Fani...apa tujuan kalian datang ke rumah kami?"
Fani mempersilahkan Sholeh untuk menjawab pertanyaan Erina.
"Begini Bu Erina, saya sebagai orang yang ditunjuk oleh Bu Fani untuk mewakili ayahnya Furqan, datang untuk melamar anak gadis dirumah ini untuk putranya Bu Fani yaitu nak Furqan. Kira-kira, Bu Erina bersedia menerima lamaran kami ini?" tanya Sholeh pada Erina.
"Terima kasih karena niat baik kalian memilih putri kami untuk dijadikan calon pendamping hidupnya. Dan saya sebagai ibu pengganti bagi mereka dan Aldi sebagai kakaknya tidak bisa langsung menerima maksud kalian karena kami harus bertanya dulu pada Annisa.
"Nis...kamu sudah dengar maksud kedatangan mereka. Apa kamu mau menerima lamaran Furqan?" tanya Erina.
Mendengar pertanyaan Erina, Annisa menunduk malu. Karena belum ada jawaban dari Annisa, Fiona langsung ikut bicara.
"Kak...diterima ya, aku bakalan nangis kalau kakak menolak kak Furqan. Please!" Fiona memohon dengan muka sedih.
Semua yang hadir tertawa karena Fiona. Susi mencubit paha Fiona karena malu dengan kelakuan adiknya. Siska
"Aduh sakit kak!" Fiona meringis kesakitan.
__ADS_1
"Diam!" Susi menyuruh Fiona diam.
"Anak kecil jangan berisik!" Siska ikut kesal.
Fiona diam dan menundukkan kepalanya. Sementara Sholeh kembali bertanya pada Annisa.
"Bagaimana nak Nisa?" tanya Sholeh.
Annisa mau ngerjain Furqan. Dengan menundukkan kepalanya, Annisa menjawab pertanyaan Sholeh.
"Saya minta maaf pak, saya dan Furqan memang saling mencintai. Tapi...!" Annisa menahan ucapannya sembari mencuri pandang ke arah Furqan.
Hampir saja tawa Annisa meledak karena melihat Furqan menahan sesak di dadanya.
Furqan seolah tak bisa bernapas karena jawaban Annisa. Yang lain pun ikut gelisah. Sedangkan Aldi, tak menyangka akan mendengar jawaban adiknya seperti itu. Yang ia tahu, kalau Annisa sangat mencintai Furqan. Furqan menatap Sholeh meminta kepastian. Furqan tak berani bicara langsung dengan Annisa.
"Tapi kenapa nak Nis?" tanya Sholeh kembali.
Annisa angkat kepala dan memandang mereka satu persatu. Kemudian, dia siap melanjutkan ucapannya.
"Tapi...saya akan menerima lamaran kak Furqan!"
Reaksi Furqan mengagetkan Sholeh dan yang lainnya. Sontak semuanya tertawa terbahak-bahak. Kemudian, Sholeh kembali bicara.
"Sekarang kita sudah mendengar jawaban dari nak Annisa, begitu pula dengan reaksi dari nak Furqan. Lalu kira-kira kapan mereka bisa menikah? karena nak Furqan ingin secepatnya menikah dengan nak Annisa".
Mendengar perkataan Sholeh, Furqan langsung mati rasa. Ingin rasanya ia mengecil dan menghilang. Sholeh sengaja mengungkapkan itu didepan keluarga. Fiona dan Susi memberi jempol untuk Sholeh.
"Kita serahkan kepada mereka berdua". kata Erina.
Furqan sudah terlanjur basah. Ia segera menentukan waktu pernikahannya.
"Minggu depan".
"Apa...?! cepat amat. Jangan buru-buru kak, Annisa g bakalan diambil orang!" Siska kaget dengan ucapan Furqan.
Yang lain syok mendengar teriakan Siska.
__ADS_1
"Bisa g jangan teriak, bisa-bisa kita semua jantungan gara-gara teriakan kamu itu. Yang nikah siapa yang protes siapa, malu neng!" Kania menceramahi Siska.
"Maaf Bu, kak Aldi dan semuanya! saya hanya kaget saja dengar kak Furqan mengatakan itu". Siska mencari alasan.
Erina, Aldi dan yang lainnya g mampu menahan tawa. Kemudian, Erina bertanya pada Annisa.
"Kalau kamu Nis, maunya kapan?"
"Sebaiknya bulan depan Bu. Kalau Minggu depan, mepet waktunya".
"Bagaimana Fur?" tanya Fani.
"Baik Bu!" jawab Furqan.
"Sekarang kita sudah diterima bahkan untuk pernikahan pun sudah ditentukan. Kami ucapkan terima kasih karena ibu dan keluarga menyambut kami dengan penuh suka cita. Untuk itu, sudah waktunya kami pamit pulang. Bagaimana Bu?" tanya Sholeh pada Fani.
"Kalian belum diperbolehkan pulang karena kita semua harus makan bersama dulu pak, Bu. Ayo mbok, Sis, Kania bawa makanannya kemari!" perintah Erina.
Yang diperintah dengan sigap ke belakang untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan sebelumnya. Annisa turut membantu. Fani menatap Annisa yang juga ikut kebelakang. Dalam hatinya ia sangat bersyukur bisa mendapatkan calon menantu sebaik Annisa.
Puji syukur kepadaMu ya Allah, Engkau membukakan pintu taubatMu untukku, Engkau memilihkan jodoh terbaik untuk putraku.
Fani tidak menyadari jika Siska sudah berada didekatnya. Sementara Furqan mengamati ibunya. Furqan melihat air mata bahagia dimata ibunya. Furqan merangkul pundak Fani dan Fani menatap Furqan dengan senyum terukir di bibirnya.
"Ayo semua, dinikmati ya! makanannya enak-enak lho. Siapa dulu yang masak, Siska gitu lho". Siska mulai nyerocos.
"Jangan berbohong karena bohong itu dosa. Ngaku-ngaku kamu yang masak, bantu aja enggak, iyakan mbok?" tanya Kania.
Si mbok hanya tersenyum. Karena si mbok tidak menjawab, Kania beralih ke Egi.
"Gi...bilangin tu calon bini kamu, jangan suka ngaku-ngaku. Bisa-bisa setiap cowok tajir diakuin sebagai pacarnya!"
"Maaf ya, gini-gini aku g matre. Dan aku tipe wanita idaman. iya g?" Siska bertanya ke Egi.
"Sudah, jangan bicara terus. Lihat tu, Ibu dan yang lain g makan-makan gara-gara kamu. Nanti semua selesai makan baru kalian berdua berantem di belakang. G bakalan ada yang larang. Nanti aku dan Hendra sebagai penontonnya dan videonya akan kami diviralkan, biar sekalian dipecat dari kantor. Mau?!" Egi mengancam Siska dan Kania.
Siska dan Kania terdiam mendengar ancaman Egi. Yang lain saling melirik dan menahan tawa. Tak ada yang merasa terganggu dengan ulah Siska dan Kania, semua merasa terhibur seolah-olah tak ada beban. Tanpa banyak bicara lagi, semua menikmati makanan yang sudah ada didepan mata. Setelah itu, keluarga Fani pamit pulang. Keluarga Erina mengantar kelurga Fani hingga masuk mobil dan meninggalkan kediaman Aldi. Semua masuk ke dalam terkecuali Erina. Erina balik badan dan menatap rumah dengan seksama.
__ADS_1
Pak, Annisa akan menikah. Semoga dia bahagia bersama suaminya nanti, seperti bapak dan ibu!
Setelah itu, Erina masuk dan duduk bersama ansk-anaknya.